Dengan pakaian kasual yang begitu menggoda, Miguel melangkahkan kakinya memasuki club. Bunyi dentuman keras langsung masuk pada indra pendenganrannya, lampu warna-warni yang memutar itu satu-satunya pencahayaan yang ada. Manik mata Miguel menatap ke sekeliling, mencari sosok yang menjadi tujuan utama dirinya datang ke tempat ini.
Terlintas di pikirannya tentang data gadis itu. Di data tentang Carel, gadis itu berciuman kemarin dengan Enric di bagian paling pojok, bagian paling pojok club ini. Tempatnya juga agak familiar di mata Miguel saat melihat latar poto Carel.
Dengan hanya menebak-nebak, Miguel mengangguk mantap. Kakinya yang sedang mematung berdiri di tempat, sekarang mulai melangkah lagi, berjalan menuju tempat paling pojok club ini. Tempat seperti itu sebenernya tempat paling rawan, mengingat sepi. Tapi di club ramai seperti ini, tidak ada kata sepi untuk sekarang.
Belum sampai kakinya pergi ke pojokan, manik mata Miguel yang sedari tadi mengedarkan pandangannya jatuh pada satu sosok gadis, gadis yang dicarinya. Carel.
Rupanya Carel sedang duduk di depan barista minuman. Wajah gadis itu terlihat kesal, bibir ranum itu terus berbicara, mendumel. Sedangkan tangannya, di tangan gadis itu terdapat segelas wine.
Miguel tersenyum senang. Dari jarak kurang lebih 2 meter, matanya menatap Carel lekat-lekat, meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Senyum picik terukir di bibirnya kala melihat lekukan tubuh gadis itu. Dilihat dari samping dan jarak sejauh ini saja sudah membuatnya terpana. Apalagi kalau dirinya mendekat, menyentuh tubuh itu, sudah dapat di pastikan miliknya akan menegang.
Bukan bukan, tidak lagi. Tidak perlu mendekat. Sekarang aja, milik Miguel sudah menegang, padahal dirinya dan Carel berjarak kurang lebih 2 meter. "s**l, gadis itu benar-benar magnet." Geramnya tertahan.
Miguel membuang nafas pelan, "Lakukan sesuai rencana pertama, Miguel." Gumamnya pelan, lalu kepalanya menunduk, menatap kejantanannya. "Tenang Junior, kau akan merasakan gadis yang sudah membuatmu terjaga. Aku janji, kau harus kuat, ya, nanti." Katanya pelan pada Miguel Junior.
Miguel kembali tersenyum senang, membuat beberapa wanita-wanita seksi yang sejak tadi menatapnya menggoda sekarang menjadi menatap lapar. Miguel tak memperdulikan itu, sekarang dia hanya menginginkan Carel seorang.
•••
"Kunjungan kedua, nona?" Bartender kemarin yang memperkenalkan dirinya sebagai Juan, menyapa Carel yang baru saja mendaratkan bokongnya pada kursi meja bar.
Carel berdecak malas menatap barista yang namanya sudah dia hafal sekarang, Juan. Bukannya membalas pertanyaan Juan, Carel malah berbicara lain, "Wine satu gelas," pesannya.
Juan terkekeh kecil karena pertanyaannya di abaikan, ini cukup menarik. Juan di sana tergolong bartender paling tampan, tak jarang dia digoda oleh wanita-wanita penghibur di club itu. Tapi Juan sendiri mengabaikan, mengotak-ngatik minuman lebih menyenangkan daripada melayani w************n.
"Kenapa kau selalu mengabaikanku, nona?" Juan bertanya lagi saat tangannya menyiapkan minuman wine pesanan Carel.
Lagi-lagi Carel berdecak malas, dia menatap Juan skeptis. "Aku malas, omonganmu tidak ada yang berbobot." Katanya sarkas.
Sambil menyerahkan wine Carel, Juan terkekeh kecil lagi. "Jadi omonganku tidak berbobot, ya..." katanya pelan.
Carel berdecak lagi, "kau baru sadar sekarang? Otakmu kemarin kemana? Mendadak hilang?" Carel ini, perkataannya kenapa tajam sekali.
Bukannya tersinggung akibat ucapan Carel yang menyakiti, Juan malah terkekeh lagi. "Anggap saja begitu. Baiklah, sekarang namamu siapa?"
"Aku tidak punya nama, dan berhenti mengajakku bicara! Mulutku lelah kalau terus berbicara." Seperti kemarin, Carel meraih gelasnya lalu bangkit dari duduknya.
Bruk! Tepat saat Carel berbalik, dia tak tahu kalau di belakangnya ada orang. Alhasil, dirinya menabrak orang itu, menyebabkan wine di tangannya sedikit menyiprat pada pakaian casual orang yang di tabraknya.
Orang yang di tabraknya itu, Miguel. Miguel dengan sengaja berdiri di sana, supaya Carel bisa menabraknya. Sekarang, siapa yang melakukan trik murahan?
De ja vu, seperti kejadian di Bandara, tapi ini dengan keadaan yang terbalik dan terencana. Carel berdecak, mengasihani wine nya yang tumpah sia-sia, tanpa melihat dan menatap orang yang menabraknya, kakinya bersiap-siap melangkah.
Belum sempat Carel melangkah, tangannya dicekal oleh orang yang di tabraknya. Sebelum menatap wajah orang yang di tabraknya, Carel menatap lebih dulu tangannya yang dicekal. Meringis, itu yang ia lakukan sekarang. Tangannya yang suci tak ada noda, disentuh oleh lelaki menjijikan haus belaian seperti orang di hadapannya ini.
"Tangannya benar-benar menjijikan." Carel mengatakan itu dengan tenang, dia mendongkak menatap seorang lelaki yang sedikit lebih tinggi daripada nya, lelaki yang di tabraknya. Tinggi Carel hanya sebatas leher orang itu.
Manik matanya bertemu dengan manik coklat lelaki itu. Mata Carel memandang ciptaan Tuhan di hadapannya yang tak punya celah sama sekali. Rahang kokoh, alis tebal, tulang hidung mancung, bibir tipis berisi itu, benar-benar kissable! Apalagi badan lelaki di hadapannya, OMG--- benar-benar menggoda! Apalagi otot kekarnya, sudah! Carel sudah tidak bisa membayangkannya lagi. Carel dari dulu sudah memegang ucapannya, orang-orang tampan itu titisan setan.
Kembali ke niat awal, Carel menatap lelaki itu skeptis. "Bisa lepaskan tangan menjijikanmu dari tanganku?" Nada bertanya nya terdengar benar-benar sombong.
Miguel, orang yang diberi pertanyaan itu terkekeh kecil. Tadi dia yakin 100% kalau Carel mengagumi katampanan nya. Miguel juga heran, kenapa dia begitu tampan? Apakah saat pembagian jatah oleh Tuhan, dia menerima jatah paling banyak?
"Sayangnya tidak bisa," suara Miguel serak dan menggoda. Nadanya lembut, tapi nada menggoda lebih dominan.
Harusnya Carel tergoda mendengar suara itu, tapi untuk sekarang, tidak. Dia malah memutar bola matanya malas, "Kau benar-benar menjijikan." Desisnya, dia menyentak tangannya sampai terlepas dari genggaman Miguel.
Setelah tangannya terlepas, tanpa kata, Carel langsung berjalan, ia harus segera menemukan toilet untuk membasuh tangannya. Miguel bergeming di tempat, dia menyeringai, tanpa kata dia juga menyusul Carel di belakang.
Benar-benar spot tepat. Sekarang Carel berjalan seorang diri di lorong sepi menuju toilet, di belakangnya ada Miguel yang mengikuti secara terang-terangan.
"Carel," Miguel memanggil nama gadis yang tiba-tiba berhenti ketika namanya terpanggil. Carel berbalik, menatap Miguel tenang. "Kau tahu namaku? Ah, aku benar-benar merasa terkenal sekarang." Carel berucap dengan pongah.
Miguel menyunggingkan senyum miringnya, "Ya, kau mendadak terkenal di pikiranku." ujarnya. "Namaku Miguel," Miguel menyebutkan namanya supaya Carel tahu, dan supaya Carel ingat.
"Aku tidak ingin tahu namamu, tidak penting juga." Carel berucap sombong, dia berbalik lagi, bersiap untuk pergi.
Sekali lagi, belum sempat Carel melangkah, tangannya kembali di cekal. Miguel menggeram kecil, juniornya benar-benar sudah menegang. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi. Miguel menarik lengan Carel, lalu menyudutkan gadis itu ke dinding di sampingnya.
Carel sedikit kaget, tentu saja. Dalam jarak sedekat ini, baik Carel maupun Miguel, mereka bisa melihat dengan jelas masing-masing wajah tanpa celah di hadapannya. Di antara keterkejutan nya, saat manik mata miliknya bertemu dengan mata Miguel, Carel terhipnotis sesaat, apalagi jaraknya sedekat ini.
Miguel memajukan wajahnya, matanya terfokus pada bibir ranum tipis gadis dalam kukungannya. Baru saja bibir Miguel akan bertemu, Carel menahannya. "Bisa tunjukan dulu gigimu?"
Tanpa kata, Miguel menyengir. Menunjukan giginya, Carel mengangguk. Seolah mengerti, cowok itu langsung mendekatkan bibirnya. Bibir mereka bertemu. Awalnya pelan, tapi saat Carel menyambut ciumannya, Miguel berubah menjadi liar.
Miguel memasukan lidahnya ke dalam mulut Carel, lidah keduanya membelit begitu liar. Tangan Miguel berada di tengkuknya, menekannya dalam-dalam. Sedangkan tangan Carel, dia meremas pelan punggung belakang Miguel.
Carel mendesah saat ciuman Miguel turun ke rahangnya, Miguel melepas ciumannya, memberi waktu untuk bernafas. Dia menatap penuh gairah pada Carel yang sedang merem melek di penuhi nafsu. Tangan Miguel meraba saku celananya, dia memasukan benda ke mulutnya. Tak lama, dia kembali mencium Carel, menyalurkan benda itu padanya lewat ciuman.
Ciuman mereka semakin dalam, Carel mendekatkan tubuhnya pada Miguel. Dia menatap Miguel dengan tatapan memelas, "panas." Carel berkata pelan, tangannya bergerak dengan begitu s*****l di d**a bidang lelaki itu.
Miguel tersenyum miring dia mencium lagi dengan rakus, seolah ingin melahap habis bibir itu. "Kita butuh kamar, sayang."