Masa-masa ujian hampir tiba. Biasanya, mahasiswa sibuk di masa kayak gini. Selain kuis yang hampir tiba, tugas juga banyak banget. Dan terkadang, mahasiswa harus di kampus sampai satu hari berlalu. Pulang jam 12 malam tak lagi asing bagi mereka. Termasuk bagi mahasiswa ekstensi yang kini berkutat di kantin yang mulai sepi manusia.
“Udah belum?”tanya Rere yang sibuk ngemil. Mereka tinggal nunggu bagian Winny dan Gly yang belum beres. Kalau Karla gak usah ditanya. Dia memang punya banyak waktu untuk mengerjakan tugas. Sedang Rere, dia orang yang sangat rajin.
“Bentar lagi ya Re. Sabar!”
“Iya. Deadline tinggal satu jam lagi Win.”
“Santai. Ini pasti beres sebelum jam 12.”
“Gue juga. Sabar ya, guys.”ucap Gly dengan suara keyboard yang mendominasi. Karla sibuk melihat layar laptopnya. Dia sengaja menjauh dari tempat teman-temannya. Nyari kerja itu lumayan susah. Apalagi nyari yang sesuai dengan minat. Susahnya minta ampun.
“Lagi nyari kerja?”tanya seseorang dari belakangnya. Ini benar-benar horor. Suasana yang bikin Karla merinding. Dia kira ada hantu. Ternyata Kiel yang sedang tersenyum dengan roti di tangannya.
“Eh, iya nih.”jawab Karla seadanya.
“Hmm, kantor gue lagi nyari karyawan baru. Lo mau gak?”
“Serius?”tanya Karla dengan mimik wajah yang bersemangat. Ini namanya rejeki nomplok. Kapan lagi dapat tawaran begini?
“Iya.”balas Kiel singkat. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia memberikan sebuah kartu nama. Disana terdapat nama HRD dan kontak yang bisa dihubungi. “Lo hubungi kesitu aja. Entar gue bilangin ke HRDnya. Ya, istilahnya ngasih lo jalan lah. Siapa tahu sesuai dengan yang diinginkan kantor gue.”
“Wah, thanks ya Ki.”
Kiel mengangguk sambil tersenyum. Dia seperti malaikat saja. Teriakan Rere membuat Karla melipir. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih sama cowok itu. Kerjaan beres dan mereka bersiap untuk pulang. Fyi, gak ada yang tahu kalau Karla udah pindah rumah. Itu namanya bunuh diri. Apalagi dia pindah ke rumah Nat. Bisa geger semua orang. Tidak bisa dibiarkan. Bahkan Rere sekalipun tidak boleh mengetahui hal ini.
Dia berjalan gontai menuju ke perumahan. Cukup naik angkutan umum selama tiga puluh menit. Dia masih gak nyangka harus hidup miskin kayak gini. Padahal dia pernah berfoya-foya dengan uang yang banyak. Argh, keadaan memang bisa berubah kapan saja.
Dia mendapati Nat sedang membaca buku di ruang tamu. Cowok itu memandang sekilas kemudian kembali berfokus pada bukunya. Begitulah orang kutu buku menjalani hidup. Karla berniat hendak naik ke lantai 2. Tiba-tiba dia kaget saat melihat Gardin belajar.
“Heh, lo ngapain?”tanya Karla iseng. Gardin melihat dengan tatapan tajam.
“Gak lihat? Gue lagi belajar?”
“Bukannya lo itu preman ya?”
“Bisa diam gak?”desak Gardin agar Karla mengecilkan suaranya. “Jangan sampai Nat tahu. Lo kan udah janji jaga rahasia?”
“Oh, gue kira lo suhu. Ternyata cupu!”
Perkataan itu bikin Gardin kesal. Tapi Karla gak peduli. Dia merasa senang bisa membuat Gardin kesal. Bocah itu cuma galak diluar. Aslinya dia takut banget sama Nat. Dasar bocah!
“Karla! Kamu ngapain?”teriak Nat dengan suara keras.
“Ah, cuma lihat Gardin sebentar.”
“Kalian udah ketemu ya?”
“Hmm, iya. Tadi siang.”
“Baiklah kalau begitu.”ujar Nat sambil berjalan ke arah mereka. Dia bertingkah seperti komandan batalyon yang ditakuti. Karla bisa melihat ekspresi takut di wajah Gardin.
“Karena kita akan tinggal bareng, banyak hal yang perlu didiskusikan.”ujar Nat sambil duduk di meja belajar.
“Pekerjaan rutin dibagi tiga.”ujar Nat sambil menunjukkan Karla deretan tugas rumah yang sangat simpel. Hanya menyapu, ngepel, cuci piring dan pekerjaan lainnya. Ternyata Nat bisa membuat preman di depannya itu rajin mengerjakan pekerjaan rumah.
“Hmm, baiklah.”ucap Karla memberikan komentar.
“Dan ini, orang yang harus diawasi.”
Nat memberikan foto seorang wanita. Wanita itu terlihat sangat berkelas dengan tampilan mewah. Dia terlihat sudah sangat dewasa, tapi awet muda.
“Namanya Tante Bianca. Terkadang dia datang kesini. Jadi, kalau kamu ketemu sama dia, kamu sudah tahu harus bagaimana?”
Karla mengangguk paham. Dia pengen tahu ada masalah apa dengan perempuan itu. Tapi Karla gak mau seperti ikut campur. Dia juga beruntung sudah dapat tempat tinggal. Setidaknya sampai apartemen itu ada yang menyewa. Dia bisa dapat uang tambahan. Dia juga harus menabung agar bisa membayar uang kuliah semester berikutnya.
Setelah Nat bicara panjang kali lebar kayak lagi ngajar di kelas, Karla melipir ke kamarnya. Argh, menyebalkan. Dia harus mendengarkan ceramah cowok itu di kampus dan di rumah. Sangat menyesakkan. Wajar saja Gardin merasa terpojok ketika ada dia. Gardin pasti mengalami mimpi buruk selama ini.
Panggilan telepon membuatnya mengambil handphone. Tertulis nama Gly disana. Dengan segera, Karla mengangkatnya.
“Kenapa Gly?”
“Lo di apartemen kan? Gue udah di depan nih.”
Mati! Ini namanya kesialan yang luar biasa. Kenapa harus sekarang?
“Hmm, maaf ya Gly. Lo gak bisa nginep malam ini.”
“Kenapa? Gue ketinggalan kereta Kar. Bilang sama teman sekamar lo, gue cuma sebentar doang. Gue bakal pergi kalau kereta pagi udah ada.”
“Bukan gara-gara itu.”
“Terus apa?”
“Gue udah pindah.”
“Serius? Kenapa? Kok lo gak pernah cerita sih?”
“Gue baru pindah beberapa hari yang lalu. Sebenarnya, gue ada masalah sama Jejo.”
“Astaga Kar. Terus, sekarang lo dimana?”
“Pokoknya pindah deh.”balas Karla singkat. Dia gak mau ngasih tahu tentang tempat tinggal ini. Bisa jadi ajang gosip. Semua orang bakal menggila kalau tahu Karla serumah dengan dosen bernama Nat. “Terus, kenapa lo mau nginep?”
“Tadi ngerjain tugas sampai malam banget. Udah gak bisa balik gue. Mana gue sendiri lagi. Kalau udah gini, terpaksa gue naik taksi ke Jakarta.”
“Sorry banget ya Gly. Gue emang bodoh karena gak ngasih tahu lo.”
“Iya. Udahan ya. Takut keburu malam.”
Pembicaraan itu berakhir dengan rasa lega dan bersalah yang datang bersusulan. Sudah sepantasnya dia mengabari teman-temannya tentang pindah rumah. Siapa tahu beberapa dari mereka ingin menyewa. Apapun bisa saja terjadi.
Dia bersiap untuk tidur. Tak butuh waktu lama, ia terlelap. Ia lupa menutup pintu yang masih terbuka. Dan saat malam semakin larut, Gardin berjalan hendak ke kamarnya. Dia tertarik untuk masuk ke kamar cewek itu. Dia melihat Karla terlelap. Jiwa isengnya datang begitu saja.
Gardin mengobrak abrik tasnya. Dia mengambil kertas tugas yang sepertinya akan penting. Saatnya balas dendam pada perempuan itu. Dia langsung menutup pintu dan mengawasi sekitar. Takut aja kalau Nat tiba-tiba muncul. Dia bisa kena omel.