“Muti punya pacar ya?”
Itu adalah hal pertama yang Hannah ucakan ketika Damar menelepon keesokan harinya.
“Wa’alaikumsalam, Bunda. Damar sehat kok di sini.”
Hannah tertawa di ujung sana mendengar ucapan Damar. “Bunda tahu kamu akan sehat-sehat aja di tangan Papa sama Mama kamu. Bunda cuma nggak tahu kalau Muti punya pacar. Kenapa nggak ada yang cerita sama Bunda?”
Damar terdiam. Apa yang harus ia ceritakan? Bahwa dirinya sakit hati karena Muti sudah menjadi milik Nero? Bahwa ia sangat ingin merebut Muti dari tangan Nero? Ia tidak mungkin mengatakan itu kan?
“Ya biarin ajalah dia punya pacar, Bun. Mumpung ada yang mau.”
“Kamu itu ngomongnya! Kayak kamu nggak mau sama dia aja.”
Damar mendesah dan memejamkan mata. Sial, seharusnya ia bisa menjaga rahasianya dengan baik dari keluarganya. Mereka semua adalah sekumpulan orang-orang yang sangat ingin tahu.
“Ayah sama Elang sehat kan, Bun?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Nak, Bunda nelepon bukan buat nanyain kabar. Bunda tahu kamu baik-baik aja. Ayah sama adik kamu juga baik-baik aja. Yang mau Bunda tahu, hati kamu baik-baik aja apa enggak??”
Hannah Surry Widjaya adalah perempuan terbawel nomor dua setelah Violet, jadi sudah pasti Hannah tidak akan diam sebelum Damar menjawabnya. Dengan jujur, karena ia tidak pernah bisa berbohong pada Hannah. Atau pada siapapun anggota keluarganya yang lain.
“Yang penting Muti bahagia, Bun.”
“Nak ...”
“Damar mau ke sana ya besok liburan. Damar kangen Bunda.”
“Pindah aja sekolah di sini ya?”
Damar tertawa. “Damar kan udah mau kelas tiga, Bun.”
“Kamu sih bandel nggak mau ikut ke sini. Coba ikut pindah, kamu bakal ...”
“Bun, udah ya? Damar mau belajar. Dah, Bunda. Assalamualaikum.”
Damar mematikan ponselnya sebelum Hannah menjawab salamnya. Ia sedang tidak ingin membicarakan itu sekarang. Ia meraih buku dan membukanya meskipun tidak banyak yang masuk ke otaknya.
Rumah terasa sunyi karena adik-adiknya ada di rumah Opa. Setiap pulang sekolah, mereka lebih sering berada di rumah Opa daripada di rumah. Biasanya Damar juga begitu. Akan tetapi, akhir-akhir ini ia tidak ingin melakukan apapun. Ia lebih banyak di kamar setiap pulang sekolah dengan alasan belajar. Padahal bukan itu yang ia lakukan. Banyak hal yang berubah semenjak Muti punya pacar.
Pintu diketuk dua kali dengan pelan dan Damar pura-pura berkonsentrasi pada buku Kimianya.
“Ada Muti di bawah.”
Nggak mungkin. Mama pasti bohong. Muti tidak mungkin ada di sini. Tante Dina bilang tadi ada Nero di sana saat ia menelepon ke rumah cewek itu. Tidak mungkin Nero membiarkan pacarnya ke sini. Kemarin, ketika Violet menyuruhnya ke rumah Muti untuk menjemputnya, cowok itu melarangnya membawa Muti ke rumahnya.
“Damar. Punya telinga nggak sih? Ada Muti di bawah.”
Akhirnya, Damar menoleh ke arah Violet. “Nggak mungkin. Tante Dina bilang ada Nero di rumahnya. Dia nggak mungkin ...”
“Bawel!” Potong Violet sambil menarik tangannya. “Jangan jadi cowok pengecut. Ayo turun!”
Violet terus menarik tangannya dengan paksa hingga mau tidak mau Damar bangkit dan mengikuti wanita itu turun. Jika Violet berbohong padanya, ia benar-benar akan membeli tiket ke Jepang besok segera setelah ujian berakhir. Ia akan pindah ke sana dan tidak akan pulang lagi.
Oh, tidak. Apa yang mamanya katakan ternyata benar. Di sana, duduk di sofa ruang keluarga, Muti tengah duduk sambil memeluk boneka beruang milik Ola.
“Marmut! Ngapain lo ke sini?” Teriaknya dengan pura-pura kesal.
Muti menoleh dan menyeringai hingga membuat jantung Damar serasa melompat dari tubuhnya. Sial, senyuman Muti tidak pernah semenarik itu sebelumnya.
“Gue mau belajar,” jawab Muti saat Damar telah berada di sampingnya.
“Kan ada pacar lo di rumah. Belajar aja sono sama dia.”
Muti melotot dan memukul bahunya.
“Aduh! Sakit, Kampreet!!”
“Damaaaar, language!!” Teriak Violet dari dapur.
Muti terkikik sambil berucap, “sukurin lo,” tanpa suara.
“Ngapain lo ke sini? Boleh sama herder lo?”
“Lo tadi nelpon ke rumah kan? Gue tahu pasti lo kangen belajar sama gue.”
“Sok tahu!” Jawab Damar sambil menoyor kepala Muti.
“Damar, ih! Ntar gue jadi b**o!”
“Emang lo udah b**o kali!” Jawab Damar sambil tertawa.
Muti meraih bantal sofa dan memukul badan Damar dengan kesal hingga cowok itu terbahak-bahak. Seolah tidak mau kalah, Damar mengambil bantal lainnya dan balas memukul bahu Muti.
Mereka tertawa dan menjerit riang bersama seperti dulu. Seperti saat Muti belum punya pacar. Saat Damar tidak harus bersusah payah menyembunyikan perasaannya. Saat mereka berdua benar-benar bisa bersikap apa adanya.
Jujur, Damar merindukan saat-saat itu. Ketika ia dan Muti adalah hanya dua orang sahabat yang biasa berbagi apa saja. Ketika ia menjadi orang pertama yang Muti datangi saat cewek itu kesulitan dengan pekerjaan rumahnya. Ketika ia bisa mengantar Muti pulang tanpa khawatir ada orang yang akan marah. Ketika Muti benar-benar menjadi 'miliknya.'
“Udah, udah, Dam, ampuuuunn!! Ampuuunn!!” Teriak Muti ketika Damar masih menyerangnya dengan brutal.
Bantal sofa sudah berserakan di lantai dan bisa dipastikan mama akan mengomel nanti saat melihatnya. Namun siapa yang peduli? Damar rela diomeli mama sepanjang hari jika ia bisa memiliki Muti di rumah ini sepanjang siang bahkan hingga sore jika perlu.
“Lo sama siapa ke sini?” Tanya Damar akhirnya setelah perang bantal mereka usai.
“Sama Anton Sungkono.”
Dahi Damar berkerut. “Siapa itu?” Ia tidak pernah mengenal nama itu sebelumnya.
“Driver ojol lah.”
Damar tertawa dan mencubit pipi Muti dengan gemas. “Sialan lo, gue pikir lo punya cowok lagi yang gue nggak tahu.”
Muti mencibir. “Punya cowok satu aja bikin kapok, ngapain gue mesti punya lagi.”
“Ya udah putusin aja cowok lo itu. Terus ...”
“Stop! Gue mau belajar ya ke sini. Lo nggak usah bawel bahas yang lain. Udah ayo belajar!” Muti duduk di lantai dan mengeluarkan buku Kimia dari tasnya.
Damar tersenyum. Oke, jika memang itu yang Muti inginkan. Ia akan diam. Ia tidak akan bertanya. Karena yang penting baginya adalah Muti ada di sini. Bersamanya. Itu saja.