Ep. 05 : Rencana Miguel

1033 Words
"Maaf, nona. Di perusahaan ini tidak ada pegawai atau stuff yang bernama Clavetta Rizasky." Bagus. Ini ke enam kalinya. Carel menghela nafas lelah, "baiklah. Terima kasih." Katanya singkat, dia berbalik, berjalan keluar dan langsung masuk dalam taksi yang tadi, Carel menyuruh sang supir untuk menunggunya sebentar. "Mau di antarkan ke mana?" Tanya sang supir, Carel menyebutkan alamat apartement yang akan dia tempati selama kurang lebih satu bulan ini. Gadis itu menyenderkan punggungnya pada kursi, membuang nafasnya pelan. Mata nya sedikit terpejam. Sepertinya dia butuh hiburan malam ini. ••• "Aku sudah mencari di bagian yang sedikit jauh, tidak ada nama Kakakmu yang terdaftar di sana. Bahkan anak-anak suruhanmu melaporkan hal yang sama. Sejauh ini mereka belum menemukan perusahaan mana yang menjadi tempat Kakakmu bekerja." Segi langsung melapor pada Carel saat gadis itu baru saja menutup pintu. Carel berjalan dengan lunglai menuju sofa di samping Segi. "Kau pun sama? Tempat yang sudah kudatangi pun, tidak ada nama Clavetta di dalamnya." Ujarnya pelan setelah bokongnya mendarat pada sofa empuk itu, dia memejamkan matanya sejenak. Menetralisir rasa lelahnya yang benar-benar bukan kaleng-kaleng. Segi merasa kasihan dengan keadaan Carel seperti ini. Lebih baik dia berbicara pada Carel yang sombong, angkuh, dan perhitungan daripada berbicara dengan Carel yang sekarang. "Masih ingin mencari?" Carel mengangguk pelan. "Ya, kalau bisa sampai ketemu. Kalau dalam waktu sebulan Clavetta tidak juga di temukan, aku akan menetap di Berlin lebih lama." Carel berkata tanpa pikir panjang. Segi sang manager yang merangkap juga sebagai editor, melotot tak terima. "Kau tidak bisa melakukannya semudah itu. Kita sudah ada kontrak tertulis dengan mereka, tidak bisa dibatalkan begitu saja. Kalau produksi, tidak masalah. Tapi ini bagian penerbitnya. Kau akan disebut tidak professional nantinya." jelas Segi dengan tegas. Carel berdecak malas, "Kenapa kau bisa sampai semarah ini? Namaku sudah terkenal, ayolah! Lagipula, penulis film adaptasi novel sepertiku pasti sudah diketahui banyak orang. Namaku sudah mencuat ke berbagai negara. Mudah untuk menjalin kontrak dengan penerbit ataupun Produksi baru." Kembali lagi dengan Carel yang sombong. Bisakah Segi menarik lagi kata-katanya kalau dia ingin berbicara kepada Carel yang sombong? Sombong pun tidak seperti ini, bukan ini yang Segi mau. "Hmm, terserah kau saja. Aku lelah sekarang. Bibirku sudah lelah bertanya ke sana ke mari sampai berbusa." Segi berucap dengan pelan. Carel melupakan sejenak perkataan sebelumnya. Dia mengangguki setuju ucapan Segi, "kulit putihku juga menjadi kusam. Debu menempel di mana-mana." Carel menatap ke arah jam, pukul 5 sore. Lantas dia segera bangkit dari duduknya, "Aku akan mandi, membersihkan diri dengan scrub mahalku. Lalu tidur sebentar. Malamnya aku akan ke club untuk bersenang-senang!" pekiknya dengan senyum cerahnya, wajah lesunya sudah menghilang entah kemana. Sebelum melangkah menuju kamarnya, Carel menoleh menatap wajah jelek Segi yang sedang memejamkan mata. "Kau akan ikut bersamaku ke club, atau tidak?" "Tidak. Aku benci keramaian." Katanya dengan nada sedikit kesal. Carel terkekeh senang, walaupun dia tahu Segi akan menolak ajakannya, Carel tetap mengajak Segi, siapa tahu dia berubah pikiran. "Baiklah-baiklah, aku akan membersihkan diri dulu sebelum pergi. Bye, Segiku." Carel berucap manja di akhir dengan melakukan kiss-bye. Langsung saja gadis itu lari ke kamarnya dengan semangat. ••• Malamnya tiba. Carel yang tadi baru bangun tidur langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi, memandikan lagi tubuhnya supaya lebih fresh. Setelah selesai, Carel langsung memakai dress merah maroon pas body tanpa lengan dengan bawahan yang hanya setengah paha. Di baluti lagi oleh coat bermerek Zara berwarna senada dengan dressnya. Rambut coklatnya ia gerai, Carel berjalan keluar kamar dengan tangan yang menenteng flatshoes miliknya. Matanya menatap sekeliling, mencari teman satu atapnya, Segi. "Seg, kau di mana?" teriaknya cukup keras, Carel melempar flatshoes nya ke depan dengan asal, kakinya melangkah ke dapur untuk mengambil makanan apapun yang bisa dia makan. "Tidur," balas seseorang yang suaranya terpendam. Carel mengangguk-ngangguk, tangannya mencomot roti tawar yang ada di meja makan. "Aku pergi dulu kalau begitu, kau mau aku bawakan apa?" Carel berteriak lagi. "Cukup kau pulang dengan badan utuh." Katanya lagi dengan suara terpendam ruangan. Carel terkekeh pelan, "Itu jelas. Aku akan pulang dengan badan utuh, bahkan akan dengan lebih fresh!" Serunya dengan semangat, kakinya berjalan lagi ke tempat flatshoes yang dilemparnya tadi, dia langsung memakainya langsung. "Aku pergi dulu, jaga kamar. Jangan sampai ada pencuri." Titahnya sebelum pintu unit apart di tutup. Carel berjalan keluar apart dengan anggun nan angluh, di sepanjang lorong menuju lobby, tak heran jika ada setiap pasang yang melihatnya dengan berbagai tatapan. Carel mengabaikan, berjalan dagunya terangkat angkuh, tak memperdulikan apapun yang di sekitarnya. Saat sudah tiba di depan, dia langsung saja masuk pada mobil taksi online yang sudah di pesannya terlebih dahulu. Alasannya supaya dia tidak menunggu, malu kalau harus menunggu. Setelah beberapa saat, taksi yang di tumpangi Carel, terhenti tepat di depan sebuah club yang sudah sangai ramai. Terbukti dari banyaknya mobil sport mahal yang terparkir berceceran di sana. Ini sama dengan club kemarin, club ini saat malam lebih ramai dan lebih--- menyenangkan. Setelah membayar, Carel keluar dari taksi, dan langsung masuk ke dalam club itu. Bunyi dentuman keras yang benar-benar memekakkan telinga masuk ke gendang telinganya, lampu remang berwarna-warni menghiasi seisi ruangan club itu. ••• "Bos, si Adik sekarang pergi ke club." Melvin yang sejak tadi duduk dengan tenang tiba-tiba bersuara setelah mendapatkan sebuah telepon dari anak buahnya. "Adik siapa?" Miguel yang menjadi orang utama menoleh, menatap Melvin ---asisten kurang ajarnya itu. "Adik Clavetta." Dahi Miguel mengeryit, membuntuk lipatan-lipatan kecil. "Adik Clavetta? Carel?" tanyanya memastikan. Melvin mengangguk. "Carel pergi ke club?!" Berbeda dengan tadi yang bertanya santai, kali ini Miguel bertanya dengan mata yang sedikit melotot. Apalagi ini topiknya tentang Carel. Lagi, Melvin mengangguk. Miguel menggebrak pelan meja di depannya ketika Melvin mengangguk. "Bagus, aku akan membuat rencana untuk ini." Katanya dengan senyum kecil yang licik. Ternyata bukan gebrakan meja marah, tapi gebrakan meja kesenangan. Hei, apa tindakan marah dan senang harus menyalurkannya dengan menggebrak meja? Miguel kembali menatap Melvin. "Pastikan Carel tidak melakukan apapun yang macam-macam di sana, selagi aku belum datang. Aku harus membersihkan badan dulu sebelum bertemu dengannya." Katanya dengan seringaian lebar yang tak di sembunyikan. Melvin tak merespon. Masih dengan senyumnya, Miguel menatap asistennya dengan senyum. "Kau dengar tidak?" nadanya masih terdengar ramah. Sedikit topik tentang Carel, membuat hatinya sedikit senang. Mungkin ini juga yang menyebabkan Miguel tidak mengeluarkan aura intimidasinya sekarang. Melvin mengangguk. "Bagus! Jaga Carel dulu, aku akan menyusul!" setelah mengatakan itu, Miguel langsung berlari ke arah kamar mandi, mempersiapkan dirinya. "Sekarang dia menjadi gila." Melvin bergumam kecil ketika sosok Miguel tidak tertangkap lagi oleh matanya. "Aku harus segera mencari pekerjaan baru sebelum tertular gila."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD