~panik~

1140 Words
Cahaya matahari semakin terang saja. Kamar yang tadinya adem berubah jadi sangat panas. Karla bangkit dari tidurnya dan melihat jam di handphonenya. Sudah hampir pukul 10 pagi. Dia menarik nafas dan membentangkan tangannya.  Masalah yang dia hadapi tak selamanya buruk. Sejak tidak bekerja, dia jadi sehat secara fisik. Badan yang tadinya remuk setiap hari berubah menjadi lebih sehat. Dia mensyukuri hal itu. Setelah membereskan kamar, dia turun ke lantai 1. Perutnya sudah sangat lapar. Dia melihat Nat di ruang tamu. Cowok itu belum pergi bekerja. Biasanya dia sudah tak di rumah jam segini. “Karla, di meja ada sarapan. Kamu makan aja.”ucapnya dengan teriakan yang tidak terlalu keras. Dia tetap melihat ke arah bukunya yang tebal itu. “Ah, makasih.”jawab Karla sekedar. Dia segera ke meja makan. Dia menikmatinya sambil melihat ke arah Nat. Kalau dipikir-pikir, cowok itu baik banget. Udah ngasih tumpangan, ngasih makan lagi. Kenapa ya dia melakukan itu? Ketika angan-angan nya pergi jauh, Nat menoleh ke arahnya. Dengan cepat dia mengalihkan pandangan. Sial, kenapa harus kepergok? Dia jadi salah tingkah padahal cuma diliatin gitu doang. “Akhir-akhir ini kamu sering pesan makan online ya?”tanya Nat lagi. “Hmm, i-iya.” “Jangan sering-sering. Katanya mau hemat.” “Kadang bingung mau makan apa.”ucap Karla dengan suara seperti ngedumel. Dia tidak bisa masak. Bisa sih, tapi hanya memasak makanan yang sederhana. Kita bisa menyebutnya memasak mie instan, telur, dan makanan instan lainnya. Dia tidak percaya diri untuk menunjukkan skill memasak di depan orang lain. “Kalau gitu, kita belanja hari ini. Kamu gak ada kegiatan kan?” “Belanja?” “Iya. Setelah makan, kamu bersiap ya.” “Tapi,,,,,” “Tenang aja. Saya tahu kok kalau kamu gak bisa masak.” “Hah? Kok bisa?” Nat malah tertawa. Beberapa hari yang lalu, ketika sudah hampir tengah malam, dia melihat Karla hendak memasak sesuatu. Cewek itu tak terlihat seperti perempuan yang biasa menggunakan dapur. Dia sibuk menatap layar handphonenya untuk mencari takaran yang pas untuk sebuah masakan. Nat berdiri di tangga sambil tertawa. Apalagi waktu Karla mencicipi masakannya, dia terlihat tidak puas. Masakan itu pasti tidak enak. Dan terpaksa, dia memesan MCD untuk makan malam. Sungguh, kejadian itu sangat lucu bagi Nat. “Pokoknya saya tahu. Kamu cukup temani saya belanja.”ucap Nat tegas. Dia segera pergi ke kamarnya. Cowok aneh itu membuat Karla bertanya-tanya. Kenapa dia bisa perhatian dan marah-marah di waktu yang sama?  Setelah beres-beres, mereka bersiap untuk pergi ke supermarket terdekat. Tempat itu tidak terlalu jauh dari rumah. Mereka cukup menempuh 20 menit dengan menggunakan mobil. “Kamu ambil bahan yang kamu mau. Nanti biar saya yang masakin.” “Eh, ini beneran?” “Iya. Tapi kamu harus belajar masak juga.” “Gak. Aku emang gak bakat masak.” “Gak butuh bakat buat masak, tapi usaha. Pokoknya, ikuti saja apa yang saya bilang.”desak Nat sambil berjalan dengan troli. Karla mendengus kesal. Dia tidak pernah tertarik pada masak memasak. Dia lebih suka beres-beres rumah. Itu lebih mudah dan tidak banyak mikir. Mereka berjalan dari satu sisi ke sisi lain. Mulai mencentang list bahan makanan yang ada dalam catatan. Semua baik-baik saja sampai Karla melihat sosok yang seharusnya tidak ada disana. Rere dan Winny tampak sedang mencari sesuatu di tumpukan barang itu. Karla yang menyadari hal itu langsung menjauhkan diri. Dia menarik tangan Nat untuk menjauh dari tempat mereka berada. “Kamu kenapa?” “Kita gak bisa disini. Teman-teman saya lagi disini.” “Hmm, apa salahnya? Kamu tinggal menyapa mereka.” “Udah gila ya? Apa alasannya seorang dosen bersama mahasiswi belanja bersama? Mereka bisa berpikiran negatif. Gak cuma itu, bisa-bisa kamu dituduh eksploitasi saya.” Nat langsung menarik Karla dengan genggaman tangan. Dia cukup aware pada hal yang merusak nama baiknya. Apalagi, dia tak pernah berniat jahat pada Karla. Perempuan itu hanya sedang kesulitan dan butuh bantuan. Tak ada yang bisa dilakukan selain mengajaknya tinggal di rumah. Nat tidak tega melihat Karla bingung mau tinggal dimana. Dan dia tidak mau perempuan itu berhenti kuliah. “Kita cari supermarket lain.”ucapnya tegas. Troli belanja itu mereka tinggalkan begitu saja. Untung saja mereka belum beli banyak. Jadinya tidak terlalu menyusahkan pegawai yang bekerja di supermarket besar itu. *** Tepat pukul 10 malam, kelas itu usai. Semua orang bergegas untuk segera pulang. Mereka ingin istirahat sebelum besok memulai aktivitas kembali. Tak terkecuali, Karla dan teman-temannya. Mereka berpisah untuk menempuh jalan pulang masing-masing. Karla berjalan dengan gontai. Dia baru mendapat pesan kalau Nat akan datang sebentar lagi. Cowok itu harus bicara dengan seseorang lebih dahulu. Karla memutuskan untuk menunggu di kursi yang ada di depan Gedung C. Dia mulai ngantuk dan menguap beberapa kali. Sampai akhirnya, handphonenya berdering pertanda sebuah panggilan masuk. Mama. “Hallo ma,” “Kar, besok mama mau ke tempatmu ya. Kebetulan, mama abis dari pestanya teman arisan yang ada di Bandung. Jadi mama naik bus aja ke Jakarta.” “Hah? Ngapain sih ma? Kita gak usah ketemu.” “Kamu sudah gila kayaknya. Mama mau mastiin kamu baik-baik saja. Pokoknya, besok jemput mama ya. Kamu izin aja kuliahnya.” “Tapi ma,,,,” Panggilan dimatikan. Jantung Karla berdetak tidak karuan. Pertama, dia belum bilang soal dipecat dari pekerjaan. Kedua, mama belum tahu soal masalah dengan Jejo. Dan ketiga, mama akan syok kalau tahu Karla tinggal bersama dua cowok bujang sekaligus. Ini gila! Panggilan kedua membuat Karla melonjak kaget. Dari Nat. Dia bergegas pergi untuk menemui cowok itu.  “Ayo,” “Pak, gimana dong!”rengek Karla seperti anak kecil. Dia tidak bisa menyembunyikan masalah ini. Masalah yang pelik dibandingkan masalah yang dia hadapi selama ini. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin jujur pada mama. Dia tidak mau orang itu menghakiminya. Tidak. Tidak boleh. “Kenapa lagi?” “Katanya mama mau datang besok.” “Ya sudah. Kalau gitu, besok saya masak rendang.” “Bapak udah gila? Mama bakal marah kalau tahu aku tinggal sama bapak. Ditambah lagi dia lihat Gardin. Lengkap sudah. Anak perempuannya tinggal sama dua cowok sekaligus.”ucap Karla histeris. Dia bisa membayangkan reaksi mamanya yang menggila.  “Tenang aja. Jangan panik entar cepet mati.” “Sialan!”teriak Karla kesal. “Kamu bisa saya kasih nilai minus karena gak sopan sama dosen.”balas Nat dengan muka datar. Karla tidak peduli. Dia kesal dan emosional. “Buruan masuk!”tegas Nat dengan suara keras. Karla membuka pintu dengan ekspresi marah. Dia duduk sambil memikirkan solusi untuk besok. Tidak mungkin dia pindah ke apartemen itu. Semua barang-barangnya sudah diungsikan. Suasana hati Karla seketika suram. Nat yang tadinya biasa aja jadi ikut terbawa. Mobil melaju dengan kencang. “Tenang aja. Saya udah punya cara untuk bicara sama mamamu.”ucap Nat kemudian. Tapi Karla tidak percaya. Dia tetap kesal sama cowok itu. Dia pasti ngasih solusi yang merugikan bagi Karla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD