~gak nyangka~

1645 Words
Mobil melewati jalanan yang masih ramai. Suasana crowded bisa terlihat dari dalam mobil. Para pedagang mulai bersiap untuk pulang. Ada juga beberapa pedagang yang baru membuka lapak. Semua terlihat sangat berjuang untuk hidupnya masing-masing. “Makasih ya. Kalau kamu gak nganterin, saya pasti repot banget.”ucap Nat sambil tersenyum. “Kalau gitu, aku boleh minta satu request?” “Hah?” “Boleh ya?” “Hmm, tergantung.” “Ih,,”balas Karla kesal.  “Ya udah, apa?” “Ini ada undangan. Bapak mau pergi kan?” Nat melihat kertas itu. Dia tidak bereaksi apa-apa. Karla jadi merasa bersalah. Dia  tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti, perasaan Gardin sama dengan Nat. Ya, soal acara keluarga ini. “Apa kamu tahu, mereka selalu memaksa aku dan Gardin untuk datang. Kami tak pernah menganggap mereka keluarga. Mereka hanya mementingkan diri sendiri.” “Ketika kami butuh mereka, mereka menghilang. Tapi sebaliknya, mereka datang ketika semuanya baik-baik saja.” Terlihat jelas Nat sedih menceritakan hal itu. Walau Karla gak tahu maksudnya, dia bisa mengerti. Segala sesuatu memang ada alasannya. Termasuk sikap Gardin pada Nat. Seketika suasana jadi suram. Karla merasa bersalah sampai gak bisa berkata-kata. Tapi muncul ide random di pikirannya.  “Pak, mau nongkrong dulu gak?” Mobil itu terparkir di sebuah angkringan. Angkringan yang selalu jadi pemandangan Karla sehari-hari. Dia juga penasaran, semoga saja rasanya sesuai dengan ekspektasi.  Mereka makan malam dengan lahap. Dan setelahnya, mereka berjalan ke pasar malam yang tidak jauh dari tempat itu. Ya, tempat itu tak sengaja ditemukan. Berasa hidden gem.  “Bukannya aku sok tahu. Tapi belum tentu mereka seperti yang kamu pikir. Bisa aja mereka sebenarnya baik dan gak sempat ngejelasin.” “Kamu gak akan paham.” “Kenapa juga harus kabur? Kalau dikasih undangan, datang dong. Mungkin kamu bisa menunjukkan sama mereka kalau kamu baik-baik saja.” Perkataan itu sedikit membuka pikiran Nat. Tapi dia berusaha tidak peduli. Dia berjalan dengan santai dan tak peduli dengan segala celoteh yang keluar dari mulut Karla. Cewek itu ngebet banget agar dia pergi. Emang apa untungnya buat dia? Apa jangan-jangan? “Heh, kamu kenapa jadi kayak gini? Ngarep banget aku pergi ke acara itu?”tanya Nat dengan muka tegasnya. Kayak lagi marah sama yang berisik di ruangan kelas. “Ah, eng...nggak apa-apa kok.” “Bohong. Apa yang tante janjiin sama kamu?”ucap Nat dengan nada marah. Gila. baru kali ini Karla melihat Nat semarah ini. Bahkan ketika di kelas, marahnya masih normal. Sekarang kayak mau makan orang. “Kamu jujur, Kar!”desaknya dengan bentakan.  “Uang. Ya, uang. Gak usah marah-marah bisa?” “Kamu gila ya? Cuma gara-gara kamu kayak gini?” “Iya, emang. Terus, apa salahnya? Lagian, aku tinggal di rumahmu juga gara-gara uang. Jadi jangan berharap banyak.” Nat diam dengan tatapan tidak menyangka. Disisi lain, Karla merasa harga dirinya jatuh. Dia merasa bersalah, tapi egoisnya jauh lebih besar. Dia pergi begitu saja. Dia berjalan dengan perasaan campur aduk. Dan halte busway jadi pemberhentiannya. Dia tidak punya muka untuk pulang bareng sama Nat. Dia merinding mengingat ekspresi Nat barusan. Emang dia berharap apa sama Karla? Dia berharap Karla manusia bak malaikat?  Dengan kepala menunduk, dia memukul kepalanya berkali-kali. Dan sebotol minuman ada di depannya. Dia menoleh dan melihat Gardin disana. “Gitu doang, nangis?”ledeknya sambil membuka botol minum itu. “Nih, minum dulu.” “Lo lihat gue sama Nat?” “Iya. Kebetulan gue lagi ngirim barang customer.” “Argh,”keluhnya kesal. “Gue gak masalah kalau itu demi uang.”ucap Gardin sambil menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan berlalu-lalang. “Ya, setidaknya lo terlihat manusiawi.” “Lo serius?” “Emang lo ditawarin berapa?” “50 juta.” “Gila!”teriak Gardin syok. Bagaimana tidak, itu uang dengan jumlah yang besar. Bahkan Gardin tidak sanggup mendapatkannya dalam satu bulan. Lihat, Karla bisa mendapatkannya hanya dalam satu hari. Ini sih kesempatan emas. “Gini aja, uangnya kita bagi dua. Gue bakal datang ke acara itu.” “Lo serius?” “Iya. Gue butuh duit. Tapi lo harus ikut bareng sama gue. Gue gak mau kesana sendirian.” “Ih, kenapa jadi gue? Ajak pacar aja sana.” “Pacar apaan? Gue udah jomblo.”balas Gardin sambil tertawa. Mereka tetap disana sampai beberapa lama. Gardin mulai membuka hati pada Karla. Dia bercerita banyak hal tentang sekolah.  Mereka tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul 10. Ini sudah dua jam sejak Karla berpisah dengan Nat. Dan ya, mereka tidak mengobrol saat berpapasan. “Kamu dari mana?”tanya Nat pada Gardin. “Ada ekstrakulikuler. Kebetulan ketemu Kak Karla di busway.”balas Gardin berbohong. “Oh, ya sudah.” Gardin segera melipir ke kamarnya. Sedang Nat merenung di ruang tamu. Dia masih tidak menyangka Karla orang yang terlalu berorientasi pada uang. Bahkan dia tidak bisa memahami situasi dan perasaan orang lain. Kekecewaan muncul di hatinya. *** Rapat orang tua murid baru dimulai tiga puluh menit yang lalu. Pembahasannya sangat membosankan. Ditambah lagi ada satu orang yang sibuk berorasi. Dia mau ngasih bantuan buat sekolah dalam jumlah yang banyak. Sudah bisa dipastikan bagaimana wajah kepala sekolah begitu senang. Beda dengan Karla yang lebih suka scroll handphone. Melihat instastory teman-temannya. Rapat itu berlangsung dua jam. Setelah itu, Karla hendak pulang karena ngantuk yang menyerang. Tiba-tiba wali kelas Gardin menyuruhnya untuk menunggu. Ada yang ingin dibicarakan.  “Mbak, walinya Gardin kan?” “Iya bu.” “Boleh bicara sebentar. Kita ke ruangan saya.” “Ah, baik bu.” Karla berjalan ke ruangan yang tak jauh dari ruang rapat. Dia duduk sambil menunggu wali kelas Gardin. “Ini absensi dalam satu bulan terakhir. Saya tidak tahu, tapi dia sering izin dengan alasan acara keluarga. Apa itu benar?” Karla terdiam. Dia mendapat banyak arahan dari guru itu. Karla semakin tidak tenang dengan Gardin. Dia keluar ruangan dan mencari cowok itu. Dan tak sengaja, dia melihat Gardin sedang duduk sambil melihat pertandingan sepak bola. “Hey,,,” “Eh, bukannya rapat guru udah kelar dari tadi?” “Lo kenapa jarang masuk? Wali kelas lo bilang sama gue.” “Lo gak perlu tahu, kak.” “Siapa tahu gue bisa ngasih solusi.” “Gak ada apa-apa. Gue cuma lagi kerja aja.” “Alasan!” “Beneran.” “Terus, kenapa lo ngebet pengen dapat uang?” “Gue pengen pergi kalau udah punya uang cukup.” “Lo mau ninggalin Nat?” Dia malah menyunggingkan senyuman. Senyuman yang bukan pertanda bahagia. Dia merasa kalau perkataan Karla barusan tampak seperti lelucon yang tidak penting.  “Tidak ada yang ditinggalkan. Dia juga gak butuh gue. Udah sana, lo pulang. Bentar lagi teman-teman gue mau datang. Lo bisa diledekin.” “Ish, ya udah. Pulang on time ya. Awas aja kalau pulang malam lagi.”omel Karla sambil berdiri. Dia segera pergi. Sedang Gardin melihatnya dengan tatapan kosong. Entahlah, hidupnya semakin tidak karuan.  “Prak!” Dia terjatuh dari duduknya. Sebuah tendangan keras membuat badannya tersungkur. Mereka tertawa sambil duduk di tempat Gardin tadi. “Lo bikin mata sakit.” “Seharusnya lo gak usah sekolah. Bikin gue polusi mata.” “Hahah, saking jeleknya pemandangan ya.” “Iya bro. Seharusnya dia tahu diri dan keluar dari sini. Kenapa malah masuk kayak gak ada apa-apa?” Gardin bangkit tapi di dorong lagi. Mereka seperti preman pasar yang tidak punya hati. Gardin bangkit untuk ketiga kalinya, tapi dia didorong lagi. “Lo disitu sampai pertandingan kelar. Anggap hiburan kita.” “Iya, hahaha. Awas ya kalau lo lapor guru.” Gardin berdiri hendak pergi. Dia tidak peduli dengan ucapan itu. Rasanya menjijikan jadi tontonan banyak orang. Ditambah lagi, dia terlihat kalah. Tapi sebuah tendangan membuat kakinya tidak bisa berdiri tegak.  “Lo berani ngelawan?”tanya cowok berbadan kekar itu dengan menggenggam kerah baju Gardin. Dia hendak menonjok wajah itu, tapi seseorang menghalanginya dengan dorongan yang keras. Tak sampai disitu, sebuah tas dilempar ke wajahnya. Dan dia bingung harus kemana. “Udah gila ya. Lo kira lo siapa?” “Aish, lo siapa? Apa hubungannya sama lo?”ucap cowok berbadan kekar itu. Karla mendekat ke arahnya sambil memberikan tatapan tajam. “Gue orang yang gak sengaja lewat. Dan gue itu gak suka lihat kekerasan. Lo mau gue laporin sama guru?”teriak-nya tegas. Semua orang melihatnya heran. “Cih, masih bocil. Berak aja belum beres lo. Udah ngebully orang lain.”lanjutnya seperti pahlawan kesiangan. Karla mengambil handphone untuk mengabadikan moment. Dia memotret semua orang yang ada di tempat itu. Dia tersenyum bangga. Lalu dia memutar video yang sengaja ia ambil dari tadi. “Gue udah punya bukti. Kalian mau berdamai atau dihukum?” “Lo gak bakal paham. Orang dewasa sok suci. Dia yang duluan mengambil pacarnya Vino.”ucap temannya yang lain ngebela. Seketika Karla tertawa. Jadi ini masalah percintaan? Cih, masih bocah udah mikirin cinta. Gak banget. Karla sampai merasa kalah karena mereka. Karla yang udah tuwir tidak pernah terlibat masalah beginian. Kenapa mereka jadi lebih profesional sih? “Jadi lo beneran rebut pacar dia?”tanya Karla pada Gardin. “Enggak.” “Jadi siapa yang benar?”keluh Karla kesal. Dia berpikir sejenak. Lalu dia mengajak Gardin dan Vino bicara dengan kepala dingin. Teman-teman Vino menunggu sambil berkerumun. Untung gak ada guru yang melihat. Guru sedang sibuk di kantin.  “Jadi kata cewek itu, dia belum punya pacar?”tanya Karla memastikan. Gardin mengangguk. “Bohong. Dia gak mungkin kayak gitu.” “Jadi lo udah pacaran sama dia dari lama?” “Masih satu bulan sih.” Karla berdiri sambil menghela nafas. Ini namanya terjebak wanita iblis. Cowok emang lemah sama perempuan. Sampai-sampai mereka gak bisa mendeteksi mana cewek baik mana cewek iblis. Dan ya, Gardin dan Vino dikambing hitamkan oleh seorang wanita. Keduanya berpikir keras sambil meresapi ucapan Karla. Jika dipikirkan lagi, sepertinya ada kesalahpahaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD