Ayam kampus adalah istilah yang tepat untuk mahasiswi yang doyan cari cowok buat diporotin. Krisis finansial emang bikin siapa saja melakukan apapun untuk get more money. Tak terkecuali para mahasiswi yang kecantikannya di atas standar internasional.
“Iya. Gue lihat sendiri. Itu sudah malam dan tinggal beberapa orang yang ada di kantin. Gue mikir nya itu gojek. Ternyata besoknya masih aja dijemput.”
“Itu mah fiks dia sama sugar daddy.”
“Ih masa sih? Kampus sebagus ini masih ada yang begitu?”
“Heh, jangan salah. Biasanya mereka pintar sembunyi-sembunyi. Selagi gak ada yang tahu, semua beres.”
“Emang lo liatnya dimana sih?”
“Di depan Gedung C. Lo tahu sendiri kan, itu gedung paling sepi. Dia pasti sengaja biar gak ada yang tahu. Padahal gue sering nongkrong disitu.”
Begitulah percakapan lima orang cewek di kantin. Mereka begitu serius membahas penemuan yang fenomenal itu. Dan cewek yang duduk sendirian di sebelahnya mampu mendengar semuanya. Dia terlihat syok hingga tak bisa menelan potongan daging ayam yang ada di sendoknya.
“Lo kesambet?”ucap Gly yang tiba-tiba duduk dengan seporsi ketoprak dengan telur dadar. Karla langsung sadar kalau dia sudah melamun sejak tadi.
“Eh, lo udah datang.”
“Iya. Lo kayak kesurupan anjir. Bengong mulu dari tadi.”
“Ah, gak apa-apa. Mending kita pindah duduk deh. Disini gerah.”
“Tapi,,,,”
“Ayo Gly!”desak Karla tanpa mau mendengar penjelasan Gly. Dengan terpaksa, Gly mengikuti cewek itu. Karla gak mau Gly mendengar percakapan itu. Dia merasa terpojok seakan punya jutaan dosa. Siapa yang gak curiga dengan keadaannya sekarang. Dia memelihara sugar daddy. Gak cuma itu. Dia rela tinggal sama Nat demi tempat tinggal yang layak. Benarkah definisi ayam kampus sangat cocok untuknya?
Mereka menikmati makan malam dengan hikmat. Tapi pikiran Karla tertuju pada Nat. Oh My God, kenapa harus dia mengalami hal ini?
Bahkan sampai mulai perkuliahan, dia tak bisa konsentrasi. Hingga akhirnya dia keluar dari ruangan kelas. Jenuh dan gak bisa berkonsentrasi. Dia merenung sambil melihat ke bawah gedung paling atas. Dari toilet pria, Nat muncul seperti setan. Karla langsung melonjak kaget.
“Kamu kenapa?”
“Gak, gak apa-apa.”
“Cepat masuk. Ada pelajaran malah ditinggal!”ucap Nat tegas. Dia marah dan tegas. Bikin Karla dengan segera berjalan menuju ke ruangan kelas. Emang sih, pelajaran kuliah itu gak boleh ditinggal. Ditinggal bentar aja udah sangat merugikan.
***
“Pak, mulai besok kita gak boleh pulang bareng lagi.”
Satu kalimat yang membuat pagi ini seperti badai. Dan bahkan Gardin hampir keselek. Dia langsung mencari pertolongan dengan minum air putih.
“Gara-gara itu, ada orang di kampus yang mikir saya barengan sama sugar daddy.”
“Hahahaha!”
Seketika Gardin tertawa. Dia kira kenapa, eh malah pake alasan aneh. Ditambah lagi ada kata Sugar daddy. Dibanding sugar daddy, Nat lebih cocok disebut om-om berkumis.
“Ketawa terus Gar. Lo gak bisa ketawa kalau dia sampai dipecat gara-gara bikin skandal di kampus.”
“Skandal apa sih? Saya cuma numpang kamu di rumah ini. Kita sama-sama untung. Gak usah dengerin kata orang. Lagian, kampus gak pernah melarang dosen pacaran sama mahasiswi.”ucap Nat membela diri.
“Tetap aja, itu bisa merusak harga diri saya.”
“Kamu tenang aja. Gak usah panik gitu.”
“Pokoknya, mulai sekarang, saya mau pulang sendiri aja. Fiks.”ucap Karla mempertegas. Dia mau bilang kalau ucapannya itu tidak main-main.
“Udah. Lo makan dulu.”paksa Gardin sambil menyuruh cewek itu duduk. Pagi yang damai ini berubah jadi porak-poranda hanya karena Karla. Mereka sarapan dengan tenang. Ditambah lagi masakan Nat gak ada obat.
“Minggu depan ada rapat orang tua di sekolah. Ini suratnya.”ucap Gardin sambil meletakkan surat itu di atas meja. Dia mencari momen saat Nat sudah selesai makan.
Nat melihat dengan seksama. Dia mulai resah karena waktunya tidak pas. Karla bisa melihat itu.
“Emang kapan?”tanyanya sambil terus menikmati makanan itu.
“Hari senin.”
“Bapak gak bisa? Kalau gitu, saya aja.”
“Emang kamu bisa?”
“Bisa. Saya kerja mulai hari rabu. Jadi, pergi sekolah bukan masalah.”
“Lah, lo udah dapat kerja?”tanya Gardin syok.
“Yaps. Keren kan gue?”
Gardin sangat iri. Dia harus menjual barang via e-commerce untuk mendapatkan uang. Sedangkan Karla, dia bisa mendapat pekerjaan dengan mudah. Itulah yang ada di pikiran Gardin. Dia tidak tahu kalau Karla melewati berbagai rintangan untuk sampai ke tahap ini.
“Tunggu deh sampai hari minggu. Kalau saya tidak bisa, saya minta tolong agar kamu yang ke sekolah.”
Karla mengangguk dengan semangat. Dia sangat tertarik dengan pribadi Gardin. Dengan pergi ke sekolah, dia bisa mengulik tentang cowok itu.
“Udah ya, aku pergi.”ucap Gardin setelahnya. Dia meninggalkan Karla dan Nat yang sibuk memperhatikannya sampai menghilang dari pandangan mata.
“Hmm, saya juga harus pergi.”ucap Nat hendak berdiri.
“Bapak sama Gardin gak ada masalah? Kalian selalu aneh kalau lagi bareng.”ucap Karla jujur. Dia penasaran banget sama hubungan dua orang itu. Kayak air dan api yang memilih untuk diem-dieman.
“Gak ada.”
“Bohong!”
“Cuma masalah sepele.”
“Heh, kalau menurut bapak sepele, belum tentu pikiran Gardin juga begitu.”
“Sudahlah. Saya mau berangkat. Nanti telat ngajar.”ucap Nat berdalih. Tuh kan, bisa dilihat kalau mereka saling acuh. Karla segera membersihkan meja makan. Untuk menebus dosa karena menikmati sarapan gratis, dia melakukannya dengan sukarela.
Dia ingin menikmati sisa hari untuk bersenang-senang. Jika nanti sudah bekerja, dia tidak akan punya waktu luang. Pasti hidupnya akan ruwet kayak gulungan benang yang tidak beraturan. Meski begitu, hal itu lebih baik daripada tidak bekerja. Ya, dia ingin hidup dengan uang yang melimpah.
Dengan semangat yang luar biasa, dia membereskan setiap sudut di rumah itu. Suara lagu kesukaannya terdengar menguasai seluruh ruangan. Tidak melelahkan jika sudah ada niat.
Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk istirahat. Dia melihat foto yang ada di ruangan yang jarang dipakai. Foto Nat bersama Gardin. Mereka berdua tertawa di tepi pantai yang penuh pasir. Kenapa foto ini disimpan? Kenapa tidak dipajang di ruang tamu saja?
“Ting! Tong!!”
Bunyi itu membuat Karla meninggalkan tempat itu. Dia segera membuka pintu. Dan disana berdiri wanita itu. Bianca. Wanita yang selalu membuat Nat dan Gardin gentar. Dia berdiri dengan muka tegasnya. Menghakimi Karla dari atas sampai bawah. Apalagi Karla sedang berkeringat di balik kaos oblong dan celana pendek itu. Ditambah lagi, ada handuk kecil yang bertengger di pundaknya. Rambutnya lepek kayak gak keramas satu bulan. Dan yang pasti, baunya gak karuan. Karla menyadari hal itu. Dia benar-benar kayak pembantu.