Saat Muti membuka mata, ia menatap langit-langit kamar yang asing. Lalu, bau desinfektan dan obat-obatan berbaur jadi satu hingga membuatnya mual. Rumah sakit. Kenapa ia bisa sampai ada di sini? Tadi ia berada di lab kesenian, kemudian merasa pusing dan perih pada perutnya. Muti ingin tidur sebentar, dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. “Muti? Lo udah sadar?” Mata Muti mengerjap mendengar suara itu. Damar. Ia menoleh dan melihat Damar duduk di sebelahnya, menggenggam salah satu tangannya yang tidak dipasangi infus. Muti meringis saat tusukan jarum itu terasa ketika ia bergerak untuk menarik tangannya dari genggaman Damar. “Kenapa lo di sini? Nero mana? Gue kenapa?” tanyanya dengan suara lemah. Ia kembali menoleh ke arah lain, menolak untuk menatap pria itu. Di mana Nero? Buka

