Kisah Sanggara - 65

1057 Words
“omlette.” Arra tersenyum sambil menampilkan deretan giginya. “ayo sarapan.” Ajak gara yang kemudian arra pun segera melangkahkan kakinya mengikuti gara yang sudah berjalan kearah meja makan tersebut. Rasanya memang begitu sangat aneh bagi arra apalagi semenjak ia memberikan peti yang berisikan jimat yang di cari oleh gara. Jujur saja dalam hati arra ia serasa tak bisa jika harus kehilangan gara lagi dan lebih tepatnya ia malah yang akan pergi selamanya dari kehidupan gara. Sebab arra harus mengembalikan mustika keabadian milik gara agar proses penyempurnaan jati diri gara dapat segera terbentuk dan gara pun bisa dengan segera membebaskan sang ayah. Namun pada lamunan arra kali ini ia tak pernah berpikir jika ada seseorang yang sedang mengamatinya dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri dengan apa yang di pikirkan oleh arra. Khawatir pastinya yang di rasakan gara saat ini tapi entah mengapa arra malah tak memperdulikan beberapa kata dan cerita singkat yang di lontarkan gara kepada arra. “raa, apakah kamu baik-baik saja?” tanya gara dengan menggenggam telapak tangan arra hingga membuat sang empunya sedikit terkejut atas sikap gara dan arra pun hanya menggeleng lalu tersenyum menanggapi pertanyaan gara. Namun semua itu seakan membuat gara begitu yakin jika ada sesuatu hal yang di sembunyikan arra dari dirinya tapi gara tak ingin jika ia harus menerka-nerka dan membuat kesimpulan sendiri dari sikap arra kepadanya. Dan mungkin lebih baik memang jika gara menunggu arra untuk bercerita sendiri kepadanya. Kemudian mereka melanjutkan acara sarapan mereka dengan sunyi tanpa adanya pembicaraan seperti biasanya. Tak selang lama terasa ada angin yang berhembus pada sekitaran ruang makan namun hanya arra saja yang mampu merasakan nya. Pikiran arra semakin tak karuan dirasa karena merasakan hal yang sangat di takutkan oleh dirinya sebab angin yang ia rasakan saat ini sama persis dengan angin yang menunjukkan jika pawira akan segera datang. Dan akankah benar terjadi apa yang sudah di katakan pawira itu yang dimana ia akan membantu gara untuk mengembalikan kembali jati dirinya lagi melalui mustika yang ada di dalam diri arra. “apa kau percaya padaku raa?” seketika pertanyaan gara langsung membuat arra mengerutkan keningnya, arra merasa jika gara pun juga bisa mengerti apa yang sedang ada di dalam pikiran nya saat ini hingga ia memberikan pertanyaan yang sedikit mengejutkan bagi arra. “ayo ikut denganku!” ajak gara yang sudah berdiri mempersiapkan dirinya untuk segera pergi keluar rumah dan arra pun juga segera mengikuti langkah gara yang sudah terlebih dahulu berada di depannya. Gara sudah membukakan pintu mobil untuk arra dan arra pun yang mengerti maksud gara segera memasuki mobil kemudian setelah itu gara pun beralih pada kemudi mobilnya lalu menjalankan mobil kesuatu tempat yang sudah gara pikirkan sedari tadi. Arra sama sekali tak mengatakan sepatah katapun saat ini, ia hanya diam mengikuti alur yang di buat oleh gara. Ia masih tak bisa menghilangkan rasa yang dimana terdapat rasa takut yang begitu mendalam tentang pawira. Sebab arra merasakan jika pawaira seperti akan menagih janji yang pernah mereka buat dulu. Sejenak arra memejamkan netranya dan dengan perlahan arra menghirup lalu mengeluarkan udara dari hidungnya. Dengan sembunyi-bunyi arra sesekali melirik kearah gara yang masih terfokus dengan kemudinya, tatapan mata gara yang tajam seperti harimau sedang mengintai mangsanya semakin membuat arra lebih bungkam dalam diamnya. Dan tanpa menyadarinya saat ini mereka sudah berada di tempat yang di tuju oleh gara. Tak menunggu waktu lama lagi gara dan arra pun segera turun dari mobil, arra merasa tak asing dengan tempat yang mereka datangi ini dan kemudian arra pun merasakan kembali angin yang sama seperti yang ia rasakan sewaktu di rumah tadi. Angin yang dimana menunjukkan kehadiran dari pawira. “tenang raa, dia sekedar hadir saja dan tidak menuntut apapun kepadamu.” Titah gara sontak membuat arra mengalihkan pandangan nya langsung kearah gara berada. Tak pernah terbesit dalam pikiran arra jika ketakutkan nya mampu terukir dalam lantunan ucapan gara, netranya tak bisa berbohong jika rasa takut itu memang sedang menghantuinya. Namun apakah gara sendiri juga tau jika arra memiliki suatu perjanjian dengan pawira untuk kehidupan gara selanjutnya. Entahlah, perasaan arra sudah begitu tercampur aduk dengan apa yang ada di pikiran nya saat ini. Arra hanya berharap jika ia akan memiliki waktu yang lebih lama lagi untuk menikmati sisa hidupnya bersama laki-laki yang sudah lama di rindukan nya. “tapi gaa,” resah arra dengan ketidakberdayaan nya. Ia paham jika hidup gara lah yang terpenting dari dirinya. Namun terkadang terbesit perasaan yang begitu egois dari arra yang dimana ia menginginkan hidup bersama dengan gara selamanya seperti impian terdalam di hati arra. Tapi semua itu memang lah mustahil untuk di uraikan sebab hanya satu orang saja yang bisa memiliki mustika keabadian tersebut. “aku tau raa, semua ini sungguh berat untuk di pikul. Namun aku dapat jamin jika ke khawatiran dalam hatimu tidak akan pernah terjadi.” Jelas gara lagi yang berhasil membuat arra membulatkan matanya, ia benar-benar terkejut atas pernyataan gara kali ini yang menjerumus tentang rasa resah serta gundah. Apakah dengan perkataan gara kali ini dapat di artikan jika gara pun juga menginginkan hal yang sama dengan arra yang dimana arra sama sekali tak mau kehilangan gara lagi. Namun netra gara memang memberikan pancaran yang mampu di lihat juga dengan arra membuat perasaan arra menjadi tak karuan. Bahagia menyelimuti hati arra dan kini ia mampu meluapkan senyuman nya pada bibir tipis miliknya. Namun seketika lagi-lagi ia di hampiri rasa yang menyiksa lagi ketika angin di taman saat itu menghembus dengan begitu kencang nya dan bahkan sampai membuat dedaunan yang ada di jalanan berhamburan mengikuti alur angin tersebut. Dan kali ini arra pun bisa memastikan jika gara juga tak tau apa yang akan di hadapi oleh mereka saat ini, dengan cepat arra dapat merasakan jika gara telah menarik tangan nya lalu memposisikan dirinya tepat di samping gara. Lirikan netra gara tak hentinya maaih selalu mengikuti kemana arah angin itu berhembus, tapi kali ini arra tidak merasakan perasaan takut seperti jika ia merasakan kedatangan dari pawira. “siapa gaa?” tanya arra lirih namun masih terdengar oleh gara yang begitu sangat serius. “hanya hal sepele.” Dan kemudian betapa terkejutnya arra lagi ketika ia mulai mendengar suara mengerang dari dalam diri gara yang saat ini sedang memejamkan netranya. Entah mengapa kali ini arra begitu yakin jika gara sudah menemukan sepenuhnya jati diri untuk kehidupannya. Jati diri yang selama ini masih terus saja di cari oleh gara sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD