~bohong lagi~

1230 Words
Hari ini hujan turun deras. Semua orang yang ada di rumah ini tidak ada kegiatan. Gardin tidak pergi sekolah karena perutnya mules. Dia juga kelihatan malas. Ya, alasan itu membuat Nat tidak protes. Dia juga kasihan melihat Gardin bolak balik kamar mandi sejak tadi pagi. Karla sibuk berjalan ke kiri dan ke kanan. Kebingungan menerpanya. Bagaimana cara menghadapi hari ini? Perkataan Nat kemarin malam tidak cukup membuatnya yakin. Dia tidak akan percaya begitu saja. “Tenang aja. Kalau mau ketemu orang tua tuh senang. Bukannya panik.” “Gimana gak panik? Saya tinggal bersama kalian. Mama bisa mikir yang engga-engga.” “Daripada kamu tinggal di bawah jembatan. Itu lebih gila kan?” “Gak mungkinlah.” “Emang apartemennya udah ada yang sewa?” “Belum.”balas Karla singkat. Entah kenapa, gak ada yang tertarik pada tempat itu. Apakah kurang promosi atau bagaimana. Karla tidak terlalu paham. Dia hanya menyayangkan. Jika tidak laku, dia dan Jejo benar-benar akan rugi. Dan yang lebih parah, Karla harus tinggal di tempat ini untuk waktu yang lama. Di saat Gardin sibuk bolak-balik kamar mandi, sebuah mobil terparkir di depan rumah. Sudah bisa dipastikan, dia adalah Nyonya Raffles Ananda. Wanita yang selalu membuat Karla stress dan overthinking. Karla hendak mencari payung, tapi Nat mendahului nya. Cowok itu langsung keluar. Dia menyambut wanita itu dengan penuh kehangatan. Raffles lumayan kaget disambut sama cowok setampan Nat. Ditambah lagi, rumah ini sangat bagus. Kok bisa putrinya yang tidak bisa diandalkan itu tinggal di tempat ini? “Kenalkan tante, saya Natio. Saya pacarnya Karla.” “Kamu pacarnya? Kok dia gak pernah cerita?” “Kita pacarannya masih baru tan. Dan sebenarnya, saya juga tinggal disini.” “Apa? Pasti sedang bercanda kan?” “Beneran tan. Tapi jangan salah paham dulu. Dia tinggal disini karena keadaan. Dan kami gak tinggal berdua, tapi sama adik saya juga.” Raffles kelihatan syok. Dia kira putrinya sedang sibuk mengemban pendidikan. Ternyata dia malah terjebak keadaan yang memaksanya untuk tinggal di tempat ini. Tetapi Nat memberikan beragam penjelasan untuk membuat hati wanita itu tenang. Bukan hal sulit bagi Nat karena dia adalah seorang dosen. Dia mampu mempengaruhi jalan pikiran wanita itu. Dan dengan latar belakangnya yang sangat luar biasa, Raffles percaya padanya. Karla was-was melihat pemandangan itu dari dalam rumah. Apa yang sedang mereka bicarakan? Bagaimana ini? Terutama Nat. Dia tidak tahu sifat ibunya yang terkadang menggila dan aneh. Ibu yang tidak gampang goyah. Dia memang berpendirian teguh. Dan saat Raffles masuk, Karla mendapat pelukan hangat.  “Mama kangen sama kamu.” “Hah? Mama serius?” “Dasar anak gila! Kenapa gak bilang kalau kamu punya pacar?” Karla terpaku dengan pikiran yang gak karuan. Dia melihat ke arah Nat yang sibuk mengisyaratkan agar Karla mengakuinya. Apakah ini yang direncanakan?  “Ah, i-iya ma.” “Lagian, kamu punya pacar ganteng gini. Kalau tahu, mama bakal bawain banyak makanan dari rumah.”ucap Raffles dengan wajah sumringah. Karla bisa memahaminya. Wanita pelit itu akan diuntungkan jika Karla menikah dengan orang kaya. Ya, dia memang wanita mata duitan. Setiap kemarahan yang keluar dari mulutnya dapat berubah jadi uang. Mereka mengobrol banyak hal. Dan Raffles sangat penasaran bagaimana hubungan mereka bisa tercipta. Kapan pertemuan pertama dan sebagainya. Dan anehnya, Nat jujur tentang setiap hal. Dia jujur soal ketemu di Tinder. Hingga akhirnya ketemu di kampus sebagai dosen dan mahasiswa. Hanya satu yang tidak jujur, tentang mereka beneran pacaran. Ya, itu hanya bulshit. Dan entah kenapa, Raffles malah percaya banget sama Nat. Setelah yakin putrinya baik-baik saja, Raffles pulang saat matahari terbenam. Tanpa pikir panjang, Nat mengantar wanita itu ke loket bus yang tidak jauh dari komplek perumahan.  “Abang lo gila ya? Kenapa dia ngaku jadi pacar gue?”keluh Karla saat Nat pergi mengantar Raffles ke loket. “Gak gila. Cuma itu alasan seorang cowok tinggal sama cewek.” “Hell, gak mungkin. Mama gue gak bakal mudah terpengaruh.” “Itu artinya, nyokap lo setuju kalau kalian pacaran. Gue sih gak setuju.” “Kenapa?” “Lo bakal rugi pacaran sama dia.”ungkap Gardin sambil bergegas pergi ke toilet. Ini sudah kesekian kalinya dia ke tempat itu. Dia sangat menyesal menikmati mie pedas tadi malam. Mie pedas yang enak itu berubah menjadi petaka. Dia sangat suka pergi sekolah. Ya, setidaknya dia tak harus bersama Nat 24/7. Lebih baik bermain di sekolah daripada terus-terusan di rumah ini. Begitulah pikiran anak SMA yang gak betah di rumah. Tapi dia cukup senang waktu tahu ada Karla di rumah. Karla berpikir keras. Dia merenung dengan wajahnya yang malang. Tak lama Gardin keluar dari toilet. Dia hendak naik tangga. Tapi kemudian berbalik. “Kayaknya dia beneran suka deh sama lo!”ucapnya dan langsung pergi.  Jujur saja, Karla kaget mendengar hal itu. Dia terdiam sejenak hingga akhirnya naik ke lantai 2 untuk menyusul Gardin. Dia membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Gardin sambil melonjak kaget. Dia masih memegang perutnya yang meronta-ronta. “Atas dasar apa lo bilang kayak tadi?” “Apaan?” “Lo bilang dia beneran suka.” Gardin malah tertawa. “Lo tanya aja sendiri. Kalau lo tanya gue, gue gak bisa jawablah. Itu cuma tebakan.” “Sialan! Dia bukan tipe gue.” “Bukan tipe bagaimana? Kalian kan kenalan di Tinder. Harusnya dia tipe lo banget.”balas Gardin tegas. Dia segera mendorong Karla untuk keluar dari kamarnya. Dia cukup senang membuat cewek itu kalang kabut. Bodo amat. Karla terpaku saat berdiri di depan kamar Gardin. Dia merasa tertampar dengan ucapan itu. Ya memang, jika ditelusuri ke masa lalu, Nat memang tipe cowok yang Karla inginkan. Tapi semua itu berubah sejak dia mendapati Nat seorang dosen. Argh, terkadang job desc seseorang bisa jadi hal negatif. Tapi Karla ingin membantah ucapan Gardin. Dia ingin ngasih tahu kalau dia udah gak suka sama Nat. Dengan cepat, dia membuka pintu. Dan dia melihat Gardin pingsan di lantai.  “Gar! Gar!”teriak-nya keras. Dia panik selayaknya perempuan. Bingung harus bagaimana, dia mengambil handphone Gardin. Tak mungkin menelpon Nat. Dia bisa menyetir dengan serampangan. Karla sangat tahu betapa cowok itu sangat sayang pada adiknya.  Dan dia kepikiran untuk menelpon Pamungkas. Ya, rumah cowok ada di perumahan ini juga. “Hello, Mas Pam!” “Lah, ini bukan Gardin?” “Ini saya, Karla. Saya butuh bantuan mas.” *** Sebelum naik bus, Raffles memegang tangan Nat erat. Dia merasa sangat beruntung ada orang seperti Nat disisi Karla. Apalagi, Nat juga menceritakan soal masalah apartemen itu pada Raffles. Nat tak ingin berbohong terlalu banyak. Ditambah lagi, Raffles pasti akan mengerti jika alasannya jelas. Dan ya, rencana Nat cukup berhasil. “Tolong jaga Karla ya. Saya benar-benar tidak menyangka apa yang terjadi padanya.” “Iya tan. Tante tenang aja.” “Makasih nak.”balas Raffles sampai tetap memegang erat tangan Nat. Wanita itu segera pergi. Nat merasa bangga karena berhasil menyakinkan wanita itu.  Dia segera melajukan mobil dengan cepat. Dia ingin cepat sampai di rumah. Dia masih tidak yakin dengan dirinya sendiri. Membawa Karla tanpa pikir panjang memang keputusan yang aneh. Apalagi, dia belum mengenal perempuan itu lebih dalam. Walau pertemuan pertama sesuai ekspektasi, tapi keputusan membawanya tinggal bersama terlalu buru-buru. Dan bahkan, Nat sengaja berbohong pada cewek itu. Ketika dia tertarik pada Pamungkas, Nat langsung menambah daftar kebohongan di buku dosanya. Dengan gamblang dia berkata kalau Pamungkas sudah menikah. Padahal pria itu belum menikah. Kenapa Nat melakukannya? Apakah karena cemburu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD