bc

Cerita Dewasa

book_age18+
28.5K
FOLLOW
204.1K
READ
billionaire
possessive
sex
one-night stand
forced
arrogant
dominant
powerful
CEO
sweet
like
intro-logo
Blurb

Kumpulan cerita dewasa. Setiap judul beda kisah.

Kisah yang akan membuat berdesir sekaligus panas.

Romantisme pasangan mana paling manis sekaligus membara? Silakan baca satu demi satu kisahnya. Tentu usia sudah mencukupi.

chap-preview
Free preview
MY DADDY
BLURB Yoashia sudah yatim-piatu sejak bayi. Lalu, ia diangkat menjadi salah satu anggota keluarga Hanks yang notabene milyuner. Ketika sudah beranjak dewasa, Yoashia harus membayar semua biaya dikeluarkan keluarga Hanks sejak dirinya kecil. Tentu bukan dengan materi. Yoashia diminta menghasilkan keturunan baru dari keluarga Hanks bersama Gross Hanks, yang tak lain adalah ayah asuh tampannya. Yoashia jelas menyetujui kesepakatan, terlebih ia menyukai ayah angkatnya dan ingin tahu bagaimana rasa sentuhan dari pria kaya itu. — BAGIAN 01 — "Kau calon utama, tapi kalau kau tidak mau, aku siap mengggunakan Croy." "Jangan kau pikir, aku sangatlah butuh bantuanmu, Gross. Kau harus tahu." "Sialan kau, Gress!" Sejak setengah jam lalu hanya berdiam diri dan membungkam mulutnya atas semua ancaman diutarakan oleh kakak sulungnya, kini amarah bergejolak. Umpatan kasar saja, bahkan rasanya tak akan cukup jadi pelampiasan emosinya. Ia butuh sesuatu untuk dihajarnya. Yang paling mungkin disasar tentu saja adalah Gress Hanks. Apalagi, setelah setengah jam, didapatkan provokasi. Jika beberapa menit lagi terjadi, maka akan dapat menambah rekor baru dari perkelahian di antara mereka. Sejak remaja, dirinya dan Gress sudah sering beda pendapat. Saling bersikap egois demi mempertahankan pilihan masing-masing guna terwujud. Bahkan, sering berbenturan, sehingga tak segan menggunakan kekerasan agar terhindar dari kekalahan ego. "Kau mau membunuhku? Lakukanlah, aku sudah siapkan pistol baru." Bukan balasan seperti ini yang Gross ingin dengar atas umpatannya tadi, tapi entah mengapa tawaran dari Gress bisa amat terdengar menarik baginya. "Kau belum pantas aku bunuh." "Kalau aku mati, bebanmu malah akan bertambah. Satu saja tidak mau kau penuhi, apalagi yang lainnya." Gross semakin panas, sudah pasti. Gress pun masih dalam mode masih kesal, maka akan sulit membuatnya untuk bisa berhenti bicara begitu saja. Kesepakatan belum terlaksana. Gross tak menerima perintahnya. Itulah yang menjadi permasalahan paling pelik. Gress akan terus mengancam. Ia harus merealisasikan rencana utamanya, tak akan menggunakan misi cadangan. "Sial, Gross. Kau harus berpikir seperti mafia, bukan seorang pendeta kolot." "Kau tidak akan terkena hukuman jika kau pikir menghamili Yoashia adalah asusila yang sangat bajingan." "Berapa kali aku harus menidurinya sampai dia bisa mengandung?" Setelah puluhan kali berusaha untuk memprovokasi kesabaran sang adik, akhirnya jawaban yang sejak tadi ingin didengar, bisa dikeluarkan Gross juga. Reaksi pertama Gress tentu saja tawa kencang sarat kepuasaan. Lalu, dengan cepat berganti dengan decakan sinis. "Aku butuh dua kali menabur benihku untuk bisa menjadi calon bayi." "Itu pun tidak jadi lahir ke dunia karena aku mengalami penghianatan." Gross mendengar nada bicara saudara sulungnya meninggi. Tandakan bahwa emosi Gress kembali bergejolak. Ya tentu berhubungan akan masa lalu. Ia tahu benar bagaimana historis yang ada di baliknya. Tapi, enggan diungkit. "Aku akan mencoba." "Kau harus membuatnya berhasil. Aku tidak mau menerima kegagalan." Gress memberi titah dengan amat serius dan sudah pasti tidak akan bisa dirinya tentang, walau masih begitu keberatan. "Nyawamu menjadi taruhan, Gross." "Aku membiark?; an kau hidup dengan fasilitas mewah selama ini karena kau masih bagian dari keluarga Hanks." "Kau harus tahu apa tugasmu." "Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kau harus membayar dengan setimpal." "Aku tahu." Gross menekankan setiap kata dengan emosi membara. Memang, bukan yang pertama kalinya kalimat-kalimat sarkasme saudaranya. Dibilang kebal pun tidak sama sekali. Setiap menghadapi sikap kasar saudara sulungnya, tak akan bisa diberlakukan rasa acuh tidak acuh. Apalagi, jika Gress sudah berkata-kata yang menusuk. "Aku beri kau waktu dua bulan." "Kalau kau gagal, kau siap menerima konsekuensi paling besar. Termasuk, kau harus meninggalkan keluarga." "Aku tidak bisa." "Aku ikut andil membesarkan bisnis keluarga Hanks. Aku tidak akan mau pergi begitu saja dengan tangan kosong, setelah jerih payahku selama ini." "Ckck. Kau sangat perhitungan, Gross." "Baiklah, baik, kau tidak akan pergi dari keluarga Hanks. Kau bahkan bisa jadi pemimpin utama, asalkan kau dapat memberi penerus baru Hanks, Adikku." "Aku akan menghamili, Yoa." Gross pun bicara penuh ketegasan, walau di dalam hati merasakan kebimbangan. Tak mudah dilakukannya, apalagi saat berurusan dengan anak angkatnya. — BAGIAN 02 — "Anda bisa sendiri, Tuan?" Satu anggukan kecil ditunjukkan oleh Gross atas pertolongan yang hendak dilakukan pengawalnya secara sigap. Tentu karena menolak, bantuan batal didapatkan. Namun bukan jadi masalah serius bagi Gross. Ia tetap bisa berjalan. Ya, walau sedikit sempoyongan. Langkah kakinya pun tak cukup cepat. Lebih baik pelan, dibandingkan harus buru-buru dan membuatnya jatuh. Akan sangat memalukan jika sampai hal itu terjadi di depan para pengawalnya. Harga diri rasanya tercoreng. Gross tentu menyesali kebodohannya juga yang minum banyak, melebihi batasan telah diterapkan selama ini. Dikiranya dengan menenggak minuman beralkohol, akan bisa membuat semua amarah pada Gress hilang cepat. Nyatanya tidak sama sekali. Bahkan, masih dengan mudah dapat terbayang-bayang ucapan sang kakak yang sangatlah mengancam dirinya. Dan tentu, Gross tahu bahwa semuanya tak akan menjadi omong kosong semata, namun pasti dibuktikan oleh Gress. Masalah harta yang tidak didapatkan nanti, bukan menjadi alasan utama. Ia malah memikirkan nasib dari Yoashia. Tak akan dibiarkan perempuan itu di tangan pria lain. Apalagi, sampai harus mengandung benih asal-asalan. Ya, walaupun Croy Hanks adalah salah satu sepupunya. Namun, tabiat pria itu amat buruk sejauh yang ia tahu. Jika sampai Gress memercayakan Croy mendonor utama, maka masalah pasti akan tambah runyam saja. "Daddy? Kaukah itu pulang?" Seketika dapat lenyap semua kekusutan pikirannya mendengarkan suara lembut milik Yoashia. Amat bisa dikenali. Tak sampai semenit, perempuan muda itu pun sudah berdiri di hadapannya lengkap dengan cengiran khas. Senyum yang dulu tampak gemas untuk dilihat, tapi kini malah menimbulkan kecemasan dalam hatinya cukup besar. "Wow, Daddy! Selamat datang!" "Aku kira aku hanya berhalusinasi, tapi kau sungguh sekarang pulang, Daddy." "Aku sangat senang melihatmu, Daddy!" Tidak hanya seruan penuh semangat, Yoashia bahkan memeluk erat. Begitu ingin menunjukkan kegembiraannya. Walaupun, tak akan didapat dekapan balik dari sang ayah angkat begitu saja, seperti yang diinginkan olehnya. Bahkan, tubuh Gross Hanks sangatlah terasa menegang dalam pelukannya. Diambil sikap masa bodoh, asalkan bisa melakukan apa pun yang diinginkan. Terlebih selama ini, kerinduan pada sosok sang ayah angkat selalu ditahan. Untuk memeluk rasanya mustahil. Namun hari ini, kesempatan yang bagus datang, maka harus digunakan dengan semaksimal mungki. Begitu prinsipnya. "Daddy, aku sangat rindu." "Jangan sibuk bekerja terus. Aku di sini selalu kesepian saat Daddy pergi." Setelah puas merengkuh yang erat, ia pun merenggangkan sedikit pelukan. Namun, tidak dilepaskan begitu saja. Jika bisa lama-lama, kenapa harus lekas diakhiri? Yoashia tak akan bersikap naif ataupun bodoh. Ia harus realistis. Apalagi, menyangkut memenuhi rasa di dalam hati yang senantiasa terpendam. Usianya sudah dewasa. Kesempatan pun ada, maka harus digunakan semaksimal yang bisa dirinya lakukan. Masalah hasil? Tentu, ingin mendapat cinta sang ayah angkat sepenuhnya. Ia ingin dimiliki pria itu seutuhnya. "Daddy, temani aku. Kau tahu tidak enak hanya sendirian di rumah." "Walau ada para pelayan, aku tetap mau kau menemaniku di rumah, Daddy." "Aku akan menemanimu." Yoashia tak mengira jika akan diberikan jawaban demikian. Sangat puas untuk didengar. Rasa senang bertambah. Kembali dipeluk sang ayah angkat. Ia bahkan merengkuh semakin erat. Bahkan, tercetus ide gila untuk dicium sang ayah angkat. Bagaimana reaksi dari Gross? Apakah akan kaget?" Dibanding menerka-nerka, Yoashia pun memilih mencoba. Rasa penasaran akan bibir Gross membuatnya kian semangat. "Daddy, aku mau menciummu." Sedetik kemudian, sudah didaratkannya mulut tepat di bibir sang ayah angkat. Ia merasakan debaran jantung kencang. Dan tak lama dilakukan karena tidak mau dibuat Gross menjadi marah. "Kapan Daddy akan meniduriku?" "Uncle Gress bilang aku harus tidur dengan Daddy untuk dapat bayi." — BAGIAN 03 — Yoashia bangun dengan rasa semangat tinggi hari ini. Benar-benar berbeda dari yang kemarin ataupun hari-hari sebelumnya senantiasa dirasakan. Ya, faktor utama tentu karena senang sang ayah angkat bersamanya, setelah hampir sebulan tak melihat pria itu. Yoashia pun amat sadar jika perasaan semacam ini, bukan kegembiraan dari seorang anak bertemu orangtuanya. Melainkan, keriangan seorang wanita mudah berjumpa sang pujaan hati. Yoashia sudah merencanakan pula apa saja yang akan dilakukan dengan ayah angkatnya, setelah sarapan sampai nanti malam akhirnya tiba. Tak banyak kegiatan di luar rumah. Ia jenis introvert yang lebih suka tidak melakukan aktivitas berlebihan. Cukup mengobrol sambil minum kopi selama berjam-jam, adalah momen yang paling menyenangkan baginya. "Wah, senang membuat sarapan 'kah di sana?" gumam Yoashia spontan, ketika dilihat Gross berada di areal dapur. Lalu, langkah kaki berjalan pun dicepat supaya bisa mendekati ayah angkatnya. Pria itu seperti tak sadar jika dirinya sedang berupaya menghampiri. Seperkian detik kemudian, ia pun telah sampai di tempat tujuan. Jarak dengan sang ayah angkat, terlebih sangat tipis. "Selamat pagi, Daddy." Segenap keberanian diterapkan untuk bisa memeluk Gross dari belakang. Tak akan disia-siakan momen bagus ini. Sejak kemarin diperintahkan dirinya mengandung keturunan keluarga Hanks yang baru dan sang ayah angkat sebagai pendonor, Yoashia telah bertekad besar. Ya, membulatkan tujuan untuk dapat memenangkan hati Gross yang sedari usia tujuh belas tahun disukainya. Akan digunakan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Tentu harus dibarengi usaha semaksimalnya. Yoashia sangat yakin jika sudah matang dibuat rencana, maka hasil yang akan didapatkan pasti bisa sesuai keinginan. "Daddy sedang buat apa? Aromanya harum, aku jamin akan enak." Yoashia bicara kian riang. Tak lupa diiringi pula oleh kikikan tawanya yang renyah. Reaksi sang ayah angkat? Hanya diam dengan tubuh terasa cukup tegang yang masih dipeluk begitu erat olehnya. Tentu, kegiatan memanggang roti tak dihentikan, walau mungkin berada di dalam situasi yang tak menyenangkan. "Trims sudah memasak untukku. Pasti akan aku habiskan semua, Daddy." Tak hanya kata-kata diucapkan dengan lembut, namun juga dekapan semakin dikuatkan ke tubuh hangat Gross. Yoashia amat sadar sang ayah angkat kurang nyaman akan tindakannya. Ia pun mulai merasa malu atas sikapnya. Kemudian, diputuskan untuk melepas dekapannya, walau lumayan sulit. Kaki juga melangkah menjauh. Upaya menjaga jarak dengan sang ayah angkat agar tak ada keinginan memeluk lagi. Saat Gross membalikkan badan, gerak kedua kaki pun seketika dihentikan. Ia jelas tidak mau sampai ketahuan. "Duduklah, kita akan makan." Perintah sang ayah angkat langsung saja dilakukan, tanpa bertanya kembali. Duduk nyaman di kursi dengan seluruh atensi yang masih lekat ke sosok Gross. Ingin diperhatikan setiap gerakan pria itu karena begitu menyenangkan. Sampai pada menit, Gross yang sampai di meja makan dan menempatkan diri tepat di sebelahnya. Tentu dengan jenis sarapan yang amat disukainya. "Wah, sangat enak pasti, Daddy." Setelah memuji, Yoashia segera melahap semua makanan di piring dengan cepat. Tak ada jeda untuk berhenti karena ia ingin lekas menghabiskannya. Dalam beberapa menit, sudah tandas secara keseluruhan. Tak tersisa satu pun di piring. Ia pun sangat kenyang. "Benar-benar lezat." Ide nakal seketika muncul di kepalanya dan langsungs saja diterapkan, tanpa harus memikirkan lebih lanjut atas konsekuensi bisa dihasilkan nanti. Yoashia bergerak naik ke atas pangkuan sang ayah angkat. Lalu, melingkarkan kedua tangan ke leher pria itu. Mendadak pula ada dorongan mencium bibir Gross, seperti yang sebelumnya ia pernah lakukan. Penasaran lagi akan bagaimana rasa mencumbu pria itu. Namun, saat akan direalisasikan, sang ayah angkat malah mengangkatnya dari pangkuan. Ia harus urungkan niatan. "Aku belum siap, Yoa." — BAGIAN 04 — "Dia sudah datang, Tuan." "Baiklah, saya akan antar ke ruangan khusus. Kami tiba lima menit lagi." Tepat setelah percakapan telepon yang dilakukannya berakhir, ajudan andalan Gress bernama Bromm Wicklin kembali memusatkan atensi ke Yoashia. Lalu, dengan gerakan kepala, disuruh perempuan muda itu mengikutinya. Yoashia tanpa rasa takut, ikut berjalan bersama Bromm menuju lift. Ia tak tahu akan ke mana dibawa dan bukanlah menjadi masalah patut dipikirkan. Yoashia hanyalah terus berusaha untuk memupuk konsentrasi. Dengan begitu, maka fokusnya akan tetap terjaga baik. Khususnya menjaga seluruh pertanyaan yang telah disiapkan. Tentu, hendak ia utarakan nanti pada Gress Hanks. "Nona Yoa ...," Pandangan yang tertuju ke arah pintu lift, seketika dipindahkan pada sosok Bromm karena namanya dipanggil. Ia pun hanya berdeham sebagai balasan. "Kita sudah sampai, Nona. Silakan Anda masuk ke ruangan itu. Tuan sudah ada di dalam sana menunggu Anda." Satu anggukan mantap dilakukannya untuk membalas. Sudah sangat paham akan instruksi yang diberikan. Kini, tinggal menjalankan. Dan sedetik selepas pintu lift membuka, maka kaki mulai digerakkannya keluar dengan cepat, tapi tak terburu-buru. Ruangan yang tadi dimaksud, berada tidak jauh dari lift, sehingga hanyalah seperkian detik untuk bisa sampai. Langsung masuk ke dalam karena tak dikunci dari luar, seperti diperintahkan oleh Bromm. Ia lakukan sesuai arahan. Tatkala sudah melewati ambang pintu, langkah kaki diperlambat seraya mata digunakan melihat ke sekeliling. Salah satu cara untuk tahu situasi, maka dengan begitu akan bisa beradaptasi. Ia tipe yang harus nyaman dengan kondisi agar tidak menampakkan kegugupan. Dan meski sejak tadi berusaha tenang, ia tetap tegang manakala melihat sosok Gress Hanks secara langsung. Walau pria itu tersenyum hangat, tapi tetap tampak menakutkan baginya. "Selamat datang, Keponakanku." "Hallo, Paman Gress." Yoashita pun menyapa ramah. Nadanya riang. Tak ketinggalan memamerkan jenis ekspresi yang dapat membuat rasa gugupnya bisa tersembunyikan dari wajah. Ia cukup yakin akan aktingnya. "Kemarilah, Nak." Anggukan kecil ditunjukkan pertama sebagai balasan. Baru kemudian, kaki dilangkahkan mendekat ke sofa, sesuai akan apa yang diminta Gress Hanks. Dipeluk dulu paman kesayangannya, sebelum duduk di kursi kosong tepat bersebelahan dengan Gress Hanks. "Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sedang bahagia? Karena apa, Nak?" "Aku sehat, Uncle. Hmm, aku bahagia karena aku sudah bertemu Daddy." "Aku tahu kau akan bahagia, Nak." Yoashia memanglah sudah bercerita ke Gress soal rasa sukanya terhadap Gross beberapa kali, secara gamblang. Yoashia pun merasa jika pamannya itu tidak keberatan. Bahkan, terus berikan dukungan kepadanya terang-terangan. Ya, sang paman malah memintanya tak menyerah mendekati Gross, sampai pria itu mau menerima cinta tulusnya. Yoashia amat senang disemangati. Dan ia merasa tak berjuang sendiri, namun ada orang lain di belakangnya juga. "Apa kau sudah tidur dengan Gross?" Pertanyaan tidak terduga akan diterima secara cepat. Walau, tak cukup dalam membuatnya diserang rasa kaget. Reaksi pertama adalah gelengan. Lalu, dilihat perubahan pada ekspresi sang paman, menjadi lebih serius. Yoashia pun sudah bersiap-siap, andai sang paman marah. Ia sangat tahu jika Gress tipe yang cukup temperamental. Walau selama ini, pamannya itu tidak pernah murka berlebihan padanya, tapi ia akan tetap selalu bersikap waspada. "Kenapa belum, Nak?" "Kau harus segera tidur dengan Gross. Bukankah kau ingin dia menyukaimu? Itulah cara satu-satunya yang kau bisa lakukan untuk membuat dia suka." "Apalagi, kalau kau bisa mengandung anaknya, kau pasti akan bisa mendapat cinta Gross, Nak. Percayalah." "Oke, Uncle." Yoashia lekas mengiyakan titah diberikan oleh sang paman. "Aku akan membantumu, Nak. Aku bisa pastikan Gross akan segera tidur dengan kau. Siapkan dirimu saja, Yoashia." — BAGIAN 05 (21+) — Setelah menerima informasi soal ulah saudaranya, Gross langsung saja pulang ke rumah guna bicara dengan Yoashia. Akan ditanyakan semua. Jika tertinggal pemahaman atau doktrin tidak baik dari Gress untuk memengaruhi Yoashia. Bagaimana pun juga, Gross harus bisa melindungi perempuan muda itu. Ia tahu seambisius apa Gress guna bisa meraih tujuan besar yang dirancang. "Ke mana dia?" Gross spontan loloskan tanya, saat dilihat kasur Yoashia kosong. Gross memilih mencari di luar kamar, namun saat pintu tempat mandi yang membuka dari dalam, maka Gross pun memilih tidak pergi ke mana-mana. Malah, Gross semakin mendekat ke arah kamar mandi, yang diyakini Yoashia ada di dalam sana dan akan keluar. Benar saja dugaannya. "Daddy? Astaga, aku kira siapa." "Kau baik-baik saja, Yoa?" "Aku? Aku tidak apa-apa, Daddy." Mulut ditutup rapat. Mencegah dirinya menanyakan lekas apa yang harusnya dikonfirmasi pada Yoashia. Dari jawaban serta ekspresi perempuan muda itu, Gross yakin Yoashia berkata apa adanya. Tidak mengalami trauma setelah bertemu dengan Gress. "Daddy mau ke mana?" "Mau keluar." Gross menjawab cepat. Ia terapkan gaya bicara yang dingin. "Daddy bukannya ke sini mau mengajak membuat bayi? Aku kira tadi begitu." "Gress tetap membebankan tugas sialan itu padamu, Yoa?" Gross langsung saja mengambil kesimpulan dan ditanyakan. Walau pada beberapa detik awal dilihat ekspresi kebingungan Yoashia, namun kemudian perempuan muda itu berikan respons berupa anggukan pelan. "Kenapa, Daddy? Aku menerima tugas dari Uncle Gress dengan senang hati. Aku mau punya baby bersamamu." "Kau masih terlalu muda, Yoa." "Siap punya baby di usia muda." "Satu lagi yang mesti Daddy tahu ...." Yoashia pun sengaja tak melanjutkan ucapan karena ragu menyampaikan. "Apa yang harus aku tahu?" "Aku sudah lama ingin tidur denganmu, Daddy." Yoashia bicara mantap. "Kau merasa kau pantas dan sangatlah siap untuk tidur denganku, Yoa?" "Sangat siap, Daddy. Aku bisa lakukan sekarang, kalau kau mau meniduriku." Gross jelas saja terkesiap menyaksikan Yoashia yang tiba-tiba membuka baju tengah digunakan. Lalu, bra menyusul. Perempuan itu setengah telanjang. Dan ia jelas terkesiap akan pemandangan intim tersaji di depan matanya. "Bagaimana menurutmu, Daddy?" Setelah beberapa menit lamanya tidak ada yang bersuara di antara mereka, Yoashia memutuskan untuk memecah kesunyian lebih dulu dengan bertanya. Disamping memang ingin diketahuinya pendapat dari sang ayah angkat tentang tubuh telanjangnya yang ditunjukkan. Selama dua puluh tahun usianya, tidak ada satu orang pun pria yang melihat dirinya dengan kondisi seperti ini. Maka, rasanya sangat wajar jika amat gugup dan juga meminta penilaian. Gross adalah lelaki dewasa. Pasti akan punya pendapat tersendiri akan tubuh yang dimilikinya. Tentu, Yoashia ingin jika dirinya masuk dalam standar. Ya, jenis wanita yang disukai oleh sang ayah angkat. Dan semoga, ketertarikan dirasakan pria itu secara fisik. Dengan demikian, besar kemungkinan pula ia dapat mewujudkan apa yang jadi keinginannya sejak remaja. Benar, tidur dengan sang ayah angkat. Apalagi kini, peluangnya semakin besar karena permintaan yang diserahkan kepadanya. Ia pun menyanggupi. Hanya tinggal melaksanakan. Dan tentu tak bisa dilakukan seorang diri. Harus ada peran dari sang ayah angkat juga. "Bagaimana, Daddy?" Harus ditanyakan ulang karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Terlebih, ia kian penasaran. "Kau cantik, Yoa." "Hanya itu? Apakah payudaraku tidak besar? Dan apakah aku tidak seksi?" Diberanikan dirinya ajukan pertanyaan yang lebih spesifik. Dengan begitu, ia pun akan memperoleh jawaban pasti. Walau mungkin tak sesuai harapan. Ya, sebatas pertanyaan lisan, rasanya kurang mantap saja. Ia harus beraksi lebih berani untuk memprovokasi. Harus dibuat sang ayah angkat dapat merasakan sendiri buah dadanya. Tentu dengan cara dibawanya kedua tangan Gross ke masing-masing buah dadanya. Ditangkupkan di sana. Rasa hangat dari telapak tangan Gross pun membuatnya merinding bukan main. Diserang kegugupan juga. "Ayo, sentuh aku, Daddy. Aku sudah siap untuk tidur denganmu saat ini." "Aku mau menyerahkan kegadisanku hanya padamu, Daddy. Terimalah." — BAGIAN 06 (21+) — Setelah berakhirnya percakapan yang canggung di antara mereka, Yoashia berusaha terus mendekatkan diri. Tak mau sampai hubungan di antara mereka merenggang dan membuat rencana gagal. Apalagi, masih begitu antusias tidur dengan ayah angkatnya. Yoashia berusaha melakukan sesuatu untuk pria itu, misalkan menawarkan minuman, saat dilihat sang ayah angkat tengah duduk membaca di ruang tamu. Tawarannya diterima, walau sikap yang ditunjukkan tetap dingin. Namun, tidak akan menjadi masalah baginya. Pasti bisa diluluhkan sang ayah angkat. "Bagaimana rasanya, Daddy? Aku tidak cukup pandai meracik kopi." Ya, beberapa menit tanpa pembicaraan serta membiarkan keheningan, Yoashia beriniasif memulai percakapan. Namun, yang didapatkannya bukanlah komentar, melainkan hanya anggukan pelan. Tanggapan apa adanya. Yoashia tak akan menyerah, meskipun dirinya terus disikapi dengan cuek. Ia sudah punya misi lain untuk dilakukan. "Daddy, aku ingin bersamamu. Apa aku boleh duduk di pangkuanmu?" Atensi sang ayah angkat yang sejak tadi tak diarahkan padanya, seketika dapat terpusat karena permintaan diajukan. Mata Gross pun tampak lebih membesar dan jadi tanda jelas bagaimana ayah angkatnya itu diserang kekagetan besar. Yoashia hanya sedikit bergidik, namun tak membuatnya gentar atau berniat membatalkan rencananya. "Saat aku masih kecil, Daddy sering memangkuku. Dan sudah lama berlalu. Aku rindu duduk di pangkuan, Daddy." Setelah menyelesaikan ucapan, Yoashia pun lekas naik ke kedua paha sang ayah angkat. Ditempatkan diri di sana, meski belum ada izin yang didapatkannya. Lalu, kedua tangan dikalungkan pada leher Gross yang masih diam membeku, namun tiada henti memandanginya. "Aku tahu aku bukan wanita yang akan kau sukai, Daddy. Tapi, aku harus bisa menuntaskan tugas yang diberikan." "Kau juga mau melakukannya bukan? Kau harus paksa menyentuhku, walau kau mungkin tidak suka, Daddy." Percayalah, setelah mengutarakan apa yang mesti disampaikan, detakan dari jantung Yoashia semakin mengencang. Cup! Jujur saja, menempelkan bibir mereka berdua adalah salah satu langkah yang amat berani untuk Yoashia ambil. Dan sejak dua detik lalu, lumatan cukup cepat pada permukaan bibir sang ayah angkat pun dilakukan, merupakan jenis tindakan yang butuh nyali besar. Harus dilakukan. Bersikap agresif demi dapat mencapai tujuan, rasanya salah satu cara paling ampuh bisa diterapkan. Hampir beberapa menit memagut, tak kunjung didapatkan reaksi dari sang ayah angkat. Walau mulut membuka. Yang Yoashia harapkan tentu balasan segera. Meski tidak agresif. Pelan saja cukup, asalkan ditunjukkan respons. Dan ketika optimisme sudah berubah menjadi pesimisme yang kuat, maka tekad kuat menggebu pun seketika hilang dari dalam diri Yoashia. Ciuman diakhiri. "Maafkan aku, Daddy. Aku sudah tidak sopan bersikap seperti ini. Kau pas--" Ucapan Yoashia harus terputus akibat menerima bopongan dari sang ayah angkat secara amat tiba-tiba. Belum hilang rasa terkejut yang sudah menyebabkan dirinya kaku. Kini, aksi Gross merebahkannya di kasur pun jadi menambah ketersiapan dirasakan. Tak hanya sampai disitu, kekagetannya pun memuncak saat menerima ciuman di mulut yang terbilang ganas. Tentu pelakunya adalah Gross. Memang, cumbuan seperti inilah telah diharapkan selama ini. Namun, tetap saja jika dialami langsung, masih terasa bagaikan mimpi sangat indah. Walau ada pemikiran demikian, Yoashia berusaha lekas mengenyahkan. Ia mesti fokus menunjukkan balasannya. Lantas, dirasakan sebuah tangan pada bagian paha kanannya. Dengan cepat bergerak di antara kedua kakinya. Benar, menuju organ intimnya. Saat dirasakan usapan lembut di luar dalamannya dilakukan oleh Gross, maka tubuh seketika kaku. Merinding juga dari kepala hingga ke bagian kaki. Dihentikan lumatan pada mulut sang ayah angkat, berakhir pula ciuman di antara mereka berdua yang terjadi. Dikira sang ayah angkat menjauh, tapi malah menelusupkan kedua tangan ke atas, menuju buah dadanya. Diremas cukup kuat secara bersamaan payudaranya, ia sukses kian merinding. Melayang terbang ke angkasa tinggi. Sungguh selama ini, sentuhan seperti inilah yang sangat diinginkan. "Aku akan menidurimu segera." BERSAMBUNG Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa) Pembelian : 1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000 2. Via k********a, link ada di bio.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

SEXRETARY

read
2.3M
bc

HYPER!

read
626.1K
bc

Sak Wijining Dino

read
162.1K
bc

Hubungan Terlarang

read
513.3K
bc

I Love You Dad

read
294.0K
bc

The Naughty Girl

read
101.3K
bc

Love Me or Not | INDONESIA

read
571.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook