MENGGODA PAMAN TETANGGA

3514 Words
BLURB Jasmine Collins tak menyangka jika ia akan diberikan kesempatan oleh semesta untuk menginap di rumah paman tetangga seksinya, James Hollan. Tentu keinginan bertahun-tahun merayu pria itu akhirnya terlaksana. Cukup mudah menyeret James ke ranjang dengan godaannya. Tak masalah jika mereka terpaut sebelas tahun. Pria matang sangat berkharisma. Sangat b*******h untuknya. ================================ Part 01 "Mom dan Dad sedang di mana?" tanya Jasmine, saat sang ibu memberi tahu keberadaan saat ini yang tak di rumah. Tadi sudah sempat didengar lumayan kelas tempat disebutkan ibunya, tapi dilupakan hitungan beberapa detik. Yang penyebabkan tentu karena masih ingin memercayai jika ayah dan sang ibu ada di dalam dan akan keluar. Jasmine sendiri pun tengah berada di beranda depan kediaman orangtuanya. Sampai sekitar sepuluh menit lalu. "Apa, Mom? Sungguh di rumah Paman Rey?" Jasmine merespons spontan, satu detik pasca didapat jawaban ibunya. "Kalian baru tiba di sana dua jam yang lalu? Dan akan menetap selama satu minggu untuk membantu Bibi?" Ya, harus dikonfirmasi ulang sekali lagi agar sejelas-jelasnya bisa dipahami. Dan jawaban yang diperolehnya tetap sama. Jadi, tak akan ada perubahan. Malah kini, ditunggu tanggapan darinya atas balasan dikatakan. Bahkan, sang ibu memanggil namanya berapa kali. Lalu, sebuah pertanyaan pun diajukan oleh ibunya seputar dimana ia tengah berada sekarang dan dengan siapa. "Aku baru sampai di rumah, Mom. Aku tidak akan tinggal lagi di California. Aku mengundurkan diri dari pekerjaan." "Perusahaan itu kotor. Aku tidak akan sanggup bekerja di sana lagi." Penjelasannya dirasa sudah cukup saja dalam menerangkan keadaan serta alasan mengapa dirinya pulang. Dan mengenai kedatangan ke rumah masa kecilnya, tak diketahui baik oleh sang ibu ataupun ayahnya. Bukan bermaksud melakukan acara kejutan, tapi memang kepindahan dari California yang dilakukan mendadak. Tak lagi bekerja. Otomatis alasan untuk tinggal di kota itu juga tidak ada lagi. Ia lebih baik pergi ke rumah orangtuanya. Tentang, rencana masa depan, belum bisa dipikirkan untuk sekarang. Atau mungkin satu minggu kedepan juga. Benar-benar ingin rileks. Otak yang penuh akan bebas mesti disingkirkan. Setelah kewarasannya pulih, barulah akan diagendakan satu demi satu cara untuk memulai karier kembali. Tujuan hidupnya harus jelas. Tak ada yang bisa dihandalkan jika bukanlah dirinya sendiri mesti merencanakan. "Apa, Mom?" Jasmine spontan kaget akan pemberitahuan orangtuanya. "Mom sungguh-sungguh?" Siapa pun yang ada di posisinya, pasti akan bereaksi serupa dengannya saat mendapat kabar begitu mengagetkan. Ya, sang ibu memberi tahu jika tidak menaruh kunci cadangan di rumah. Itu artinya, tak ada cara untuk bisa masuk ke kediaman orangtuanya. Jadi, informasi buruk ini, sudah pasti membuatnya terkejut bukan main. Tak punya solusi untuk diambil. Terlebih lagi, sudah benar-benar lelah secara fisik karena perjalanan panjang. Ia ingin istirahat, tapi malah tidak bisa. "Aku harus bagaimana sekarang?" Jasmine buntu. Otaknya dalam kinerja yang paling buruk untuk berpikir. Sang ibu didengar menawarkan solusi, yakni memintanya untuk menghubungi seorang tetangga baik orangtuanya. Dan ketika nama si paman seksi disebut oleh sang ibu, tubuh Jasmine mendadak merinding di tempatnya berdiri. Detakan jantung juga mengencang. Ia bahkan tidak bisa melontarkan satu patah kata pun sebagai jawaban. Sedangkan, sang ibu masih mengoceh memberikan jalan keluar dari masalah yang harus segera diambilnya. Namun, tak berselang lama, sambungan telepon sudah berakhir di antara mereka. Sang ibu memutusnya Tetap tidak membuat Jasmine mampu menghilangkan keterkejutannya. Otak juga sudah mulai membayangkan dengan perlahan, satu per satu kejadian bisa dialami saat nanti bersama James. Apalagi, ia akan menginap di rumah pria seksi itu selama beberapa hari. Ya, Jasmine jelas akan menerima opsi pilihan ini yang dirasa paling masuk akal, dibanding mencari penginapan. Disamping karena jaraknya jauh, ia juga enggan mengeluarkan banyak uang. Harus berhemat, selama belum bekerja lagi. Kebutuhannya tak sedikit. "Hai, Jasmine!" Ditengah pikiran yang diseru banyak hal untuk dibayangkan, telinganya bisa tetap berfungsi dengan baik mendengar sapaan sarat persahabatan dari James. Suara pria itu jelas sangat dikenali. Dan ketika James sudah berdiri tepat di depannya dengan senyuman lebar yang manis, maka seluruh tubuh membeku. Mematung memandang pria itu. "Lama sudah tidak bertemu. Senang bisa bertemu denganmu hari ini." Jasmine berupaya keras mengerjapkan mata seraya mengangguk. Ia tak bisa hanya diam saja. Harus membalas. "Senang bertemu kau lagi, Paman." ============== Part 02 "Hei? Ada apa?" Bukan hanya pertanyaan diajukan oleh James, namun tindakan pria itu yang memegang tangannya, membuat dirinya tersentak dan merinding kembali. "Kau ada masalah?" Kepala digerakkan kaku untuk lakukan gelengan agar James tidak menaruh rasa curiga semakin besar padanya. "Tidak ada masalah." "Benar?" "Iya, Paman." Jasmine menjawab dalam nada sangat mantap guna meyakinkan. "Kapan kita akan ke rumahmu? Aku sudah lelah dan butuh istirahat." Jasmine berupaya mengalihkan topik agar tak kian kentara tengah gugup. "Ayo, kita ke rumahku." Jasmine hanya mengangguk pelan guna menanggapi ajakan James. Lalu, diambil kopernya, tapi pria itu lekas merebut. Menenteng benda tersebut menjauh darinya, tanpa merasa kesulitan. Diikuti James segera agar tidak terpisah dengan rentang yang banyak. Semakin dekat dengan kediaman James, maka tambah kencang kegugupan yang dirasakan Jasmine di dalam dadanya. Langkah kaki malah melambat. Kaku juga diajak berjalan, sehingga tertinggal cukup jauh di belakang James. Pria itu sudah jelas menyadari. Berbalik badan ke arahnya. Dan hal tersebut bisa membuatnya semakin menjadi gugup. Detakan jantung mengencang, seperti tengah menghadapi seorang hantu. "Ada apa?" Reaksi pertama adalah gelengan. Tidak bisa dipikirkan jawaban dikeluarkan. Fungsi otak sudah pasti ikut berkurang karena ketegangan perasaan sedang menyerang dirinya sampai detik ini. "Apa kopermu berat? Biar aku saja yang membawanya agar kau tidak sulit." Sedetik kemudian, benda dimaksudkan oleh James pun sudah berpindah dari tangannya ke pria itu. Gerakan kilat. Amat mustahil untuk dicegah. Dan tak mungkin juga sampai direbut kembali. Rasanya pasti tidak akan sopan. "Kau bisa berjalan dengan lancar." Hanya anggukan kecil yang bisa untuk ditunjukkan atas ucapan James. Lalu, salah satu kaki mulai dilangkahkan. Berusaha untuk mengikuti pria itu. Tentu menuju ke bangunan besar yang berlantai di depan mereka. Mungkin ada jarak sekitar delapan meter lagi harus dilalui untuk mencapainya. Berupaya digerakkan kaki lebih cepat. Ia tak mau sampai tertinggal lagi. Walau masih berada di belakang James. Butuh waktu tidak sampai lima menit, bisa menjangkau beranda depan. Pandangan terus tertuju ke sosok sang pemilik rumah yang tengah mencoba membuka pintu, dengan bantuan kunci. Tentu, mereka akan segera masuk ke dalam karena tak ada kendala. Satu helaan napas panjang dilakukan guna mengurangi kegugupan. Namun rasanya cara tersebut tak akan berhasil. Selama masih didekat James, maka tak akan mampu bersikap yang normal. Semua akan berjalan diluar kendali. Terutama ketegangan diri yang dapat membuat otak tidak berpikir jernih untuk menguasai keadaan. Minimal tak sampai menyebabkan hal buruk terjadi padanya. Namun sayang pengontrolan tersebut terlalu mustahil. "Ada apa? Sesuatu yang salah?" Telinganya masih dipasang dengan baik dan bisa mendengar pertanyaan James. Tentu, sudah dapat dipahami maksud pria itu. Ia kian malu karena senantiasa dinilai bersikap aneh di mata James. Sebagai balasan, kepala digelengkan dua kali dengan gerakan kecil. "Cuma tidak biasa menginap." Jasmine mengarang alasan yang dikiranya bisa masuk akal untuk dilontarkan. "Ah, bisa dipahami." Jasmine tak tahu harus berkomentar apa. Jadi, diputuskan hanya pamerkan anggukan pelan dan lebarkan senyum. Keheningan terjadi di antara mereka. Tapi, keduanya masih saling menatap. Jasmine bisa saja memutuskan kontak mata lebih dulu karena hantaman dari detak jantung yang semakin gila. Namun, ia tidak ingin melakukannya. James terlalu sayang diabaikan. Apalagi mereka amat jarang berjumpa. Jadi, ia harus memanfaatkan momen dengan baik untuk lebih dekat dengan pria itu. Lalu, tiba-tiba saja, tercetus sebuah ide jahil guna memastikan status James. Ya, apakah pria itu masih sendiri atau sudah memiliki tambatan hati baru. "Paman ...," "Iya, ada apa, Jasmine?" "Apa kau punya kekasih?" Jasmine pun dengan mantap melontarkan tanya. "Aku? Tidak punya." Jasmine diam. Namun di dalam hati, ia senang bukan main. Seakan mendapat lampu hijau untuk merayu James. ============== Part 03 Semalam, setelah masuk ke kamar yang diberikan James sebagai ruang tidur, ia tak lagi bertemu dengan pria itu. Sesi bercakap-cakap malam pun tidak ada, sesuai dengan apa yang dikira. Dirinya mendekam di dalam kamar pun sampai pagi datang. Tidur pun pulas selama hampir delapan jam. Amatlah puas dapat beristirahat, setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang dan melelahkan dari California. Badan tak terasa pegal lagi. Sangat segar sehingga bersemangat bangun pagi. Ya, Jasmine sudah keluar kamar tepat pukul tujuh. Ia tentu mandi dulu dan berdandan yang serapi mungkin. Pakaian dipilih hanya kaus serta celana panjang kain putih. Sudah jelas tidak akan menggunakan gaun panjang. Dirinya belum gila hanya untuk dapat tampil yang menawan di depan James. Riasan di wajah pun tak dipakai. "Dia di mana?" Pertanyaannya terlolos dari mulut, saat menyaksikan lantai satu yang sepi, tanpa ada orang. Memang, untuk memastikan jika James tak di rumah, harus pergi dulu ke ruang tamu dan juga areal dapur. Namun saat sampai di meja makan, ia mendapati sosok tengah dicari ada di sana. Tampak menyiapkan makanan. "Tidak sepi. Aku hanya malas bersuara karena fokus menata meja ini." Rasa panas langsung menyerang wajah Jasmine, sehingga menjadi mengalami beberapa detik napas yang tertahan. Namun, dengan buru-buru berusaha dikuasai diri dan memberikan reaksi atas celotehan dikeluarkan James. Bukan dengan kata-kata, tapi segera mendekat ke tempat pria itu. Membantu apa yang tengah James kerjakan. Ya, misalnya menata piring makan yang belum ditaruh dengan bagus oleh pria itu. Ia sudah lumayan biasa melakukan. Tentu, tak akan merasa kesulitan untuk menghasilkan penataan yang indah akan dilihat oleh mata mereka. "Aku pikir tidak ada siapa-siapa." "Ada aku yang tidak bersuara." James tertawa pelan. Jasmine tentu saja segera mengikuti tergelak, walaupun dengan perasaan masih sungkan. Lebih tepatnya ketegangan yang selalu akan muncul jika bersama James. Sialnya lagi, mereka sedang berdua saja sekarang. Tak seperti biasa, ada ayah dan sang ibu yang menemani. Ya, terakhir berkumpul dengan James, saat pria itu diundang makan malam bersama orangtuanya, sekitar delapan bulan yang lalu. Sudah cukup lama. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" "Kau bilang apa?" Jasmine bertanya ulang karena seperti salah mendengar. "Tidurmu nyenyak?" Pertanyaan yang mudah untuk dicerna. Sudah paham maksudnya. Lalu, kepala dianggukan. Masih dalam gerakan tak leluasa karena efek dari kegugupan yang belum bisa diatasi. "Aku kira kau tidak bisa tidur." "Bisa." Jasmine menjawab cepat kali ini. "Aku kelelahan. Jadi, aku bisa dengan mudah tidur, walau bukan di ranjang yang biasa aku tiduri," jelasnya. "Itu bagus." "Kalau kau tidak bisa tidur, aku akan menawarimu tidur bersamaku." "Kau serius, Paman?" Jasmine jelas tak menyangka akan celotehan James. Pria itu menyengir. "Aku bercanda." Jasmine yang tadinya semangat, tidak bisa menyembunyikan kekecewaan karena James tak bermaksud serius. Apalagi, pria itu terbahak-bahak. Sudah pasti tidak sungguhan mengajaknya. "Kalau aku mau bagaimana?" "Maksudku, mau saja aku ditemani kau tidur. Ranjangnya muat dua orang." Jasmine sangat percaya diri dengan rayuan terselubung yang dilontarkan. Ia ingin melihat reaksi dari James. Tentu berharapan pria itu akan dapat terpancing. Maka, rayuan lanjutan bisa direncanakan lebih banyak lagi. Namun, James hanya tertawa hingga kini, tanpa mengeluarkan barang satu pun patah kata sebagai komentar. Jasmine seperti harus menyerah. Tak menaruh terlalu tinggi asa pada James. "Kita bisa mencobanya." Jasmine yang masih memasang kedua telinga, jelas mendengar jawaban yang dilontarkan oleh James. Tak mungkin juga keliru dalam menangkap ucapan pria itu. Sial, ia lagi mendapat sinyal hijau. ============== Part 04 Jasmine sudah mulai bosan. Ia rindu akan kegiatan-kegiatan hariannya yang sudah seminggu ini tak dikerjakan. Memang, keputusan diambil berdasar kemauannya sendiri. Tak ada paksaan dari pihak mana pun, apalagi keluarga. Menyesali tindakannya baru sekarang? Sesungguhnya tidak karena ia pun telah penuh pertimbangan memutuskan. Jadi sudah bisa diterima segala konsekuensi. Hanya saja, kerinduan akan kenangan yang selama hampir beberapa tahun dilakukan, tak bisa enyah begitu saja. Tentu, akan perlu waktu juga untuk menyingkirkan semua memori. Kegiatan-kegiatan baru mesti disusun dengan cermat, sehingga akan menjadi rutinitas barunya yang menyenangkan. Pasti akan butuh adaptasi. Namun, hal tersebut bukan masalah besar baginya. Ia malah tertantang melakukannya. Jika bisa diatasi, maka yang mendapat manfaat sangat bagus bagi diri sendiri. Jasmine sangat meyakini bahwa apa pun yang dikerjakan dengan ketulusan hati, akan membuahkan hasil baik juga. Dan hanya perlu membiarkan waktu yang menentukan kapan akan sembuh. Kini, kerinduan akan masa lalu masih kerap menghantui. Namun, seiring lama ditinggalkan, pasti akan bisa hilang dari benak. Sampai nanti tak tersisa. "Kau sedang apa?" Kekagetan menyerang bukan karena pertanyaan dilontarkan oleh James, namun penampilan pria itu sendiri. James basah dan kotor. Hampir juga di semua pakaian dikenakan pria itu. Apakah James terjatuh di kebun? Atau mengalami kejadian buruk lainnya? Harus ditanyakan langsung agar tidak perlu menerka asal-asalan dan juga mengambil spekulasi sembarangan. Namun, belum sempat satu kalimat pun terlontar, James malah sudah menjauh darinya dengan pergerakan cepat. Karena merasa penasaran kemana pria itu akan pergi, diikuti di belakang. Sembari berjalan pelan-pelan, mata tak berpaling sama sekali dari sosok James. Mereka tiba di areal laundry yang dekat dengan kamar mandi luar lantai satu. Dijaga jarak agar tak sampai kehadiran dirinya mengganggu James serta segala kegiatan yang akan pria itu lakukan. Dan saat pria itu membuka atasan yang kotor, seluruh atensi pun tak mampu untuk dipindahkan dari James. Bahkan, debaran jantung kencang kala menyaksikan d**a bidang pria itu yang juga dilengkapi otot-otot perut indah. Badan James sangat atletis. Pasti butuh kerja keras untuk membentuknya. Bagaimana dengan yang lainnya? Apa juga akan terlihat menggoda? Terutama bagian pusat intim James, apa begitu menantang? Ia penasaran. Ingin pula disusuri tangan-tangannya di setiap jengkal tubuh pria itu, ketika tanpa menggunakan satu pun kain. Rasanya akan seperti apa? Sebatas ia bayangkan saja hasrat telah tergugah. Dan secara spontan, matanya menjadi lebih membeliak saksikan momentum James melepas semua celana. Tidak termasuk dalaman sebenarnya. Pemandangan yang sungguh menggoda dan imajinasinya kian dibuat liar. "Kenapa kau di sini?" Cengiran langsung ditunjukkan, walau James sangat kaget menyadari hadir dirinya tidak jauh dari pria itu. Sudah telanjur tertangkap basah, maka akan digunakan momentum ini untuk melancarkan rayuan lebih panas saja. "Aku? Ingin melihatmu telanjang." "Kau tidak akan membuka celanamu? Aku rasa itu cukup basah dan kotor." "Lebih baik kau buka, dibanding aset berhargamu rusak karena lumpur." Dengan celotehan-celotehan menggoda yang sudah dilontarkan, timbul rasa bangga akan kata-katanya sendiri. Dan lewat lisan belaka, tak akan cukup menyentak James tentang rayuannya. Ia harus memerlihatkan aksi nyata. "Tidak apa telanjang di depanku." "Aku juga akan buka baju dan celanaku agar kau merasa tidak sendirian saja telanjang." Jasmine bicara mantap. Tentu, tanpa keraguan pula melepaskan satu demi satu pakaian seperti sudah dikatakan. Pembuktiannya jelas nyata. Mata tak dipindahkan dari sosok James untuk melihat reaksi pria itu. Netra membeliak lebar menatapnya. "Bagaimana, Paman? Apa menurutmu aku punya tubuh yang indah?" ============== Part 05 "Paman? Kau kenapa? Apa kau kaget melihatku melepas pakaian, ya?" James tahu bahwa mata yang melebar, sudah jadi tanda kuat untuk tampak terkejut, namun ia tetap menggeleng. Bagaimana pun akan ditampik karena merasa pertanyaan diajukan Jasmine mengandung maksud tersembunyi. Dirinya pun tak tahu apa itu. Namun, firasat menyerukan agar ia berhati-hati. "Bukankah aku bilang ini adil?" "Kau telanjang, aku pun juga." "Apa kau tidak bisa paham, Paman?" James menggeleng segera. "Apa rencana yang kau punya? Aku tidak mau kau menyasarku." "Menyasarmu, Paman?" Bukan berarti Jasmine akan berbuat hal yang jahat kepadanya, seperti menusuk dengan pisau atau membunuhnya. Namun, kemungkinan besar wanita itu akan merayunya, menjadi paling besar ancaman bagi dirinya. Bukan sekadar asumsi yang tidak mendasar. James cukup hafal saat lawan jenis ada menaruh ketertarikan fisik padanya dan menciptakan kejadian tak terduga. Contohnya, cinta satu malam. Dari tindakan Jasmine, sudah ada tanda akan mengarah ke sana. Apalagi, ia tahu jika wanita muda itu menaruh sebuah rasa kepadanya sejak masa remaja. Kenapa ia tahu? Karena Jasmine sendiri yang mengungkapkan padanya. Dulu ditolak rasa suka wanita itu. Tak mungkin mengencani seorang yang masih berusia delapan belas tahun. Dikira masa lalu tidak akan berlanjut ke waktu sekarang, namun dugaan seperti meleset karena apa dilakukan Jasmine. Situasi diluar dugaan. Bahkan, belum terpikir cara bagaimana mengatasi agar tak sampai terjadi hal yang buruk. Sekali lagi ditekankan jika Jasmine akan mustahil membunuhnya. Wanita itu bukanlah seorang psikopat. Namun, apa hendak wanita itu lakukan masih belum bisa untuk diterima oleh otaknya secara penuh. "Menyasarmu seperti apa, Paman?" Pertanyaan lebih spesifik keluar dari mulut Jasmine, saat dirinya tak kunjung memberikan respons lanjutan. Dan ia akan tetap diam kali ini. "Ya, anggap saja aku memang benarlah ingin menyasar dirimu, Paman." "Lebih tepat, aku menyasar milikmu itu. Aku penasaran bagaimana rasanya." Arah atensi langsung tertuju ke bagian tubuhnya yang ditunjuk dengan jemari oleh Jasmine. Ternyata, kejantanannya. Dirinya merasakan sensasi aneh hanya dalam hitungan detik pasca memahami apa yang jadi keinginan wanita itu. Bercinta? Seks? Berhubungan intim? Semacam penyatuan tubuh di antara mereka yang menghasilkan kenikmatan seksual memuaskan satu sama lain. "Kau mau atau tidak?" Jasmine enggan basa-basi lebih lama. Dan mustahil James tak tahu maksud yang telah diutarakan cukup gamblang. "Jika kau mau, serang aku, Paman." "Atau jika kau tidak mau memulai, aku saja yang merasakan milikmu." "Akan kuberi waktu lima menit." Walau semua yang harus disampaikan telah sukses terlontar dengan lancar, perasaannya malah sungguh gugup. Akan terus tegang selama belum diberi jawaban oleh Jame atas tawarannya. Dipikirkan kemungkinan terburuk juga yakni gagalnya permintaan diterima. James menjauh darinya. Pertemanan mereka pun bisa saja merenggang. Andai benar-benar terjadi, ia pasti akan sangat sedih. Namun, setiap tindakan gila pasti memiliki konsekuensi besar. Pergantian detik demi detik pun terasa lambat. Apalagi, keheningan di antara mereka yang membuat situasi hening. Namun, ketika James berjalan perlahan ke arahnya, maka langsung bisa dirinya ambil kesimpulan, pria itu akan setuju. Sebelum James bisa menjangkaunya, ia sudah lebih dulu tiba di depan pria itu. Keterkejutan cukup menyerang, ketika James mendorongnya kuat ke belakang hingga tersudutkan pada dinding. Pria itu langsung menciumnya seraya salah satu kaki diangkat ke pinggul. Beberapa detik kemudian, dirasakan benda besar nan keras menerobos masuk ke selubung hangatnya. Butuh dorongan berulang karena ia tak basah, sampai pria itu dapat menyatu sempurna dengan dirinya. James langsung bergerak dalam tempo cepat. Ia pun tak bisa mengimbangi. Namun, tidak akan diam saja. Harus ditunjukkan bagaimana ia mendamba percintaan panas ini bersama James. Tentu akan diraih klimaks hebat. ============== Part 06 Setelah terjadi percintaan panas yang berulang di antara mereka, hal tersebut mampu menciptakan kedekatan intim. Dan itulah diinginkan Jasmine. Banyak mengobrol beragam bahasan dengan James, merupakan salah satu cara untuk tahu pria itu lebih dalam. Sejauh ini, sikap James menyenangkan. Selalu hangat dan perhatian kepadanya. Tentu, semua yang dilakukan oleh pria itu, membuatnya merasa senang. Dan sudah lama dimimpikannya. Kini, baru bisa terealisasi. Menyimpan perasaan bertahun-tahun, merupakan rahasia yang berat untuk Jasmine sendiri simpan rapat-rapat. Senantiasa pula dihantui keinginan mengungkapkan hati ke James. Namun tak ada keberanian melakukannya. Tentang kegiatan tidur bersama mereka pun masih bagaikan mimpi saja. Setiap memikirkan, sama sekali tak dipercayai. Sudah jelas semua dialaminya adalah kenyataan. Bahkan, sampai sekarang, ia masih tergiang-giang dengan momen panas yang telah mereka lakukan. Dibandingkan dulu, saat pertama kali tidur bersama James, tentu kemarin jauh lebih menggelora untuknya. Paman tetangganya itu sungguh seksi dan tahu bagaimana cara bermain di ranjang dengan amat memuaskan. "Kenapa kau tidak makan? Apa pastaku kurang enak menurutmu, Jasmine?" Pertanyaan diajukan James masuk ke kedua telinganya dan sukses buyarkan khayalan nakal di dalam kepalanya. Lalu, kepala digelengkan sebagai reaksi pertama. Dilanjutkan menyuap lilitan pasta di garpu yang dilakukan tadi. Dengan cepat dikunyah supaya dapat lekas pula ditelan. Lalu, meneruskan makan sampai pasta di piring habis. Lewat sikap ditunjukkan, sudah bisa dijadikan bukti bahwa disukai masakan dibuat oleh James untuk dirinya. Kenyataannya memang lezat. Hanya saja, fokus makan menghilang karena teringat akan kejadian kemarin. Dan tak mungkin diberi tahu James. Akan sangat memalukan jika sampai ia bercerita. Atau bahkan bisa ditertawai oleh pria itu karena dianggap konyol. "Jasmine?" Panggilan dengan nada lembut James, tentu membuatnya tambah merinding dan tersipu. Wajah juga memanas. "Makananku sungguh enak? Atau kau sungkan memprotes masakanku?" Jasmine menggeleng pelan. "Masakan Paman enak-enak saja. Tidak buruk sama sekali, kenapa aku harus protes?" "Sangat enak." Jasmine menekankan. Lalu, dilihat senyum menawan terbit di wajah tampan James. Membuat pria itu kian memesona. Ia tak bisa berpaling. James sepertinya tahu, sehingga tambah intens pula tatapan diarahkan kepada dirinya. Mereka beradu pandang. Senyuman semakin direkahkan. "Terima kasih, Jasmine." "Berterima kasih padaku? Karena apa? Aku sepertinya tidak melakukan apa pun yang bisa membantumu, Paman." Jasmine jelas kebingungan akan ucapan James. Arah dari pembicaraan pun tak bisa diterka. Jadi, pantas saja bertanya. Namun, pria itu belum menjawab apa pun. Hanya masih diam menatapnya dengan senyuman terus merekah. Sial, ia semakin gugup. Detakan jantung menggila juga. Entah apa akan bisa bertahan dengan tetap tenang. "Kenapa kau berterima kasih, Paman?" "Karena memuji makananmu enak?" Jasmine mengeluarkan apa yang jadi tebakannya. Siapa tahu benar. "Ada lagi." Jasmine menyipitkan mata. Belum bisa memahami jawaban dari James tengah mengarah kemana topiknya. Namun, tak akan ditanyakan. Mungkin pria itu belum selesai bicara karena menjeda seperkian detik untuk diam. Dan ketika James meraih tangannya guna digenggam, tubuh seketika terasa melayang. Jantung berdegup kencang. Hanya sentuhan kecil seperti ini, sudah mampu membuatnya salah tingkah. "Terima kasih untuk percintaan kita." Jasmine merinding mendadak. Ucapan James terdengar sangat manis. Mana mungkin dirinya tidak meleleh. Bahkan, langsung saja berhambur ke dekapan James untuk meraih sebuah rasa nyaman yang menenangkan. Pria itu tertawa sambil memeluknya. Sial, saling merengkuh seperti ini tidak akan membuatnya merasa bosan sama sekali. Mungkin menjadi candu yang selalu ingin dirinya lakukan. "Paman suka bercinta denganku?" "Suka." Satu patah kata yang melambungkan perasaannya semakin tinggi. Apalagi, pria itu masih memeluknya erat. "Seks denganmu memuaskan, Jasmine." BERSAMBUNG .......... Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa) Pembelian : 1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000 2. Via k********a, link ada di bio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD