Duo Benjol

1057 Words
PLETAK.......! "Awwww!w" Rey yang kaget karena punggung Sila tiba-tiba bergerak membuatnya menoleh dan tatapan itu seketika membakar seluruh tubuhnya. Kilatan marah dengan kobaran api seperti ajian GoKu yang mengeluarkan kamehameha terlihat jelas dari bola mata Sila. Rey yang bergidik ngeri dan kaget, tanpa pikir panjang langsung melemparkan botol minyak kayu putih yang digenggamnya. Dan lemparan itu tepat mengenai kening Sila hingga singa betina itu memekik kesakitan. "Sialan!" Sila mengusap keningnya dengan sedikit meringis sementara Rey yang bingung harus berbuat apa langsung berdiri dan berlari menuju pintu. Melihat Rey berhasil kabur, Sila melompat dari tempat tidurnya dan berlari mengejar Rey yang sudah sampai di tangga. Rey melirik sekilas ke belakang melihat pergerakan Sila yang mengejarnya bahkan sudah hampir menarik kerah kausnya. Dengan kecepatan kilat, Rey berlari meraih gagang pintu untuk membukanya. Tak disangka, Iko yang baru datang membeli bakso juga sedang membuka pintu dari depan. Begitu terburu-burunya Rey hendak menarik gagang pintu dan Iko yang mendorong dari depan, terjadilah benturan yang sangat keras mengenai kening Rey karena Iko pun mendorongnya sangat kuat. DUGGGGGHH! Rey terjengkang ke belakang hingga terduduk sambil mengusap keningnya. "Nah lo, mau lari ke mana cabulllll!" Sila berteriak geram kemudian menarik kerah kaus Rey dan menyeret tubuh laki-laki tak berdaya itu mundur. Iko yang bingung apa yang terjadi seketika membelalakkan mata terkejut. "Mbak, pakek baju dulu napa." Sila pun sadar ternyata dia hanya memakai..... Seketika Sila melepaskan tarikan pada kerah kaus Rey dan berlari naik menuju kamarnya. Sedangkan Rey langsung berdiri dan lari tunggang langgang pulang ke rumahnya. **** "Mbak, istigfar Mbak, nggak baik ehem eheman sebelum sah. Tobat Mbak." Iko yang sudah menuangkan bakso ke dalam mangkok dan melihat kakaknya berlari turun sudah mengenakan kaos pendek kedodoran seketika menasehati sang kakak dengan bijak. "Nggak usah ikut campur Ko, mana si kadal berbisa tu?" Sila berkacak pinggang sambil menelusuri sudut ruang tamu dan dapur melihat keberadaan penjahat bibir yang ternyata sudah raib. "Maksudnya kak Rey? Dia kan pulang Mbak. Ni baksonya udah kutaruh mangkok." Iko pun berlalu ke kamarnya meninggalkan Sila yang masih berkacak pinggang menahan deru nafas dan amarahnya. Mengabaikan aroma bakso yang memanggil-manggil, Sila membuka pintu dan berlari ke rumah Rey. Begitu mengetuk pintu, ia disambut oleh Ara. "Eh, Sila, ada apa?" tanya Ara ramah. Sila pun terpaksa tersenyum ramah menyembunyikan kobaran api di kepalanya yang siap meledak saat ini juga. "Rey, ada tante?" tanya Sila dengan sopan. "Tadi ke kamar habis minta minyak sereh," jawab Ara sambil memperhatikan kening gadis di hadapanya benjol, sama seperti milik anaknya. "Saya boleh ketemu Rey, tante?" Ara mengangguk dan mempersilahkan masuk. "Naik saja Sil, kamar Rey paling ujung. Emil juga di kamarnya Rey kayaknya mau ngobatin keningnya yang juga benjol kayak kamu." Sila meringis mengingat benjol di keningnya akibat ulah anak dari wanita di hadapannya. Sila berjalan sepelan mungkin menaiki tangga. Begitu melihat tanda bahwa itulah kamar mangsanya, Sila bersorak girang. Tok...tok. "Loh, kak Sil—" Sila mengangkat telunjuknya menempel di mulut mengisyaratkan agar Emil diam. "Rey mana?" tanya Sila setengah berbisik. "Di kamar mandi tuh," tunjuk Emil dengan dagunya. "Owh, kakak boleh masuk?" Emil pun mengangguk kemudian mempersilahkan Sila masuk dan duduk di tepi ranjang Rey. "Kakak ada apa kemari? Eh, loh kok kening kakak juga benjol. Tadi kalian main gundu ya, kok kompakan punya benjol?" selidik Emil curiga. "Tadi kami kejedot pintu rumah," alasan Sila. "Owh, kak Rey juga kejedot brati? Duh ... dasar perjaka yang kejantanannya dipertanyakan, kening aja gak bisa jaga mpek dijedotin segala," cibir Emil sambil geleng-geleng kepala. "Emil!" Terdengar Ara memanggil anaknya membuat Emil langsung menjawab "Ya, Ma." Dengan lantang dan buru-buru, Emil meninggalkan Sila sendiri di kamar Rey. "Kak, aku tinggal bentar ya." Emil berpamitan dan melesat keluar sebelum Sila sempat mengangguk. Senyum miring Sila tercetak sepeninggal Emil. Dengan sigap ia menutup rapat pintu kamar Rey. Sejenak ia memperhatikan kamar laki-laki yang mencuri ciuman pertamanya. Kamar yang rapi dengan dinding berwarna putih dihiasi dua lukisan kontemporer. Ranjang king size berwarna pastel terlihat hangat. CEKLEEKKK! Pintu kamar mandi terbuka kemudian menampilkan Rey yang bertelanjang d**a. Wajahnya tampak segar namun sangat kontras dengan benjolan di keningnya yang terlihat semakin menjadi. Rey tidak menyadari ada seseorang yang tengah berdiri menempel di pintu sambil menahan nafas karena Rey dengan tidak memberi kode langsung melepas celana pendeknya untuk mengganti dengan celana boxer. Seketika Sila memalingkan wajah takut matanya ternoda barang haram milik penjahat bibir. Rey tampak mematut dirinya di cermin memperhatikan benjolan di keningnya. Begitu ia membalikkan badan hendak berjalan ke peraduannya, terlihatlah Sila yang tersenyum miring sambil bersedekap. Rey yang kaget langsung mundur hingga tubuhnya membentur lemari. "Ka... ka... mu... ngapain disini?" tanya Rey yang mawas diri saat Sila mulai berjalan mendekatinya. "Pikir aja sendiri." Dengan kekuatan penuh, Sila menonjok perut liat Rey yang sedang toples hingga laki-laki itu mengaduh. "Enak kan?" Rey hanya meringis. "Mau lagi?" Sila menyeringai melihat Rey yang ternyata lemah sekali. Namun, begitu tangan Sila maju untuk memberi pukulan kedua, Rey menangkap kepalan tangan Sila dan sedikit mencengkeramnya. Tangan satunya pun berhasil mencekal tangan Sila. Dan kini Sila tidak bisa bergerak. Tubuh keduanya saling berhadapan sangat dekat. "Jangan remehkan aku." Rey pun menyeringai. Meski Sila meronta, Rey tetap menahan cekalan tangannya agar Sila tidak lepas. Lutut Sila yang diangkat hendak menendang s**********n Rey juga ditepis oleh kaki Rey yang lebih dulu mencium niatan Sila. "Kamu juga meremehkanku Bapak Reyhan." Sila memajukan badanya dan dengan cepat kepalanya ia sorongkan tepat di depan d**a bidang Rey. Dengan kekuatan penuh ia menggigit d**a telanjang Rey hingga laki-laki itu menjerit seraya melepaskan cekalan pada tangan Sila. Sila mendorong tubuh Rey hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Masih dengan menggigit penuh semangat, Sila menindih tubuh Rey yang berusaha menjauhkan kepala Sila dari tubuhnya. "Awwwww! Awwwww!" Tak dipedulikan jeritan Rey di bawahnya, Sila malah menggigit pundak Rey juga. Rey yang masih merasakan nyeri, pada akhirnya membalas Sila dengan menggigit pundak Sila yang terbuka karena kausnya sedikit melorot. Sila menggigit pundak Rey dan Rey pun menggigit pundak polos Sila. Keduanya saling memberi tanda merah dengan giginya masing-masing tanpa tahu bahwa gigitan itu lama-lama menebar rasa panas yang melingkupi gairah keduanya. Rey memejamkan mata begitu harum rambut Sila yang menutupi wajahnya sebagian menggelitik indra penciumannya. Dan Sila pun tidak lagi menggigiti kulit pundak Rey karena deru nafas Rey di telinganya serta gigitan pada pundaknya kini terasa basah, seketika membuatnya merinding disko. "Loh, kalian pada ngapain?" Ara yang masuk kamar anaknya langsung membelalakkan matanya menutupi rasa keterkejutan. -------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD