Hari sudah hampir siang, tetapi masih belum ada tanda kehidupan dari Muti. Damar sedang duduk di teras belakang rumah, menghadap danau Jenewa yang begitu tenang dan magis meskipun saat itu sudah terang benderang, dan sedang meminum tehnya ditemani dengan laptop yang terbuka. Damar sudah bangun sejak fajar, mengerjakan beberapa dokumen yang sudah menumpuk semenjak ia cuti hampir dua minggu yang lalu. Yeah, ia memang mengatakan kepada Muti untuk tidak memikirkan pekerjaan, tetapi Damar sendiri tidak bisa benar-benar lepas dari itu. Jabatannya sebagai wakil dewan sekolah, membuatnya tidak terlalu bisa bersantai karena ia dan Erlangga memiliki pembagian tugas masing-masing. Memang, pamannya itu sudah berkata jika akan meng-handle sementara pekerjaan Damar, tetapi faktanya, tetap ada beberapa

