Ep. 01 : Pendalaman Karakter
"Mencoba menghubungi Kakakmu lagi?" Segi yang baru masuk langsung saja melontarkan pertanyaan itu pada Carel.
Claretta, atau yang sering di panggil Carel. Dengan ponsel di telinganya, wajah yang menunjukan kebingungan, dia menoleh memandang Segi. "Iya," jawab Carel lesu.
Segi menghela nafas, dia berjalan mendekati Carel. "Lebih baik kau susul saja ke sana, aku muak melihatmu menampakan wajah sedih itu," lantas Segi mendaratkan bokongnya di tepi ranjang, samping Carel.
Carel menatap Segi dengan binar di matanya, "Bisa? Jadwal kosongku kapan memangnya?" tanyanya dengan antusias.
"Hmm," Segi menatap langit-langit atap dengan jari di dagu, berpikir. "Dua hari lagi kau tidak ada jadwal apapun. Dan sebulan kedepannya jadwalmu sangat sedikit, aku akan membatalkan jadwalmu selama satu bulan itu."
Binar di mata Carel belum hilang, senyum cerah nya terukir dengan lebar. Melempar ponselnya, Carel memeluk Segi erat. "Ah, kau memang managerku yang paling pengertian." Katanya senang.
Segi, dia adalah manager sekaligus editor Carel. Sudah delapan tahun Segi jadi Editor Carel, di awali saat umur Carel 14 tahun, sekarang Carel berumur 22 tahun. Di sebut manager, karena dulunya Carel adalah model di Agensi Zanna, namun Carel memutuskan untuk vakum dalam dunia modelnya, dia sekarang fokus pada tulisannya.
Carel seorang penulis. Dia penulis paling terkenal di London, bahkan beberapa karyanya sudah ada yang di jadikan film. Di usianya yang baru 22 tahun, Carel sudah sangat sukses, dia menjadi perbincangan hangat setiap harinya. Sifat Carel? Jangan ditanya, di depan publik atau media, sifat Carel sombong dan angkuh. Sedangkan untuk orang-orang terdekatnya, semacam: Segi, Kakaknya, Clavetta, Carel menunjukan sifat hangat dan cerianya.
Bahkan tak ayal, banyak teman sesama penulis yang risih kepadanya. Mereka berkata, mentang-mentang sudah terkenal, dia jadi bersikap sombong dan angkuh seenaknya. Carel tak memperdulikan ucapan mereka, itu sudah sangat biasa untuknya.
Carel yatim piatu, dia hanya mempunyai Kakak perempuannya Clavetta. Ibu Carel meninggal saat melahirkannya, sedangkan Ayahnya meninggal karena penyakit jantung yang di deritanya ketika Carel berumur 12 tahun. Keluarga mereka berkecukupan, jadi Carel dan Clavetta saat itu masih memakai fasilitas orang tuanya yang tersisa.
Clavetta tahu, lama-kelamaan fasilitas orang tuanya akan habis. Maka dari itu dia memutuskan untuk pergi ke Berlin, Germany, mencari pekerjaan. Clavetta pergi ketika dia berumur 18 tahun, dia sebenarnya tak tega meninggalkan Carel sendirian, tapi Carel ada bersama managernya, Clavetta pikir itu cukup.
Berarti, sudah 5 tahun Clavetta di Berlin, dan satu tahun belakangan ini, dia belum juga menghubungi Carel. Carel mencoba berulangkali menghubungi kakaknya, tapi nomer tidak aktif. Dan sekarang, Carel berniat menyusul Kakaknya itu ke Berlin.
•••
Louis Corp. Milan, Italia.
Tok, tok, tok.
Pintu di ketuk sebanyak tiga kali. Seseorang di dalam ruangan duduk di kursi kebesarannya, mata yang sedang membaca berkas di hadapannya, tanpa menatap pintu, berkata, "Masuk!" titahnya.
Pintu terbuka, memunculkan lelaki berpakaian kemeja putih rapi, di baluti oleh jas hitamnya. Di susul oleh pintu yang otomatis tertutup kembali. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah meja di depannya. Di meja itu terdapat papan nama bertuliskan : CEO Miguel Louis.
"Bos, orang-orang kita di Berlin yang akan melakukan transaksi tertunda. Ada beberapa agent negara yang mencurigai orang-orang kita saat mereka datang ke Bandara. Dan sekarang agent-agent itu mengikuti mereka secara diam-diam. Orang-orang kita tidak bisa langsung kabur karena itu akan menimbulkan kecurigaan yang semakin mendalam. Apalagi status keberangkatan mereka dari Milan." Orang itu langsung saja berbicara dan menjelaskannya secara rinci.
Miguel, orang yang duduk di kursi kebesarannya, langsung menatap orang di hadapannya. Dia Melvin, orang kepercayaannya, sekaligus asisten, dan sekertarisnya di perusahaan ini, Louis Corp.
Miguel menatap Melvin, dengan wajah tenang dia bertanya, "kenapa mereka bisa sampai di curigai?" tanyanya pelan, tubuhnya disandarkan ke kursi kebesarannya dengan mata yang tak lagi menatap berkas-berkas itu.
"Setelah diselidiki, saat konsumen menelpon kita, ada seorang lelaki yang tak sengaja mendengar percakapan kita dengannya lewat ponsel. Lalu, laki-laki itu memberi tahu pihak kepolisian walaupun tanpa bukti. Merasa tak cukup dengan polisi, dia memberi tahu agent negara." Jelas Melvin lagi.
"Cih," Miguel berdecih. "Siapa laki-laki itu? Orang t***l mana yang berusaha mencari mati. Konsumen kita juga bodoh sekali, tidak bisa menelpon dengan rahasia. Aku benci orang seperti itu." cibirnya.
Melvin kembali berkata, "kita akan ke Berlin dua hari lagi untuk meresmikan perusahaan cabang yang ada di sana."
Miguel mengibaskan tangannya ke udara sambil berbicara, "Ya, ya, ya, aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkannya berulang kali," katanya angkuh. Masalahnya, ini yang ke sepuluh kalinya Melvin mengatakan tentang itu.
Kali ini, giliran Melvin yang berdecih. "Cih. Kau kan pelupa, Bos. Aku hanya mencoba menjadi babu yang baik," ujar Melvin sembari mendelikkan matanya.
Miguel membalasnya dengan delikan mata lagi. "Kau tidak boleh menjadi baik, Melvin. Kalau kau menjadi baik, itu sangat tidak cocok. Kau akan terlihat seperti orang gila nantinya," ujar Miguel dengan tatapan menilai Melvin dari atas sampai bawah.
Dengan ekspresi tak terima, Melvin menjawab, "Heh! Mana ada orang baik di sangka sebagai orang gila. Yang ada kau yang gila!" pekiknya sedikit keras. Dengan mengibaskan tangan sembari berbalik ke arah pintu, Melvin berujar, "Sudahlah. Aku lelah berdiri terus menerus, tanganku ingin memuaskan hasrat terlebih dahulu." Melvin keluar dari ruangan itu. Hell. Apa hubungannya dengan tangan? yang berdiri itu, kan, kaki. Kenapa tiba-tiba membawa tangan.
Tangan untuk membunuh, mungkin?
"Ck, dasar psychopath gila." Miguel menggelengkan kepalanya. Psychopath? Ya, Melvin itu psychopath. Berbeda dengan Miguel si mafia yang membunuh melalui pistol, atau sesuatu yang langsung. Psychopath seperti Melvin justru suka bermain-main dengan organ dalam manusia. Dengan mencabik-cabik misalnya.
"AKU PUNYA TELINGA." Teriakan Melvin di luar terdengar sampai ke dalam ruangan Miguel. Miguel memang berbicara sedikit keras tadi, padahal ruangannya pun kedap suara.
Tapi ini pada dasarnya telinga Melvin yang tajam, suara Miguel pun sampai terdengar.
Miguel terkekeh pelan ketika mendengar teriakan Melvin. "Ah, sepertinya aku harus mencari pengganti," katanya dengan sedikit keras. Pengganti Melvin maksudnya.
"YA, SILAKAN." Teriakan Melvin yang kembali menyahut terdengar.
"Dia itu benar-benar asisten kurang ajar. Aku harus segera mencari penggantinya, kalau tidak, bisa-bisa aku mati, lalu jantung dan ginjalku dijual olehnya. Ck." Miguel bergidik sedikit ngeri ketika membayangkan dirinya yang menjadi korban kesadisan Melvin.
Miguel menatap kertas di hadapannya dengan malas. "Aku butuh hiburan malam ini. Club sepertinya boleh juga, sudah lama aku tidak ke sana."