Ep. 03 : Just Kissing

1234 Words
Ting nong! Bel apartement itu sudah ditekan beberapa kali tak kunjung juga membuahkan hasil. Carel menghela nafas, tangannya pegal memencet terus menerus bel itu. Dia bergeming di samping pintu dengan tubuh yang disandarkan pada tembok, tak kuat berdiri terlalu lama. Beruntung dirinya tidak memakai highheels, mungkin sepatu itu akan membuat beberapa lecet di kaki mulusnya. "Kita tanya receptionist saja? Siapa tahu kakakmu ini sedang bekerja, jadi tidak ada di kamarnya." Segi mengusulkan pendapatnya. Tak tega melihat Carel yang wajahnya sudah kembali murung. Carel mengangguk lemas, lalu berjalan kembali ke lantai bawah untuk ke meja receptionist. ••• Carel dan Segi sampai di depan meja yang paling depan dengan pintu utama apartment ini. Pegawai receptionist itu tersenyum ke arahnya dan Segi, menjaga keprofesionalitas nya. "Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanyanya ramah. Carel bersikap kembali sombong dan angkuh, tidak menunjukan sisi lemahnya yang tadi. "Nomer unit 203, apakah sedang keluar?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi menjawab sapaan reteptionist itu. Ingat, tamu adalah Raja. Dan Carel sedang berada di posisi itu sekarang.  Receptionist dengan nametag : Nita, itu tersenyum tipis. "Sebentar, saya cek terlebih dahulu." Dia mengalihkan pandangannya pada layar komputer, melirik-liriknya matanya dari kanan ke kiri, memindai. "Maaf, nona. Unit 203 atas nama siapa?" Receptionist bernama Nita itu bertanya. "Clavetta Rizasky." Carel menjawab malas. Kenapa receptionist itu bertanya padanya? Seharusnya dia harus tahu tanpa bertanya pada Carel. "Nona Clavetta? Beliau sudah keluar dari unit apartnya sejak satu tahun lalu. Sekarang unit 203 masih kosong, belum ada yang menempati." Nita menjawab dengan ramah. Carel molotot. "Apa?! Keluar?" Nita mengangguk, mengiyakan. "Kenapa Clavetta keluar?" "Nona Clavetta mengatakan dia sudah memiliki rumah, jadi dia memilih untuk meninggalkan unit apartnya." "Rumah? Rumah di mana? Kenapa Claveta tidak bercerita kepadaku?" Gumam Carel dengan pelan. "Kau tahu alamat rumahnya?" Receptionist Nita menggeleng, "Tidak, nona. Itu sudah menjadi ruang privasi seseorang. Nona Clavetta juga tidak memberi tahu dengan jelas alasan keluarnya." "Bulan dan tanggal berapa dia keluar?" Carel bertanya lagi, dan Nita si receptionist menyebutkannya. Pas! Pada bulan itu juga Carel sudah tidak bisa menghubungi Clavetta. Clavetta juga tidak ada menghubunginya. Sekarang, di manakah Kakaknya itu? "Baiklah," Carel berujar pasrah. "Ada lagi yang bisa saya bantu, nona?" Nita kembali bertanya, Carel menggeleng pelan. Tanpa mengatakan apapun, dia berjalan ke arah pintu utama, keluar menjauhi apartement ini. Segi berdecak melihat Carel, dia menoleh menagap Nita. "Sebelumnya terima kasih, maaf karena tidak sopan." Katanya sopan. Nita membalasnya dengan senyum ramah. Segi langsung berjalan mengejar Carel dengan masing-masing tangan memegang koper. Koper milik Carel ditarik olehnya karena tadi Carel meninggalkan kopernya begitu saja, tanda menyuruh Segi membawakannya. Inisiatif sendiri, Segi membawakan koper milik orang yang seperti bosnya itu. "Kita mau ke mana sekarang?" Segi bertanya pada Carel setelah langkahnya sejajar. "Cari apartement paling mewah paling bagus di daerah sini. Kau duluan saja ke sana, aku akan bersenang-senang dulu." Setelah mengucapkan itu, tangan Carel melambai, menghentikan taksi. Carel langsung masuk, Segi yang melihatnya hanya mendengus. "Seharusnya aku yang memperbudaknya. Di sini aku manager dan editornya. Sejak kapan manager dan editor jadi tukang booking apart?" katanya sebal. ••• Dari apartement kakaknya tadi, Carel pergi ke taman hiburan. Dia merenung beberapa jam di sana sampai sore, memikirkan di mana kakaknya sekarang. Saat matahari mulai terbenam, Carel meninggalkan tempat itu, menaiki taksi lagi, dan berhenti tepat di depan club malam paling ramai di Berlin. Meskipun sekarang jam 7 sore, club ini sudah cukup ramai. Puncak ramainya ketika memasuki pukul sembilan atau sepuluh malam. Carel yang masih pakaian yang sama, melepaskan coat nya dan di letakan di siku, menampilkan pakaiannya dengan model short dress berwarna cream.  Memperlihatkan tangan putih mulus Carel, dan leher jenjangnya yang begitu menggoda, di tambah bahunya yang mulus itu terbuka. Carel memperlihatkan tanda pengenalnya pada penjaga, lalu penjaga itu mengijinkannya masuk. Saat sudah di dalam, suara musik yang tidak terlalu kencang memasuki indra pendengarannya. Mata Carel menjelajah ke sekitar, masih ada beberapa tempat kosong. Ia lebih memilih duduk di dekat bartender saja, di dekat barista minuman. "Minum apa?" tanya bartender itu saat Carel baru saja mendudukkan dirinya di kursi tinggi itu. "Apa saja, asal tidak membunuhku." Kata Carel asal, dia biasanya meminum wine. "Wine, saja." Sambil menuangkan minuman untuk Carel, bartender itu bertanya. "Kau pendatang baru? Aku baru pertama kali melihatmu." Carel mengangguk saja mengiyakan. "Namaku Juan, kau bisa memanggilku Juan." Kata bartender yang bernama Juan itu memperkenalkan diri. Juan ini, terlihat ramah. Mungkin dia memang ramah kepada semua pengunjung. Carel menatap malas bartender bernama Juan itu. "Aku tidak ingin tahu namamu dan tidak mau tahu!" Katanya kesal, gadis itu menyerahkan beberapa lembar uang, dia mengambil minumannya, lalu bangkit mencari tempat duduk lain. Pandangan matanya jatuh pada sebuah sofa kosong, tapi di setiap sisi sofa itu ada beberapa lelaki yang Carel tebak umurnya tidak jauh beda dengannya. Tanpa memikirkan apapun lagi, Carel berjalan ke sana dan mendudukan bokongnya di sana. "Ck! Kenapa sofa ini keras sekali." Carel kembali bangkit, dia mengusap pelan bokongnya dengan wajah kesal. Di rasakannya kalau lelaki di setiap sisi itu sedang menatap dirinya, dengan berbagai macam tatapan. "Duduk saja di pangkuanku," tawar seorang lelaki yang sedari tadi memperhatikannya. Carel menatap pria itu dengan kesal. "Tidak. Pahamu keras, bokongku akan semakin sakit jika duduk di sana." Katanya ketus. Lalu dengan tangan yang memegang wine nya, Carel kembali berjalan. Sedangkan laki-laki yang lain, menertawakan kemalangan temannya. Matanya menemukan spot paling cocok untuk dirinya duduk. Di pojokan sana! Ya, di pojokan, itu terlihat sepi, dan---hangat. Lantas Carel berjalan ke sana, lalu mendaratkan bokongnya. "Ah, tenang." Katanya, dia meminum pelan wine nya, sedangkan pikirannya menerawang. "Hai," suara seorang laki-laki membuat Carel menoleh ke samping, mendapati pria yang menatapnya dengan senyum menawan. "Hmm," Carel membalasnya acuh. Dia meminum lagi wine nya. Lelaki itu terkekeh pelan, melihat Carel yang bersikap acuh. "Namaku Enric, kau siapa?" Enric bertanya masih dengan senyumnya. Menghentikan minumnya, Carel menatap lelaki bernama Enric itu dengan sebelah alis terangkat. "Untuk apa kau ingin tahu namaku?" Dengan senyum yang belum mereda, Enric menjawab, "hanya ingin tahu, supaya bisa kenal lebih jauh." Carel menganggu acuh, tak perduli. Enric memandangi Carel dengan intens, benar-benar lekat. Carel juga tak risih, itu sudah sangat biasa untuknya. Carel yang mengalihkan pandangannya, tiba-tiba dia langsung menatap ke manik mata Enric. Enric juga masih menatapnya, seolah tak terkejut. Justru ini lebih bagus, mata mereka berdua bertemu. "Boleh aku menciummu?" Enric langsung bertanya intinya. Enric sebenarnya tak pernah bertanya seperti ini, biasanya wanita duluan yang akan menciumnya. Tapi melihat wanita ini, sepertinya dia memiliki tipe laki-lakinya sendiri, atau memang jual mahal? Enric tak peduli, dia hanya ingin mencium wanita itu. Carel menyipitkan matanya. "Tunjukan gigimu," titahnya. Enric sebenarnya heran, tapi tak elak dia menyengir, menunjukan gigi putih rapih miliknya. Carel mengangguk, "boleh." Jawab Carel kemudian. "Kenapa aku harus menunjukan gigi dulu?" "Aku benci berciuman dengan orang-orang menjijikan." Mata Carel mendelik sebal di akhir kalimatnya. Ah, jadi ini alasannya. Carel merupakan tipe wanita pemilih. Enric mengangguk, dia mendekatkan wajahnya pada Carel. Carel hanya diam, menunggu Enric yang memulai terlebih dahulu. Menutup mata, bibir mereka bertemu. Mulut Enric terbuka, dia melumat pelan bibir ranum Carel. Carel membuka mulutnya, memberikan akses kepada lidah Enric.  "Kita butuh kamar." Katanya serak. "Untuk apa?" "b******a denganmu," Enric kembali mencium bibir Carel, dia menekan tengkuk perempuan itu berkali-kali supaya ciumannya lebih dalam. Carel melepaskan pelan ciumannya. "Aku tidak bisa b******a dengan kalian. Keperawananku masih terlalu berharga untuk lelaki menjijikan seperti, kau, contohnya. Berciuman saja cukup." Kata Carel pelan. Nada angkuh dan sombong terdengar nada angkuh dan sombong di dalam suaranya. Melupakan kata menjijikan yang terlontar dari mulut Carel, Enric malah bertanya yang lain. "Kau masih perawan?" tanyanya dengan mata berbinar. "Ya, dan aku tidak mau menyerahkannya pada lelaki b******k satu spesies sepertimu. Just kiss, no sex." Carel kerkata pelan. Dia mendekatnya lagi bibirnya pada Enric dan melumatnya sebentar. "Antarkan aku pulang," dengan tak tahu malunya, Carel mengatakan itu pada Enric.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD