Vega mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar. Dia cemas setengah mati karena hingga tengah malam ini Lian belum juga pulang. Tidak ada kabar sedikitpun dari pria itu. Sudah berkali-kali Vega mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban. Pesan yang dikirimkan gadis itu ke nomornya pun tidak dibalas. Vega berdecak pelan. Dia meremas jemarinya sembari sesekali mengecek ponselnya, berharap Lian menelepon atau paling tidak mengirim pesan balasan padanya. Namun lama dia menunggu ternyata hasilnya nihil. Vega merengut sebal. Dia membanting ponselnya ke atas kasur lalu duduk si tepian ranjang super besar itu. “Ish... ngeselin banget sih! Lian itu ngapain aja di kantor sampai ga sempat nelfon!” gerutunya. Vega meraih bantal dan memukul-mukulnya kecil. Dengan wajah sendunya dia berkata, “L

