Tanpa bisa Muti cegah, air mata itu turun dengan deras di pipinya. Setelah ini, Damar pasti akan menertawakannya. Namun Muti tidak peduli soal itu. Ia memang sangat, sangat, sangat merindukan si tengil itu. Sampai beberapa saat lamanya, Damar tidak juga bicara. Ia hanya mendengarkan tangisan Muti tanpa menyela ataupun tertawa. Atau mungkin Damar heran mendengarnya menangis. Tidak pernah selama seumur hidupnya, Muti menangis seperti ini. “Lo... apa kabar, Dam?” Tanya Muti dengan sesenggukan setelah seluruh air matanya habis. “Gue nggak baik-baik aja, World.” “Elo kenapa?” Tanya Muti tajam. Berbagai pikiran buruk berlarian di kepalanya. Apa Damar sakit parah? Apa cowok itu sebenarnya pergi untuk berobat? Apa umurnya hanya tinggal beberapa bulan lagi? “Gue sehat wal afiat, Marmut! Nggak

