~pamungkas~

1171 Words
Siang jadi malam, malam jadi siang. Itu sudah biasa banget buat anak Ekstensi. Sama seperti Karla yang bergerak maju menuju kampus saat sudah pukul 6. Mungkin saja satpam mengira dia sedang kerja malam. Argh, dia rindu saat-saat kerja yang menyesakkan. Walau begitu, dia masih punya uang untuk bayar cicilan tas dan sepatu. Sekarang semua berubah. Dia seperti orang paling miskin di muka bumi ini.  Ketika masih di jalan menuju fakultas, hujan mulai turun. Karla mulai mencari sesuatu di dalam tasnya. Biasanya dia bawa payung. Dan kali ini, dia lupa membawa benda penting itu.  “Bareng gue aja.”ucap seseorang. Dia tersenyum dan menunjukkan payungnya yang tidak terlalu besar itu. “Kiel?” “Ayok!” Mereka berjalan bersama seperti pasangan kekasih. But, tidak sedramatis itu juga sih. Jarak yang ditempuh sudah semakin dekat. Mereka hanya perlu melewati beberapa ruangan dari fakultas lain. Mereka tiba tanpa basah yang terlalu banyak.  “Makasih loh, bantuannya.” “Anytime. By the way, udah gimana job application yang lo lamar?” “Yah, belum ada kabar sih. Semoga ada kesempatan buat gue ya.” “Iya. Kalau butuh bantuan, bilang aja.” “Thanks, Kiel.” Tiba-tiba tepukan di punggungnya membuat kaget. Gly datang seperti orang kesurupan. Dan dia basah di sekujur tubuh. Sungguh kasihan tapi malah membuat Karla tertawa. “Tungguin gue. Gue mau ke toilet.” “Ah, kalau gitu gue duluan ya.”ucap Kiel hendak pergi. Karla mengiyakan sambil tersenyum. Dia langsung duduk di kursi tunggu. Bisa dipastikan Gly akan lama di toilet. Dia pasti sibuk bersolek sambil merapikan dirinya yang udah basah kuyup. Karena rasa bosan, dia mengecek isi tasnya.  “Kar, tugas sudah beres kan?”teriak Gly dari dalam toilet. “Udah dong. Lo udah?” “Pastinya. Gue yakin si Winny pasti belum kelar. Dia kan udah kebiasaan telat mulu.” Merasa ada yang tidak beres, Karla berupaya keras mencari kertas yang sudah disiapkan dari kemarin. Cukup jarang ada tugas yang dikumpul dalam bentuk kertas. Biasanya sih dikirim langsung via kolom submission.  “Mati gue. Jatuh dimana ya?”gumamnya sambil terus mencari.  Dering telepon membuatnya sibuk dengan dua aktivitas sekaligus. Dari nomor tidak dikenal. “Hello?” “Lo kehilangan sesuatu kan?” “Gardin?” “Iya.” “Apa maksud lo?” “Lo mau kertas tugas itu?” Sialan! Bocah nakal itu adalah dalang dibalik semua ini. Dia mau apa sih? “Jadi lo yang ngambil kertas tugas gue? Mau lo apa sih? Lo nyusahin gue.” “Tenang dong. Lo hanya perlu berjanji satu hal. Gue pastiin bakal balikin kertas ini.” “Gue laporin sama Nat ya.” “Laporin aja. Gue tinggal nyeburin kertas ini ke air.” Ancaman itu tidak main-main. Kedengeran banget dari suara Gardin yang disusul suara teman-temannya. Mereka kenapa sih selalu mencari masalah. Karla berusaha berpikir keras. Dia tidak punya waktu untuk bicara dengan Nat. Dan yang lebih krusial, jam kuliah akan dimulai lima menit lagi. “Oke. Lo mau apa?” “Lo harus janji gak bakal mengungkit tentang gue di depan Nat. Gue gak suka lo ngancem-ngancem kayak kemarin.” “Iya. Gitu doang kok baper sih.” “Lo janji kan?” “Janji! Cepat bawa kesini kertas tugas gue.” Panggilan dimatikan. Disaat yang sama, Gly baru beres dari toilet. Dia berjalan seakan menyuruh Karla pergi. Tapi Karla masih saja diam. “Ayo, Kar!” Tiba-tiba segerombolan cowok berseragam SMA datang. Mereka seperti mau tawuran. Dan ya, salah satu dari mereka ngasih Karla kertas tugasnya. Dan tentu saja gak ada Gardin di antara mereka. Cowok itu pasti takut tiba-tiba berpapasan dengan Nat. Dasar cupu! “Ini kak.” “Ah, iya.” “Siapa mereka?” “Jadi, kertas tugas gue ketinggalan di tukang fotocopy. Nah, mereka kebetulan ada disana. Gue minta tolong deh.” “Oh gitu. Baik banget sampai nganterin kesini.” “Ya, mereka memang baik. Ya udah yuk, kita ke kelas.”ajak Karla agar Gly gak banyak tanya. Mereka bergegas agar tak terlambat masuk kelas. *** Mobil itu diparkir di halaman rumah. Wanita itu memancarkan kecantikan yang luar biasa. Usia yang tua tak membuatnya berhenti untuk tetap berjiwa muda. Dia mengenakan high heels dengan dress panjang yang cocok untuk badannya. Wanita itu berdiri sambil menatap tajam Nat yang duduk di sofa. “Kamu masih bersikeras untuk tetap disini?” “Aku sudah bilang, aku punya pacar sekarang. Kami tinggal bareng disini.” “Jangan bohong!” “Aku serius.” “Kalau gitu, dimana orangnya?” “Dia lagi kuliah.” “Kuliah sampai jam segini?” “Dia kuliah malam.” “Kalau gitu, biarkan tante ketemu sama dia.” “Boleh. Tante bisa datang di hari libur.” Bianca terlihat tidak percaya dengan ucapan Nat. Nat itu orang yang sopan dan berperilaku baik. Bianca sangat yakin kalau tak mungkin dia tinggal bersama dengan pacarnya. Bahkan Bianca tak percaya kalau dia punya pacar.  “Baik. Ingat janji kamu.”ujar Bianca tegas. “Hmm, Gardin dimana?” “Katanya ada les tambahan.” “Pokoknya, tante akan datang. Bilang sama pacarmu untuk bersikap sopan.”ujar Bianca seraya pergi. Dia selalu membuat Nat emosi. Dia ngebet banget buat jual rumah ini. Tapi Nat selalu punya persepsi sendiri. Dia tak akan menjual rumah ini sampai kapanpun. Sejenak dia merasa bersalah pada Karla. Kenapa cewek itu malah ikut drama keluarga yang tidak jelas ini? Semoga tidak ada masalah saat dia bertemu dengan Bianca. Ketukan pintu terdengar lagi. Nat menghela nafas. Dia segera membuka pintu itu dengan tidak bersemangat. “Ada apa lagi sih?” “Lah, kenapa?”ucap cowok itu dengan muka berkerut.  Cowok berambut keriting gondrong itu langsung masuk dengan plastik warna hitamnya. Pamungkas, tetangga sekaligus teman baik Nat. Dia tinggal tidak jauh dari rumah Nat. “Oh, kamu.” “Nih, oleh-oleh.” “Bukannya masih di Inggris?” “Udah beres. Tinggal ngurusin berkas-berkas pindah. Apa kau gak senang aku balik?” “Bukan gak senang, cuma kaget.” “Oh ya, sekalian. Itu mama nitip bahan masakan. Sekali-kali masakin Gardin lah. Jangan beli ojol mulu.” “Iya.” “Hmm, kayak ada yang berubah sama rumah ini.”ujar Pamungkas sambil berjalan kesana kemari. Hingga dia melihat perubahan drastis di beberapa bagian. Dan dia semakin yakin saat melihat rak sepatu. Ada sepatu perempuan disana. Pantas saja, rumah ini tampak lebih sehat. Ada sentuhan wanita yang tidak bisa ditemukan pada dua cowok yang tinggal bersama. Pamungkas sampai berpikiran negatif. Gak mungkin Nat nikah tanpa mengabarinya. Mereka sudah berteman cukup lama. Dan lagi, kenapa tidak ada foto pernikahan? Gak mungkin dia kumpul kebo. Dia orang yang paling positif di antara orang disekeliling Pamungkas. Semua pertanyaan itu berjalan di kepalanya. Membuatnya hampir gila saking penasarannya. “Ada cewek yang tinggal disini?”tanya Pamungkas tegas. Nat menghela nafas. Dia menyiapkan hati dan pikiran yang jernih untuk menjawab semua pertanyaan Pamungkas. Kenapa dia harus pulang secepat ini? Nat belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk cowok itu. Argh, kalau sudah begini, Pamungkas tak bisa dihindari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD