Anak Siapa?
Seorang anak lima tahun berlari kecil mendekati kantin. Dia berjalan perlahan mondar-mandir di depan buah-buahan di etalase. Caca yang melihatnya, segera keluar dari ruangan berukuran tiga kali enam meter itu. Dengan wajah ceria dan ramah, Caca menyapa anak yang masih bengong di depan etalase jus di sebelah etalase masakan milik ibunya.
“Halo, ganteng. Nama kamu siapa?” tanya Caca sambil berjongkok agar dia bisa menatap mata anak itu, sejajar dengan matanya.
“Arya,” sahutnya pelan. Arya agak mundur karena takut. Namun, Caca bersikap lebih ramah dari sebelumnya.
“Kamu sendirian? Di mana mama kamu?” Caca memegang tangan anak itu hingga dia merasa nyaman.
“Kata Daddy, Mommy digondol kucing,” sahutnya membuat Caca menggembungkan kedua pipi, menahan tawa dan akhirnya tak bisa ditahan lagi. Dia tertawa menutup mulutnya dengan tangan kanan.
“Kamu haus? Mau minum? Yuk, Kakak ajak ke dalam. Mau dibuatin jus apa? Kayaknya Arya tadi lihat jambu. Mau jus jambu?” tawar Caca.
“Jus jambu yang warna merah ya? Aku mau jus yang warnanya hijau ada coklat-coklatnya dari kaleng s**u,” pinta anak itu dengan duduk manis di kursi pelanggan yang memang masih kosong.
“Oh, itu namanya jus alpukat. Arya duduk tenang di sini, ya? Kakak buatkan sebentar, sebentaar aja. Nggak sampe lima menit,” janji Caca.
Arya tersenyum manis dan mengangguk. Dia masih membawa tas kecil di punggungnya. Tas berwarna biru dengan karakter bus kartun kesukaannya di televisi.
“Arya suka Tayo?” tanya Caca sambil membelah sebuah alpukat mentega yang segar.
“Kok Kakak tau?”
Anak itu malah balik bertanya pada Caca. Dia sangat excited dengan pertanyaan Caca. Kenapa wanita itu bisa tahu acara televisi kesukaannya. Padahal Caca menebaknya dari tas yang dipakai oleh Arya. Caca kembali menahan senyum mendengar kepolosan Arya.
“Iya, tau dong. Kak Caca kan juga suka Tayo.“
Caca mulai menyanyikan lagu pembuka film kartun Tayo yang sering dinyanyikan di layar televisi.
Kemudian Arya menyambar melanjutkan lagu dengan senang sekali karena dia begitu hapal dengan nyanyian Tayo. Arya bahkan menyanyi dengan lantang sampai akhir di kursi tempatnya duduk. Dengan begitu, Caca tak perlu mengajaknya bicara agar tak bosan menunggu jus itu jadi. Caca tertawa mendengar begitu lancarnya Arya menyanyi. Diulang-ulang.
Caca mengambil satu cup jus lalu mengambil sebuah spidol dari tasnya, menggambar bis dengan tulisan ‘Tayo’ di bawah bis itu, lalu mengisinya dengan s**u coklat dan menuang jus alpukat yang kental ke dalamnya hingga nampak gambar bis itu. Caca memasukkan cup itu ke mesin press lalu menutupnya dengan rapi. Dia menyodorkan pada Arya yang masih bernyanyi.
“Eh, udah jadi. Ini kok ada gambarnya Tayo?” tanya Arya penasaran melihat cup jusnya.
“Iya, ajaib ya?” sahut Caca memperhatikan anak yang berwajah imut dan tampan itu.
“Iya. Ah, pasti enak karena ada Tayonya. Ini berapa, Kak?” tanya Arya.
Caca kembali menahan senyum. Anak ini begitu sopan dan tak berlari pergi begitu saja saat menerima sesuatu dari orang lain. Caca penasaran dengan orang tuanya. Pasti orang tuanya mengajarkan tentang tanggung jawab pada anak ini. Namun, setelah ingat bahwa anak itu mengatakan ibunya digondol kucing, apa yang dia pikirkan buyar seketika.
“Itu gratis buat Arya karena Arya pintar menyanyi.”
Raut wajah polos itu makin menggemaskan karena dia terbelalak mendengar kata gratis.
“Kak, kata Daddy, nggak ada yang gratis di dunia ini. Kenapa Kakak menggratiskan jus ini? Aku mau bayar,” ujarnya kukuh merogoh kantongnya.
“Kamu punya uang berapa?” tanya Caca penasaran.
Arya tak menjawab. Dia meletakkan cup jusnya di kursi panjang, lalu turun dan merogohi kantong-kantong seragamnya. Dari seragamnya, Caca tahu bahwa anak ini bukanlah anak orang sembarangan karena nama sekolahnya termasuk sekolah bergengsi di kota itu.
Kembali Caca memperhatikan apa yang akan dilakukan anak itu. Ternyata, dia mengeluarkan tiga biji saga, satu kancing baju dan sebuah kotak makan yang sudah kosong pada Caca.
“Maaf, Kak. Arya hanya punya itu untuk ditukar jus,” keluhnya.
Caca malah ingin tertawa dengan apa yang dilakukan oleh anak itu. Dia mengambil semua barang yang dikeluarkan oleh Arya, lalu menyimpannya di kantong, kecuali tempat makan. Caca mencuci tempat makan itu lalu mengisinya dengan nasi kuning yang kebetulan ada di menu kantinnya. Dengan peralatan seadanya, Caca membentuk nasi dan menghiasinya dengan potongan telur, abon, serta seledri. Dia menyerahkan tempat itu pada pemiliknya yang sedang menyedot jus dengan enaknya.
“Tadi sudah kakak terima, lalu ini kembaliannya ya Arya. Nanti di rumah dibuka,” ujar Caca memasukkan tempat makan yang lagi-lagi bergambar bis kecil ramah itu ke dalam tas Arya.
Anak itu mengangguk dengan bersemangat. Tak terlihat wajah cemas, yang ada dia merasa nyaman di tempat itu. Juga saat ibu Caca, yaitu Bu Alisha datang membawa satu panci besar kuah soto. Dia mengerutkan dahi melihat anak kecil yang sedang menikmati jus duduk di kursi pelanggan.
“Siapa?” tanyanya lirih pada Caca.
Caca sendiri mengangkat kedua bahunya. Dia tak tahu itu anak siapa, yang penting dia sudah memberi anak itu minuman untuk meredakan rasa hausnya.
“Halo,” sapa Bu Alisha sesaat setelah meletakkan panci besar di dalam.
“Ya, Nenek.”
Caca hampir terkikik saat mendengar Arya menjawab sapaan ibunya. Sedangkan sang ibu mencebik pada Caca.
“Ini siapa ya?” tanya Bu Alisha mendekat ke arah anak itu.
“Arya, Nek,” sahutnya lagi tanpa mengubah panggilannya untuk wanita itu.
“Arya anak siapa?” tanya Bu Alisha lagi.
Sebelum Arya menjawab, seorang pria berbaju safari berwarna biru dongker berjalan melongok ke dalam. Dia terlihat lega saat melihat Arya duduk di dalam.
“Mas Arya, dicari Daddy dari tadi. Mas Arya balik, yuk?” ajak pria itu.
Arya pun turun dari tempat duduknya membawa cup yang masih berisi sisa minumannya. Dia membungkuk pada Caca dan Bu Alisha.
“Jus bikinan Kak Caca enak sekali. Besok aku akan bawa biji saga lagi untuk ditukar dengan jus,” ujarnya membuat Caca gemas sekali ingin mencubit pipi anak itu. “Besok aku ke sini lagi ya, Kak! Aku akan bawa juga kancing baju yang banyak,” ujar Arya, berlari keluar dan menggandeng pria yang menyusulnya.
Bu Alisha memandang kepergian mereka dengan bingung.
“Yang nyusul Arya itu siapa, Bu?” tanya Caca. Dia pun penasaran, berdiri di samping ibunya, memperhatikan kedua manusia yang sedang berjalan ke arah kantor.
“Itu bawahan Pak Wiratama, pemilik kantor ini. Nah, dia bilang bahwa Arya dicari daddy-nya. Itu artinya Arya adalah anak Pak Wiratama?” tebak Bu Alisha, masih bingung.