"Pulang malam lagi?" Tanya Raka ketus.
"Maaf Om tadi keasyikan mainnya jadi ga liat jam. Lagipula ini baru jam sembilan malam juga Om." Jawab Nara dengan santainya.
"Kamu itu perempuan Na. Ga baik pulang larut malam seperti ini. Apalagi kamu berangkat dari pagi."
"Ya, Om. Nara ga akan ulangi lagi. Besok Nara ga akan pulang larut malam lagi."
"Kamu besok mau pergi lagi?"
"Hehe.. iya Om. Aku besok mau main lagi. Mumpung masih di Bandung."
"Aku antar aja kalau gitu. Kamu mau pergi kemana lagi?"
"Ga usah Om ga apa-apa. Aku pergi sama sahabat aku aja."
"Kamu yakin itu sahabat kamu? Bukan pacar kamu?" Tanya Raka dengan nada sedikit menyindir.
"Iya. Dia emang sahabat aku. Emang kenapa?" Nara balik bertanya.
"Kalau begitu kenapa kamu mau pergi bareng dia terus tapi ga mau pergi bareng aku. Apa karena dia masih muda sementara aku udah tua jadi kamu malu kalau pergi bareng sama aku? Atau karena dia pergi naik mobil sport sementara aku naik mobil biasa?"
"Om ngikutin Nara?" Tanya Nara dengan nada sedikit meninggi.
"Kalau iya emang kenapa? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa makanya aku ngikutin kamu. Tapi ternyata... kamu malah lagi seneng-seneng." Jawab Raka sambil tersenyum mengejek.
"Om ga berhak ikut campur urusan Nara. Itu urusan pribadi Nara." Ucap Nara mulai tersulut emosinya.
"Aku berhak ikut campur, Na. Karena kamu sekarang tinggal bareng aku. Kamu datang dari Surabaya kesini buat ketemu sama aku. Aku bertanggung jawab selama kamu disini. Tapi kamu malah seenaknya kayak gini. Aku merasa kalau kamu hanya memanfaatkan aku aja selama disini. Biar kamu bebas main dan ketemuan sama pacar kamu itu. Apa jangan-jangan cerita kamu tentang keluarga kamu itu cuma akal-akalan kamu aja. Iya?" Sentak Raka penuh emosi.
"Om bener-bener keterlaluan banget ya. Nara benci sama Om." Ujar Nara lalu berlari ke kamarnya. Raka pun terduduk di kursi lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tak berapa lama terdengar derap langkah kaki. Raka lantas mendongkakkan wajahnya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Raka dingin.
"Nara mau pergi. Nara ga mau tinggal lagi sama Om."
"Kamu mau pergi kemana? Ini udah malam."
"Nara mau tinggal sama Davi aja. Daripada tinggal disini cuma dimarah-marahin sama Om terus." Ujar Nara yang seketika membuat emosi Raka memuncak lagi
"Kamu mau tinggal bareng cowo itu?" Tanya Raka dengan sorot mata tajam penuh emosi.
"Iya. Emang nya kenapa?" Tanya Nara.
"Ternyata semua perempuan emang sama aja ya. Ga pernah bisa cukup dengan satu lelaki. Ketika melihat ada lelaki lain yang lebih segalanya dari lelaki sebelumnya langsung dia tinggalkan lelaki sebelumnya itu. Memang murahan!!" Jawab Raka dengan nada menyindir.
Plakkk
Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Raka. "Om ga berhak berbicara seperti itu sama Nara. Om bahkan ga mengenal Nara dengan baik. Asal Om tau, Nara menyesal udah kenal sama Om." Ujar Nara sambil berlalu pergi meninggalkan Raka yang masih berdiri memegang pipinya yang masih terasa panas karena tamparan tersebut.
Setelah kesadarannya kembali, dia merutuki kebodohannya karena berbicara terlalu kasar dengan Nara. "s**t!!! Ga seharusnya aku bicara sekasar itu dengan dia. Bodoh bodoh.. bodoh banget kamu Raka." Umpat Raka pada dirinya sendiri. Dia lalu mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas dan segera berlari keluar mengejar Nara.
Dilihatnya Nara sedang berdiri didepan halte sedang menunggu kendaraan. Raka pun lalu keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Nara.
"Kita kembali ke Apartemenku." Ucap Raka sambil menggandeng tangan Nara untuk memasuki mobilnya.
"Aku ga mau!!!" Tolak Nara sambil menghempaskan tangan Raka.
"Aku minta maaf. Kita bicarain dulu dengan baik-baik ya. Sekarang udah malem. Besok aku antar kamu kemana aja. Sekarang kita balik dulu ke Apartemen." Ajak Raka dengan nada penuh harap.
"Aku bilang ga mau. Ya ga mau. Jangan paksa aku Om." Bentak Nara. Raka yang mulai tersulut emosi nya lagi karena bentakkan Nara pun lalu menarik tangan Nara dengan kasar untuk masuk ke mobilnya.
"Lepasin Nara Om. Nara ga mau ikut sama Om." Ucap Nara sambil meronta minta dilepaskan. Namun Raka tak menjawab ucapan Nara malah semakin menyeret Nara masuk kedalam mobil. Setelah melihat sebuah taksi mendekat kearahnya, Nara pun lalu menggigit tangan Raka dan berlari menjauh dari Raka. Di hentikannya taksi tersebut lalu dia masuk ke dalamnya. Raka pun menggedor kaca taksi tersebut.
"Nara, keluar Na. Kita harus bicara." Ucap Raka sambil terus menggedor taksi tersebut. Melihat taksinya di gedor-gedor pun, si supir taksi menoleh ke arah Nara.
"Bagaimana ini teh? Mau jalan atau gimana?" Tanya supir taksi tersebut.
"Kita jalan aja Pa. Jangan dengerin dia." Jawab Nara. Sopir taksi pun segera menancapkan gas nya. Terdengar suara teriakan Raka di belakang memanggil terus namanya namun Nara tak peduli. Dia benar-benar kesal dengan Raka dan ucapannya itu.
Melihat taksi yang dikendarai Nara mulai menjauh dan tak kunjung berhenti, Raka pun memutuskan untuk mengejar Nara. Namun lagi-lagi bayangan masa lalu itu berputar di kepala Raka. Bayangan ketika dia melihat ibu nya tengah b******u mesra dengan seorang pria yang lebih muda dan lebih gagah dari ayah nya. Ketika dia mengejar dan memanggil nama ibunya. Ketika dia memohon pada ibunya untuk tidak pergi. Semua bayangan itu berputar seperti sebuah video di kepalanya.