~bodoh~

1292 Words
Segelas teh panas siap disajikan. Dengan jantung yang berdetak tidak normal, Karla berjalan perlahan. Dia memastikan wajahnya tidak terlalu buruk di depan cermin. Setidaknya, dia sudah menyeka keringatnya yang sedari tadi mengucur deras. Dia meletakkannya di atas meja. Bianca masih saja diam dengan tatapan yang tidak jelas arahnya kemana. Yang pasti, dia salah satu wanita terhoror setelah mamanya, Raffles.  “Kamu sendirian aja di rumah?” “Iya, tante.” “Saya masih tidak menyangka Nat punya pacar. Apalagi orangnya kayak kamu.” Rasanya kayak ditusuk sama belasan duri. Sakit cuy. Bukannya Karla berharap beneran pacaran sama Nat. Dia hanya merasa harga dirinya jatuh. Seakan dia benar-benar manusia yang sangat buruk. Sialan! “Argh,,,,!”keluhnya dengan menghela nafas. Dia terlihat mengeluh meskipun bukan dengan kata. Ya, tingkahnya kayak lagi punya banyak problema hidup. “Tante kalau mau ketemu Nat bisa datang agak siang.” “Tidak. Saya akan pergi bentar lagi.”ucapnya kemudian. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Uang yang jumlahnya banyak. Gila. Ini benar-benar mirip kayak di film-film. Karla tercengang melihat uang itu. Jelas dia tergiur. Mungkinkah Tante Bianca menyuruh Karla pergi dengan jaminan uang ini? Jelas dong, Karla dengan senang hati akan mau. Tapi Bianca mengambil lagi uang itu. Dia malah menaruh selembar kertas di atas meja. “Saya menitip ini untuk diberikan sama mereka. Saya berharap mereka mau datang. Kalau kamu berhasil, saya akan ngasih uang yang tadi.”ucap Bianca seakan tahu isi hati Karla. Wanita menyeramkan itu ternyata punya indera ketujuh. “Kalau begitu, saya pergi.” Bianca pergi dengan kekecewaan di wajah Karla. Dia melihat kembali lembaran kertas itu. Acara tahunan Keluarga Narwaya. Dengan sigap, Karla membuka laptopnya. Dia mencari tahu soal acara itu. Dan gila! Dia mengetahui bahwa Keluarga Narwaya adalah salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Jadi, Nat dan Gardin adalah bagian dari mereka? Ini sangat tidak masuk akal. Karla menjadi bagian dari keluarga kaya ini.  Karla mengambil roti dan s**u setelah semua ruangan sudah dibersihkan. Kemudian dia menyalakan televisi sambil menelpon Gly. “Kenapa cinta?” “Gly, lo harus tahu. Pak Nat ternyata bagian dari keluarga Narwaya.” “Apa sih? Lo pake basa basi dikit dong. Jangan to the point, gue jadi kagok.” “Ini beneran Gly. Lo tahu Keluarga Narwaya gak?” “Salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Mereka punya usaha yang beragam dan bahkan tidak diketahui masyarakat umum. Terakhir gue sama teman sekantor ngomongin anaknya yang bungsu menikah. Kalau gak salah tahun lalu deh.” “Gila. Diam-diam Pak Nat bagian dari keluarga itu?” “Eh, emang lo udah yakin?” “Belum sih.” “Siapa tahu keluarga itu cuma kenalannya Pak Nat.” “Iya juga sih.” “Ya udah. Lo buruan cari tahu.” Gly mengajarkan Karla bahwa hidup ini tidak boleh sekedar anggapan belaka. Harus ada bukti konkret untuk suatu kesimpulan. Tidak bisa langsung mengambil kesimpulan tanpa alasan yang berdasar. Karla menatap layar televisi hingga akhirnya tertidur pulas. Dia kelelahan setelah bekerja seharian. Tak lama, Gardin kembali dari sekolah. Dia membuka pintu dengan kunci miliknya. Dia cukup kaget melihat rumah yang kini terlihat sangat rapi, bersih dan wangi. Dia kemudian melihat Karla dan tertawa. Sejak kejadian sakit perut, Gardin semakin yakin kalau Karla bukan orang jahat. Ya, dia tidak seperti orang diluar sana yang melakukan sesuatu dengan suatu maksud. Dia duduk di sofa dan melihat kertas yang ada di atas meja. Dia mengambilnya dan hendak merobek. Tapi Karla menghentikan niat itu. “Lo kenapa sih? Jangan dirobek.”ucapnya sambil menyelamatkan kertas itu dari kehancuran. “Tadi Tante Bianca kesini. Dia berharap banget lo sama Nat bisa datang ke acara ini.” “Dia benar-benar udah gila.” “Kenapa emang gak mau kesana?” “Lo gak tahu apa-apa, kak.” “Wah, lo manggil gue kak?”ucap Karla berbinar. Ini tuh momen langka. Bahkan memanggil Nat aja, Gardin gak pake embel-embel. Ini patut dirayakan dengan tumpengan indomie goreng.  “Jangan lebay.” “Ya udah. Kenapa gak mau pergi?” “Mereka orang jahat. Lo gak bakal paham.” “Yaudah. Kenapa harus takut? Kalau mau balas dendam, lo harus pergi ke tempat ini.” “Bodo ah.”balas Gardin sambil pergi. “Kalau mau pesan makan, bilang gue ya.”lanjutnya kemudian. Ternyata susah juga menyuruh Gardin pergi. Dan memang, siapa yang tidak takut. Jika mereka sejahat itu, pasti melelahkan ada di acara yang semuanya orang jahat. Tapi itu masih dari perspektif seorang Gardin. Karla perlu tahu reaksi Nat. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Nat nelfon. “Hello..” “Kamu ke kampus jam berapa? Saya boleh titip dokumen di atas meja? Ini penting banget soalnya.” Karla diam dan berpikir sejenak.  “Hello Kar. Kamu dengar gak?” “Iya pak. Nanti saya antarkan. Saya ke kampus jam 4.” “Oh, baik. Terima kasih ya.” “Bukannya lo libur hari ini?”ucap Gardin seperti roh halus yang tiba-tiba muncul. Kampret! Bikin kaget aja. Dan Karla lagi nyari alasan untuk pertanyaan itu. “Hmm, kasihan aja. Anggap sebagai ucapan terima kasih gue.” “Alasan klise. Lo udah mulai suka sama dia.” “g****k! Gak akan!” “Gak percaya!” “Terus lo, sudah dimana pacar yang lo bilang waktu itu? Dia pernah lagi datang.” “Udah putus.” “Gila. Cepat banget. Lo kira baju kotor?” “Bukan soal baju kotor. Dia rada gila.” Karla tertawa mendengarnya. Dan mereka makan siang dengan nasi padang sambil sesi curhat. Walau masih muda, Gardin punya banyak mantan. Yang lebih amazing, dia bisa ganti pacar lima kali dalam seminggu. Dan dia juga jadi sumber petaka bagi cewek-cewek yang ada di sekolah. Begitulah cowok ganteng hidup di dunia ini. Mereka bisa menjadi sangat berpengaruh dalam segala kondisi. Ketika hari menjelang sore, Karla segera ganti baju. Sebenarnya, dia ada jadwal hari ini. Kebetulan dosennya gak bisa datang. Dan nanti akan dibuat jadwal pengganti. Tapi demi Nat, Karla sampai datang ke kampus. What? Demi Nat? Tidak. Ini hanya ajang balas budi. “Kar!”teriak seseorang saat ia sampai di parkiran.” KIEL. Cowok itu tersenyum sambil melambaikan tangan. Argh, dia baru ingat. Banyak mahasiswa yang tetap ke kampus sekedar numpang wifi sambil mengerjakan tugas.  “Eh, Ki. Lo tetap ke kampus?” “Iya. Sekalian mau ngerjain tugas Manajemen Akuntansi. Lo juga?” “Ah, iya.” “Ayok. Bareng aja.” Inilah yang disebut terjebak nostalgia. Terpaksa Karla pura-pura mau ngerjain tugas. Aslinya mah engga.  “Gue titip tas deh. Gue mau ke toilet bentar.” Kiel mengangguk. Karla bergegas ke lantai 3 gedung A. Nat pasti sudah menunggunya. Dokumen ini sangat dibutuhkan untuk saat ini. Dia mengetuk pintu ruangan Nat. Dia masuk dan menyerahkannya. “Ini, pak.” “Astaga, makasih Kar. Tanpa kamu saya bisa kena marah.” “Iya, pak. Gak apa-apa.” “Terus, kamu mau kuliah lagi kan?” “Ah, engga pak. Saya mau ngerjain tugas bentar. Sekalian aja. Saya hari ini libur karena dosen ada urusan.” “Oh gitu. Kalau gitu, nanti kita pulang bareng aja.” “Gak!”ucap Karla tegas. Udah kayak menolak Rancangan Undang-Undang yang kontroversial. “Maksudnya, saya gak mau digosipin lagi. Nanti ada yang lihat.” “Kamu itu kok percaya sama orang sih. Nanti saya jemput di FIB deh. Biar gak ada yang ngintilin di Gedung C. Gimana?” Maksa banget sih? Karla sampai gak tau alasan lain untuk nolak. Kampret banget. Apalagi muka Nat terlihat sangat serius. Dia menatap tajam dan melekat pada Karla. Karla seakan terjebak dalam sangkar. Mau gak mau, cuma satu jawaban. “Baik pak.” “Baiklah. Nanti saya kabari kalau sudah selesai.” Karla keluar dari ruangannya dengan muka bete. Kenapa dia gak bisa nolak ya? Dasar bodoh! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD