perih

1018 Words
“Ada apa denganmu?” tanya Stenly melihat kekesalan diwajah Fre. “Aku tidak apa-apa,” jawab Fre hendak melangkah meninggalkan Stenly. “Kamu tidak mungkin seperti ini jika tidak ada masalah.” “Aku benci keluarga ini,” jawab Fre menatap wajah Stenly yang saat ini terlihat heran melihatnya. “Aku benci semua hal di rumah ini, bukan hanya rumah ini, tapi semua penghuni rumah ini.” Fre jongkok dilantai tepat dihadapan Stenly, lalu menangis dihadapan Stenly, ia seolah bisa mengeluarkan semua isi hatinya setelah bertemu dengan Stenly, sudah sejak kemarin ia menahan diri dan tidak melakukan apa pun, bahkan mau mengadu dimana pun ia tidak tahu. “Ini semua konsekuensi yang harus kamu terima, Fre.” “Apa? Konsekuensi? Bukankah keluarga ini hanya mencari istri untuk menemani Jael? Bukan untuk merusak semua masa depan seseorang?” Fre memandang Stenly yang kini berdiri dihadapannya. “Ya. Itu lah aturan yang harus kamu terima.” Fre menangis terseduh-seduh didepan Stenly, ia tidak bisa menahannya. Seolah hatinya menggendor didalam sana menyuruhnya untuk menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan apa yang mengganjal dalam hatinya. “Fre, diam lah,” kata Stenly. Fre tak mau diam, Stenly langsung menggendong Fre dan memasukkan Fre ke dalam kamarnya, Stenly pun langsung memeluk Fre, mencoba menenangkan gadis itu, sungguh malang nasibnya, masuk ke keluarga Riyadi dan menikahi mayat hidup seperti Jael, namun semua itu juga sudah menjadi pilihan hidupnya. Fre terus menangis dipelukan Stenly, Stenly menepuk punggungnya, sebenarnya Stenly sangat membenci Fre yang sudah memiliki masuk ke keluarga ini dengan cara menikah dengan Jael, dibandingkan bersamanya. “Paman dan semuanya jahat,” lirih Fre. Stenly mendorong tubuh Fre, Fre terkejut, tadinya Stenly menenangkannya, menepuk punggungnya dengan lembut, namun tiba-tiba mendorongnya kuat hingga membuat Fre terduduk ditepi ranjang. “Apa kamu semurahan itu? Kamu mengira menikah dengan Jael, kamu akan bahagia? Tidak akan. Kamu hanya akan kehilangan semuanya.” Stenly menunjuk kasar kea rah Fre membuat Fre kebingungan karena Stenly cepat sekali berubah. Fre kembali menangis. “Aku sangat membenci wanita yang tidak berpendirian tetap.” “Kalau begitu Paman tidak usah sok baik padaku.” “Fre, kamu selalu membuat emosiku memuncak,” kata Stenly mendekati Fre dan mencium Fre secara paksa, sekuat apa pun Fre melepaskan diri dari pagutan Stenly, namun Fre tetap kalah, karena ia tidak sekuat tenaga Stenly. Fre tak punya tenaga lagi untuk melawan Stenly, dan akhirnya Stenly benar-benar memiliki akses untuk mencium Fre dengan puas, wangi mulut Fre, wangi tubuh Fre, membuat Stenly melayang seketika, ia ingin lebih dari ini. Walau Fre tak membalas ciumannya, namun Stenly tetap menikmatinya. Fre membiarkan Stenly melakukan hal seperti ini, walau Fre sudah tahu bahwa ini bukan hal yang patut dibenarkan. Tangan nakal Stenly menurunkan kasper belakang baju Fre, membuat tubuh belakang Fre terlihat didepan cermin dan hanya Stenly yang melihatnya. Stenly menyunggingkan senyum, seolah ia mendapatkan mangsa yang akan membuatnya kenyang. “Paman, apa yang kau lakukan?” tanya Fre menghentikan tangan nakal Stenly. “Aku menginginkanmu,” bisik Stenly. “Paman, kau harus sadar, aku istri dari keponakanmu.” “Diam, jangan sebut aku dengan sebutan Paman.” Fre merasakan kenikmatan menjalar diseluruh tubuhnya, ya ini lah yang dia inginkan, dia ingin mendapatkan kasih sayang, belaian dan kehidupan yang sesungguhnya, namun tidak akan pernah ia rasakan bersama suaminya, Jael. “Kamu suka, ‘kan?” bisik Stenly. Stenly mendorong tubuh Fre dan membaringkan Fre diatas ranjangnya, Stenly lalu menindih gadis itu dan menikmati setiap jengkal tubuhnya, Fre memejamkan mata, ia tidak bisa melawan keinginan Stenly dan keinginan hatinya saat ini, dosa mungkin akan bisa ia tanggung nanti, tapi kenikmatan ini jangan sampai lepas dari dirinya. Stenly terus menerus menjilat inti tubuh Fre, hingga pembatas bernama baju itu sudah hilang dari tubuh Fre, Fre membulatkan mata, namun ia sudah berada dibatas level kenikmatan, ia tidak ingin berhenti, ia tidak ingin Stenly melepaskannya, harus benar-benar capai dipuncak dan mereka bisa melepaskan diri sama-sama. Stenly tergoda dengan tubuh Fre yang begitu mulus dan bening, kepalanya menyimpan banyak kebahagiaan setiap kali dekat dengan Fre. “Ahh,” desah Fre ketika Stenly membelai miliknya dibawah sana. “Paman, ini tidak benar.” “Nikmati saja, lagian suamimu tidak akan bangun.” “Paman, kok ngomong gitu?” “Jangan panggil aku paman,” jawab Stenly. “Ahh, aku mohon, ahh,” desah Fre lagi membuat stenly menyunggingkan senyum karena mendengar desahan Fre barusan, membuat nafsunya semakin liar saja, ia pun segera mencumbu Fre, membuat Fre kelabakan karena tak bisa menolak. Bibir Stenly juga terus menerus menikmati bibir bawah Fre, membuat Fre tak bisa mendorong tubuhnya. Stenly membuka kemejanya, membuka celananya dan akhirnya miliknya menjulang keatas karena telah siap bertempur, Fre membulatkan mata, ya ini bukan pertama kali untuk mereka, namun tetap saja ada hal yang baru yang selalu dikenalkan Stenly. “Kita coba gaya baru,” bisik Stenly. Sementara itu Ria mencari-cari keberadaan Fre, karena di kamar Jael hanya sendirian, dokter datang pun Fre tak ada di tempat, Ria juga sudah menanyakan kepada semua bodyguard, namun kata mereka semua Fre tak keluar dari rumah. Ria bingung dan mengumpulkan maid yang ada di rumah untuk mencari Fre di sekitar rumah, namun ada beberapa ruangan yang tidak bisa Ria masuki, termaksud kamar Stenly. Jadi, Ria tak bisa memastikan Fre ada di kamar Stenly. “Bukankah dokter Jael akan datang hari ini?” tanya Fre pada dirinya sendiri. “Lupakan sejenak tentang Jael, dia tak bisa memberikanmu kebahagiaan.” “Paman, aku mohon,” lirih Fre. “Nikmati ini saja, kita bisa melepaskan diri sama-sama.” “Ahh, ouhh,” desah Fre kembali, ketika satu jari milik Stenly masuk ke dalam lembahnya dan bermain didalam sana. Sungguh, ini nikmat, namun ia tetap harus sadar bahwa ini adalah kesalahan besar. “Ayo, Sayang, mendesah lah,” ucap Stenly. “Ahhh, ouhh,” desah Fre. “Aku akan membuatmu nyaman dan bahagia di sini.” “Paman, aku ti-tidak tahan lagi.” “Aku akan memuaskan nafsumu.” Stenly menyunggingkan senyum. "Tenang saja. Tak akan ada yang mendengarnya, jadi mendesah lah. Ayooo." "Aku sudah tak tahan lagi," lirih Fre. "Iya. Aku akan memasukkannya sekarang." "Paman, tolong, aku sudah tak tahan." Fre terus menerus memohon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD