WANITA SANG BOS BESAR

4012 Words
BLURB Pelacur, jalang, dan wanita pemuas di ranjang, merupakan job utama Drovy Parker demi bisa terus pertahankan posisinya sebagai CEO. Tahta, uang, dan popularitas, adalah kehidupannya. Tidak akan dibiarkan semua lepas dari genggamannya. Nicco Davidson, bersedia memberikan semua padanya hanya dengan tubuh berharganya diserahkan ke pria itu. ............. "Tugas utamamu melayani gairahku. Jangan sok menjadi suci, Jalangku." "Aku selalu ingat itu, Mr. Nicco. Kau akan selalu pria yang mendapatkan diriku untuk memenuhi hasratmu." ************************************* - BAGIAN 01 - Saat masuk ke ruang keluarga, sang ibu langsung menghampirinya dan berikan dekapan erat. Tentu, tak akan dibalas. Nicco bukan tipe yang suka dengan cara penuh sayang menunjukkan rasa peduli seperti ditunjukkan sang ibu padanya. Namun, tak akan juga menolak. Sebab, jika dilakukan, maka ibunya pasti akan murka. Lalu, berakhir diberi nasihat. Nicco amat menghindari. "Mom senang bertemu dengan kau hari ini, Nak. Ada yang Mom mau sam--" "Tentang menemukan wanita untuk bisa melahirkan calon penerusku?" "Berhentilah berusaha, Mom." Setelah berbicara, Nicco memilih pergi dari hadapan sang ibu. Bukan keluar ruangan, melainkan duduk di sofa. Ibunya sudah tentu mengikuti. Mereka pun belum terlibat perdebatan apa pun. Jadi, mustahil berakhir bertemuan. "Bagaimana jika kau mencoba dulu yang ini, Nak? Mom rasa dia wani--" "Semua wanita yang telah Mom siapkan untukku adalah jalang kelas kakap." "Aku tidak akan pernah sudi menikahi wanita-wanita seperti itu, ataupun aku jadikan ibu dari anak-anakku." Selesai dengan semua balasan menohok atas nasihat sang ibu soal pernikahan, perasaan Nicco tidak jadi lebih baik. Namun, menuruti kemauan ibunya juga tak ingin dilakukan. Apalagi, kontras akan kehendaknya. Mustahil diterima. "Sekarang apa rencanamu, Nak? Tidak akan menikah dan memiliki anak?" "Kau lupa dengan janjimu, Nicco?" "Aku tidak pernah lupa, Mom. Aku akan menyanggupi, tapi tidak dalam waktu yang dekat." Nicco bicara dengan tegas. "Kau sudah berjanji, saat usiamu empat puluh tahun. Dan hampir tiga tahun sudah lewat. Sampai kapan waktunya?" "Biarkan aku yang mengatur, Mom. Aku tahu kapan waktu paling bagus." Nicco bicara dalam suara lebih dingin. Sang ibu tetap bersikeras, maka dirinya akan melakukan hal sama persis. Tidak ada toleransi atas perbedaan pendapat. Termasuk mengambil keputusan, tak akan dibiarkan pihak lain mencoba mendikte dirinya untuk memilih. "Jika kau tidak mau menikah, berikan saja kami cucu. Terserah kau ingin memakai cara bagaimana. Mom tidak akan ikut campur lagi. Urus sendiri." "Tapi, kami menginginkan penerus dari kau, Nak. Setidaknya tahun depan, kau sudah memberikan kami cucu." "Oke, Mom." Jawaban dilontarkan bukanlah bentuk secara resmi mengiyakan permintaan sang ibu, hanya tak mau berdebat lebih lama dengan bahasan kurang penting. Dan sudah pasti ibunya sadar. "Kita mau buat kesepakatan baru?" "Apa lagi yang Mom inginkan dariku? Jangan banyak menuntut, Mom." "Hamili wanita simpananmu." Nicco cukup terkesiap mendengarkan ucapan sang ibu yang baginya seperti sebuah titah mutlak harus dijalankan. Dan walau tak menyebutkan nama, ia tahu siapa dimaksud oleh orangtuanya. Ada pertanyaan muncul, yakni tentang bagaimana bisa sang ibu mengetahui kehidupan pribadinya yang rahasia. Terutama hubungan antara dirinya dan Drovy. Seba, sifatnya amat tertutup. "Mom akan berikan kau waktu setahun. Hamili dia segera, kalau kau serius suka dengan simpananmu itu, Nak." Perintah kembali. Kali ini, lebih serius. Tak akan dijawab. Mengiyakan ataupun menolak, sama saja akan berdampak memperkeruh situasi yang ada. Tentu, suasana menjadi hening. Baik, ia dan sang ibu memilih membisu. Jika tetap seperti ini hingga sepuluh menit kedepan, maka akan diakhiri pertemuan di antara mereka berdua. "Bukan seperti itu cara memperlakukan wanita, Nak. Kau adalah pria sejati." "Pria sejati tidak akan pernah bersedia menyakiti satu wanita pun di dunia." "Apa maksud, Mom?" "Kau pasti tahu apa yang Mom maksud. Dan kau harus melakukan permintaan Mom, kalau kau masih dianggap anak." "Berikan Mom cucu dari wanita itu. Kau akan menjadi pewaris tak tergantikan." "Semua kekayaan keluarga akan jadi milikku?" Nicco pun menantang. "Itu akan menjadi hakmu secara penuh, setelah kau berhasil menjalankan misi ini, Nak. Waktumu hanya setahun." - BAGIAN 02 - Tok! Tok! Tok! Tok! Nicco yang baru saja ingin merebahkan diri di kasur, tentu menjadi diurungkan karena mendengar ketukan di pintu. Kembali cepat ke meja kebesarannya. Ia duduk di kursi kayu besar yang dilapisi bantalan empuk pada bagian bawah. Tak sampai semenit, sang sekretaris pun sudah masuk ke dalam ruangan. Tentu berjalan mendekat ke arahnya. Sudah pasti ada hal penting yang mesti dirinya tahu. Bersifat mendesak pula. Namun, ia tak ada gambaran masalah apa akan dihadapi. Otaknya buntu. Bahkan, pening juga karena sisa-sisa pemikiran tentang hasil pertemuannya dengan sang ibu yang merepotkan. Andai tadi tak menyanggupi perintah diberikan orangtuanya itu, maka tidak akan semakin rumit otaknya. "Maafkan saya jadi mengganggu waktu Anda, Bos. Tapi, saya punya berita." "Informasi apa?" Nicco pun to the point saja menyasar bahasan paling utama. "Bos, Miss Regga ingin datang kemari." "Dia menghubungi saya. Lalu, diminta saya untuk menyampaikan pada Anda." "Dia juga meminta Anda menyiapkan bayaran yang biasa dia minta." Helaan napas panjang menjadi reaksi pertama atas berita dari sekretarisnya. Dan tentu tak akan ada respons yang lebih lanjut dikeluarkannya. Walau tidak ada titah khusus tentang keengganan menerima informasi, saat jam kerjanya sudah berakhir. Tapi tetap jengkel jika diberi tahu hal lainnya. Ya, andai menyoal bisnis sungguh masih bisa ditoleransi. Namun, ketika urusan hanya menyangkut wanita yang ibunya kirimkan, maka ia sungguh muak. "Saya harus bagaimana, Bos?" Setelah hening sampai bermenit-menit, pertanyaan diajukan sang sekretaris tentu saja jadi pembuka. Bisa didengar semua, tapi masih malas bereaksi. "Kau tahu apa yang mesti kau lakukan." Dikira sang sekretaris akan segera beri tanggapan, namun malah diam saja. Dari ekspresi sekilas yang dilihat, maka lekas disimpulkan jika titah dilontarkan tadi dapat berefek membuat bingung untuk sekretarisnya itu. Mimik tak akan bisa berbohong. Tentu, perintahnya harus diperjelas kembali agar bisa segera dilakukan. "Jangan biarkan dia ke sini. Lakukan apa saja agar dia tidak menggangguku." "Kau tahu cara yang paling bagus itu." Nicco menekankan kata-katanya. "Jika dia tetap ngotot ingin menjual diri, kau bebas menyetubuhinya, Mr. Dann." "Apa, Bos?" Dari cara sang sekretaris menjawab, ia bisa mendengar kekagetan besar. Mata Mr. Dann pun menunjukkan hal sama. Perintahnya apakah menakutkan? "Anda menyuruh saya dan Miss Regga bermalam bersama? Menyetubuhi dia?" Untuk tanggapan, dilakukan anggukan pelan dengan gerakan mantap. Tidak keluar satu patah kata dari mulut. Ia merasa tanggapannya telah cukup. "Anda sungguh menolak Miss Regga?" Atensi yang sejak tadi memanglah tidak diarahkannya pada sang sekretaris, kini harus dipusatkan ke Dann Roberts. Tatapan tajam jelas dilayangkan. Tentu dalam upaya tunjukkan ketidaksukaan. "Maafkan saya, Bos." "Kau tidak usah minta maaf, justru kau harus menerima kesempatan emas." "Aku yang akan membayar Regga. Dan kau hanya bertugas menikmati dirinya. Aku rasa dia jalang hebat di ranjang." "Kau tidak boleh menolak." Nicco pun menegaskan dengan nada yang dingin. "Sungguh tugas itu, Tuan?" "Ada masalah?" Nicco kian tak sabar. Ia tidak mau mendengar jawaban yang demikian. Namun, malah ditanyakan. "Kau tidak punya kekasih. Kau bebas saja meniduri jalang mana pun bukan?" "Saya sangat mau meniduri Miss Regga, Tuan. Tapi saya merasa kurang en--" "Gunakan dia sepuas yang kau mau." "Jangan membantah perintahku. Kau harus melakukannya, walau kau tidak suka sekalipun. Kau sudah mengerti?" "Baik, Tuan. Akan saya lakukan." "Bagaimana dengan Jalang itu?" "Jalang? Maaf, siapa yang Tuan sedang maksud? Saya kurang bisa memahami." "Drovy." Nicco menekankan jawaban. "Ah, Miss Drovy? Maafkan saya yang tadi tidak paham maksud Anda, Tuan." "Miss Drovy akan segera kemari dan melayani, Tuan. Dia bersedia." - BAGIAN 03 - "Kau harus tetap ingat tugas utamamu sebagai pelacurku. Jadi cepat datang." Helaan napas yang panjang dikeluarkan dari mulut, bukan saja karena teringat akan isi pesan dari Nicco, melainkan juga sudah tiba di kediaman pria itu. Lebih tepatnya, melewati gerbang. Laju kendaraan pun diperlambat. Ingin diulur waktu sebanyak mungkin supaya tak segera berjumpa dengan Nicco. Namun jarak menuju bangunan utama mansion pria itu, kurang dari empat meter lagi. Dalam hitungan yang tidak sampai lima menit, akan dicapainya. Dan benar saja, mobil yang dikendarai berhenti dua menit kemudian, tepat di depan bangunan bergaya modern dan megah milik seorang Nicco Davidson. Dikira tak akan menyambut karena satu orang pun tidak tampak ada. Namun, ternyata dugaan salah benar. Hanya semenit berselang selepas mobil diparkirkan, maka seorang wanita yang sudah paruh baya terlihat keluar. Dari kaca jendela kendaraannya saja, bisa ditebak siapa sosok tersebut karena memang beberapa kali pernah bertemu. Kesopanan bersikap masih diutamakan, maka dari itu lekas disapanya kepala pelayan yang tengah menunggunya. "Selamat malam, Nona Drovy." "Iya, selamat malam juga." Suara juga dibuat ramah. Tindakan yang wajib. "Bagaimana kabar Anda? Sudah satu bulan Anda tidak datang kemari." "Kabarku?" Drovy malah balik loloskan pertanyaan. Spontan terluncur. Ya, bahkan di dalam hati, Drovy pun menanyakan kondisinya sendiri. Apakah bisa dikatakan baik-baik saja? Drovy amat ragu karena perasaannya bergemuruh setiap saat. Terkhususnya ketika mengingat fakta akan bagaimana dirinya menjalankan hidup yang kotor. Berstatuskan jalang dengan kedok posisi CEO di salah satu perusahaan properti besar New York yang sukses. "Miss Drovy, Anda tidak apa-apa?" Lamunannya langsung buyar karena pertanyaan diajukan kepadanya. Lalu, dengan gelagapan, ditunjukkan balasan berupa gelengan pelan. "Aku tidak kenapa-kenapa." "Saya kira saya yang salah bertanya dan membuat Anda tidak mau menjawab." Kembali digelengkan kepalanya. "Bukan." Dijawab dengan suara yang mantap guna meyakinkan jawabannya. "Anda tidak salah. Dan ...." "Dan kabarku baik-baik saja." Drovy pun melanjutkan. Gaya bicara lebih tenang dibandingkan tadi. "Saya senang mendengar Anda sehat dan baik-baik saja, Miss Drovy." "Terima kasih banyak." "Apakah saya bisa masuk sekarang ke kamar dan mengganti pakaian?" Drovy bertanya agar segera bisa melakukan tugas yang harus dikerjakannya. "Boleh, Miss Drovy. Saya sudah siapkan semuanya untuk Anda di dalam sana." Setelah permintaannya dijawab, maka ia segera diajak menuju ke tempat yang dimaksud. Tentu segera diikuti saja. Mereka masuk bersama ke ruangan. Tak asing bagi Drovy karena pernah dirinya tempati beberapa kali jika berkunjung. Namun, sensasi yang dihasilkan selalu terasa berbeda. Tak bisa dimungkiri. "Aku harus memakai apa?" tanya Drovy dalam cara berbicara sesopan mungkin, walau tengah merasa cukup kesal. "Sudah saya siapkan baju tidur seperti yang diperintahkan Tuan Nicco. Saya menaruhnya di atas kasur, Nona." "Apa mau saya ambilkan?" Drovy lekas menggeleng. Gerakan pelan tapi sudah pasti dapat ditangkap oleh Mrs. Santa Wole, sehingga ia tak perlu lagi melontarkan kalimat penjelasan. "Silakan masuk, Nona." "Jika Anda membutuhkan apa pun, bisa hubungi saya lewat saluran telepon." "Terima kasih." Suara dialunkan lebih ramah. Senyum berusaha dipamerkan. Tentu, dengan suasana hati yang belum mengalami perubahan. Dan tentu saja, akan bertahan kejengkelan dalam diri untuk jangka waktu lumayan lama. Dan sekuat apa pun keinginan menolak, tidak akan bisa dilakukan karena hal tersebut mustahil baginya dapatkan. "Saya tinggal keluar dulu, Nona. Saya harap Nona juga segera berganti gaun tidur yang sudah disiapkan beberapa." "Apa aku tidak boleh tidak memilih? Aku rasa lebih bagus aku langsung saja telanjang karena akan melayaninya." - BAGIAN 04 - Setelah menerima pesan dari kepala pelayan tentang kedatangan si jalang, maka Nicco segera keluar kamar. Tentu, menuju lantai satu, dimana akan bertemu p*****r kesayangannya. Digunakan tangga agar bisa segera tiba. Dorongan untuk bertemu dengan Drovy semakin kuat saja di dalam dirinya. Apalagi, sudah berminggu-minggu, tak dilayani oleh si jalang itu. Tentu, tidak ada perjumpaan juga di antara mereka. "Hai, Pria Tampan. Mau ke mana?" Saat sampai di lantai dua, Nicco pun harus berhenti karena ada gangguan. Sungguh tidak disangkanya jika harus berhadapan dengan Regga. Padahal tadi dikira w************n itu telah pergi. "Hai, Tuan Tampan. Anda mau pergi ke mana? Apakah mencariku?" Bukan hanyalah gaya bicara Regga yang membuatnya muak, namun aksi jalang itu mendekatinya. Nyaris menyentuh, untung berhasil dijauhkan diri. "Berengsek!" "Berengsek!" Umpatan beruntun dikeluarkan marah bersamaan akan tindakan yang kasar mendorong Regga agar menjaga jarak. Tak ingin sama sekali bersinggungan. "Tenanglah, Tuan." Mata sudah lebih melebar memandang tajam sosok Regga. Nicco pun meyakini jika netra hitamnya tampak memerah. Kepalan sudah terjadi di kedua tangan dengan kuat. Siap digunakan untuk memukul barang ada di sekitarnya. Andai benar lepas kendali, maka bisa saja Regga yang akan jadi sasarannya. Apalagi, w************n itu mencari perkara lebih dulu dengan dirinya. "Jangan pernah muncul di depanku!" "Atau kau akan benar-benar lenyap dan tidak akan ada yang menemukanmu." Regga diam seribu bahasa. Tak sepatah kata keluar dari mulut si jalang. Tampak pula ada perubahan di wajah Regga. Tak dipamerkan senyuman lagi yang menggoda kepada Nicco. Gertakan pria itu dengan kesungguhan terdengar menakutkan, membuatnya merinding bukan main juga tentu saja. "Apa pun perintah dari Mom untukmu, dapat kau abaikan mulai hari ini." "Jangan pernah kau menawarkan lagi tubuhmu karena aku tidak tertarik." "Kau jual saja pada orang lain di luar sana yang menyukai tubuhmu." "Jika kau masih bersikeras, kau harus ingat kembali kata-kataku yang tadi." Kata-kata Nicco semakin menusuk dan kasar. Sukses menerus menyebabkan dirinya menjadi tidak bisa tenang. Seperti nyawa di ujung tanduk. Daripada menerima akibat lebih parah, maka menyerah sekarang juga adalah solusi terbaik guna menyelamatkan diri. Tak ada guna terus maju, meski akan mendapatkan bayaran yang tinggi. Harus disayang nyawa, dibandingkan uang bernilai jutaan dollar. "Aku akan pergi sekarang dan aku tidak akan mengganggu kau lagi, Tuan." "Jangan mencariku mulai sekarang, aku juga tidak akan mengusikmu, Tuan." "Terima kasih sudah baik kepadaku selama ini, Tuan. Aku akan pamit." Tak ada satu pun patah kata keluar dari mulut Nicco atas semua yang dikatakan oleh si jalang. Ia tidak bisa simpati. Hanya diperhatikan menerus w************n itu berjalan menjauh. Menuju ke arah tangga dan mulai menuruni. Andai tidak melihat ada sosok lain di sana bersama Regga, maka atensi akan segera dialihkan ke objek lain. "Jalang lain pergi, jalang satunya datang kemari." Nicco bergumam sinis. Tak henti mata mengarah pada sosok Drovy. Dan wanita itu kian berjalan mendekat ke tempat dirinya berada. Ketika jarak mereka kurang dari satu meter, adu pandangan pun terjadi. Netra biru si jalang dengan saksama menatapnya. Ekspresi datar. Tak ada senyuman menggoda seperti Regga. Nicco lebih suka yang begini. "Selamat malam, Tuan." Sapaan dengan nada ramah. Kontras akan tatapan tajam dilayangkan. Lalu, apa yang akan dilakukan sebagai balasan? Tentu tak cukup kata-kata saja. Beraksi baginya lebih menantang. Tepatnya dengan menarik sang jalang ke arahnya, lalu dipeluk dengan erat. Tentu, tidak ada perlawanan yang bisa ditunjukkan p*****r itu kepadanya. "Kau siap melayaniku, Jalang?" - BAGIAN 05 - Tepat setelah mendengar pintu kamar di belakangnya menutup, lingerie yang dikenakan langsung dibukanya. Gerakan tangan cekatan karena ingin segera membuat dirinya telanjang. Namun kemudian, ada gangguan yang terjadi, yakni mendapatkan rengkuhan erat dari belakang, sampai terasa sesak untuk sesaat. Namun, tak dilepaskan. "Kau memang lebih pantas memakai ini daripada setelan kerja yang mahal." "Karena sejatinya, kau adalah JALANG." Selesai berbicara begitu sinis, dengan cepat diputar tubuh jalang kesayangan miliknya supaya mereka berdua bisa saling berdiri berhadap-hadapan. Tentu, tak ada kendala didapatkan. Sang jalang kesayangan pun menatap tepat ke matanya, dengan sorot dingin seperti yang tadi masih ditunjukkan. "Jalang tidak akan pernah berubah. Kau harus mengingat siapa dirimu." Kata terakhir dalam bisikan sederetan kalimat sinisnya, dilontarkan dengan nada lebih tinggi. Menekankan arti. Pandangan yang sempat teralih empat detik lalu, kembali dipusatkannya pada mata bermanik biru Drovy. Ingin dilihat bagaimana reaksi wanita itu. Sebelum-sebelumnya, Drovy akan tersinggung sebab tak suka sebutan itu. Pancaran kedua netra Drovy pun lebih menajam dibandingkan tadi. Dan, ia memang menunggu reaksi seperti itu. "Kau tidak terima? Pada kenyatannya, kau memanglah seorang JALANG." Setelah meluncurkan apa yang harus didengar Drovy, rencana selanjutnya pun akan segeea dilakukannya. Ya, dilepaskan gaun tidur seksi wanita itu hingga terjatuh ke lantai. Tentu, aksinya dapat memicu kekagetan dari Drovy. Namun, wanita itu tetap saja bergeming dan hanya menatap dingin. Ketika ingin menanggalkan sisa kain di bagian p******a wanita itu, barulah respons diterimanya, yakni berupa tangannya dicengkram cukup erat. "Kenapa kau lepaskan lagi?" "Kenapa aku melepaskannya? Kau pasti sudah lebih tahu kenapa aku membuat kau telanjang, Wahai Jalang." "Apa kau kira aku punya fantasi akan menyetubuhimu dengan pakaian yang lengkap?" lanjut Nicco berbisik. "Aku lebih suka bercinta dengan kau telanjang bulat agar aku tahu apakah semua bagian tubuhmu masih sama." "Jika ada perbedaan dari yang terakhir kali aku menyetubuhimu, apa kau tahu artinya itu bagaimana, Jalang?" Setelah melontarkan semua yang dirasa perlu disampaikan, maka mulut dibuat menjauh dari telinga kiri Drovy. Namun, tak dengan dekapannya. Mata sudah tertuju ke sepasang manik biru laut jalang kesayangannya. Ingin dilihat bagaimana reaksi wanita itu atas semua sindiran yang dilontarkannya. Netra Drovy tampak tajam menatap ke arahnya, sehingga mereka bersitatap. "Kau tahu tidak, Jalang?" "Tidak." Jawaban amat singkatnya mendapatkan balasan berupa decakan sinis yang tak terdengar merdu sana sekali. Apalagi ditambah ekspresi di wajah. Tentu, kebenciannya bertambah pada sang bos. Namun, tidak bisa dilakukan pembalasan apa pun ke Nicco Davidson. "Kalau ada yang berubah di tubuhmu, itu artinya kau menjualnya lagi." Mulut Drovy yang baru saja meloloskan protes dengan nada dingin, lekas diraih dengan tangannya guna dipegang. Semacam memecuk, lebih tepatnya. Lalu, wajah Drovy didekatkan. Nyaris saja, mulut mereka berdua saling bersentuhan. Sudah pasti akan dirinya nikmati bibir merah Drovy, tapi tak untui beberapa menit kedepan. "Kau sungguh bodoh sampai kau tidak tahu apa yang aku maksud, Jalang?" "Kalau kau tahu, bagaimana kalau kau cepat saja beri tahu aku, Tuan?" "Kau menantangku?" Nicco pun kembali tersulut emosi mendengarkan jawaban dingin yang dikeluarkan jalangnya. "Kau bilang kau tahu. Apa salahnya?" Bukan mengendurkan kesinisan pada dirinya, namun malah tetap berbicara menantang. Jalangnya begitu berani. Dan inilah sikap yang disukai sekaligus dibenci juga. Membuatnya sangat ingin berikan pelajaran pada pelacurnya. "Aku tidak bisa memberitahumu hanya dengan kata-kata. Aku harus melihat langsung pada tubuh murahanmu." "Lebih baik sekarang kau segera buka semua pakaianmu dan telanjang, Jalang. Aku akan menyetubuhimu." - BAGIAN 06 (21+) - "Cepat ke dinding." Perintah Nicco adalah mutlak. Ia harus melakukan seperti kata pria itu. Dengan gerakan kaki yang cukup cepat, berjalan menuju ke tempat tujuan. Ia hanya perlu sepuluh langkah saja. Nicco mengikuti di belakang sembari melepas pakaian. Satu per satu terbebas dari badannya. Dan hanyalah celana dalam masih belum ditanggalkan. Paling akhir nanti, tepatnya saat sudah tiba waktu untuk bersenggama. "Atur posisimu dengan benar, Jalang." Yang Nicco maksud, yakni tubuh Drovy harus menempel ke dinding. Lalu, dua kaki wanita itu harus direnggangkan agar ia mudah lakukan penetrasi. Dan Drovy sudah tahu. Sungguh melihat wanita itu dalam gaya yang seperti diinginkan, tentu saja bisa membuat alirah darah berkaitan akan gairahnya menjadi kian bergelora. Kejantanan di balik celana dalam juga tambah tegang, tak muat lagi jika tidak segera dikeluarkan. Benda tersebut pun lantas dilepaskan dari dirinya. "Begini baru benar, Jalang." Nicco pun bisikan kalimatnya bernada sinis seraya meremas kuat kedua buah d**a Drovy. Tak ada tanggapan didapatkan. Bukan masalah baginya juga jika nihil respons dari wanita itu. Sikap lembut dan sopan Drovy tidak menjadi sesuatu yang wajib ditunjukkan padanya. Paling penting tentu saja adalah tubuh wanita itu, dalam alat untuk puaskan kebutuhan biologis. Tak ada yang lain. "Balikan badanmu, Jalang. Aku ingin menyetubuhimu bukan dengan doggy style." Nicco memerintah dingin. Sedetik kemudian, ia yang malah sudah lakukan sendiri. Gerakan pun cukup kasar membalikkan tubuh si jalang agar dapat menghadap ke dirinya. Lalu, dikungkung dengan jenis dekapan yang kuat agar tidak bisa bergerak. Memang, jalang kesayangannya tidak akan berniat kabur. Malah, tak satu pun menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Namun, sikap pasif Drovy selalu saja mampu membuatnya geram. Terutama, saat mereka berhubungan seks. Ya, bukan hanya kali ini semata, tidak ada respons lebih dulu ditunjukkan oleh jalang itu. Harus diberi perintah. Titahnya sudah pasti akan dilakukan. "Cium aku, Jalang." Tak sampai lima detik, apa yang Nicco katakan langsung mendapat hasil. Bibirnya dihisap, bukan dicumbu. Setiap cecapan terasa kuat, namun tak akan sampai menimbulkan luka pada permukaan mulut tebal miliknya. Malah, semakin nikmat. Tentu dapat dalam meningkatkan hasrat seksual. Sang jalang pandai melakukan hal apa pun berkaitan akan kegiatan ranjang. Bayang hubungan-hubungan seks yang telah mereka lakukan, seketika muncul di benaknya bak film-film erotis. Hasrat semakin tak terbendung. "Sial, Jalang. Aku sudah bernafsu." Selesai mengumpat dengan gaya bicara kasarnya, cumbuan pun dilanjutkan seraya menggerakkan tangan ke d**a sang jalang. Diremas secara bersamaan kedua bukit kembar wanita itu dengan kuat. Hanya satu menit dilakukan. Lalu, mulut bekerja. Tentu karena sudah digunakannya untuk menghisap putting sang jalang, ciuman pun harus disudahi. Namun tak dengan tatapan. Ya, mata tidak bisa berhenti terpusat pada sepasang netra milik seorang Drovy. Tak ada perubahan dari cara jalangnya itu memandang dirinya, tetap dingin. Hal tersebut tidak akan penting. Sebab, bagaimana pun reaksi jalangnya, mustahil akan mampu membuatnya jadi berhenti. Seks harus tercipta di antara mereka. Dan ketika merasa sudah cukup dengan serangan pada kedua buah d**a si jalang, ia pun memindahkan mulut ke bawah. Posisinya turut berubah. Dari berdiri tegap menjadi berjongkor agar memudahkannya dalam menyerang selubung hangat Drovy. Sebelum dipakai mulut dan lidah, kedua jemari sudah lebih dulu dimasukkannya. Tak terlalu basah. Dan tidak sampai semenit, sudah mulut yang dibawa ke selubung hangat sang p*****r. Langsung saja mengulum. Ada sensasi rasa senang setiap kali bisa melakukan oral seks, lalu menghasilkan o*****e yang tidak boleh gagal. Setelah itu, baru akan menciptakan hubungan seks yang membakar. Tidak hanya untuk hasrat, tapi amarahnya. - BAGIAN 07 (21+) - Semakin parah gemetar tubuhnya, amat bisa memengaruhi kedua kaki. Tepatnya masing-masing lutut yang jadi tambah lemas, sehingga terganggu berdiri. Kekuatan dalam menopang tubuh tidak bisa semaksimal biasanya. Dan bahkan beberapa kali seperti ingin terjatuh. Mungkin saja akan benar-benar dirinya terjerembab ke lantai, andai saja Nicco tidak kuat dalam menyangga badannya ditengah aksi ganas pria itu. Ya, mulut dan lidah Nicco bersamaan bergerak di selubung hangatnya dengan tempo semakin menggila saja. Untuk hal yang seperti ini, kerap pria itu lakukan sebelum berhubungan seks dengan dirinya. Tapi, tak dalam posisi berdiri. Biasanya akan di kasur. Kali ini yang berbeda, tentu perlu bagi Drovy beradaptasi. Dan, tidak dapat semudah itu dilakukan olehnya. "Ahhh." Jeritan spontan keluar dari mulutnya, saat organ intimnya di bawah sana jadi berdenyut hebat karena aksi Nicco yang kian mengganas dan tak terkendali. Sesuatu di dalam dirinya pun semakin besar ingin dikeluarkan. Tentu, ia tahu jika o*****e sudah tambah dekat. Benar saja, beberapa detik kemudian, klimaks pun menghantamnya. "Kau puas, Jalang?" Ingin sekali dilepaskan pegangan kedua tangan pada lengan-lengan kuat Nicco. Namun, ia akan luruh ke lantai, andai hal tersebut dilakukannya. Tentu, berpengangan dengan sang bos sama saja melukai harga diri sendiri. "Mau aku tambah atau tidak?" "Sepertinya kau kurang puas, Jalang? Aku akan bersedia memuaskanmu." "Sampai kau klimaks dengan hebat." Semua yang disampaikan oleh sang bos, masuk ke telinganya. Sebab, fungsi dari indera pendengaran masih sangat baik. Kontras akan mulutnya. Tetap dipilih untuk ditutup rapat, meski ada tuntutan segera membalas hinaan padanya. Lebih baik tak menjawab, dibandingkan harus meloloskan lenguhan keluar tak terencana. Hanya menambah masalah. Mulut masih bisa dikontrol, tapi tidak dengan gemetar pada tubuhnya yang bertambah karena serangan Nicco. Jemari-jemari sang bos tiada hentinya mengoyak tubuh bagian bawahnya. Malah semakin dalam, menuju pada titik-titik yang paling sensitif sehingga sensasi juga tidak bisa diabaikan. Menolak? Tak akan mampu. Ruang untuk melawan amatlah sedikit. Satu dorongan mustahil membuat sang bos untuk menjauh dari dirinya. Apalagi, ketika sang bos sedang beraksi seperti yang sekarang dilakukan, maka akan kian kecil kemungkinan untuk menghindar. Malah mulutnya kembali ingin meloloskan lenguhan karena intensitas serangan Nicco. Jika digambarkan, mulut panas disertai jemari-jemari panjang tiada henti bergerak di selubung hangatnya. Tak ada jeda semenit. Desakan di dalam diri tambah kuat. Harus dikeluarkannya segera. Jika tidak, maka akan terasa tambah menyiksanya. Tak bisa disembunyikan. Dan sudah pasti ia akan mengulang o*****e seperti tadi. Dikira akan beberapa menit lagi terjadi, tapi malah dalam hitungan detik saja. "Ahhh!" Mulut tak mampu dicegah untuk berteriak, walau di dalam hati sangat marah akan apa yan ditunjukkan ketika klimaks datang. "Kau puas lagi, Jalang? Sudah kuduga." "Aku tidak heran, kau akan selalu dapat menikmati pemanasan yang aku berikan." Nicco jelas sengaja berkata sinis. Dan tak mengherankan jika dirinya ditatap kesal. Jalangnya tetap akan menurut. Walau, sedingin apa pun sikap diperlihatkan. "Sekarang kita lanjutkan, Jalang." Efek o*****e yang masih dialami Drovy tak akan membuat Nicco berikan jeda bagi wanita itu bisa beristirahat. Terlebih lagi, dirinya semakin tegang dan butuh pelepasan segera agar tidak tersisa, terutama kejantanannya. Sudah semakin sesak di dalam celana. Dan tentu langkah pertama dilakukan adalah mengeluarkan benda kebesaran serta membuat dirinya jadi telanjang. Lalu, membawa sang p*****r ke kasur. "Kau akan tambah puas, Jalang." Setelah berbisik, kejantanan yang saat ini tengah dipegang, dibawa menuju ke mahkota sempit milik jalangnya. Satu sentakan kuat, sukses membuat penyatuan sukses dilakukan. Dapat dipenuhi secara keseluruhan. Tentu segera bergerak agar bisa lekas juga mencapai o*****e diinginkan. BERSAMBUNG .......... Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa) Pembelian : 1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000 2. Via k********a, link ada di bio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD