Ep. 04 : Pencarian Pertama

926 Words
"Kau sudah mendapatkan data diri tentangnya?" Miguel memandang Melvin sebentar, lalu kembali menatap berkas kertas untuk peresmian perusahaan besok pagi. "Ya, karena aku babu yang baik." Ujarnya terdengar ogah-ogahan. Melvin melempar map plastik yang dibawanya tadi ke meja kebesaran Miguel. Babu yang baik dari mana? Miguel membuka map itu, dan membaca kalimat demi kalimat yang ada di sana. Poto dan data diri keluarga, teman, mulai dari yang terdekat sampai musuh, dan apapun yang berhubungan dengan Carel ada di map itu. Ada juga beberapa berita dengan headline tentang Carel,  masalah publik antara Carel dengan sesama penulis lainnya. Agensi Zanna yang sempat menaungi Carel menjadi model, dan beberapa pro-kontra lainnya. "Namanya Claretta Rizasky, sering di panggil Carel. Ah, nama yang cantik." Miguel tersenyum kecil ketika membaca nama itu, dan sebuah poto Carel di sisinya. Mata Miguel kembali memandang kalimat demi kalimat itu, "sifatnya sudah pada dasarnya sombong, ya." Gumam Miguel pelan. "Berarti dia tidak menggodaku ketika di bandara," celetuknya mengambil kesimpulan. "Ya, kau saja yang terlalu ge-er sampai mengira dia menabrakmu. Cih, di mana harga dirimu?" Melvin berkata dengan sarkas, tak tahan dengan sikap Bos tololnya itu. Miguel menatap asistennya malas, "seperti kau punya harga diri saja." Balasnya tak kalah sarkas. Mata Miguel kembali menatap kalimat-kalimat di depannya. Saat matanya menatap sebuah poto, dan nama di samping poto itu, mata Miguel sedikit melotot. Dia mendongkak, menatap Melvin tajam. "Kau tidak salah? Dia adik Clavetta?!" Miguel berkata dengan tegas dan tajam, aura intimidasi seolah menguar ke luar. Tak merasa terintimidasi, Melvin mengangguk dengan santai. "Ya, kau bisa membacanya di sana." Jawabnya terkesan terlalu santai. Mata Miguel menatap lagi kertas itu, matanya melirik kiri kanan berulang kali. Seolah memastikan penglihatannya tidak kabur atau dia tidak salah baca. "Bagaimana mungkin?" Tanyanya pelan. "Ya karena mereka lahir dari rahim yang sama." Jawab Melvin dengan senyum miring tersungging di bibirnya. Dia sangat menyukai ketika melihat Bos nya lemah seperti ini, itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. "Kenapa aku tidak tahu kalau Clavetta punya adik?" "Karena kau tidak mencari tahu data diri tentangnya," Melvin membalas. Raut muka Miguel yang tadinya lusuh, seketika berubah menjadi kesal. "Kenapa aku harus mencari data diri tentang anak musuh? Tidak penting." "Dulu, tidak. Sekarang, kan, penting." Melvin berujar dengan mempropokasi Miguel. "Claretta datang ke sini untuk menemui Kakaknya, Clavetta sudah tidak bisa dihubungi setahun ini. Jadi Claretta si adik itu menyusul." Miguel berdecak, "Jelas saja dia tidak bisa dihubungi selama setahun. Setahun lalu kan---," "Mulutmu terlalu licin, Bos. Aku bisa saja menjahitnya sekarang." Melvin berkata dengan tajam. Ah, satu lagi, Melvin selalu tidak suka ketika ada suatu rahasia yang di ungkapkan dengan gamblang. Miguel menghela nafas pelan, dia kembali membaca, langsung pada halaman terakhir.  Matanya lagi-lagi melotot ketika menemukan poto. Di mana Carel sedang berciuman dengan seorang lelaki yang Miguel tidak tahu siapa karena wajahnya remang-remang. "Kenapa dia bisa berciuman?! Dan, siapa lelaki s****n ini?" Miguel bertanya dengan menunjuk-nunjuk keras poto itu. "Kemarin ketika tim-ku menguntitnya, selepas keluar dari apartement Clavetta, si adik pergi ke taman, lalu ke club. Mungkin dia prustasi karena tak menemukan Kakaknya, jadi butuh hiburan. s*x misalnya." Melvin kembali lagi memprofokasi. Dia tersenyum senang ketika melihat mata Bos nya melotot, tangannya terkepal pula. "Kalau lelaki itu, dia Enric." Lanjut Melvin, dia menahan bibirnya supaya tidak tersenyum terlalu lebar. Brak! Miguel menggebrak keras meja kaca kebesarannya. "Si breksek itu! Kenapa dia mencium gadis milikku!" Katanya tajam disertai geraman. "Jangan lupakan kalau Enric tidak tahu dia milikmu. Kalau kau ingin tahu jawabannya, tanya saja pada Enric," ujar Melvin santai. Miguel menatap ke arahnya tajam. "Ikuti semua kegiatan Carel secara diam-diam. Apapun yang dia lakukan, kau harus melaporkannya kepadaku!" titahnya tegas, dibalas anggukan pelan oleh Melvin. "Kau sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana mungkin kau bisa semarah ini hanya karena dia dicium oleh orang lain," Melvin mengatakan itu sebelum dirinya keluar. Selepas Melvin keluar, perkataannya itu mengiang di kepalanya. Ya, benar. Kenapa dia harus marah karena gadis itu dicium oleh orang lain? Rasanya terdengar gila mungkin, tapi dia merasa tidak rela ketika gadis yang membuatnya tertarik dicium oleh orang selain dirinya. "Aku harus segera mendapatkan Carel. Harus!" aatanya mutlak, dia kembali membaca data diri tentang Carel. ••• "Maaf, nona. Di perusahaan ini tidak ada pegawai atau staff yang bernama Clavetta Rizasky." Ini sudah ke lima kalinya! Telinga rasanya ingin pecah mendengar kalimat itu. Dan ini, ini perusahaan kelima yang Carel datangi. Sampai saat ini, pencariannya untuk menemukan Clavetta belum juga membuahkan hasil. Dulu, Clavetta pernah berkata kalau dirinya bekerja sebagai sekertaris di sebuah perusahaan. Carel bertanya apa nama perusahaannya, tapi Clavetta tidak memberi tahunya. Alhasil, seperti inilah akhirnya. Ada banyak perusahaan cabang di Berlin, dan Carel sudah mendatangi dari yang paling dekat dengan apartement Kakaknya.  Ini perusahaan yang kelima, dan mereka mengatakan tidak ada nama Kakakya yang terdaftar sebagai karyawan. Takut-takut kalau Clavetta mengenakan nama palsu, Carel bahkan sampai menunjukan poto Clavetta sendiri, tapi tidak ada yang mengenalinya. Sebenarnya Kakaknya itu bekerja sebagai apa? Kalau iya, memang sekretaris, kenapa di lima perusahaan yang Carel datangi tidak ada nama Kakaknya. Carel menghela nafas pelan. "Tenang, Carel. Rileks. Masih banyak perusahaan yang menanti untuk kau datangi, kau tidak boleh stress untuk sekarang." Ujarnya menyemangati diri. Dengan uangnya, Carel juga memerintahkan beberapa orang untuk mencari Kakaknya di seluruh perusahaan yang ada di Berlin. Baik dari yang terdekat, maupun yang terjauh. "Kau membohongiku, Kak." Carel berujar pelan. Dia menghentikan taksi, dan masuk ke dalamnya. "Pak, ke perusahaan terdekat dari sini, ya." Titahnya pada sang supir. Carel menyandarkan punggungnya pada kursi. Tubuhnya terasa remuk, kulitnya terasa terbakar. Carel tidak pernah melakukan hal seberat ini sebelumnya. Kerjaannya hanya berfikir, dengan tangan yang bergerak dengan lincah di atas keyboard. Sedangkan ini, kakinya lecet berjalan sana-sini, dan kulitnya terpapar matahari. Carel lelah. Tapi tak apa, dia ingin segera bertemu dengan Kakaknya. Usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD