“Dia siapa, Kak?” Seorang anak perempuan yang mungkin baru berusia kurang dari sepuluh tahun itu, berdiri dengan takut-takut di belakang Muti sambil menatap Damar ragu. Dan sebenarnya, tidak hanya satu anak itu yang menatap ragu padanya. Anak-anak lain juga melakukan hal serupa. Tampak kaget, takut, dan juga bingung melihatnya di sini. Yah, Damar sendiri juga merasa agak aneh di sini. Entahlah, dia masih merasa tidak diterima di sini. Bukan karena ia berpakaian terlalu mewah. Ia sudah mengganti kemeja desainernya yang terkena ‘lukisan’ Muti, dan memakai kaus polos berkerah. Bahkan Damar juga mengganti sepatunya dengan selop santai yang selalu ia simpan di mobil. Ia terlihat jauh lebih ‘merakyat’ daripada Muti yang masih memakai rok selutut, blus resmi, dan sepatu kerjanya itu. Lalu ke

