~yang disembunyikan~

1188 Words
Tepat pukul 12 malam, terdengar pintu terbuka. Gardin baru saja pulang. Dia melihat Nat dan Karla sedang di meja belajar. Entah apa yang mereka lakukan di depan laptop itu.  “Kenapa baru pulang jam segini?” “Tadi ada teman yang butuh pertolongan. Aku harus bawa dia ke rumah sakit.” “Apa dia baik-baik saja?” “Yah, untung belum terlambat. Dia pingsan karena kelelahan.” “Astaga. Ya sudah, kamu cepat mandi. Setelah itu langsung makan malam. Biar bisa tidur cepat.” “Iya.” Karla memperhatikan Gardin dengan seksama. Alasan yang barusan ia lontarkan tampak seperti kebohongan. Tapi kenapa Nat tidak curiga? Emangnya dia bodoh? Dosen yang kepintarannya melebihi profesor ini tidak peka?  “Kenapa melamun? Kamu udah ngerti?” “Belum.” “Astaga. Kenapa bodoh banget sih? Masalah sederhana kayak gini gak bisa?” “Ya, bisa. Tapi kalau dikasih case baru gak bakal bisa jawab. Logika gak masuk.” “Padahal kamu punya teman yang pintar. Kerjaannya ketawa mulu sih di kelas.” “Apaan? Aku gak pernah ketawa.” “Harusnya kamu bisa kayak Winny. Nilai kuisnya hampir sempurna.” “Udah ah. Aku mumet. Capek!” Nat menarik nafas kesal. Mau sampai kapan cewek itu tidak paham hal sederhana ini? Bahkan untuk membuat syntax sederhana saja dia tidak mampu. Nat kemudian berdiri sambil menutup laptopnya. “Ya sudah. Sekian untuk hari ini. Kamu belajar lagi besok. Sampai kamu ngerti!” “Lah, udahlah. Ngapain harus dipaksakan sih?” “Sampai kau bisa.”ucap Nat mengakhiri. Dia bergegas pergi. Karla menatapnya kesal. Ternyata, dikasih tumpangan gratis membuatnya berkorban banyak hal. Otaknya harus bekerja ekstra cuma demi mata kuliah itu.  Karla berjalan gontai hendak ke kamarnya. Dia berhenti di depan kamar Gardin. Dia mengetuk pintu itu dengan hati-hati. Tak lama, cowok itu membuka pintu. Dia menatap Karla dengan telanjang d**a. Ternyata dia baru selesai mandi. “Kenapa?” “Gue mau bicara sama lo!”ucap Karla tegas. Dia masuk tanpa diizinkan oleh pemilik kamar. Gardin heran sambil menatap tajam. “Lo ngapain sampai pulang malam?” “Lo siapa sampai harus tahu?” “Oke. Terserah mau bilang atau enggak. Tapi lo harus sadar Gar, Nat bisa curiga.” “Makanya lo tutup mulut biar dia gak curiga. Udah sana. Gue mau tidur.” “Tapi..” “Atau lo mau lihat gue ganti celana?”ancam Gardin seakan hendak membuka celananya. Tanpa banyak basa basi, Karla langsung pergi. Dia tahu banget sifat anak SMA yang lagi berambisi sama dunia. Persis kayak adiknya. Mereka lebih nekat daripada orang dewasa yang penuh pertimbangan. Makanya banyak yang melakukan balap liar hingga tewas di jalanan. Mereka tidak tahu bahwa nyawanya lebih berharga daripada sekedar pamer kemampuan. *** Suasana kelas masih tetap kondusif meskipun mahasiswa diberikan tugas kelompok. Mereka berusaha keras mengejar waktu karena tugas itu harus diberikan saat jam perkuliahan sudah berakhir. Begitulah cara dosen mendapatkan nilai partisipasi dari mahasiswa. “Jadi, lo diajarin sama dia? Ih, gue mau banget lah.”ucap Gly sambil terus menulis hasil pembahasan. “Lo kira gampang? Gue ditabok kalau gak paham.” “Masa sih? Dia kan orang nya cool.” “Aslinya gak gitu Gly. Lo ketipu sama covernya.” “Terus mau sampai kapan disana?” “Sampai apartemen gue ada yang sewa, gue punya kerjaan dan punya uang yang cukup. Gue langsung minggat. Gue juga malas tinggal disana.” “Malas atau demen. Gue sumpahin lo jatuh cinta sama Pak Nat.” “Gila lo ya! Lo aja sana.” “Gue sih udah jatuh cinta dari pertemuan pertama. Tapi gue kan gak logis tuh jadi calon istrinya. Kalau lo, bisa banget lah.” “Jangan halu. Entar gue tabok.”balas Karla kesal. Gly masih saja tertawa. Dia memang tipe orang yang membawa pengaruh positif. Seakan dia tidak punya masalah hidup. Padahal Karla tau banget kalau dibalik itu, dia juga punya segudang masalah. Dia hanya tidak ingin orang lain tahu. “Emang lo gak benci sama dia?” “Benci kenapa?” “Peristiwa hari senin kemarin.” Gly terlihat berpikir sambil berusaha mengingat apa yang terjadi di hari senin kemarin. Bukannya marah, dia malah tertawa. Dia emang paling susah membenci seseorang. Tapi jika sudah sampai pada titik paling benci, dia akan sulit untuk memaafkan.  “Oh itu, no problem. Gue bisa paham kenapa dia marah. Dan ya, itu salah gue.” “Kayaknya lo beneran di pelet deh.” Gly tertawa mendengarnya. Mereka bergegas menyelesaikan tugas hari ini. Semua berjalan lancar meskipun dengan waktu yang terbatas. Sudah jadi hal biasa bagi mahasiswa Ekstensi pulang jam 9 atau jam 10. Awalnya sih melelahkan. Lama kelamaan semakin terbiasa. Sudah menjadi hal lumrah bahwa sesuatu yang dibiasakan akan terasa lebih mudah. Karla dan yang lainnya berencana untuk makan malam lebih dahulu. Mereka naik motor ke tempat makan yang tidak terlalu jauh dari kampus. Mereka sering bosan menikmati makanan kampus yang itu-itu aja. Butuh variasi dalam menjalani hidup ini. Terutama dalam hal makanan. Makanan yang membosankan akan membuat seseorang tidak nafsu makan. Dan kini, mereka sampai di pecel lele yang ramai dengan pengunjung. Kalau rame, kemungkinan rasanya enak. “Jadi, gue paksa dia bikin watermark.” “Itu emang penting sih. Karya seni itu harus dijaga biar gak digunakan sembarangan.” “Terus, gimana soal tugas Database nomor 5?” “Oh, gue belum nemu sih. Paling entar dipikirin dulu.” Walaupun lagi makan, pembahasan tetap tentang kuliah. Begitulah cara menjalani hidup. Kadang untuk mikirin masalah pribadi gak ada waktu. Tapi bagi Karla, ini lebih seru daripada sekedar menggosip tentang orang lain. Ya, tongkrongan ini lumayan berfaedah.  Harga yang murah dan porsi yang banyak jadi pilihan yang tetap. Perut kenyang hatipun senang. Saat hendak pergi, tiba-tiba Karla melihat sesosok manusia. Manusia yang tiap hari membuatnya kesal. Gardin. “Eh, kalian pulang duluan aja ya. Gue ada urusan bentar.” “Mau ditemenin gak?” “Gak usah. Entar gue tinggal pesen ojek dari sini. Udah ya, bye!” “Iya. Hati-hati Kar!” Karla bergegas mengejar Gardin. Dia terlihat bersama dengan beberapa orang. Mereka sama-sama berseragam sekolah, tapi Gardin tampak paling muda di antara yang lain. Apakah dia sedang ada masalah? Tidak bisa dibiarkan. Dia melihat Gardin duduk di antara orang-orang itu. Dia memberikan lembaran uang kemudian pergi. Persis kayak orang yang lagi dibully.  “Gardin! Lo ngapain?”tanya Karla dari balik tiang itu. Gardin terlihat kaget melihat Karla ada disana. Dia mengajak cewek itu untuk menjauh dari tempat itu. “Jawab dulu pertanyaan gue tadi.” “Kita pergi dari sini dulu.” “Tapi..” “Nanti pasti gue jelasin!”balas Gardin tegas. Dia terlihat yakin mengatakannya. Dengan cepat, Karla mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan beberapa menit sampai benar-benar meninggalkan tempat itu. “Jelasin sama gue.” “Lo kenapa sih selalu bikin kacau rencana gue?” “Lo udah janji bakal jelasin.” “Gue cuma jualan barang elektronik.” “Lo pikir gue bakal percaya?” “Jujur, gue dipalak setelah ngirim produk pertama. Oke, gue emang cupu. Tapi mereka bukan sembarang orang yang bisa ditaklukkan sama orang kayak gue.” “Mereka bukan anak SMA?” Gardin menggeleng.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD