“Kamu dari mana, Arya? Daddy mencarimu dari tadi,” gerutu Satria, ayah Arya di ruangannya.
Arya bukan menjawab malah memamerkan cup berisi jus alpukat yang dia pegang. Dia menggoyangkan cup itu lalu memperlihatkan gambarnya kepada sang ayah.
“Bagus kan, Daddy? Kakak cantik yang menyulap buat Arya. Ini Tayo, lho Daddy. Baca nih, TAYO,” eja Arya dengan wajah serius menatap ke arah cup plastik berisi sisa jus alpukat dengan semburat coklat di bawahnya.
Kening Arya berkerut. Dia menatap aneh pada anaknya.
“Kakak cantik? Siapa? Hati-hati sama orang asing, Arya. Lain kali kalo ada yang beri kamu sesuatu, jangan mudah diterima. Banyak penculik lho,” ujar Satria mengingatkan anaknya.
“Aku nggak dikasih, Daddy. Aku ini beli,” protes Arya, mendelik pada ayahnya.
“Beli? Memangnya kamu bawa uang?” Pria itu berjongkok menatap ke manik mata anaknya, anak itu masih jujur. Namun, Satria penasaran dengan apa anaknya itu membeli jus.
“Nggak, tapi aku bawa biji saga, kancing baju dan tempat makan kosong untuk Kakak cantik. Dia terima kok, malahan aku dikasih kembalian.”
Seolah diingatkan, Arya membuka tas lalu mengambil lunch box kecilnya dari tas, lalu agak heran karena berat. Dia segera membawanya ke hadapan sang ayah dan membukanya. Matanya terbelalak melihat nasi kuning yang dihias cantik oleh Caca tadi.
“Wuaah Daddy, ini kembalian yang paling bagus sepanjang hidupku!” oceh Arya, berlebihan bagi orang dewasa, tapi jujur bagi seorang anak seusianya.
Arya segera mengambil sendok lalu memakannya dengan lahap, padahal tadi dia makan roti panggang di sekolahnya. Satria meraup wajah melihat kelakuan anaknya itu.
“Katakan sama Daddy, di mana Kakak cantikmu itu?” Agak mengganggu acara makan siang Arya, Satria mendesak anak itu untuk mengatakan dari mana dia mendapatkan nasi kuning dan satu cup jus alpukat itu dengan cara lain, menanyakan kakak cantik.
“Daddy jangan sampai mencarinya. Dia itu hanya punya Arya, kakak cantik itu punya Arya. Kakak cantik bersembunyi di bawah, yang ada buah-buah dan banyak masakan berbau pedas,” ocehnya dengan mulut penuh. Anak yang polos, walau dia mencegah ayahnya untuk tak mencari Caca, tapi dia malah menyebutkan tempat di mana kakak cantiknya berada.
“Oh, berarti Daddy nggak bisa menemukan kakak cantik Arya ya? Ya sudah, Arya tunggu di sini sama Pak Odi, Daddy ada urusan sebentar ya?” pamit Satria mengelus kepala anak semata wayangnya itu.
Anak itu mengangguk, menurut. Dia sibuk menghabiskan nasi kuningnya dengan lahap hingga bibirnya berkilau terkena minyak. Namun, anak itu seperti tidak makan selama tiga hari. Sangat lahap. Hingga tak memperhatikan sang ayah yang sudah hampir keluar dari ruangan.
“Biar saya saja, Pak Satria,” ujar Odi.
“Tidak, aku saja,” tolak Satria.
Dia menyelinap pergi dari ruangannya, meninggalkan anak lelaki yang masih asyik dengan lunch box-nya itu. Sebenarnya dia sendiri penasaran dengan kakak cantik yang disebutkan oleh Arya. Juga ingin berbicara sendiri pada gadis itu.
Satria memasuki lift lalu turun ke bawah. Dia berjalan keluar, menuju tempat yang disebutkan oleh Arya tadi. Sebuah tempat dengan buah-buahan dan banyak masakan berbau pedas. Pastilah itu kantin. Hanya ada satu kantin di dalam kantor, jadi mudah baginya menemukan tempat yang dimaksud oleh Arya.
Rasa penasaran Satria hampir terobati saat melihat seorang ibu-ibu yang sibuk melayani para pengunjung. Dahinya berkerut.
“Masa ini yang Arya maksud ‘Kakak cantik’?” gumamnya sendiri.
Namun, dia berniat ingin membayar apa yang telah Arya dapatkan tadi. Satria tetap masuk lalu berbicara pada Bu Alisha.
“Bu, tadi anak saya beli jus alpukat dan nasi kuning di sini?” tanyanya, agak menunduk karena tertutup oleh tirai yang menghalangi pandangannya.
“Oh, anak yang mana ya, Pak?” Bu Alisha balik bertanya.
“Anak kecil berseragam umur lima tahun, bawa tas gambar Tayo,” jelas Satria.
Bu Alisha langsung membulatkan bibirnya, tahu bahwa yang dimaksud adalah anak tadi yang berjalan dengan bawahan Pak Wiratama.
“Arya maksud Bapak?” tebak Bu Alisha.
“Iya.”
“Oh, iya, dia tadi beli jus sama nasi kuning, tapi sudah Pak, nggak usah bayar. Namanya juga anak-anak,” tolak Bu Alisha yang mengingat apa yang dibawa Arya tadi hanya sedikit karena tempat makan Arya juga kecil. Untuk jusnya pun tak masalah. Bu Alisha seringkali melihat anak kecil kehausan, jadi dia suka merasa kasihan pada anak-anak yang kelaparan dan kehausan, siapapun itu.
“Ya udah, Bu. Maaf atas kelakuan anak saya, dan terima kasih atas kebaikan Ibu,” ucap Satria, berbalik setelah Bu Alisha tersenyum mengangguk lalu kembali melayani pengunjung yang mulai berdatangan saat jam makan siang. Mereka datang untuk makan di situ atau membawa makanan ke kantor, juga sebagian ada yang membawa pulang.
Satria mendesah. Dia merasa aneh dengan anaknya.
“Arya itu perlu diperiksakan matanya ke klinik dokter mata apa ya? Jangan-jangan dia rabun. Masa lihat wanita paruh baya seusia neneknya dibilang kakak cantik?” gumam Satria yang mulai merasa kuatir akan keanehan anaknya.
***
Sementara itu, Caca sedang membawa uang untuk mendaftar ulang ke kampus. Dia sudah akan mulai kuliah minggu depan. Setelah kematian sang ayah bulan lalu, dia memutuskan untuk mengambil kuliah pada saat weekend, ikut kelas paralel, atau kelas karyawan. Untuk kesehariannya, dia bisa membantu ibunya karena merasa tak kuat membayar orang untuk membantu di kantin sepeninggal sang ayah yang meninggal karena sakit.
“Ca!” panggil seseorang.
Caca menoleh, ternyata itu Entin, sahabatnya.
“Hai, Tin.”
“Ca, aku ikut berduka ya atas meninggalnya ayahmu. Maaf, waktu itu aku pulang kampung. Jadi aku nggak sempat melayat,” sesal Valentin.
“Iya, nggak apa-apa, Tin. Minta doanya aja buat ayah, lalu maafin ya kalo ayah ada salah sama kamu,” tutur Caca. Rasanya sedih kembali teringat akan sang ayah yang telah berpulang satu bulan yang lalu.
“Ayahmu nggak ada salah, nggak ada yang perlu dimaafin, Ca. By the way, kamu ngapain di sini?” tunjuk Entin ke ruang administrasi.
“Aku mau pindah ke kelas karyawan, Tin. Kita nggak bisa lagi sekelas, aku harus bantu ibuku kerja di kantin. Ibu nggak kuat bayar orang buat bantu usai ayah meninggal, tak ada pemasukan utama,” lirih Caca menunduk, ternyata begitu berarti kepergian sang ayah.
“Aku turut prihatin, Ca. Kamu yang kuat ya? Insha Allah kalo ada waktu luang, aku bantu-bantu di kantin. Tenang, nggak perlu bayar,” kekeh Entin.
Seorang petugas di dalam memanggil Caca lalu memberikan berkas-berkas yang harus diisi oleh Caca. Entin dengan setia menunggui Caca mengisi berkas-berkas itu.