Tetangga aneh
Dengan rambut diikat ke atas asal. Atasan kaos oblong yang kebesaran dan celana hawai pendek yang lusuh, Cinta dengan cekatan mulai memasukkan berbagai bahan ke dalam kualinya mulai dari bawang putih, telur, kecap asin dan terasi udang, harum semerbak mulai memenuhi ruangan apartementnya lalu ia memasukkan nasi beras merah dan memcampurkannya jadi satu.
Terakhir ia menambahkan kecap manis lalu mengambil secuil lalu mencicipinya. Ia mengangguk-angguk puas lalu mematikan kompor gas dan menyendokkan nasi goreng ke atas piring.
Ia menambahkan acar dan emping di atas nasi gorengnya sambil mengendus aromanya yang menggoda.
“Hai, terima kasih!“ ucap Patrick tiba-tiba muncul dan mengecup pipi Cinta sambil mengambil piring dari tangan Cinta.
“Hei!“ seru Cinta sambil melotot kesal tapi begitu melihat tatapan Patrick yang memelas akhirnya ia hanya bisa menghela napas panjang dan kembali ke dapur dan mengambil piring bersih dan mengisinya lagi.
“Kau merusak moodku tahu, dasar! Tapi kalau kupikir-pikir aku heran betapa cepatnya radar hidungmu mengendus bau masakanku,“ omel Cinta mendesis kesal sambil cemberut lalu mulai melahap sendokan besar nasi gorengnya.
“Kau sendiri yang mengundangku, nyonya cantik,“ sahut Patrick membela dirinya tanpa merasa tersinggung dengan ucapan Cinta.
“Mimpi!“ seru Cinta tidak terima tudingan Patrick.
Patrick menunjuk jendela apartementnya yang terbuka lebar.
Cinta melotot sejenak lalu menyesali dirinya sendiri.
Sudah biasa bagi Patrick untuk mengundang dirinya sendiri masuk ke dalam apartement Cinta yang berseberangan dengan apartementnya.
Bukan melalui pintu sebagai mana lazimnya tetapi ia masuk melalui jendela apartement Cinta, bayangkan coba!
Sebagai Eksekutif muda , ganteng, kaya dan sukses tentu hal itu menjadi pemandangan aneh bagi Cinta.
Kalau saja ia masih gadis pastilah ia akan menyangka Patrick sedang berusaha menarik perhatiannya dan yang melegakannya adalah statusnya sebagai seorang janda. Ia bisa bersikap apa adanya dan sejutek-juteknya kepada Patrick tanpa rasa sungkan.
Masih teringat dalam ingatan Cinta betapa kagetnya ia begitu melihat Patrick berusaha masuk ke dalam jendelanya saat ia sedang masak.
Hampir saja ia berteriak maling kalau saja Patrick tidak kalah cepat memperkenalkan dirinya sebagai tetangga barunya, meskipun apartementnya dan apartement Patrick berseberangan.
Ia memohon agar bisa menikmati masakan Cinta. Aneh, tapi nyata dan kebiasaan itu selalu terulang dan terulang tanpa bisa dicegah.
“Apa kau tidak merasa takut jatuh terus menerus masuk melalui jendelaku?“ tanya Cinta dengan penasaran.
“Atau menuruni 6 lantai lalu naik lagi ke 6 lantai untuk sampai ke pintu apartementmu? Kurasa resiko ini layak untuk kutanggung,“ sahut Patrick sambil memberi isyarat ke arah nasi goreng Cinta yang tampak enggan ia habiskan.
Cinta menghela napas berat lalu menyondorkan piringnya ke arah Patrick.
Sambil tersenyum manis, Patrick mengambil piring dari tangan Cinta lalu menghabiskannya dengan lahap tanpa merasa sungkan.
Karena hal itulah sudah menjadi kebiasaan Cinta sekarang, ia selalu masak untuk 2 porsi masakan.
Ia tidak mau memasak dua kali untuk meladeni kebiasaan Patrick! Bukan karena merasa apa-apa tapi karena ia tidak mau repot.
“Apa kau tidak ada kencan malam ini?" tanya Cinta dengan heran. "Untuk ukuran bujangan sepertimu, jarang berkencan sangatlah aneh,“ lanjut Cinta lagi dan mulai memotong apel dan mengupas kulitnya untuk Patrick dan menyisihkan potongan apel lengkap dengan kulitnya untuk dirinya sendiri.
“Maksudmu?“ tanya Patrick sambil memasukkan sepotong apel sambil merebahkan diri di sofa Cinta.
“Orientasimu seksmu normal ‘kan?“ tanya Cinta dengan terus terang.
“Sembarangan! Tentu saja orientasi seksku sangat normal tapi aku tidak sembarangan mengajak seorang wanita berkencan. Aku ingin mengajak wanita yang bisa membuatku nyaman sepanjang kebersamaan kami tapi sayangnya sangat sukar bagiku menemukan wanita seperti yang kuinginkan.“
Cinta mengangguk-angguk sambil mengunyah apelnya.
“Bagaimana dengan dirimu sendiri!?“ desak Patrick. “Aku tidak pernah melihat seorang pria masuk ke dalam apartementmu!“ balas Patrick.
Cinta merasa wajahnya berubah merah padam mendengar pertanyaan Patrick. “Harusnya aku memasang tirai di setiap jendelaku!“
Patrick tertawa melihat pelototan mata Cinta yang lucu.
“Aku sedang tidak mood untuk terlibat serius dengan seorang pria.“
“Maksudmu?“ tanya Patrick lagi dengan penasaran.
“Kau tahu yang kumaksud! Aku tidak mau terlibat dengan hal yang sama lagi. Kau tahu aku sudah pernah menikah dan hal itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.“
“Lantas selamanya kau akan hidup sendirian seperti ini?!“ tanya Patrick semakin penasaran.
“Untuk saat ini bisa di bilang 100% sangat yakin.“
“Benar tidak tergoda untuk …hmm …,“ ucap Patrick sambil mendehem menggoda memberi isyarat bercinta.
“Kehidupan seksku bersama suamiku tidak seindah percintaan dibuku-bukuku. Jadi aku tidak pernah tergoda untuk mengulangi hal itu,“ jawab Cinta sambil tertawa penuh kemenangan dan menangis dalam hati menyesali segala yang terjadi di masa lalunya.
“Tidak semua lelaki seperti mantan suamimu, Cinta.“
“Akan kupertimbangkan. Mungkin sabtu ini, aku akan mencobanya.“
“Apa maksudmu sabtu ini?“ tanya Patrick dengan panik.
“Anna mengatur kencan buta antara aku dan bosnya.“
“Kau suka dengan pria yang sudah berumur!?“
“Tentu saja aku belum segila itu!“ sahut Cinta sambil melemparkan bantal sofanya ke arah Patrick dengan sebal. “Umurnya baru 35 tahun, hanya beda 3 tahun dariku. Harus kuakui dia pria yang menarik secara fisik.“
“Katanya kencan buta? Kok bisa tahu fisiknya?“ ucap Patrick mendengus tidak senang.
“Kencan buta yang sesuai dengan prosedur persyaratan,“ ucap Cinta sambil tertawa senang. “Anna memperlihatkan fotonya kepadaku untukmembujukku. Kau kira, aku mau meskipun ia selalu gigih menjodoh-jodohkan aku. Aku tidak seputus asa itu, tahu!“
“Aku tidak tahu foto mana yang Anna perlihatkan kepada kencan buta-mu itu sehingga dia mau berkencan denganmu,“ goda Patrick sambil tertawa ngakak.
Cinta membuat mimik sebal dengan komentar Patrick. “Enak saja! Tidak selamanya aku berpenampilan seperti ini tahu.“
“Selama lebih kurang 6 bulan aku mengenalmu, aku belum pernah sekalipun melihat penampilan pemikatmu itu.“
“Itu karena memang aku tidak mau! Untuk apa? Aku sedang tidak mencari seorang pria untukku.“
“Yah,yah,yah,“ ejek Patrick bertambah senang melihat Cinta membela dirinya. Ia tahu Cinta sangat cantik. Dengan pakaian kumal dan serba kebesaran seperti inipun ia terlihat sangat cantik.
Hati Patrick selalu tahu itu dan ia menyesal karena sudah memanas-manasi Cinta.
“Aku bersedia untuk mengawalmu kalau kau menginginkannya,“ ucap Patrick.
“Apa maksudmu?“ tanya Cinta dengan bingung.
“Kalau dia berbuat hal yang tidak kau suka, aku langsung bisa membawamu pergi dari sana.“
Cinta tertawa mendengar penawaran Patrick. “Aku hargai tawaranmu tapi tidak usah. Kalau dia pria yang membosankan, aku bisa pergi sendiri, terima kasih. Kau kira aku remaja abg yang baru saja mulai berkencan?“
“Aku …“
“Sudah, urus saja kencanmu sendiri. Aku bisa mengurus kencanku sendiri. Bisa dibilang aku lebih berpengalaman dari padamu mengenai hal itu!“ kata Cinta dengan bangga.
“Yah, pengalaman yang gagal!“ celetuk Patrick sambil tertawa.
“Sialan kau!“ seru Cinta tapi kemudian ia ikut tertawa bersama Patrick. “Sudah sana pulang, aku mau menulis lagi nih!“
“Apa bedanya sih aku tidur di sini dan di kamarku?“
“Sekalian saja kau pindah ke sini bersamaku, bagaimana!“ timpal Cinta dengan keki.
“Mungkin itu ide yang menarik!“
“Dalam mimpimu!“ sahut Cinta sambil melemparkan bantal tepat mengenai muka Patrick.
“Kejam!“ rajuk Patrick berpura-pura menangis di hadapan Cinta.
Cinta tidak menanggapi sandiwara Patrick. “Memang! Sudah sana pergi. Jangan lupa tutup lagi jendelanya,“ ucap Cinta sambil beranjak menuju meja kerjanya tanpa memperdulikan gerutuan Patrick terhadapnya.