Ep. 02 : Pertemuan Pertama

1389 Words
Harinya tiba, saat ini Carel dan Segi sedang bersiap di rumahnya sendiri. Carel yang memaksa Segi untuk datang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum ke bandara, sekarang mereka sudah siap untuk berangkat. Mereka memilih keberangkatan pagi. Carel memakai short dress berwarna cream setengah paha, di baluti oleh coat warna senada yang menenggelamkan tubuhnya. Rambut coklat  setengah punggungnya terurai, dengan kacamata gaya yang bertengger di matanya. Alasnya, Carel memakai flatshoes. Sesungguhnya Carel tidak terlalu menyukai heels ber-hak tinggi, itu terlihat menipu bentuk ketinggian seseorang. Dan Carel tidak menyukai itu. Lagipula, Carel memiliki tinggi yang semapai, sangat pas untuk tinggi seorang wanita sepertinya. Segi yang usianya tiga tahun di atas Carel juga tak kalah modisnya, tapi tentu saja Carel terlihat lebih mencolok di banding Segi. Meskipun Segi sudah berumur 25 tahun, tapi dia belum menikah. Umur itu masih terlalu dini menurutnya, lagipula, pernikahan adalah hal yang sakral, dan Segi tidak mau main-main dengan pernikahan. Sekarang mereka berdua sudah sampai bandara. Segi menoleh kepada Carel yang ada di sebelahnya, "kita akan memakai pesawat kelas apa?" tanyanya saat mereka sedang mengantre untuk mengambil tiket. Carel yang sedang menatap kuku-kukunya menatap Segi malas, "Kelas apa lagi? Kelas satu tentunya." Ujarnya angkuh. Ya, Carel selain sombong dan angkuh, Carel juga gengsian. Gengsinya tidak bisa berubah, pada siapapun, meskipun itu orang terdekatnya sendiri. Segi melotot. "OMG Carel! Kita hanya dua jam berada di pesawat, dan kau memakai kelas satu? Itu sungguh membuang uang,---" katanya sedikit keras, "menurutku." Lanjutnya dengan pelan, malu, ketika menyadari pandangan orang-orang jadi menatapnya setelah dirinya berkata keras. Carel menjentikkan jarinya kecil, "Uangku ada banyak, tenang saja. Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena duduk di kursi kelas satu." Ujarnya, senyum tipis tersungging di bibirnya dengan dagu sedikit terangkat. "Kau mau kelas mana?" tanya Carel sambil menatap Segi dengan santai. Sekarang, Segi menatap Carel heran. "Bukankah kelas satu? Kau akan membayari tempat dudukku, kan?" Dengan sedikit kepercayaan diri, Segi menanyakan itu pada Carel. Walaupun hatinya sudah was-was, ketika mengetahui kebiasaan Carel yang satu ini. Dengan malas, Carel berkata, "Tentu saja, tidak. Aku akan jatuh miskin kalau membayarimu tiket pesawat. Pakai uangmu sendiri." Titahnya ketus. Oke, selain sombong, angkuh, dan gengsian, Carel juga perhitungan. Segi menatap wanita di sampingnya dengan tatapan tak percaya. "Kau benar-benar tega, Carel." Segi menggelengkan kepalanya dan memasangkan ekspresi yang menurut Carel begitu memuakkan. Berdecak, Carel berkata, "baiklah. Aku akan membayarimu tiket kelas satu." Segi tersenyum senang mendengarnya. Ekspresi jeleknya yang tadi sudah lenyap seketika. Ajaib. "Nona, silahkan maju untuk mengambil antrian berikutnya." Carel menoleh karena merasa dirinya yang panggil. Menatap wanita itu sebentar, lalu mengangguk. Carel mengeluarkan kredit card-nya setelah di berikan pada wanita tiket, Carel menatap Segi dengan mata menyipit. "Kau harus mengganti uangku." Titahnya mutlak. Segi tahu ujungnya akan seperti ini, Carel akan meminta ganti. Bukannya menampilkan ekspresi sedih, Segi malah tersenyum senang. "Baiklah," ujarnya. Lagipula, Carel tidak pernah menagih untuk yang kedua kalinya. ••• Di tempat lain, tempat yang berbeda waktu dengan London, Inggris, tempat Carel. Milan, Italia. Brak! Pintu terbuka dengan keras. Memunculkan sosok Melvin yang sudah memasang wajah marah. "s****n, kau, Migo!" bentaknya keras pada seorang lelaki yang sedang memejamkan mata dengan tenang di kasur empuknya. Melvin benar-benar asisten yang kurang ajar. Telinga Miguel sangat sensitif dengan suara keras. Matanya terbuka, menampilkan mata yang sedikit merah. Khas seorang bangun tidur. "Apa?" katanya serak, dia mengubah posisinya menjadi duduk. "Satu jam lagi kita berangkat, dan di perjalanan memakan waktu lima jam! Dan lihat, sedang apa kau sekarang?! Kau malah enak-enak tidur, tidak mempersiapkan keperluanmu sama sekali!" teriak Melvin kesal. Miguel menguap pelan, dengan mata terpejam di berbicara. "Bukankah sudah kau siapkan?" tanyanya santai, tak memperdulikan ekspresi Melvin yang saat ini tambah kesal. "Kau kan psychopath yang perfeksionis, semua keperluanku yang menurutmu tidak sempurna, pasti akan kau benarkan dengan sempurna." Lanjutnya lagi. Ya, Melvin itu menurut Miguel, seorang yang melakukan sesuatu harus dengan sempurna. Ketika Melvin melihat sesuatu yang tidak sempurna, lelaki itu akan merasa psikis dan mentalnya tertekan. Sama halnya ketika Miguel melakukan sesuatu yang di mata Melvin terlihat cacat ---dengan tidak tahu dirinya, Melvin mengatai Migue, bosnya sendiri. Meskipun begitu, ada keuntungan dengan sifat Melvin yang satu ini. Lelaki ini tak pernah mengecewakannya dalam pekerjaan. Melvin, gesit dan terampil. Miguel akui itu. "Ya, dan itu semua karena kebiasaanmu yang benar-benar menjijikkan!" cibirnya Melvin, lelaki itu melihat jam tangannya, "Aku tunggu di teras dalam waktu 20 menit. Kalau kau tidak segera datang, aku akan membunuhmu saat itu juga!" ini bukan ancaman. Melvin tak pernah bermain-main dengan ucapannya.  Asisten kurang ajar Miguel ini, selalu membawa pisau kemana-mana, seolah bersiap membunuh Miguel saat itu juga. Brak! Pintu di tutup lagi dengan keras. Miguel menggeleng pelan, "dia benar-benar seperti Ibuku kalau marah-marah seperti itu." •••• Berlin, Germany. Bandar Udara Berlin Schönefeld. Dengan sebelah tangan menyeret koper, Carel berjalan dengan angkuh. Dagunya sedikit terangkat, jalannya terkesan bak model. Ya, Carel kan memang mantan model, tapi dia mengundurkan diri. Segi berjalan di sampingnya. Mereka berjalan ke luar untuk menemukan taksi, yang nantinya akan mengantarkan pada apartement Kakaknya Carel yang berada di daerah dekat sini. Carel mengubah jalannya dengan sedikit santai, kacamata hitam bergaya itu masih bertengger menutupi mata manik biru milik Carel. Tak memperlihatkan mata yang memandang begitu rendah pada semua orang. Saat kaki yang masih melangkah dengan santainya, tiba-tiba sesuatu terasa membuatnya hampir limbung, di susul oleh cipratan air kental yang mengenai coat mahalnya. Samar-samar, dia juga mendengar suara orang berbicara. "Sudah aku katakan, jangan minum ketika sedang berjalan. Kau akan menjadi orang yang tidak punya mata dan kaki." Duk! Carel berhenti berjalan, dia menyeimbangkan lagi tubuhnya. Jangan sampai jatuh, akan ditaruh di mana wajahnya nanti. Kacamata yang bertengger di matanya, Carel menaikannya ke puncak kepala. Bukannya membuka kacamata untuk melihat siapa yang menabraknya, Carel justru malah melihat coatnya yang kotor. "Ck," dia berdecak kesal. Lalu, tanpa memperdulikan orang yang menabraknya, dan tanpa melihatnya sama sekali, Carel langsung melanjutkan lagi jalannya, raut wajahnya kini menunjukan sedikit kekesalan. ••• Miguel berjalan di depan, sedangkan Melvin di belakangnya. Asisten yang baik, setidaknya untuk saat ini. Kaki Miguel melangkah ke depan, tangannya mengucek-ngucek minuman boba yang baru di belinya. Sedangkan matanya, bukannya melihat ke depan, justru memandang boba di tangannya. Sejauh ini, apakah yakin Miguel itu seorang CEO dari perusahan terkemuka, dan Ketua Mafia yang paling terkenal di Italia? Tentu saja orang yang melihatnya dalam keadaan seperti ini tidak akan percaya. Miguel menyebunyikan aura mengancamnya dengan dalam-dalam. lelaki itu juga berusaha memasang ekspresi senatural mungkin. Meskipun di sini Mafia bukan hal tabu, tapi tetap saja mereka menjadi incaran pihak kepolisian dan agent-agent negara. Melvin berjalan di belakangnya sedikit jauh, dia tidak mau orang-orang di sana menatapnya aneh ketika melihat dirinya berjalan dengan Bosnya yang t***l itu. Kurang ajar detected. Karena Miguel tak memperhatikan jalan di hadapannya, akibatnya Miguel sekarang menabrak seseorang. Duk! Minuman boba yang plastiknya sudah dibuka, terpantul ke atas, dan mengenai orang yang di tabraknya. Dalam hati Miguel menyesal, boba mahalnya terciprat pada orang murahan yang menabrakan diri padanya. "Sudah aku katakan, jangan minum ketika sedang berjalan. Kau akan menjadi orang yang tidak punya mata dan kaki." Suara Melvin terdengar. Jadi di sini Melvin menyalahkannya? Salahkan saja gadis di hadapannya yang sengaja menabrakan diri padanya. Miguel menatap gadis yang menabraknya. Entah siapa yang memulai duluan, entah Miguel yang benar-benar menabraknya, atau gadis itu yang menabrakan diri padanya. Itu benar-benar trik murahan. Banyak perempuan yang berpura-pura menabrakan dirinya kepada Miguel dengan sengaja. Mata Miguel menatap gadis itu dari atas sampai bawah, gadis itu menaikan kacamata nya dari mata ke puncak kepala. Dari penampilan, bagus. Bentuk tubuh, sempurna. Wajah, apalagi. Raut wajah, raut itu menurut Miguel palsu, sok jual mahal terlebih dahulu. Miguel menunggu drama yang menurutnya sebentar lagi akan di mulai. "Ck," dengan mata yang masih menatap gadis itu, telinga Miguel mendengar gadis itu berdecak. Drama detected. Akan tetapi, kenyataan tak sesuai ekspetasi. Setelah decakan gadis itu, gadis itu justru langsung pergi. Miguel melotot sedikit, gadis itu pergi tanpa melihatnya sama sekali! Tanpa melihatnya! Ini pertama kalinya bagi Miguel. Berani sekali gadis itu tidak melihatnya! Tadinya Miguel pikir, itu sudah biasa. Trik murahan yang sering dipakai oleh wanita kepadanya. Tapi tanpa diduga, gadis itu justru langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata dan tanpa melihatnya sama sekali. Laki-laki itu tersenyum miring sambil menatap penuh minat punggung ramping yang semakin jauh meninggalkannya. "Cari tahu siapa gadis itu! Aku menginginkannya." Ucapnya tegas pada seseorang di belakangnya, Melvin. "Cari tahu saja sendiri." Balas Melvin acuh, dia berjalan mendahului Miguel. Asisten yang benar-benar kurang ajar. Di sini bos nya siapa? Miguel menggeram, dia menatap punggung Melvin tajam. "Dasar asisten tidak tahu diri!" Desisnya, meskipun dia tahu, kalau Melvin berbicara seperti itupun, Melvin akan tetap melakukan tugasnya. Melvin berkata seperti itu hanya untuk membuat Miguel bertambah kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD