Nero. Satu nama itu sekarang menjadi idola baru di SMU Persada Bangsa sejak tiga bulan lalu. Anak baru pindahan dari Singapura yang cool dan misterius. Kepopulerannya bahkan mengalahkan Damar yang sejak dulu selalu dipuja. Saat Nero melintas, cewek-cewek akan menghentikan kegiatan mereka dan sibuk memerhatikan cowok itu. Termasuk juga dengan Muti meskipun ia melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi.
Muti pikir, ia tidak akan pernah jatuh cinta di usianya sekarang ini. Namun, seperti yang selalu didengungkan Acha, bahwa cinta itu bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu, akhirnya berlaku juga untuk Muti. Nero telah mencuri sebagian hatinya.
Akan tetapi, tentu saja, saingan Muti untuk ‘mendapatkan’ perhatian Nero bejibun banyaknya. Bahkan, Muti yakin, hampir satu sekolah termasuk para kakak kelas memiliki impian menjadi pacara Nero. Pacaran dengan cowok yang lebih muda sudah menjadi tren saat ini sehingga tidak masalah seorang kakak kelas menggebet adik kelasnya.
Seperti pagi ini, kelas Muti sedang ada pelajaran olahraga dan pinggir lapangan basket sudah penuh oleh cewek-cewek yang ingin melihat kelihaian Nero di lapangan. Jam pelajaran olahraga yang terjeda waktu istirahat selalu membuat mereka menjadi tontonan. Dan hari ini, tontonan itu semakin menarik karena guru olahraga mengadakan pertandingan basket three on three.
Kantin yang biasanya selalu penuh saat jam istirahat, menjadi kosong karena semua orang lebih memilih untuk menonton Nero beraksi. Meskipun panas menyengat yang biasanya membuat cewek-cewek malas berada di luar, untuk kali ini aturan itu tidak berlaku. Semua cewek dari seluruh kelas, berdesak-desakkan di pinggir lapangan. Pun dengan Muti. Ia yang berteriak paling heboh setiap kali Nero berhasil memasukkan bola.
Akan tetapi, Muti tetaplah Muti. Meski sejatuh cinta apapun pada Nero, makan baginya tetaplah nomor satu. Ketika dirasanya cacing-cacing dalam perut sudah berteriak lebih keras, Muti memilih menyerah dari lapangan basket dan pergi ke kantin. Makan nomor satu, Nero nomor berikutnya.
“Abaaang, baksonya satuuu sama es jeruuk!!” Teriak Muti ketika pantatnya mendarat di bangku kayu tukang bakso kantin sekolah.
“Siaaaap, Neng Marmut. Ditunggu yaa.”
Muti mengangguk dan meraih gorengan yang ada di hadapannya. Lapangan basket masih riuh rendah oleh teriakan anak-anak yang menyemangati Nero. Oke, dia memang jatuh cinta pada Nero, tetapi dia jauh lebih jatuh cinta pada bakso. Cowok dan makanan bukanlah pilihan yang sulit bagi Muti. Ia jelas akan lebih memilih makan.
“Udah gue tebak lo nggak bakalan bertahan lama di lapangan.” Tangan kurus itu meraih gelas es jeruk milik Muti yang baru saja datang, dan meminumnya sampai tandas.
“Minum gueeee!!” Jerit Muti sambil memukul bahu Damar dengan sekuat tenaga yang ia punya.
Damar terkekeh dan berteriak, “Maaang, baksonya satu lagi sama es jeruk dua!!”
“Siaaaap, Den Ganteeng!”
Mata Muti berbinar. “Buat gue semua ya?”
“Enak aja. Satu buat gue!”
Bibir Muti cemberut mendengarnya. Tadinya, ia pikir Damar menebus kesalahan karena telah menghabiskan es jeruknya.
“Lo nggak ikut tanding sama Nero?” tanya Muti kemudian sambil meraih lagi bakwan di meja.
Tadi begitu jam istirahat dimulai, cowok-cowok dari kelas lain langsung siap sedia ambil bagian untuk menunjukkan keperkasaan mereka di lapangan basket. Yah, basket masih menjadi olahraga prestisius yang bisa menaikkan pamor di sekolah.
Lo jelek tapi bisa main basket, lo masih aman dan bisa jadi populer. Lo jelek dan nggak bisa main basket, kelar hidup lo di sekolah. Basket adalah kasta tertinggi untuk membuat para cowok populer.
Damar menggeleng sambil meraih botol kecap ketika mangkuk bakso sudah ada di hadapannya. Ia selalu makan bakso super pedas dan super gelap karena banyaknya kecap yang ia masukkan dalam mangkuk baksonya. Muti kadang mengernyit melihat cara makan Damar itu.
“Takut kalah lo ya?”
“Ih, nggak level yah! Gue jauh lebih jago daripada dia.”
Muti mencibir. “Buktiin dong!”
Damar berhenti memakan baksonya dan menatap Muti. “Buat apa? Nggak ada untungnya kan kami tanding? Buat naikin prestise doang gitu? Biar dianggep paling cool di sekolah? Maaf, gue nggak tertarik.”
“Jadi nggak masalah buat lo gitu kalau sekarang semua cewek termasuk Acha ngejar-ngejar Nero? Dia jauh lebih dipuja daripada lo sekarang, tahu nggak?”
Damar menggeleng dengan tegas. “Gue nggak peduli semua cewek ngejar dia asal lo enggak.”
Muti tersedak, benar-benar tersedak, bulatan bakso yang tengah ia kunyah. Damar berdecak dan bangkit dari duduknya sambil memijit tengkuk Muti dengan pelan.
“Makan pelan-pelan dong, Mut. Lo emang nggak pernah baca kalau ada orang yang mati kesedak??”
“Lagian elo juga sih ngomong aneh-aneh.”
“Aneh-aneh gimana? Elo-nya yang aneh, Marmut! Emang selama ini gue pernah peduli sama cewek selain elo? Enggak kan?” Ucap Damar sambil menoyor kepala Muti dan kembali duduk menikmati baksonya.
Muti mengamati Damar yang asyik dengan baksonya. Cowok itu memang sering bicara sembarangan, tetapi Muti tahu tidak semua yang Damar ucapkan itu benar-benar sembarangan. Termasuk itu. Lalu apa bedanya bagi Damar jika ia mengejar Nero atau tidak? Bagaimana seandainya Damar tahu jika dirinya juga diam-diam naksir Nero? Apa cowok itu akan marah padanya?
“Lo nggak naksir gue kan?” tanya Muti dengan santai.
Damar menoleh dari keasyikannya menggigit bakso urat dan menatap Muti dengan dahi berkerut. “Dih, ngarep ya gue taksir?”
Meski menyebalkan, mau tidak mau jawaban itu membuat Muti mengembuskan napas lega. Jujur, ia tidak akan sanggup kehilangan Damar jika cowok itu sampai menyukainya. Walaupun memang kemungkinannya sangat kecil. Cowok sepopuler Damar tidak akan pernah menyukainya. Bahkan meskipun kepopuleran Damar tergeser oleh Nero, masih akan ada banyak cewek yang antre untuk menjadi pacar Damar.
“Elo ...”
“Kenapa nggak nonton pertandingan sampai selesai?”
Pertanyaan itu menghentikan perkataan Damar dan membuat mereka berdua menoleh. Nero, masih dengan kaus olahraga dan rambut yang basah oleh keringat, berdiri tidak jauh dari Muti bak dewa ketampanan Yunani yang tiada tandingannya.
Muti menelan ludah dengan susah payah. Sedikit bersyukur dia tidak sedang mengunyah bulatan bakso karena bisa dipastikan ia akan tersedak dan benar-benar mati seperti ucapan Damar tadi.
Bagaimana cowok setampan Nero benar-benar ada di dunia ini? Kebanyakan cowok akan terlihat menjijikkan saat berkeringat, tetapi Nero justru sebaliknya. Ia terlihat semakin menawan. Muti mendengkus dalam hati. Ia pasti kebanyakan membaca novel yang sering Sandy bawa ke sekolah.
“Mutiara Dunia, aku nanya sama kamu. Kenapa diem aja?”
Sejak kapan namanya menjadi begitu merdu untuk diucapkan? Biasanya Muti lebih sering merasa malu ketika orang menyebutkan nama lengkapnya karena itu adalah nama yang sangat tidak pasaran. Ia sering protes kepada mamanya kenapa ia tidak memiliki nama pasaran saja seperti Dewi, Ratna, atau Sari.
Namun, ketika mendengarnya dari bibir Nero, rasanya Muti ingin meneriakkan nama lengkapnya pada semua orang dengan bahagia.
“Mutiara?” panggil Nero lagi ketika Muti tetap diam.
Muti tergagap dan tersenyum. “Iya, aku laper,” jawabnya sambil menyeringai salah tingkah. Padahal, ia tidak pernah salah tingkah sebelumnya!
Nero duduk di sisi tubuh Muti yang lain dan meraih gelas es jeruknya, lalu meminumnya sampai habis. Muti ingin marah seperti yang tadi dilakukannya pada Damar, tetapi ini Nero! Nero meminum gelas yang sama dengannya!
“Lain kali,” ucap Nero sambil menatap Muti, “kalau aku lagi tanding, tungguin sampai selesai. Jangan ilang-ilangan kayak gini.”
Muti melongo memandang cowok itu. Apa maksudnya? Memangnya Nero itu pacarnya? Bukankah hanya pacar-pacar yang menemani setiap pertandingan?
“Emangnya elo siapanya Marmut sampai mesti ditungguin kalau lagi tanding?” Tanya Damar sinis, menyuarakan pikiran Muti.
Nero tersenyum tidak kalah sinis dan menatap Damar. “Aku pacarnya.” Lalu, ia kembali menoleh pada Muti dan berkata, “Mutiara, kamu mau kan jadi pacarku?”