Angin yang bertiup begitu kencang berhembus kesana dan kemari menghempaskan helai rambut arra. Pandangan gara serasa tak bisa terhindar dari arra sekarang dan kemudian seketika semua seakan terhenti hingga meninggalkan gara saja yang bisa merasakan perubahan tersebut, rasanya seperti ada tekanan yang berat sedang mengarah ke tempat dimana ia berada sekarang.
Namun gara hanya melayangkan senyuman licik, dan dengan begitu cepat tangan gara bergerak untuk menangkap sesuatu yang ternyata sudah mengitari dirinya dan juga arra, tatapan maut gara masih begitu terlihat jelas dan sama oleh sosok yang saat ini sudah berhasil di cengkeram oleh gara.
“kecepatan mu masih kurang bagus, lingga.” Dengan masih menunjukkan smriknya gara menatap tajam sosok yang di panggilnya lingga itu, dan lingga sendiri pun juga melemparkan senyuman kepada gara yang sangat sulit untuk diartikan.
“sanggara, sudah lama tidak berjumpa kawan.”
“kawan.” Dengus gara kesal dengan nada yang meninggi, namun gara seakan tak ingin memperkeruh suasana saat ini yang dimana kedatangan lingga kali ini memanglah untuk sesuatu hal yang mudah di tebak oleh pikiran gara, kedua tatapan netra mereka masih terus menatap satu sama lainnya dan dalam pandangan itu terlihat sekali banyak rasa dendam yang membara antara keduanya.
Gara dapat merasakan jika saat ini lingga sudah begitu mapan mengepalkan telapak tangan nya, namun gara sendiri sudah begitu siap jika lingga akan menghantamkan pukulan pada gara, dan benar adanya jika lingga dengan segera melayangkan genggaman tangannya kearah gara namun dengan sigap gara menahannya.
Kekehan gara terlontarkan begitu lancarnya hingga membuat lingga menjadi geram atas perlakuan gara yang sama sekali tidak berubah, rasanya seperti sangat membuat hati lingga tertekan bebatuan banyak ketika mendengar tawa riang dari gara hingga pada akhirnya lingga memutuskan untuk mengayunkan tangan gara yang masih menggenggam tangan nya dengan kasar.
“tak seharusnya kau kembali dan mendapatkannya semudah ini, sanggara.” Lingga begitu sangat merasa geram atas kembalinya gara ke bumi dan dengan kekuatan yang sepertinya tidak berubah sama sekali, lingga merasa tak terima atas perbedaan yang di alaminya sebab ia harus berusaha dengan susah payah untuk bertahan di bumi manusia dan juga untuk memiliki kekuatan nya lagi, bagi hidup lingga hanya gara lah yang menjadi penyebab dirinya terbuang dari khayangan dan kehilangan segala kekuatannya.
Gara masih terlihat melayangkan senyuman nya saja menanggapi celotehan lingga, gara juga tak ingin mengulang segala kisah masa lalunya yang sudah terjadi di antara mereka dulu, karena gara $pun ketika itu hanya melakukan tugas yang di embannya dari dewa langit dan juga dewa khayangan.
Kemudian terlihat lingga yang mengeluarkan butiran api dari tangan nya, ketika itu gara mengira jika lingga akan menghantamkan butiran api tersebut kepada gara tapi apa yang di pikiran gara bukanlah seauatu yang ada di pikiran lingga hingga dengan begitu cepatnya lingga melemparkan butiran api itu kearah arra yang masih terdiam kaku seperti patung.
“dia bukan lawanmu, lingga.”
“tapi dia kelemahan mu, sanggara. Dan seharusnya kalian tak mendapatkan hadiah seindah ini dari dewa kehidupan. Lalu bagaimana dengan ku yang harus kehilangan orang terkasih ku karena kau sanggara.”
“itu karena kesalahanmu sendiri lingga dan bukan karena aku.”
“sudahlah sanggara, kau selalu saja mencari pembelaan. Kini saatnya aku membalaskan dendam cintaku yang dengan begitu kejam kau melenyapkannya.”
Gara segera menepis butiran api tersebut agar tak mengenai arra dan ia pun segera membawa lingga jauh dari tempat yang saat ini masih di bekukan oleh lingga dengan kekuatan yang sudah di pelajari ratusan tahun lamanya.
***
Tempat yang sama seperti saat mereka sedang beradu kekuatan disitulah saat ini gara membawa lingga, gara sangat tak ingin memakai kekerasan lagi untuk menjelaskan semua yang terjadi di antara mereka, kesalahpahaman yang sampai berujung dengan perasaan benci yang kini masih menyelimuti hati lingga.
Rasanya begitu menyakitkan lagi ketika lingga memahami jika tempat yang di kunjunginya sekarang adalah tempat dimana ia kehilangan wanita yang sangat ia cintai, tempat yang sama juga ketika ia mendapatkan penghakiman yang menurutnya begitu kejam karena ia harus kehilangan semua kekuatan nya dan di turunkan dengan kejam di tanah bumi manusia.
Gara ingin kembali menjelaskan kepada lingga untuk segala kejadian yang selalu lingga anggap sebagai penghancur kehidupan cintanya, lingga seakan tak pernah menyadari dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya, namun niat gara seakan tidak di terima oleh lingga dan lingga pun menganggap jika gara hanya ingin mengulang kejadian kelam tersebut untuk membuat diri lingga menjadi rapuh kembali. Hingga akhirnya lingga pun menantang gara untuk mengadu kekuatan mereka, gara sangat menolak ajakan lingga karena tujuan gara bukanlah itu tapi apa yang di utarakan gara seakan tak membuat lingga percaya dan ia malah semakin gencar untuk menyerang gara.
Dan sampai kapan pun gara bukanlah tandingan untuk lingga yang sekarang sudah mendapatkan begitu banyak luka pada seluruh tubuhnya, kemudian gara pun mencoba untuk menjelaskan kembali tentang kejadian yang menimpanya dulu yang memang saat itu gara lah yang mendapat tugas untuk membinasakan wanita yang di cintai oleh lingga dan semua itu bukan nya keinginan gara, tugas yang juga begitu berat untuk gara karena setelah tugas itu pun gara harus kehilangan ibunda tercinta dari kehidupannya.
Hingga tanpa lingga ketahui bersamaan dengan angin yang bertiup sejuk datanglah pawira di antara dirinya dan juga gara, lagi-lagi dalam pikiran lingga hanya ada hal buruk tentang kedatangan pawira saat ini, dengan rasa percaya dirinya lingga mengutarakan semua keluh kesah yang sudah mengganjal di hatinya hingga sontak malah membuat paeira terkekeh geli atas segala ucapan lingga.
Pawira melangkah kearah lingga dan kemudian memegang kedua bahu lingga dengan kedua telapak tangan nya lalu mengarahkan pandangan tajam nya kepada lingga yang seakan tau ada suatu kebenaran pada kelopak berwarna hijau muda itu, dilihat nya dengan saksama dan kini lingga seperti menemukan jalan terang pada kelopak mata pawira, perlahan lingga berjalan memasuki pikiran pawira yang berhasil membawanya pada waktu yang dimana menunjukkan siapa sebenarnya wanita yang begitu sangat ia cintai.
Dengan jelas pawira memberikan kebenaran yang selama ratusan tahun sudah tersimpan secara diam-diam dari lingga, karena dewa langit ingin lingga mendapatkan sesuatu yang memang harus bisa ia peroleh dari kerja kerasnya sendiri atas kesalahan yang sama sekali lingga sendiri tak memahami jika apa yang di perbuatnya adalah suatu kesalahan yang fatal.
“apa kau sudah paham lingga, atas apa yang aku tunjukkan. Sungguh tak ingin mengungkap kepahitan ini namun kini kau harus tau kebenaran yang sebenar-benarnya.” Tegas pawira yang masih terlihat serius dalam tatapannya, lingga saat ini hanya bisa merenungkan atas apa yang baru saja ia dapati, kenyataan yang tak pernah ia harapkan.
***