13. Pindah Ke Jepang

2299 Words
Liburan datang!! Muti tidak bisa menahan senyum lebarnya ketika akhirnya ujian hari itu berakhir. Ia benar-benar merasa terbakar soal-soal selama hampir satu minggu ini. Dan yang ingin dilakukannya setelah ini hanya satu. Bangun siang! Teman-temannya yang lain mengusulkan untuk liburan bersama sebagai pelepas stress. Menginap di Puncak atau Anyer. Akan tetapi, Muti sedang tidak ingin bergabung dengan mereka. Ia benar-benar hanya ingin mengisi liburan ini dengan bermalas-malasan di rumah. Titik! “Marmuuutt!! Makaaan yuuuukk!!” Teriakan itu kembali memunculkan senyum lebar dari bibir Muti. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengarkan ajakan menyenangkan seperti itu. Yang ia dengarkan selama hampir satu minggu hanyalah, 'ayo belajar' atau 'x ditambah y sama dengan..'. Oh, ia benci kata-kata itu. Muti dengan sigap segera berlari ke kantin dan duduk di samping Agam. Ia sudah siap memesan satu mangkuk bakso urat spesial favoritnya sebelum ada tangan meraih kerah lehernya. “Jangan kebanyakan makan bakso. Nggak baik buat kesehatan.” “Cuma semangkuk,” jawabnya tanpa menoleh. “Nggak boleh, Mutiara. Ayo pulang, aku beliin makanan sehat di jalan.” Muti cemberut dan bangkit dari duduknya diiringi tatapan iba dari para dermawan yang tidak jadi menyedekahkan semangkuk bakso untuknya. “Aku bosen makan daun mulu,” gerutu Muti saat ia diseret oleh Nero menjauh dari kantin. Sudah hampir satu minggu ini ia diet. Kata Nero, ia terlalu bulat untuk ukuran gadis dengan tinggi kurang dari seratus enam puluh sentimeter. Tadinya Muti menolak tentu saja. Seumur hidupnya, ia adalah cewek pemakan segala dan tidak pernah merasa gendut walaupun memang ia tidak bisa disebut langsing juga. Namun hal itu tentu saja malah membuat mereka ribut. Dan Muti sudah lelah bertengkar dengan Nero untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu. Sekali waktu, setelah pertengkaran mereka, ketika ia kabur ke rumah Damar untuk belajar saat itu, ia pernah meminta putus. Cowok itu menolak mentah-mentah dan mengancam akan bunuh diri jika Muti meninggalkannya. Fix, cowok itu memang lebay maksimal. Ia sempat mencibir tentu saja. Namun, ketika Nero benar-benar ke dapur dan mengambil pisau milik Mama lalu mengiris pergelangan tangannya, Muti tidak bisa berkata apa-apa. Mama membawa Nero ke rumah sakit dengan panik sementara ia memilih kabur ke rumah Damar dengan alasan untuk belajar. Ia tidak bisa menceritakan kejadian itu pada Damar karena cowok itu hanya akan semakin kasihan padanya dan menganggap Nero gila. Yah, Muti akui Nero memang gila. Ia tidak merasa perbuatan itu dilakukan Nero karena cowok itu sangat menyukainya. Tidak. Ada motif lain. Dan motif itu yang sedang Muti selidiki sekarang. Oleh karenanya ia tidak boleh lagi bertengkar dengan Nero sebelum tahu tentang cowok itu lebih jauh. “Aku ada langganan bakso vegan enak banget di deket rumah. Nanti kita mampir ke sana.” “Mampir ke rumah kamu juga?” tanya Muti dengan antusias. Beberapa waktu berpacaran, Nero tidak pernah membawanya ke rumah cowok itu. Pun tidak dengan mengenalkannya pada orangtua Nero. Dan hal itu hanya semakin membuat Muti curiga jika memang ada yang tidak beres dengan Nero. Muti hanya bilang jika orangtuanya ada di New York. Itu saja. “Kita nonton aja habis makan. Katanya kamu pengen nonton Maleficent.” “Aku nggak suka nonton di bioskop,” jawab Muti sewot. Nero selalu bisa mencari cara agar ia tidak ke rumah cowok itu. “Lho, trus kamu nontonnya gimana?” “Nanti nunggu Kak Bee download.” “Aku aja yang download mau?” Mata Muti berbinar. “Di rumah kamu yaa?” Nero terkekeh. “Di rumah kamu lah,” jawabnya sambil meninggalkan Muti untuk mengambil motor. Muti menatap punggung cowok itu dengan sebal. Lihat saja nanti, ia akan bisa masuk ke rumah Nero dan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada cowok itu. “Biasa aja kali liatin cowok lo itu!” Muti mencibir pada Damar yang berhenti di hadapannya. “Dasar jomblo, iri aja lo!” Damar balas mencibir. “Awas aja kalau gue punya cewek, lo yang bakalan iri sama gue.” “Nggak bakal! Nero jauh lebih kece daripada elo ke mana-mana.” “Halah, punya cowok model begitu aja bangga.” Bukannya marah, Muti malah tertawa. Ia rindu bertengkar dengan Damar seperti ini. Ini terasa seperti dulu. “Mutiara, ayo pulang!” Damar menoleh pada Nero sejenak sebelum kembali menatap Muti. “Tuh, herder lo ngajak balik. Gih sono sebelum gue digigit.” “Damar ih!” seru Muti sambil memukul bahu Damar. “Jangan ganggu gue ya liburan besok.” “Nggak bakall!!” Teriak Damar disambut juluran lidah Muti. “Asyik banget sih kalau udah ngobrol sama dia,” kata Nero begitu Muti duduk di jok belakang. “Kita nggak ngobrol. Kita lagi berantem,” jawab Muti sambil memutar bola mata. “Tetep aja kamu asyik banget kalau udah sama dia.” Meskipun merasa ingin membantah apa yang Nero katakan, tetapi Muti menahan dirinya dan memilih untuk mengalah. Sekian waktu mengenal Nero, ia tahu jika Nero bukan cowok yang suka mengalah. Dan ia harus memilih diam dan mengalah hanya agar situasi tidak semakin memanas. Untuk sekarang, ia hanya ingin memahami seperti apa Nero dan mungkin jika nanti ia sudah memahami cowok itu, Muti bisa jatuh cinta padanya. Mungkin. **** Damar tersenyum hambar menatap Muti dan Nero yang berlalu dari hadapannya. Tadinya, ia ingin pamit pada Muti karena akan pergi ke Jepang. Ia sudah memutuskan akan pindah sekolah di sana. Menghabiskan tahun terakhirnya di negara itu dan tinggal bersama ayah dan bundanya. Dan ia akan berangkat besok pagi. Sebenarnya, bukan hal yang mudah bagi Damar untuk memutuskan pergi. Namun, ini juga bukan hal yang mudah jika ia tetap berada di sini, di dekat Muti. Ia adalah seorang Widjaya. Ada beban masa depan yang harus ditanggungnya sebagai pewaris dari yayasan pendidikan yang dimiliki keluarga Widjaya. Oleh karena itu, ia harus menjadi orang yang berhasil dalam pendidikan. Bukan berarti dirinya akan gagal jika memutuskan tetap tinggal di sini, ia hanya akan sulit berkonsentrasi belajar jika harus melihat Muti dan Nero setiap hari. Itu menyakitinya. Tidak ada satupun teman-temannya yang tahu jika dirinya akan pergi. Tadinya, Damar memang hanya ingin pamit pada Muti karena memang hanya gadis itu yang paling penting baginya. Namun ternyata, ia pun tidak bisa pamit pada gadis itu. Pertengkaran kecil mereka tadi akan menjadi obrolan terakhir sampai bertahun-tahun yang akan datang. Ia memang belum memastikan akan tetap kuliah di Jepang, tetapi tidak menutup kemungkinan juga ia akan kuliah di negara lain. Ia tidak bisa memastikan kapan akan bisa bertemu gadis itu lagi. Damar menatap bangunan sekolah untuk terakhir kalinya. Bangunan yang telah ia masuki selama dua tahun ini. Bangunan yang ia putuskan untuk masuki karena Muti mendaftarkan sekolah di sini. Dan bangunan yang ia putuskan untuk tinggalkan karena Muti juga. Ia memang pengecut karena lebih memilih pergi tanpa mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Muti. Akan tetapi, Damar tahu ini yang terbaik untuk saat ini bagi mereka. Muti hanya akan merasa tidak nyaman jika tahu bagaimana perasaaannya untuk gadis itu. “Udah pamit Muti?” tanya Violet saat wanita itu membantunya berkemas sore harinya. Damar menggeleng. “Nanti Damar telepon aja kalau sempet.” “Nak, dia akan marah karena itu.” “Nggak apa-apa, Ma. Lagian Marmut juga nggak bakal kehilangan Damar,” jawabnya sambil tersenyum. “Sok tahu kamu. Meskipun dia nggak punya perasaan sama kamu, dia bakalan tetap kehilangan kamu tahu nggak. Kalian temenan bukan hanya satu dua hari.” “Dia 'kan udah punya Nero, Ma.” “Nero ya Nero! Kamu ya kamu!” teriak Violet sambil keluar dari kamar. Damar menghela napas. Ia tahu Violet kesal padanya, tetapi dirinya juga tahu akan lebih baik seperti ini. Muti mungkin akan marah-marah nantinya ketika tahu pergi, tetapi itu jauh lebih mudah jika Muti marah lewat telepon atau video call karena mereka sudah berbeda negara. Damar akan lebih sulit pergi jika harus menatap langsung mata Muti. Dan ia akan menanggung semua kemarahan Muti nanti. Ya, ia akan menanggung semuanya seperti ketika menanggung semua perasaannya pada gadis itu selama ini. Damar tahu ia bisa. Ia yakin itu. Intermezzo – Violet POV “Kak, kamu yakin nggak mau pamit Muti?? Mumpung masih jam sembilan lho ini. Nanti keburu tidur dia.” Entah sudah berapa kali Violet menanyakan hal itu dan selalu disambut gelengan kepala oleh Damar. Violet mendesah dan keluar dari kamar Damar. Sejak tadi anak itu hanya mengurung diri di kamarnya tanpa melakukan apapun. Waktu berangkat Damar kurang dari sepuluh jam lagi dan ia tetap kukuh tidak mau berpamitan pada Muti. “Sudahlah tidak usah dibujuk. Damar pasti punya pertimbangan sendiri kenapa dia tidak mau berpamitan pada Muti.” Erlangga mendongak dari buku yang tengah ia baca setiap menjelang tidur. “Aku cuma nggak mau dia nyesel,” sungut Violet sambil naik ke tempat tidur. Erlangga membuka satu lengannya dan Violet bersandar nyaman di dadanya. “Aku nggak mau dia hidup dalam penyesalan kayak kita dulu,” lanjutnya lagi dengan suara termenung. Ya, bukan tanpa alasan ia memaksa Damar untuk berpamitan pada Muti. Ia dan Erlangga pernah berpisah tanpa sempat saling bicara dan berpamitan, dan itu menimbulkan luka di hati mereka masing-masing. Karena kebaikan Tuhanlah mereka akhirnya disatukan lagi dan bersama hingga saat ini. Erlangga mencium puncak kepala Violet dengan sayang. “Dia masih muda. Masih banyak yang harus dia capai selain itu. Siapa tahu nanti di Jepang dia ketemu cewek lain.” Tangan Violet mencubit perut Erlangga yang masih ramping meski pria itu tak lagi muda. “Aduh! Sakit, Violet! Memangnya aku salah apa?” Violet bangkit dan duduk sambil melotot menatap suaminya itu. “Apa kamu berharap cewek lain yang bakal jadi pacar pertamanya Damar?” “Lho? Why not? Belum tentu pacar pertama Damar akan menjadi istrinya kan? Kamu aja bukan pacar pertama aku.” “Tapi kamu pacar pertama aku!” “Itu karena kamu galak. Nggak mau dideketin orang. Coba kamu nggak galak. Antri tu cowok-cowok deketin kamu.” Oh Tuhan, ingin benar rasanya Violet menghujani suaminya dengan cubitan mautnya. Apa para pria selalu berpikir sesimpel itu?? “Tapi aku nggak mau dia pacaran sama cewek lain!” “Sayang, dia berhak menentukan dengan siapa dia akan menjalin hubungan. Kita sebagai orangtua hanya perlu mendukung apa yang terbaik buat Damar.” Apa benar Damar tahu apa yang terbaik baginya? Bahkan, Violet pun tahu sekarang ini Damar sudah tersiksa oleh perasaannya sendiri. Jujur akan jauh lebih baik daripada pergi tanpa mengatakan apa-apa. Itu hanya akan menyakiti mereka berdua. “Lagipula Muti kan juga punya pacar. Dia nggak akan sekehilangan itu.” “Tuh kan pikiran kamu ama Damar sama. Kalian ini memang egois. Nggak mau mikirin perasaan wanita.” Violet meraih guling dan berbaring memunggungi suaminya. Air mata menetes membasahi bantalnya. Ia merasa sedih untuk kisah cinta Damar yang seperti ini. Violet sudah menyayangi Damar sejak anak itu masih merah. Kenyataan bahwa Hannah mengalami baby blues yang cukup berat kala itu, membuat Violet yang lebih sering merawat Damar. Ia menyayangi anak itu sama besar dengan anak-anak kandungnya yang lain. Violet ingin Damar bahagia dan pergi tanpa penyesalan. “Sayang…” Erlangga meraih bahunya, tetapi ditepisnya dengan kesal. “Nggak usah pegang-pegang. Aku kesel sama kamu.” Namun bukan Erlangga jika menurutinya. Pria itu malah mendekapnya erat dan menciumi bagian belakang kepalanya. Percuma saja Violet melawan karena tenaga Erlangga jauh lebih besar darinya. Lagipula, Violet memang tidak mau melawan. Pelukan Erlangga selalu membuatnya tenang, semarah apapun ia. “Aku tahu kamu sayang sama mereka. Tapi kita nggak boleh maksain keinginan Damar buat nggak pamit sama Muti. Lagipula kita juga nggak tahu gimana perasaan Muti sama Damar.” “Muti tuh suka sama Damar. Dia cuma nggak sadar aja.” Erlangga terkekeh dan kembali mencium kepala Violet. “Itu kan asumsi kamu, Sayang. Ini akan lebih baik buat Damar daripada dia terus di sini dan sakit hati melihat Muti sama siapa itu nama pacarnya? Ferero??” “Nero! Ferero itu coklat!!” Erlangga terbahak dan kembali menciumnya. “Iya itu pokoknya.” “Mau di sini atau di sana, tetep aja dia pasti bakal sakit hati.” “Seenggak-enggaknya Damar nggak melihatnya langsung. Di sana dia juga akan sibuk sama sekolah barunya. Lingkungannya. Atau bahkan ...” “Stop! Aku nggak mau denger bagian itu.” Erlangga meraih tubuh Violet dan membaliknya hingga mereka berhadapan. Sejenak, mereka hanya saling menatap dalam diam. Erlangga tersenyum dan hati Violet mengembang oleh kebahagiaan. Sudah bertahun-tahun lamanya dan Violet masih mencintai Erlangga sebesar saat ia pertama kali jatuh cinta pada pria ini. Ada saat-saat di mana Violet terbangun lebih dulu daripada Erlangga dan ia akan menatap pria ini lama sekali. Violet bersyukur untuk tahun-tahun penuh cinta dalam kehidupan pernikahan mereka. Untuk anak-anak mereka yang tumbuh dengan sehat dan sempurna. Dan yang paling penting, ia bersyukur pria ini yang menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya. Yah, walaupun kadang Erlangga sangat menyebalkan. “Dengan berjauhan, mereka justru akan menyadari perasaan mereka masing-masing. Kayak kita dulu.” Violet mendesah dan menyurukkan kepalanya ke d**a Erlangga. “Aku harap Ola nggak akan ngalamin cinta yang kayak gini.” “Jangan harap ada cowok yang bisa sakitin Ola. Aku habisin itu cowoknya.” Violet terkikik. Erlangga memang ayah yang sangat protektif untuk Ola. Perpisahan mereka yang sempat terjadi dulu telah membuat Erlangga memiliki ikatan yang begitu kuat pada Ola. Erlangga bahkan berdiam diri di kamar Ola setiap malam selama dua minggu penuh ketika anak sulung mereka itu pergi ke Amerika. “Muti kan nggak nyakitin Damar. Dia nggak tahu Damar suka sama dia.” “Kamu perasaan kok belain Mutia banget sih? Ketemu juga baru berapa kali kan?” Violet mengangkat bahunya. “Gadis itu polos dan baik hati. Aku tahu kenapa Damar suka banget sama dia. Jaman sekarang ini, nggak banyak cewek yang kayak Muti. Jujur dan apa adanya.” “Jadi kamu tetep nggak mau Damar punya cewek lain?” “Enggak! Pokoknya enggak. Aku bakal telepon Mbak Hannah buat awasin dia. Kalau sampai Damar punya pacar, lihat aja nanti.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD