Tante Sihir Jahat

1077 Words
“Arya, kamu yakin, Nak? Kalo yang kamu lihat itu cantik?” tanya Satria sekali lagi pada Arya yang bengong melihat televisi. “Ih, Daddy mau tanya berapa kali sih? Iya, cantik!” sahutnya sengit. Entah ini yang ke berapa kalinya sang ayah menanyakan hal itu. “Coba, siapa nama kakak cantikmu itu?” Masih saja penasaran, Satria menanyakan perihal identitas pemilik kantin itu. “Lupa, Daddy.” Satria menghela napas. Fix, dia akan mengajak putranya untuk pergi ke psikiater besok. Dia menatap kasihan pada anak kecilnya itu yang sedang menonton televisi. Dia agak tenang saat menyadari anak itu masih menyukai film kartun. “Untung bukan nonton sinetron. Dia begitu cepat dewasanya, sampai-sampai melihat seorang nenek dibilang kakak cantik,” desisnya menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Ikut menonton televisi tapi pikirannya ke mana-mana. *** “Nggak mau pergi sama Tante Sihir!” teriak Arya saat sorenya diajak jalan-jalan dengan kekasih Satria, Mona Angelica. Wanita dengan baju seksi itu menatap kesal pada anak yang tengah membanting tubuhnya ke sofa empuk di depan televisi. Arya sudah berganti dengan baju rapi dan rambut yang disisir rapi menggunakan pomade khusus anak-anak. Satria mengajaknya jalan-jalan dengan kakak cantik, tapi ternyata dia bersama dengan Tante Mona, wanita yang tak disukai oleh Arya. Arya yang tadinya bersemangat, sekarang menggerutu. Jengkel sekali. Dia kira sang Daddy akan membawakan kakak cantik tadi ke rumah tapi ternyata malah membawa nenek sihir ke rumah. “Arya, itu Tante Mona. Dia baik, lho. Suka bawakan Arya makanan kesukaan Arya. Apa hayo? Pizza, kan?” rayu Satria. “Arya nggak doyan pizza! Tante Sihir itu bawakan Arya pizza yang pedas, banyak paprikanya! Aku tak suka paprika!” gerutu anak itu melipat kedua tangannya di depan d**a. Sambil bibirnya mengerucut, terlihat begitu dongkol. “Tante kan nggak tau, Arya. Arya sukanya apa?” tanya Mona setelah berusaha meredakan emosinya. Sesungguhnya dia ingin sekali menonjok wajah anak yang menyebalkan itu karena telah mengatainya Tante Sihir. Padahal tadi dia sudah berdandan dengan foundation, bedak dan lipstik yang mahal. “Kamu nggak boleh tau, Tante Sihir!” jawab Arya, makin membuat Mona sebal. Dia menyibakkan rambutnya yang bergelombang, demi mengurangi rasa kesalnya. Memutar bola matanya saat melihat kekasihnya merayu sang anak lagi untuk meminta maaf pada Mona. “Ayo, minta maaf pada Tante Mona. Dia bukan Tante Sihir, nanti kalo mau ikut jalan-jalan, pasti dibelikan apa yang kamu suka sama Tante Mona,” rayu sang Daddy. “Nggak! Walaupun lebaran, Arya nggak mau minta maaf!” jerit Arya makin kencang. Dia malah berlari ke kamarnya sendiri. “Tinggal ya?” ancam sang Daddy. “Sana!” Bukan merengek, Arya malah menyuruh ayahnya pergi. Akhirnya dengan kecewa, Satria pun mengajak Mona untuk pergi. Mona memperlihatkan kekecewaannya juga. “Yah, dia nggak mau ikut, padahal aku ingin mengajaknya ke taman bermain. Ya sudah, kita nonton ke bioskop ya, Sayang?” ujarnya mengelus pipi Satria yang masih bermuram saja akan sikap anaknya barusan. “Ya udah, kita nonton. Bentar, aku titip Arya dulu ke Bik Sum,” ujar Satria lalu berjalan ke belakang untuk meminta wanita yang telah bekerja selama sepuluh tahun di rumahnya itu untuk menemani Arya. Mona menarik salah satu tangannya, berlagak mengucapkan ‘yes’ karena Arya tak jadi ikut. Itu artinya dia bisa leluasa berkencan dengan pria yang akan membelikannya macam-macam barang sore itu. Sebuah daftar belanja sudah dia siapkan. Daftar keinginannya pasti dipenuhi oleh Satria. “Tanpa diganggu oleh makhluk kecil menyebalkan itu,” desisnya senang. *** “Tuan kecil, kenapa tak mau ikut Daddy?” tanya Bik Sum saat berada di kamar Arya yang menelungkupkan dirinya di atas tempat tidur dengan raut wajah kesal dan kecewa. Nggak mau sama Tante Sihir itu, Nenek Bik Sum. Dia kalo belanja banyak sekali. Arya ambil mainan, tau-tau sudah nggak ada sampe rumah. Kata Tante Sihir, mainan Arya lenyap di jalan karena Arya ketiduran di mobil. Berarti dia bisa sihir jahat kan, Nenek Bik?” oceh Arya jujur. Bik Sum hanya menghela napas mendengarnya, kasihan pada Arya. Mungkin saja celotehannya benar. Pria kecil itu banyak jujurnya dari pada bohongnya selama Bik Sum bekerja di rumah itu. tahu benar karakter Arya. Pasti memang wanita itu yang mengembalikan atau menghilangkan mainan yang baru dibeli oleh Arya. “Lalu tuan kecil sebut-sebut kakak cantik tadi, itu siapa?” selidik Bik Sum. Wanita berusia enam puluh tahun itu setia duduk di samping Arya, mengelus punggung kecilnya yang mungkin kelelahan. Arya menikmati elusan Bik Sum. “Dia ya Kakak cantik. Arya suka sekali sama kakak cantik. Dia kasih Arya minum pas Arya haus, lalu dikasih makanan, nasi kuning kayak pas Dino ulang tahun itu, Nenek Bibik!” terang Arya dengan logat anak-anak yang lucu. Dia langsung duduk saat menjelaskan soal ‘Kakak Cantik’nya itu. matanya berbinar saat berbicara. “Kakak cantik itu rumahnya di mana? Kali aja Nenek Bibik bisa ketemu,” tanya Bik Sum penasaran. “Arya kasih tau, tapi Nenek Bibik jangan bilang Daddy karena nanti takut Daddy tau rumahnya.” Anak kecil itu menyodorkan kelingking kecilnya tanda perjanjian dengan sang Bibik, Bik Sum tersenyum lalu menyambut kelingking kecil, menautkan dengan kelingking keriputnya. “Janji,” ujar Bik Sum. “Rumahnya di dalam kantor Daddy. Dia tinggal dengan buah-buah dan masakan berbau pedas. Banyak kursi-kursi kosong. Mungkin Kakak Cantik suka berteman, jadi banyak kursi seperti di sekolah Arya, banyak teman ya banyak kursi,” celotehnya lucu, membuat Bik Sum tersenyum. “Sama Tante Mona, cantik siapa?” Dengan usil Bik Sum iseng menanyai tuan kecilnya. Dia lupa akan pekerjaannya membersihkan rumah hanya karena ingin mengorek cerita dari Arya. “Ya jelas kakak cantik. Kalo Tante Sihir itu, alisnya tebal, bibirnya merah seperti abis makan ayam hidup!” Bik Sum menahan tawa mendengarnya. “Ish, jangan bilang gitu, Tuan Kecil,” ujar Bik Sum. “Biarin,” sahut Arya. “Nah, kalo sama Nenek Bibik, baik mana?” tanya Bik Sum lagi, mencoba mengetes tuan kecilnya. “Sama baiknya, tapi Nenek Bibik udah tua,” sahut Arya dengan wajah serius memperhatikan wajah Bik Sum yang sekarang malah terkekeh mendengar jawaban Arya. “Jadi, kakak cantik masih muda ya?” selidik Bik Sum lagi. “Iya, kalo Arya besar, Arya pengen menikah sama Kakak Cantik,” ujarnya tersipu, membuat Bik Sum terperanjat. Sebegitu berminatnya tuan kecil pada perempuan yang dia namai ‘Kakak Cantik’ itu hingga bercita-cita ingin menikah dengannya. “Menikah itu apa sih, Tuan Kecil?” tanya Bik Sum. “Ya, gandengan,” sahutnya polos. Bik Sum tersenyum lega. Ternyata hanya sebatas itu pengetahuan tuan kecilnya soal pernikahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD