[Areal bacaan 21+, beberapa part mengandung adegan dewasa]
Dick Vrom kira jika tak akan berurusan lagi dengan Zenile Williams, setelah kisah asmara rahasia mereka selesai.
Namun, wanita itu malah berontak dan melakukan misi pelarian ke rumahnya. d**k bimbang antara melindungi sang mantan kekasih atau membawa Zenile kembali ke keluarga wanita itu.
Pesona Zenile sangat memengaruhinya. Terlebih, cinta untuk wanita itu masih terlalu besar. Zenile pun tak segan merayu dan merangsang gairahnya.
Sang mantan kekasih sangatlah berbahaya. d**k merasa terancam.
"Kalau kau berani mengembalikanku, rumahmu ini akan jadi tempatku bunuh diri. Aku tidak main-main, Dick."
"Jangan gegabah, Zenile."
"Lebih baik aku mati, daripada harus hidup bersama pria lain. Hanya kau yang aku inginkan selama ini."
"Kalau begitu, ayo kita ulangi dosa kita, Zenile."
— BAGIAN 01 (21+) —
"Kau bilang kau salah melihat?" d**k menekankan setiap kata diluncurkan.
"Berengsek!" lanjutnya mengumpat.
"Teruskan pencarian. Kau dan mereka harus bisa segera menemukan Nona Williams." d**k memerintahkan tegas.
Tanpa didengar jawaban bawahannya lebih dulu, sambungan telepon ditutup. Tak perlu membicarakan apa-apa lagi.
Yang dibutuhkan adalah kerja nyata, bukan janji belaka para pengawalnya akan bisa tahu keberadaan Zenile.
Waktu pencarian semakin menipis. Dan sudah dua hari dilewatkan tanpa hasil yang jelas. Ia merasa sia-sia bekerja.
"Berengsek!" Sekali lagi umpatan keluar dari mulut. Emosinya kembali meluap.
Dick berjalan cepat memasuki areal dapur, setelah melewati ruang tamunya yang gelap karena tak diterangi lampu.
Lalu, diletakkan ponsel di meja. Baru bergegas berjalan ke lemari pendingin, hendak mengambil sekaleng bir.
Ketika hendak ditenggak, telinga pun menangkap senandung lagu oleh suara wanita yang lembut. Dikenali betul.
"Tidak mungkin dia di sini." d**k pun berujar dengan nada setengah kaget. Ia juga menggerakkan kakinya gesit.
Benar, menuju ke areal kamar mandi luar, dimana suara didengar berasal. Letaknya tidak jauh dari dapur.
Sesampai di depan pintu yang tertutup, d**k langsung saja bergegas masuk karena tak dikunci dari dalam.
Saat pandangan sudah tertuju tepat ke bilik shower, mata seketika melebar melihat sosok yang amat tak asing.
Benar, wanita dimaksud adalah Zenile Williams. Adik perempuan sang atasan.
"Hai, Mantan Kekasihku!"
"Akhirnya kau pulang juga, aku sudah menunggumu sejak pagi, Dick."
Tak diberikan balasan apa pun. Namun tetap menatap Zenile yang berjalan ke arahnya dengan tubuh telanjang. Tak ada sedetik pun untuk berkedip.
"Aku senang melihatmu, Sayang."
Dick seketika kaku berdiri mendapat rengkuhan mesra dari Zenile. Dan walau kemejanya basah oleh air di tubuh polos wanita itu, ia tetap diam.
"Kau tidak rindu denganku?"
"Aku sangat rindu denganmu, aku pun memilih ke sini untuk bersembunyi."
Tanpa ditanya lebih dulu, Zenile sudah memberitahunya. Ia pun paham akan maksud wanita itu datang ke rumahnya.
Kini, tugasnya membawa Zenile untuk kembali ke keluarga Williams, seperti perintah diberikan oleh Zendec.
"Aku sangat rindu kau, Dick."
Cup!
Walau tak memperoleh respons apa pun dari sang mantan kekasih, Zenile tetap memilih mencumbu pria itu.
Kecepatan melumat mulut tertutup d**k pun dilakukan kian ganas. Upaya untuk membangkitkan segera hasrat seksual pria itu terhadap dirinya, tentu saja.
Zenile pun mengabaikan nihilnya reaksi yang ditunjukkan oleh d**k. Ia sangat yakin dengan rencana dilakukannya.
Sang mantan kekasih pasti akan dapat dirangsang. Dulu sering diterapkan cara seperti ini guna mengajak bercinta.
Belum ada setahun mereka putus. Dan ia yakin tak semudah itu untuk d**k melupakan gairah di antara mereka.
Apalagi tadi, pria itu masih menatap dirinya dengan sorot memuja. Tentu kian diyakini d**k tetap menyukainya.
Hanya saja, gengsi pria itu besar. Butuh usaha tidak mudah menaklukan. d**k pun belakangan bersikap dingin.
Zenile tak akan menyerah begitu saja. Ia akan mendapatkan kembali pria itu.
Sembari merasakan bagaimana ciuman
diciptakan kian panas, tentu ditambah kecepatan melumat mulut d**k.
Sial, belum membuka juga.
Harus digunakan cara lain merangsang hasrat dalam diri d**k. Ia pasti akan bisa. Hanya perlu terus berusaha.
Tak sampai semenit, ide pun sudah ada di dalam kepala dan tinggal dilakukan.
Dibawanya kedua tangan kekar d**k ke bagian d**a. Tepatnya pada p******a miliknya yang sudah menegang.
Dapat ditempelkan saja. Tak mungkin meremas. Yang bisa adalah d**k.
Namun, pria itu masih belum tunjukkan respons apa pun atas rangsangannya.
Apakah d**k tidak tertarik?
Haruskah ditanyakan? Tentu agar jelas dan tak membuatnya bertanya-tanya tanpa ada jawaban langsung pria itu.
"Kau tidak bernafsu denganku lagi? Kau tidak lihat payudaraku semakin besar."
"Setelah kau mengakhiri hubungan kita, aku stres. Aku lampiaskan dengan cara berolahraga. Hasilnya adalah ini."
Selepas bicara, tekanan telapak tangan d**k semakin diperkuat ke buah d**a miliknya. Masih ingin disaksikan pria itu bereaksi atas tindakannya.
Dan belum ada semenit, d**k sudah menghempaskan pegangannya. Tentu sang mantan kekasih juga berhasil menjauh darinya secara cepat.
"Jangan bersikap seperti jalang. Kau harus tetap menjadi wanita terhormat, Nona Zenile. Aku selalu respect."
"Lebih baik kau segera mandi. Aku akan membawa kau pulang ke rumahmu."
"Aku tidak mau pulang! Kalau berani memaksaku, maka aku akan bunuh diri di hadapanmu, Pria Munafik!"
— BAGIAN 02 —
Dick tidak ada ide memasak makanan yang rumit. Ia hanya menyajikan salad dan sup hangat untuk Zenile.
Jika wanita itu tak suka, maka akan dibelikan saja santapan di luar, apa pun yang diinginkan oleh Zenile nanti.
Dick sungguh sudah sangat lelah hari ini. Tak hanya tubuh terasa pegal, tapi otak pun sudah pasti ikut buntu.
Sejak pagi, terus dilakukan pencarian terhadap Zenile yang sudah hilang dari dua hari lalu. Dan wanita itu malahan bersembunyi di kediamannya.
Fakta yang sangat mengejutkan.
Harusnya ia merasa lega sudah dapat menemukan Zenile. Tinggal dibawanya wanita itu pulang. Namun, tak semudah akan rencana yang dimilikinya.
Perdebatan muncul di dalam kepalanya dan membuat dirinya kian bimbang.
Zenile memohon agar ia bisa memberi perlindungan pada wanita itu. Di sisi lain, ia harus membawa Zenile kembali atas perintah diberikan Zendec.
Bagaimana pun, tanggung jawab penuh ada pada dirinya atas wanita itu. Dan tentu termasuk semua kejadian yang dialami oleh Zenile sampai sejauh ini.
"Kau membuat apa?"
Pandangan langsung diarahkan ke asal suara yang didengar. Tertuju tepat ke depan. Zenile tak berada jauh darinya.
Mereka jelas beradu pandang. Ia tidak segan menunjukkan tatapan dingin dan juga menusuk kepada wanita itu.
"Tidak ada pasta yang sering kau buat?"
Dan hanyalah gelengan pelan dilakukan sebagai balasan. Tak perlu mengatakan apa pun guna menjelaskan pada Zenile.
Jika sungguh tak berkenan dimakan, ia pun bisa menerima. Tidak perlu untuk diambil pusing jika Zenile enggan.
Namun, wanita itu malah menyantap sampai habis makanan di atas meja. Tanpa melontarkan satu pun protes.
Walau tidak ada, d**k berusaha tetap siaga, andai Zenile membutuhkan apa pun yang harus dilakukannya.
"Kau sungguh tidak mau? Aku begitu haus seks dan aku mau tidur dengan dirimu. Kau harus tahu itu, Dick."
Zenile semakin gila karena penolakan ditunjukkan tadi padanya. Tak dapat diterima perlakuan d**k kepadanya.
Sampai detik ini, sikap sang mantan kekasih masih saja dingin. Seolah-olah mereka menjadi musuh bebuyutan.
Sialnya, Zenile amat tidak suka.
Belum cukup ditolak mengajak bercinta saja. Malah ditambah dengan tindakan yang sama sekali tak dibayangkannya.
Setiap mengingat kejadian tadi di kamar mandi, dadanya terasa mendidih. Rasa kesal yang bercampur dengan amarah.
Ingin sekali mengamuk dan mengumpat kasar ke d**k. Akan dikeluarkan semua yang terpendam selama ini di hatinya.
"Aku akan membawa kau kembali besok pada keluargamu. Bangunlah pagi."
Kunyahan salad buah di dalam mulut lekas ditelan. Lalu meminum air segelas dengan tenggakan yang amat cepat.
Dadanya semakin panas oleh amarah. Ia mungkin akan benar-benar murka.
Sebelum menanggapi perintah dingin d**k, lebih dulu dilempar cincin putih yang terpasang di jemari manisnya.
Tentu, sangat tepat mengenai d**a sang mantan kekasih. d**k tampak kaget.
"Aku tidak butuh itu. Kau bisa menjual kembali agar kau mendapatkan uang."
Zenile masih punya kalimat lain yang bernada pedas, namun karena d**k sudah bereaksi, maka dibatalkan.
Ya, pria itu bangun dari kursi dengan rahang wajah mengeras dan tatapan yang semakin tajam ke arahnya.
"Jangan membuat masalah, Zen. Aku tidak mau hubungan kita memburuk."
"Akan semakin memburuk jika kau tetap tidak mau mengakui perasaanmu. Kau masih menyukaiku, Dick."
"Kalaupun aku masih menyukaimu, kau harus tahu kita tidak akan bisa bersama lagi karena kau akan bertunangan."
"Persetan dengan pertunangan sialan itu!" Zenile meninggikan suaranya.
"Aku tidak akan pernah bertunangan ataupun menikah dengan pria yang berengsek seperti Pradh. Yang aku cintai hanyalah kau, Dick."
"Apa kau tidak mau memperjuangkan diriku untuk bisa bersamamu?"
Saat mulut ingin mengatakan kalimat tambahan, d**k malah berjalan kian menjauh dan meninggalkannya sendiri di meja makan dengan rasa kesal.
"Aku tidak akan pernah pulang. Aku akan tetap berada di sini. Titik!"
— BAGIAN 03 —
Dick sangat waswas jika Zendec akan menelepon saat dirinya ada di rumah. Untung sang atasan hanya mengirim pesan agar dirinya menghadap.
Tentu, bukan kediaman Zenile yang didatangi. Namun, kantor Zendec.
Dalam waktu tempuh setengah jam dari rumahnya untuk sampai di sana. Itu pun jika tidak terjadi kemacetan.
Dan keberuntungan kembali dirasakan d**k karena selama perjalanan, tak ada gangguan yang didapatkannya.
Bisa tiba di perusahaan Zendec tepat waktu. Langsung saja dibawa dirinya ke ruangan pria itu, letaknya di lantai yang paling atas. Digunakan lift khusus.
Dilakukan ketukan satu kali, sebelum benar-benar masuk ke dalam. Tentu, Zendec pasti sudah menunggunya.
Dan ketika sudah melewatinya ambang pintu, fokus pun tertuju ke depan. Yang hendak dicapainya adalah meja kerja sang atasan. Ada di paling ujung.
Namun, saat didengar suara isakan, tak dilanjutkan langkahnya. Seketika diam dan arahkan pandangan ke sofa.
Di sana, ada sosok Zendec yang tengah bersama seseorang. Tentu amat dapat dikenali dengan baik siapa pria itu.
Benar, Pradh Harris. Tunangan Zenile.
"Aku sangat sedih mengalami kejadian ini. Aku seperti tidak dihargai oleh Zenile. Dia tidak menyukaiku."
"Selama ini, aku memilih diam dan tidak menghiraukan ketidaksukaan dirinya agar keluarga kita damai."
"Lalu, dia merencanakan acara kabur di hari pertunangan yang penting."
Dick mendengar semua celotehan Pradh dan juga tangisan pria itu. Tentu, ia kian merasa jijik, alih-alih bersimpatik.
Seorang lelaki dewasa dan sejati, tidak akan bersikap demikian hanya untuk mencari perhatian. Malahan harus bisa menunjukkan ketegaran yang kuat.
Walau bukan seorang ahli, ia tahu jika ekspresi dan gestur terluka ditunjukkan oleh Pradh hanyalah kebohongan.
Omongan Zenile tentang pria itu pun kembali berputar di kepalanya. Semua terdengar seperti memang kebenaran.
Namun, jika belum melihat langsung buktinya, maka akan ditahan untuk mengambil kesimpulan secara cepat.
Dan akan segera ditemukan kebenaran.
"Kenapa kau diam saja? Duduklah dan beri laporan yang kau punya padaku."
"Baiklah, Mr. Zendec."
Dipilih menempatkan dirinya pada sofa kosong. Letaknya tepat di samping kursi diduduki oleh Pradh. Jadi, ia semakin jelas melihat ekspresi pria itu.
Jika saja mengentarai akting Pradh yang begitu bagus bisa dilakukan sekarang, ia pasti sudah memuji dengan sinis.
"Bagaimana perkembangannya?"
Ingin lebih lama pula atensinya diberi pada Pradh, namun karena sang atasan mengajukan pertanyaan, maka sudah pasti pandangan harus dialihkan.
"Masih nihil."
"Belum satu pun detektif yang melapor tentang tanda-tanda menemukan Miss Zenile, sampai aku tiba di sini."
Ya, d**k sudah memutuskan membantu sang mantan kekasih, maka dari itu ia harus menginformasikan kebohongan.
Tak mudah. Namun, kenyamanan serta ketentraman hati Zenile akan tetap jadi prioritas, dibandingkan profesionalitas pekerjaan yang dipegang teguh.
"Kenapa belum ada juga? Apakah kau menyewa detektif kelas tiga?"
"Harusnya bisa ditemukan segera, kalau mereka punya kinerja yang bagus."
"Semua butuh proses." Ditekankan tiga patah kata dengan nada juga dingin.
"Kita tidak bisa gegabah bertindak. Jika kita lakukan, Miss Zenile bisa saja akan melakukan hal yang tambah buruk."
"Jadi, sampai kapan kita harus teru
s saja mencari? Semakin lama, maka semakin mundur acara pertunangan ulang kami. Dan aku tidak akan bisa menerima."
Pradh bicara begitu angkuh dan marah seenaknya, sudah jelas membuat d**k muak. Andai tak ada Zendec bersama mereka, maka ia bisa lepas kendali.
"Tunggu saja prosesnya jika kau masih ingin calon tunanganmu kembali. Aku dan tim juga sedang terus mencari."
Dick memutuskan mengalihkan atensi. Lebih baik memandang sang atasan dan ingin tahu bagaimana reaksi Zendec.
Pria itu tak berkomentar, hanya satu anggukan ditunjukkan. Dan d**k pun sudah memahami sebagai perintah yang tetap harus dilakukan sampai akhir.
— BAGIAN 04 —
"Terima kasih atas bantuanmu."
Setelah selesai berucap, sambungan telepon pun disudahi oleh d**k. Tak ada lagi yang harus disampaikannya.
Ya, d**k baru saja menghubungi salah satu rekannya. Ia menyampaikan tak bisa berjaga di rumah Zenile Williams malam ini. Ada keperluan mendesak.
Gorge memahami urusannya dan siap menggantikan dirinya bertugas.
Kini, harus difokuskan konsentrasinya melakukan penyelidikan. Dengan begitu ia akan bisa ke langkah selanjutnya.
Rasa penasaran tentang penghianatan seperti dikatakan oleh Zenile, begitulah dapat membuatnya merasa terganggu.
Maka dari itu, investigasi langsung pun dilakukan demi mendapat fakta yang valid dan bisa dipercayainya.
"Anda akan memesan sekarang, Tuan?"
"Segelas bir dingin."
"Hanya itu, Tuan? Tidak mau memesan seorang pelayan untuk menemani?"
"Tidak usah." d**k pun menekankan dua patah kata. Suaranya juga dingin.
Tentunya, pelayan bar yang berekspresi centil padanya, seketika bergegas pergi dan tak menawarkan apa-apa lagi.
Sudah jelas, wanita muda itu ketakutan.
Dick bukan bermaksud bersikap tidak sopan, hanya saja tujuannya mengintai sedang enggan untuk diganggu oleh urusan yang sama sekali tak penting.
Harus dienyahkan semua agar dapat berkonsentrasi secara penuh juga.
Namun, hingga detik ini mengamati semua sudut bar dan para pengunjung yang datang, belum dilihat sosok Pradh.
Waktu sudah tunjukkan pukul sebelas malam. Itu berarti pula, telah dua jam dirinya berada di dalam bar.
Dick pun memutuskan jika sampai tiga puluh menit lagi tidak tampak Pradh di bar, pengintaian akan dihentikan.
Tak bisa dibuang waktunya lebih lama.
Mungkin akan dilanjutkan besok, jika sesi bertugas dapat ditukarnya.
"Kau d**k bukan? Aku kira aku salah melihat mobilmu di parkiran tadi."
"Selamat datang, Mr. Dick."
Dick sudah tentu diserang rasa kaget mendapatkan sambutan dari Pradh yang telah ditunggu-tunggunya.
Dan keterkejutan bertambah, saat mata dengan amatlah jelas melihat pria itu tengah menggandeng seorang wanita.
Langsung ditarik kesimpulan jika apa yang dikatakan oleh Zenile adalah kebenaran mutlak. Tak bisa dibantah sekarang karena bukti begitu nyata.
"Aku kira kau tidak datang ke tempat seperti ini karena kau tampak sibuk."
"Aku ingin beristirahat sebentar."
"Kau harus beristirahat sebentar. Kau bisa lanjut mencari Zenile besok. Aku harap dia akan segera ditemukan."
"Apa kau berpikir dia masih hidup, Mr. Pradh?" d**k bertanya dengan dingin.
Pertanyaan yang terlontar begitu saja, segera mendapatkan reaksi. Wajah si b******n menampakkan kekagetan.
Pradh bahkan lekas duduk di mejanya, tepat menempati kursi di seberangnya.
Ingin didengar bagaimana tanggapan pria itu. Jika jawaban menarik, maka ia akan semakin mengulik hingga dalam.
"Kau berpikir dia sudah mati?"
"Hanya dugaanku saja. Mungkin kau juga berpikir demikian, Mr. Pradh."
"Aku tidak tahu. Tapi, jika dia memang mati, aku rasa aku tidak akan masalah."
Dick spontan mengeluarkan decakan disertai dengan tepuk tangan pelan. Ia yakin ekspresinya tampak sinis juga ke sosok Pradh yang masih duduk.
"Dia saja tidak suka denganku. Kami harus bertunangan karena keluarga. Jika dia mati, urusanku bisa selesai."
"Dia selalu saja jual mahal, apa dia kira dia adalah wanita sangat terhormat."
"Jalang mana pun akan bisa aku tiduri, apalagi wanita sombong itu. Haha."
Telinga d**k sudah sangat panas. Ia pun berusaha keras mengendalikan dirinya agar tidak sampai melepaskan emosi.
Akan berbahaya sampai terjadi. Ia tetap mengedepankan cara bersikap yang profesional, walau tengah emosi.
"Menurutmu bagaimana, Mr. d**k?"
"Tentang apa?"
"Tentang Zenile di ranjang. Apa kau kira dia bisa menjadi jalang di ranjang? Kau mungkin pernah menduri wanita itu."
— BAGIAN 05 (21+) —
"Kau tidak akan mengubah keinginan yang kau baru saja katakan bukan?"
Dick menggeleng mantap. "Aku serius."
"Aku akan tidur denganmu, Nona."
"Atau kau yang berubah pikiran? Kau berencana untuk pulang sekarang?"
Sejak bertemu kemarin, baru didengar kalimat pertanyaan cukup panjang yang keluar dari mulut d**k. Nadanya pun berbeda tertangkap oleh telinganya.
Walau tak mampu didefinisikan dengan kata-kata dan diluar ekspektasi, Zenile enggan memikirkan lebih lama.
Fokus saja dengan apa yang sebentar lagi akan mereka berdua lakukan.
Ya, setelah setahun tak bercinta dengan d**k, kini waktunya tiba lagi untuk merasakan sentuhan pria itu.
Zenile sudah jelas sangat semangat dan tak sabar. Ia pun memulai serangan ciuman kembali di mulut d**k.
Respons pria itu amatlah cepat. Bahkan, juga dapat lekas mendominasi dengan lumatan yang begitu menggairahkan.
Dekapan d**k di tubuhnya pun semakin erat, namun tak membuat sesak. Justru ia suka akan keintiman mereka.
Dan ciuman berlangsung lebih sebentar dibanding perkiraan. d**k menyudahi. Entah apa rencana pria itu selanjutnya.
Akan dilihat dulu. Jika tak sesuai akan apa diinginkan, baru ditunjukkan reaksi dan kembali menggoda pria itu.
Sempat terpikir jika d**k akan batalkan semua rencana mereka, namun pria itu ternyata membuka pakaiannya.
Satu demi satu dengan pergerakan yang gesit, seolah semenit adalah batas waktu paling lama untuk menanggalkan.
Dirinya telanjang dengan cepat.
"Kau masih seksi."
"Masih seksi katamu? Bukannya malah bertambah seksi? Aku sudah setiap hari berolahraga agar punya tubuh seksi."
"Iya, bertambah seksi."
Zenile spontan tertawa. Merasa senang sekaligus lucu mendengarkan jawaban dari d**k. Apalagi gaya bicara pria itu penuh kelembutan masuk ke telinganya.
Akan semakin digoda sang pujaan hati.
Ya, kedua tangan kekar milik d**k yang tengah berada di pinggangnya, dibawa ke masing-masing payudaranya.
Pria itu langsung meremas dengan kuat. Rasanya sungguhlah nikmat. Ia suka.
Apalagi, d**k memakai mulut untuk melumat pada bagian p****g kiri, lalu.
Lidah pria yang basah lihai mengulum puncak buah d**a tegangnya. Tentu saja hasil kenikmatan semakin besar.
Desahan keluar dari mulutnya tanpa bisa dicegah. Ingin diekspresikan jika sangat disukai sentuhan d**k.
"Memang semakin besar, Nona."
Wajah Zenile tambah memerah karena bisikan mesra d**k. Jelas cukup malu mendapatkan pujian yang demikian. Namun, juga merasakan kegembiraan.
"Boleh aku lihat yang lainnya?"
"Kenapa tidak boleh? Aku bahkan mau kau menyesap seluruh tubuhku."
Sedetik kemudian, dilihat senyuman simpul terbit di kedua sudut bibir d**k yang tebal. Pria itu semakin tampan.
Dibawa tangan-tangannya ke wajah menawan sang pujaan hati. Ditangkup persis di masing-masing pipi pria itu.
"Bercintalah denganku, Dick."
Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, Zenile sudah dalam gendongan hangat sang mantan kekasih.
Dirinya dibawa ke kasur. Direbahkan di sana dengan posisi telentang. Dan sudah tentu, d**k berada di atasnya.
Pria itu menyasar organ intim miliknya dengan mulut. Sesapan, jilatan, serta kuluman dilakukan ganas seperti yang tadi diterapkan pada payudaranya.
Aksi d**k tersebut sudah jelas mampu mendatangkan klimaks untuknya.
Setelah itu, barulah terjadi penyatuan di antara mereka. d**k menghujamkan kejantanan pria itu yang amat tegang.
Walau ada kendala saat memasukkan ke selubung hangatnya. Namun, mereka bisa menyatu pada akhirnya.
Dick menggembur dengan kecepatan gila. Dan rasanya sungguh nikmat. Pria itu masih perkasa seperti dulu.
Tak diragukan bagaimana berbakatnya d**k untuk urusan di ranjang. Pria itu bahkan sangat bisa bersikap liar.
Jika sudah begini, maka seks mereka akan mencapai puncak memuaskan, dimana dirinya dan d**k mendapat o*****e yang sama-sama hebat.
BERSAMBUNG ..........
Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa)
Pembelian :
1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000
2. Via k********a, link ada di bio.