~kabar baik~

1233 Words
Gardin mendapat penanganan awal. Dokter bilang dia sudah tidak apa-apa. Karla merasa lega mendengarnya. Dia menunggu di kursi tunggu bersama Pamungkas. Dan Pamungkas baru saja menelpon Nat. Yah, biar Nat tidak panik. Pamungkas mau yakin dulu kalau Gardin baik-baik saja. “Thanks ya Kar. Kalau gak ada lo, Gardin bisa makin parah.” “Iya, mas. Padahal dia masih sempat ledekin gue. Tapi malah pingsan.” “Katanya Nat bentar lagi udah mau sampai.” “Hmm, baguslah.”balas Karla dengan perasaan lega. Dia sangat senang waktu tahu Gardin baik-baik saja.  “Mas gak pulang?” “Gak apa-apa. Gue tunggu Nat datang.” “Takutnya lo dicariin istri.” “Istri?” “Lo udah nikah kan?” “Wah, kacau. Informasi dari mana itu?”ucap Pamungkas dengan nada tinggi. Kok bisa dia dikira udah nikah. Punya pacar saja tidak. Terakhir Pamungkas pacaran di luar negeri. Dan udah lama banget dia jomblo. “Jadi itu bohong? Nat sendiri yang bilang.” “Wah, gila!”seru Pamungkas tidak menyangka. Ini namanya difitnah dengan gaya. Sialan! Pamungkas ingin sekali membunuh Nat detik ini juga. Melihat reaksi Pamungkas, Karla jadi yakin kalau itu semua bohong.  “Jadi Nat bohong?” “Ya, jelas. Dia emang ya, malah jadiin gue tumbal. Parah banget.” Tak lama, orang yang mereka bicarakan datang. Dia terlihat panik. Dengan segala kekuatannya, Karla dan Pamungkas berusaha meredam emosi di hati masing-masing.  “Gardin dimana? Udah sadar?” “Tunggu dokter, bentar lagi datang.”balas Pamungkas singkat. Dan detik itu juga, Karla semakin yakin kalau Nat sangat menyayangi Gardin. Dia seperti ibu yang melihat anaknya tiba-tiba sakit. Karla mulai lupa soal kebohongan cowok itu. Dia malah sedih melihat tingkah Gardin selama ini. Ya, cowok itu terlihat patuh pada Nat. Tapi dia juga menyimpan dendam. Dia tidak peduli akan apa yang terjadi pada Nat. dia sibuk dengan dunianya sendiri. Apa yang terjadi di antara mereka? Seperti ada gap yang besar di antara mereka. “Tenang aja bro.”ucap Pamungkas berusaha menenangkan. Tak lama dokter datang. Dan ya, Gardin memang sudah tidak apa-apa. Dia hanya perlu diberikan obat sakit perut. Tadinya Gardin mengaku tidak ada masalah. Dia tidak ingin diberikan perhatian lebih. Emang dasar, dia membatasi diri agar tidak terlalu dekat dengan Nat. Mereka segera menemui Gardin yang masih terbaring di tempat tidur. Terlihat sekali Nat lega melihat Gardin baik-baik saja. “Aku udah gak apa-apa. Gak usah panik.”ucap Gardin tegas. Dia berusaha bangkit dari tidur.  “Eh, tidur aja dulu. Lo butuh apa, biar gue ambilin.”ucap Karla dengan tegas. Dia mulai memahami apa yang terjadi. Dan sekarang, Karla bisa jadi penengah di antara mereka. “Minum.” Dengan sigap, Karla mengambilnya. Dia membantu Gardin minum. Orang yang diare parah memang harus banyak minum. Itu sangat bermanfaat untuk perutnya. Setelah yakin semua baik-baik saja, mereka pulang. Tak ada percakapan yang bermakna. Semua diam dengan pikiran masing-masing. *** Gly sangat merepotkan Karla. Setiap hari dia ingin cerita romantis yang ada di drama. Seakan hubungan Karla dan Nat seperti sepasang kekasih. Nyatanya tidak.  “Jadi, lo ikut nganterin ke rumah sakit?” “Ya,iyalah. Gue gak tega.” “Itu akan jadi awal Pak Nat suka sama lo.” “Dah gila.” “Cinta bisa muncul tiba-tiba. Dan itu sangat memungkinkan buat lo dan Pak Nat. Atau jangan-jangan, lo sama adiknya Pak Nat.”ucap Gly sambil terkekeh. Karla langsung memukul badan Gly dengan keras. Mampus deh. Ucapannya sangat tidak masuk akal. “Diem atau gue pukul lagi. Ini gue lagi sibuk mikir, lo ngoceh mulu.” “Iya,iya.”balas Gly mengalah. Dia kembali fokus pada laptop yang menampilkan potongan program yang banyak. Berpikir keras menyelesaikan case study yang diberikan dosen beberapa hari yang lalu. “Eh, katanya kita mau field trip loh.”ucap Rere sambil meletakkan tasnya di atas meja. Dia datang tiba-tiba seperti angin yang berhembus.  “Emang iya?” “Iya. Winny yang bilang. Udah dibicarain sama ketua angkatan. Ada tiga tempat yang direkomendasikan. Bandung, Bali atau Bogor.” “Bali!”teriak Karla dan Gly bersamaan. Mereka tertawa setelahnya. “Tapi kayaknya gak memungkinkan.” “Lo gimana sih? Kalau ngasih opsi berarti semuanya harus memungkinkan.”protes Gly kesal. “Bali butuh biaya paling banyak. Sedangkan kita, masih harus menabung untuk bayar uang kuliah. Mikir deh, yang lain pasti pada pilih Bogor atau Bandung.”jelas Rere seperti profesor. Perkataan itu bikin Karla sadar diri. Hey, dia sudah menumpang di rumah orang lain dan berharap liburan ke tempat yang menghabiskan high cost. Sangat tidak tahu diri. “Gue pilih Bogor!” “Lah, kenapa malah Bogor sih?” “Pasti ke Bandung lebih mahal Gly. Kalau ke Bogor, kita bisa naik KRL.” “Ide yang bagus.”ucap Rere mengiyakan. “Cih, membosankan.”ucap Gly kesal. Pergi ke Bogor sama saja bukan liburan. Tempat itu sudah sering dikunjungi oleh Gly. Dia sudah paham seluk beluknya. Tidak ada lagi yang menarik jika pergi kesana.  Gerombolan cowok-cowok datang dan memenuhi kantin. Mereka juga hendak mengerjakan tugas. Tak lupa memesan makan siang dan minuman dingin. Suasana kembali tenang. Ketika menyelesaikan tugas itu, Karla mendapat sebuah email. Email yang membuat senyumnya merekah. Pengumuman kelulusan setelah interview tahap akhir. Dia sudah beberapa kali pergi mengikuti tes. Dan akhirnya, dia dinyatakan lulus. Ini bukan hal mudah karena dia sangat menginginkan uang. Ya, bekerja dengan berorientasi pada uang tidak bisa dihindari. Bagaimana tidak, Karla sedang berada di ujung tanduk.  Dia melihat Kiel duduk sendiri di meja paling ujung. Dengan segera, dia memesan dua gelas cappucino dengan whipped cream. Dia senang melihat Kiel duduk sendirian. Sehingga dia bisa bicara leluasa dengan cowok itu. “Ini buat lo!”ucap Karla seraya meletakkan minuman itu. Kiel tampak bingung dengan dahi mengkerut. “Gue lolos interview akhir.”ucap Karla sambil duduk disamping cowok itu.  “Beneran?”tanya Kiel tidak percaya. “Iya, Ki. Baru aja gue dapat email. Ini semua gara-gara lo.” “Bukan. Itu gara-gara lo qualified. Kenapa jadi gue sih?” “Haha. Thanks banget Ki. Gue benar-benar butuh pekerjaan.” “Sama-sama. By the way, kantor gue dekat sama kantor lo yang sekarang. Kita bisa ketemu disana kalau ada waktu.” “Iya. Pokoknya makasih banget ya.” “Iya, Kar. Lagian, kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang sama gue.” “Siap!” Tiba-tiba handphone Karla berdering. Terlihat nama Jejo di layar. Karla segera menjauh dari tempat Kiel.  “Hello..” “Gimana Kar? Lo udah nemu orang yang mau sewa apartemen itu?”tanya Jejo dengan suara yang tegas. Karla tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti, dia terlihat tidak baik-baik saja. “Lo gak lagi sakit kan, Je?” “Nggak. Gue baik-baik aja.” “Maaf ya, sampai sekarang belum ada yang sewa. Beberapa hari lalu ada sih, tapi harganya kebanting banget.” “Argh, sial!”ucap Jejo dengan suara yang sangat kesal. Entah apa masalah yang dia hadapi. Sikapnya sama persis waktu dia berniat minggat dari apartemen.  “Lo kenapa? Ada masala?” “Gak. Udah ya, lain kali kita bicara lagi.” Panggilan langsung mati. Jejo emang egois tingkat tinggi. Dia selalu merasa paling tersakiti. Dia tidak tahu apa yang Karla alami setelah dia mengambil keputusan sendiri. Karla berusaha untuk tidak peduli, tapi dia tetap aja kepikiran. Jejo terdengar tidak baik-baik saja. Apakah dia ada masalah dengan pacarnya? Argh, sudahlah. Itu bukan urusan Karla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD