HASRAT PANAS DUDA

2867 Words
BLURB Dokter Vyner Mccall masuk perangkap duda tampan perkasa bernama Groody Evans, hanya karena kalah dalam taruhan yang mereka buat. Setelah bertahun-tahun tak bercinta, keintiman dengan Groody di ranjang tak disesalinya. Pria empat puluh lima tahun itu sangat seksi dalam gairah yang meledak-ledak. Sial, ia benar-benar luluhlantah di ranjang. "Menurutmu, benihku akan menjadi bayi laki-laki atau perempuan, Dokter Vyner?" "Aku tidak tahu, tapi lebih baik kau fokus. Aku akan klimaks sebentar lagi, Groody." "Raihlah puncakmu dengan hebat, Sayang." — BAGIAN 01 — "Aku ingin kau melakukan apa pun agar kami tahu kondisi dari Groody." "Dia adalah satu-satunya harapan kami untuk mendapatkan keturunan." "Cara apa pun bisa kau gunakan. Kami tidak masalah, asalkan nyawanya tetap aman sampai tes tersebut berhasil." "Kami mohon bantuan darimu, Dokter Vyner. Kami tahu kau sangat bisa kami andalkan untuk menghadapi Groody." Seluruh tubuhnya semakin merinding, dengar kalimat terakhir diucapkan oleh Missy Evans, nenek dari Groody. Jelas merasakan ketegangan karena sejak pertemuan dimulai dimulai dan percakapan terjadi, sudah terasa serius. Vyner memberikan laporan apa adanya. Tapi, tak bisa diterima oleh keluarga Evans, terutama nenek dari Groody. Sudah pasti dirinya harus berusaha lagi seperti yang telah diperintahkan. Tugas harus dituntaskan, sekalipun ia merasa jika semua ini sulit dilakukan. Andai, uang lima juta dollar diberikan keluarga Evans sebagai investasi, tak dihabiskan, maka pasti dipilih mundur. Sayang, pilihan tersebut tak bisa untuk diambil, walaupun sangat ingin. "Dokter Vyner ...," Panggilan yang ditujukkan pada dirinya tentu dapat menciptakan kembali rasa bergidik semakin hebat saja. Dan untuk balasan, hanya dipamerkan senyum ramah. Ia belum memikirkan satu patah kata pun guna dilontarkan. Beberapa detik kemudian, rasa tegang berganti dengan kepanikan. Sebab, ia harus menghadapi Missy Evans yang menangis tersedu-sedu di hadapannya. "Mrs. Evans, Anda baik-baik saja?" Vyner tak biasa dengan situasi seperti ini. Jelas bingung harus melakukan apa untuk menenangkan Missy Evans. Terlebih, ia belum tahu permasalahan menjadi dalang kesedihan mendalam yang menyerang wanita tua itu. "Saya ingin Groody normal." "Eh? Normal? Bagaimana?" Vyner pun kelabakan memberikan tanggapan. "Saya takut dia tidak normal, sedangkan dia harus memberikan kami pewaris." Vyner tak menanggapi, bagaimana pun ia tidak punya cukup wewenang untuk memberikan komentarnya. Apalagi, menyangkut masalah sebuah keluarga yang melibatkan privasi. Lebih baik diam. Hanya memerlihatkan senyuman untuk merespons. "Apa kau bisa membantu?" "Saya? Membantu apa?" Vyner diserang lagi oleh perasaan bingung oleh ajuan pertanyaan dari Missy Evans. "Rayulah cucu saya, Dokter Vyner." "Eh? Bagaimana?" Vyner kian tak bisa memahami jawaban yang diterima. "Saya ingin Anda membantu cucu saya untuk punya keturunan. Saya percaya dengan kemampuan Anda, Dok." "Eh? Saya?" Vyner kembali diserang oleh perasaan terkejut yang membuat kedua mata terus melotot dengan lebar. "Benar, Dok. Anda." Belum juga bertanya alasannya, kepala sudah pening. Entah mengapa, ia harus dilibatkan padahal tak tahu apa-apa. Harus memprotes juga belum bisa. Ia butuh penjelasan sampai akhir dulu baru bisa menunjukkan respons. Namun, bertanya pun belum. Mulut malah masih tertutup rapat dan sulit membuka guna dibuat bicara. "Berapa pun bayaran yang Anda minta, pasti kami akan memenuhinya." "Bayaran? Tunggu sebentar." Vyner pun akhirnya bisa bersuara. Walau tergagap untuk melontarkan balasannya. "Iya bayaran jasa Anda, Dokter Vyner." "Dalam rangka membantu kami." "Membantu apa? Saya sungguh tidak bisa paham, maksud Anda, Mrs. Evans." "Tolong jelaskan semua dan jangan dulu mengungkit soal bayaran." Vyner bicara lebih tegas untuk tunjukkan keseriusan. "Saya ingin kamu mengupayakan cara apa pun agar dia punya keturunan." Vyner sama sekali belum mendapatkan poin utama pembicaraan. Dan tak ada lagi penjelasan lanjutan didapatkan dari Missy Evans. Ia harus menyerah. "Selama dia memiliki s****a yang baik dan bagus, dia bisa membuat wanita hamil untuk menghasilkan keturunan." "Lakukan itu, Dok." "Mengetes kesuburan cucu Anda?" "Benar, Dokter Vyner. Lalu, carikan dia wanita pengganti yang bersedia hamil dan melahirkan keturunan kami." "Kami akan membayar lima juta dollar." Mata Vyner pun membeliak. "Lima juta dollar Amerika? Banyak sekali." Kemudian, tercetus keinginan di dalam hati untuk mengisi lowongan itu. — BAGIAN 02 — "Aku sudah sampai di rumahmu, bisa kau membukakan pintu untu--" Belum selesai ucapannya, gerbang di depan pun sudah bergerak otomatis ke samping, guna membuka dengan lebar. Tanpa ingin membuang-buang waktu lebih banyak, pedal gas kendaraannya pun diinjak agar mobil bisa melaju. Beberapa detik kemudian, Vyner pun mulai masuk ke bagian dalam mansion mewah kepunyaan Groody Evans. Mobil diparkirkannya di pekarangan depan, tepat di depan bangunan utama berinterior mewah berlantai empat. Tak ada yang menyambut. Ya, Groody tinggal seorang diri ketika malam hari. Jadi, tidak ada satu pun pelayan yang menyambutnya. Termasuk juga pria itu. "Dia tidak akan keluar?" gumam Vyner sembari turun dari kendaraan. Setelah menginjakkan kaki di tanah, ia lekas menghubungi Groody kembali. Telepon tersambung. Dan tak berapa lama, Groody pun mengangkatnya. Langsung didapatkan pertanyaan dari pria itu mengenai keberadaannya. "Aku di depan." "Aku tidak akan bisa masuk karena aku tidak tahu sandi pintu rumahmu." Sedetik kemudian, di seberang telepon, Groody meluncurkan deretan angka. Didengar saksama dan dapat ditangkap semua yang merupakan password pintu utama dari mansion mewah Groody. Panggilan diakhiri olehnya karena tak ada lagi ingin ditanyakan ke pria itu. Kaki dengan cepat dilangkahkannya ke arah pintu utama yang besar. Jaraknya ada lima meter di depannya. Sesampai di sana, langsung ditekannya deretan angka disebutkan Groody tadi. Tentu, pintu terbuka dengan cepat. Vyner harusnya lekas masuk karena ia telah diberikan akses sangat leluasa. Namun, perasaan tak enak mendadak menyerang. Seperti rasa gugup yang berlebihan. Datang begitu saja di dalam d**a yang mendebarkan jantung. Walau cukup tegang, tak mungkin saja berbalik untuk batalkan pertemuan dengan Groody yang telah terjadwal. "Selamat datang, Dokter Vyner." "Terima kasih." Berhasil dialunkannya balasan dengan lancar, walau tegang. Senyum pun dipaksa membentuk agar tak sampai ketahuan jika merasakan hal yang kurang nyaman akan pertemuan ini. Enggan dibuat Groody curiga. Namun, ia tak yakin juga akan mudah berakting karena sama sekali tidak bisa berpura-pura dalam berekspresi. Hanya bermodalkan keberanian. Dan tentu ingin hasilnya bisa maksimal. "Kau akan masuk sekarang, Dok?" "Jika diizinkan, tentu aku akan masuk." "Jika tidak, aku akan berdiri di si--" "Mana mungkin tidak aku izinkan kau masuk? Aku sudah menunggumu." Vyner ingin membalas, tapi tangannya sudah diraih oleh Groody Evans. Pria itu bahkan menarik kuat-kuat. Menyebabkan dirinya jadi ikut kemana Groody pergi. Ia dibawa masuk ke areal lebih dalam dari ruang tamu. Dikira akan berhenti di dapur atau meja makan, namun mereka masih berjalan. Dan pada akhirnya berhenti di depan pintu sebuah kamar tidur. "Kau mau mengajakku ke dalam?" Vyner merasakan ada hal janggal akan tindakan Groody Evans, maka dari dirinya memutuskan bertanya apa yang menjadi dugaan muncul di benaknya, saat ini. "Iya, kita akan ke dalam." "Untuk apa?" Vyner kian curiga. "Aku tidak mau." Ditolak keras-keras. Langkah kaki pun dimundurkannya agar tidak harus berada dekat dengan Groody. Pria itu pun bergeming. "Kau harus mengambil sampel s****a milikku bukan? Kita lakukan di dalam." "Apa katamu?" "Ada yang salah denganmu?" "Untuk mengecek kesuburanmu, akan dilakukan tes di klinik, bukan kamarmu." "Tidak di kamarku?" "Baiklah, aku rasa aku tidak akan mau mengikuti prosedur Kesehatan." "Kecuali kau mau mengikuti cara main yang aku inginkan, Dokter Vyner." "Apa maksudmu?" "Dapatkan spermaku dengan cara buat aku klimaks, apa kau tidak paham?" Vyner jelas kaget. Namun tak kunjung bisa menunjukkan reaksi dalam kata-kata. "Jika kau tidak mau, kita batalkan saja semua rencana yang dibuat keluargaku." "Dan, kau tak harus menjawab sekarang juga, Dok. Aku beri kau waktu berpikir." — BAGIAN 03 (21+) — Mengenai permintaan dari Groody yang kemarin, Vyner memutuskan untuk memenuhi demi tugasnya tercapai. Dirinya punya tanggung jawab besar untuk masalah ini, terutamanya pula kepada keluarga besar pria itu. Jika misi gagal, sama saja harus dibayar kembali uang yang telah diterima. Dan ia tak cukup memiliki dana tersebut. Terlebih sudah digunakan berinvestasi di klinik dan rumah sakit pribadinya. Jalan satu-satunya adalah membuat kesepakatan benar-benar terjadi. Harus diikuti cara Groody, daripada tak mendapatkan hasil apa pun. Begitulah yang dipikirkan sebelum memutuskan. Konsekuensi lain pasti ada. Terutama menyangkut harga dirinya sendiri. Tidur dengan pria yang bukan kekasih hatinya, belum pernah sebelumnya dilakukan. Jadi, Vyner amat ragu. Namun, ia meyakini jika Groody bukan juga tipe pria yang berbahaya. Dalam hal kesehatan, terkhususnya. Pria itu pasti masih bersih. "Dia di mana?" gumam Vyner, tatkala tak menemukan Groody di ruang tamu. Sempat diduga dirinya disambut di sana tapi ternyata sama sekali tak ada orang. Ingin ditelepon kembali Groody, namun ponsel sudah lebih dulu berdering. Benar, pria itu menghubunginya. Jelas lekas diangkat guna ajukan pertanyaan. Belum sempat bertanya, Groody malah sudah memberitahukan keberadaan. Lalu, sambungan telepon terputus. Vyner pun lekas menuju ke halaman bagian belakang, dimana telah disebut oleh Groody. Ia melangkah mantap. Tak sulit untuk sampai karena letaknya cukup cepat dijangkau. Dan terhampar taman bunga lengkap dengan kolam renang yang lumayan besar. Di dalam sana, tampak Groody tengah berenang. Tengah menuju ke tepian. Rasanya baru beberapa menit lalu, pria itu menelepon, tapi sudah di kolam. Bahkan, kini ke pinggiran. Mata pun membulat spontan melihat sosok Groody yang berenang tanpa satu pun helai kain menutupi tubuh. Pria itu telanjang bulat. Semua bisa dilihat dengan amat jelas, termasuk benda kebesaran Groody. Netranya tak sengaja menyaksikan. Dan tentu segera dipalingkan atensi ke arah lain agar tak terus tertuju pada Groody. "Kita akan mulai dari mana?" "Eh? Bagaimana?" Vyner tidak paham. "Ya, dalam rangka mengukur kesuburan diriku, kita akan mulai dari mana?" "Buat aku tegang sampai klimaks dan mengeluarkan milikku? Atau ada cara lain untuk mendapatkan spermaku?" "Apa kau bilang?" Vyner mulai merasa tersinggung dengan pertanyaan Groody. "Cepat selesaikan saja tugasmu, Dok." Saat ingin dijawab, ia seketika malahan terpaku akan apa dilakukan Groody. Pria itu keluar dari kolam tanpa satu helai benang pun menutupi. Telanjang bulat tepat di depan matanya. Sudah jelas semua bagian tubuh Groody terpampang nyata, termasuk benda kebesaran milik pria itu. Sial, tak bisa dipalingkan atensi barang satu detik pun. Padahal, otaknya sudah memerintahkan agar berhenti berikan perhatian pada pria itu. Groody menuju ke kursi pantai. Menempatkan diri di sana dalam posisi berbaring telentang. Semua tertangkap jelas oleh kedua matanya. "Segera tuntaskan tugasmu, Dok." "Jangan terpesona dengan diriku. Itu hanya akan membahayakanmu." Vyner pun kembali merasa tersinggung dengan kata-kata Groody. Terkesan ia dipojokkan penuh kesengajaan. "Buat milikku tegang sampai klimaks. Dengan begitu kau akan bisa mendapat benihku yang kau sedang incar." Vyner memahami dengan benar apa dimaksud Groody. Namun, tak segera bereaksi karena harus menimbang lagi. Rasanya itu bukan cara terbaik yang bisa dilakukan. Pria itu menawarkan padanya pasti karena ada sesuatu. "Cepatlah sebelum aku berubah pikiran dan tidak akan mau tes kesuburan." Vyner merespons segera kali ini. Berjalan segera ke arah Groody. Tepat sedetik berdiri di hadapan pria itu, ia malah direngkuh dengan kuat. Entah bagaimana bisa, gerakan kedua tangan Groody begitu cekatan dalam melepas semua pakaiannya. Dirinya telanjang bulat, kemudian. "Aku ingin memuaskanmu, Dok." "Dengan melihatmu klimaks, aku juga akan o*****e. Kau akan bisa mendapat benihku untuk kau tes nanti." — BAGIAN 04 (21+) — Sejak Groody balik menyerangnya, telah dirasakan sensasi yang berbeda. Namun berusaha tak berekspresi berlebihan. Ya, dalam artian menunjukkan respons atas aksi yang tengah pria itu lakukan. Jika saja, Groody adalah lawan jenis yang melakukan percintaan satu malam biasa dengannya, maka akan dinikmati. Sentuhan pria itu di pangkal pahanya dengan jemari-jemari terbilang cukup luar biasa. Para mantan kekasihnya pun belum pernah beraksi seperti ini. Namun, logika terus mengingatkannya tak hanyut akan situasi. Tetap menjaga fokus sampai tujuan dapat tercapai. Dan ketika lenguhan ingin keluar dari mulut, maka bukannya diloloskan tapi semakin dibungkam mulutnya. Cara paling ampuh digunakan adalah dengan mencium kembali Groody. Lumatan ganas dilakukan, dalam upaya mengalihkan perhatian dari sensasi rasa nikmat yang menyerangnya. Rencana awal begitu, tapi apa terjadi malah sebaliknya. Tentu, diluar dugaan Vyner juga, sehingga ia pun menyesal. Ya, pagutan cepat dan bernafsu yang diterapkan, justru menyebabkan aksi Groody semakin menggila saja. Kecepatan jemari-jemari pria itu dalam mengoyak mahkotanya, bertambah. Dan kali ini, jeritan keluar dari mulut bersamaan dengan klimaks yang datang tanpa sama sekali Vyner bisa tahan. Badannya gemetar. Pikiran melayang dan kosong. Tanda jelas bahwa o*****e didapatkan tidak main-main nikmatnya. "Kita harus istirahat berapa lama?" Vyner berusaha lekas mengembalikan semua kesadaran dan akal sehat otak ke setelan maksimal, lepas segera dari efek o*****e yang begitu dahsyat. "Bagaimana jika istirahat lima menit?" Vyner pun cukup berupaya keras untuk menggeleng, guna tunjukkan tanda tak setuju akan negoisasi Groody. Mata lantas dibuka. Langsung tertuju ke pria itu yang ternyata menatap dengan sorot nakal dan seringai menggoda. "Tidak perlu istirahat. Kita langsung saja karena waktuku terbatas." "Wow, kau sangat bersemangat ingin merasakan milikku, ya, Dok?" Vyner menambah delikan mata. "Aku sudah sering merasakan milik pria lain. Aku tidak terlalu penasaran akan rasa milikmu, Tuan Groody Terhormat." "Sudah aku bilang, waktuku terbatas. Kita harus cepat kalau kau masih mau bercinta denganku, Tu--" Ucapan Vyner terputus karena diterima cumbuan rakus mulut Groody. Bahkan ia sampai diam untuk beberapa saat. Namun, saat lumatan dilakukan pria itu di bibirnya kian menggoda. Seketika muncul rasa penasaran guna membalas. Tak apa dengan pagutan-pagutan kecil, asalkan menunjukkan respons. Rasanya cukup menyenangkan terlibat cumbuan seperti ini lagi dengan lawan jenis, setelah dua tahun absen. Dan ketika lumatan pada mulut Groody semakin dipercepat, pria itu membawa diri masuk secara utuh padanya. Jelas kaget sehingga amat menegang di seluruh tubuh. Walau, tak merasa cukup sakit pada mahkotanya. "Kita bisa mulai sekarang, Dok?" Hanya mampu ditunjukkan anggukan atas apa yang ditanyakan Groody. Tak berselang lama, pria itu pun sudah memagut bibirnya dengan rakus. Groody juga bergerak menembus kian dalam mahkotanya dengan kejantanan yang tadi sempat ditarik keluar. Vyner berusaha tak tegang. Akan coba dinikmati permainan akan dilakukan Groody. Ia yakin pria itu lihai dan juga berpengalaman urusan di ranjang. Satu hujaman lebih kuat, dirinya pun sukses dipenuhi. Groody langsung saja bergerak dengan tempo cukup cepat. Sial, rasanya sangat nikmat. Malahan lebih dari yang sudah dibayangkan. Dengan seks seperti ini, maka mustahil ia tidak mampu mendapat klimaks. Sudah lama tak dirasakan, tentu kali ini harus meraih o*****e yang hebat. — BAGIAN 05 — Rasanya tenaga banyak terkuras akan percintaan panas dengan Groody. Harus memulihkan energi dengan tidur cukup. Sudah lama tak berhubungan intim, membuatnya seperti kurang persiapan. Dan sebenarnya tidak menyangka akan bermain begitu panas dengan Groody. Para mantan kekasihnya belum pernah ada yang mampu memancing hasrat seksualnya sekuat saat bersama pria itu. Groody tahu memuaskannya. Dan tentu saja sudah sangat paham bagaimana menyerang wanita dengan klimaks. Groody berusia empat puluh lima tahun yang membuat pria itu punya banyak pengalaman di ranjang dengan lawan jenis. Menciptakan seks-seks panas. Harusnya ia memikirkan fakta ini, tak karena Groody memiliki ketertarikan khusus hingga mau memuaskannya. "Dokter Vyner ...," "Apa kau akan pergi sekarang?" Ditolehkan cepat kepala ke Groody. Namun, tak dikeluarkan barang satu pun patah kata guna menjawab. Hanya dilakukan anggukan sekali. Tentu sudah cukup "Kau sungguh akan pergi, Dok?" "Iya." Vyner menjawab singkat nan mantap. Setelah mendapat apa yang seharusnya, Vyner pun harus bergegas pulang dan kembali ke klinik untuk membawa hasil agar bisa diteliti oleh para staf. Pertanyaan diajukan Groody, dirasanya kurang tepat. Atau malah mengandung makna tersembunyi yang tidak mampu untuk dirinya pahami dengan jelas. "Dok ...," "Apa aku tidak boleh pergi?" Vyner pun lekas menanggapi dengan pertanyaan balik yang dipikir sesuai kondisi. Bukan menerima jawaban, tapi malah dekapan kuat. Tentu, pergerakan pria itu amat cepat. Tak bisa ditolaknya. Diam dalam rengkuhan Groody seraya terus mendongak menatap pria itu. Dan ketika Groody semakin dekatkan wajah, Vyner pun menahan napas. Masih ditatap lekat pria itu. "Aku mau kau lagi." Bukan hanya ucapan Groody membuat Vyner merinding mendadak. Namun, juga aksi yang dilakukan pria itu. Groody meniupkan udara pada daun telinganya. Lalu, mengecup pelan. Upaya untuk menggodanya? Diam saja tidaklah dapat menyelesaikan masalah. Ia harus berikan respons atas apa yang diinginkan oleh pria itu. Tentang permintaan Groody, telah tahu ke arah mana pembicaraan dimaksud. Dirinya perlu menimbang lebih matang untuk melakukan hubungan intim lagi dengan pria itu, tanpa tujuan yang jelas. Walau harus diakui, bahwa permainan mereka kemarin cukup menyenangkan. Ia berhasil klimaks sebagaimana mesti hasil dari seks yang berjalan bagus. "Aku menginginkamu lagi." "Tidak akan lama, Dok." Vyner masih berupaya mencerna semua dikatakan Groody. Tentu, harus memutuskan akan bagaimana atas permintaan pria itu. Groody sudah memeluknya. Ia pun mematung. Sial, dekapan yang terasa nyaman. Ada ketertarikan aneh di dalam hati, tak bisa dihindari. "Aku sudah memberikan maumu, Dok." "Harusnya ada timbal balik." "Maksudmu, aku harus bercinta denganmu lagi?" Vyner tahu maksud Groody. Pria itu kian menyeringai. Lalu, kepala dianggukan. Tentu, artinya benar. Vyner diam. Bingung harus merespons bagaimana bagusnya. Dan ia tak akan mau menuruti permintaan Groody. Waktu sedang kurang tepat saja. "Semua tidak ada yang gratis." "Imbalan setimpal harus diberikan agar sama-sama menguntungkan untuk kita." "Cih, pintar sekali kau." Vyner spontan meloloskan sindiran dari mulut. Saat ingin luncurkan kalimat lanjutan, bibir sudah diserang cumbuan panas dari Groody. Ia tak bisa mengelak. Bukan berarti membalas juga. Hanya diam sembari membiarkan pria itu terus melumat rakus mulutnya. Dikira akan lama. Namun, tak sampai semenit sudah dihentikan Groody. "Mau buat kesepakatan, Dok?" "Kesepakatan apa?" Vyner kian curiga dengan pertanyaan diajukan padanya. "Kalau hasil tesku bagus, apa kau mau menampung benihku di rahimmu?" Mata melebar cepat. "Eh apa?" "Keluargaku menawarkan lima juta dollar bukan? Aku bisa memberikan kau dua kali lipat dari itu, Dok." "Kenapa harus aku?" "Karena aku mau terus bercinta dengan dirimu dan menitipkan benihku." "Ya atau tidak?" Vyner kian bingung. "Aku pikirkan dulu agar aku tidak salah ambil keputusan." BERSAMBUNG .......... Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa) Pembelian : 1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000 2. Via k********a, link ada di bio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD