Blurb
Violetta Amelo ingin membebaskan diri dari patah hati mendalam karena batal menikah.
Jose Green pun menawarkan malam-malam panas untuk mereka rasakan. Violetta pun menerima karena pria itu sangat seksi.
Awalnya hanya ketertarikan seksual, namun rasa tersebut berubah cepat menjadi cinta.
Violetta menginginkan Jose selamanya.
"Kau tidak seperti berusia empat puluh tahun. Kau sangat panas dan memuaskan, Tuan Jose Green. Aku tergila-gila padamu."
"Aku senang kau puas, Nona Violetta."
====================================
Part 01
Saat dering terdengar dari dalam tas, Violetta pun membuka mata. Ia harus menunda keinginan untuk tidur.
Lantas, diambil segera ponselnya yang baru saja ditaruh. Tak mungkin dirinya abaikan panggilan tengah masuk.
Ternyata dari sahabatnya satu lagi.
"Ada apa, Selena? Aku masih hidup."
"Kau dan Melly tidak perlu bergantian menghubungiku untuk memastikan jika aku tidak akan mencoba bunuh diri."
Keketusan dalam berbicara, berbanding terbalik dengan respons ditunjukkan oleh Selena. Sahabatnya itu tertawa.
Jika sudah seperti ini, maka percuma tadi dirinya memerlihatkan kekesalan.
Lebih baik diam, tak mengatakan apa pun lagi. Membiarkan Selena yang berceloteh, akan diladeninya.
"Aku tahu kau akan tetap waras."
"Kau tidak akan mungkin sampai mau bunuh diri karena kau patah hati."
"Benar sekali." Dilontarkan tanggapan dengan santai, walau tanpa tergelak.
"Maka dari itu, aku dan Melly berikan kau hadiah berlibur yang panas."
"Yang panas itu seperti apa?" Violetta menanyakan sebab merasa curiga.
"Kau akan tahu setelah kau bertemu dengan dia. Kau pasti akan suka, Vio."
"Siapa yang kau maksud?" Violetta pun merasa semakin penasaran. Dan enggan menebak. Lebih baik bertanya saja.
"Kau penasaran, ya? Hihihi."
"Aku jelas penasaran. Aku tidak mau masuk perangkap yang kalian buat."
Violetta memang tidak takut secara terang-terangan mengungkapkan apa yang menjadi kecemasannya.
Terkadang, tindakan dari kedua kawan baiknya tak bisa diduga-duga. Apalagi, jika mereka merencanakan kejutan konyol, pasti tidak terdeteksi olehnya.
"Perangkap? Hei, kami tidak jahat."
"Justru kami ingin membantumu, Vio."
Violetta mengernyit. "Membantuku?"
"Membantumu mencari jodoh."
"Kau tidak akan terus menyendiri kan? Kau juga butuh pasangan, Kawan."
"Aku punya kenalan untukmu, Vio."
"Siapa?" Violetta masih curiga.
"Dia salah satu pria yang seksi. Dia itu teman baik dari kakakku. Kau pasti akan suka karena dia juga begitu."
Violetta sebenarnya belum bisa paham atau menerima jawaban sang sahabat. Namun, malas bertanya lebih lanjut.
Akan dilihat apa saja akan terjadi nanti selama berlibur di California. Lagi pula, tak mungkin para sahabatnya jahat.
Selama belasan tahun bersahabat, tentu belum ada tindakan mereka yang dapat merugikannya. Sebagian besar punya tujuan baik dan menyenangkannya.
Tentu, dilakukan dengan versi mereka. Walau akan membuatnya kaget.
"Bagaimana? Kau setuju, Vio? Kau coba dulu dan hitung-hitung sebagai hiburan untuk melupakan masalahmu."
"Kawanku, kau masih mendengar yang aku bilang bukan? Atau sudah ka--"
Ya, Violetta memilih menghentikan saja celotehan sang sahabat dengan cara memutus sambungan telepon mereka.
Jika semakin lama dibahas, rasanya ia akan diserang pening mendenyutkan kepala. Perasaan juga terganggu.
Setiap ada bahasan mencari pasangan baru, pasti pengalaman buruk terakhir menyangkut kegagalan menikah, akan membayang di dalam kepalanya.
Ting tong!
Ting tong!
Ting tong!
Bel vila berbunyi. Sudah jelas tengah ada orang di luar sana. Siapa yang datang? Apakah pria itu?
Rasa penasaran Violetta tentu cukup besar. Dan untuk menuntaskan, ia pun harus memastikan secara langsung.
Dengan begitu, ia baru bisa menilai.
Entah mengapa, detakan jantung jadi mengencang saat memegang gagang pintu, seolah ada hadangan besar di depan pintu yang siap menggembur.
Dan ketika sosok pria tampan dengan tubuh tinggu atletis tertangkap oleh matanya, sorot bahaya langsung terasa.
Dirinya termangu seperti patung.
"Hallo."
Hanya ditunjukkan senyuman ramah untuk menjawab sapaan si sosok asing yang begitu menawan di depannya.
Lalu, pria itu mengulurkan tangan.
"Namaku Jose Green. Umur empat puluh tahun. Belum menikah."
Ditengah ketegangan yang mendera, ia spontan tertawa karena sesi perkenalan yang dilakukan oleh si pria asing.
Lalu, jabatan tangan pun diterima.
"Aku Violetta Amelo. Umur dua puluh lima tahun. Aku baru saja patah hati karena gagal menikah," ujarnya mantap.
==============
Part 02
Perjalanan panjang dari Benua Eropa ke Amerika, tentu memakan waktu lama sehingga menimbulkan lelah.
Setelah sampai di resort, Violetta pun memutuskan untuk beristirahat.
Benar-benar tidur yang nyenyak selama lebih dari delapan jam. Durasi panjang untuk mengumpulkan energi kembali.
Setelah mandi, tubuh kian segar. Siap menikmati liburan di California.
Memang hari ini, tidak akan pergi ke tempat-tempat wisata. Hanya tinggal di resort paling dan bersantai-santai.
"Selamat malam."
Tak semata diserang kekagetan karena mendapati banyak makanan di meja makan, namun juga ada sosok Jose.
Jika saja tak memakai celemek tanpa kaus, maka dirinya tidak akan merasa terlalu terkejut melihat pria itu.
Sialnya lagi, dirinya cukup terpana akan otot-otot perut Jose yang terbentuk sempurna. Memanjakan matanya.
"Selamat malam, Miss Violetta."
Kesadaran langsung menyentak, saat mendengar Jose melontarkan sapaan lagi. Suaranya semakin lembut saja.
Dan ketika beradu pandang, didapatkan senyuman yang manis dari pria itu.
Terlihat menawan baginya.
"Selamat pagi juga." Disapa balik dalam nada ramah. Tersenyum cukup lebar.
Namun kemudian luntur karena ingat jika salah mengucapkan salam. Jelas harus diralat agar tak kian merasa malu. Sekarang saja, ia sudah tersipu.
"Maksudku, selamat malam." Dengan mantap dilontarkan sapaan ulang.
Cengiran dilebarkan, saat mendengar tawa renyah Jose yang menggoda. Suara berat pria itu teralun seksi di telinga.
"Kau bisa tidur dengan nyaman?"
Satu anggukan dilakukan. Tak disertai penjelasan apa pun. Lalu, berjalan ke arah meja makan yang lebih dekat.
Hanya ingin berdiri awalnya. Namun karena Jose menariknya salah satu kursi untuknya, maka ia langsung duduk.
Pria itu pun menyusul. Menempatkan diri tepat di sampingnya, sehingga bisa dihirup aroma parfum Jose.
"Kau suka sandwich? Aku hanya bisa memasak ini tanpa bantuan chef."
"Kau membuatnya sendiri?" Pertanyaan balik diajukan sebagai respons.
"Hanya ini yang bisa aku masak, Miss Violetta. Sisanya tidak ada lagi."
Jose tertawa, maka ikut dilakukan. Dan bisa dibilang jawaban pria itu lucu.
Apa adanya bicara, tanpa takut akan terlihat tidak disukai. Jose malahan tampak sangat percaya diri mengakui salah satu hal dianggap kelemahan.
Siapa tak akan terpesona? Tipikalnya memang pria jujur dan juga menawan seperti Jose ini, amat maskulin.
"Kau memikirkan apa tentangku?"
"Memikirkanmu?" Violetta antara kaget dan merasa bingung akan pertanyaan yang diajukan oleh Jose tiba-tiba.
"Aku rasa kau memikirkanku karena kau terus memerhatikanku."
"Benarkah? Tapi aku tidak memikirkan dirimu seperti yang kau pikirkan."
"Apa tidak suka memikirkanku?"
Violetta terkekeh. "Suka. Kenapa tidak? Kau lumayan menyenangkan."
"Aku senang dipuji, Miss Violetta."
Baiklah, Jose hanya mengungkapkan jawaban apa adanya. Namun terdengar lucu cara pria itu dalam berkata-kata.
Kesan percaya diri yang begitu nyaman dan tanpa beban. Benar-benar menjadi daya pikat utama pria itu di matanya.
Belum lagi, tersenyum dengan begitu manis, tanpa dibuat-buat hanya untuk membuatnya merasa kagum.
Jose bersikap apa adanya. Daya tarik yang menurutnya sangat memikat.
"Aku memikirkanmu."
Violetta jelas tak sampai salah dalam memasang telinga untuk mendengar apa yang diucapkan oleh Jose Green.
Menelan ludah seketika sulit dilakukan, apalagi melontarkan jenis sahutan yang lantang sebagai balasan darinya.
Namun, jika hanya diam saja, ia pasti dikira tak akan suka akan apa yang telah pria itu lontarkan.
Dan ketika Jose mendekat, napas seperti terhenti untuk beberapa detik. Debaran jantungnya mengencang pula.
"Aku memikirkanmu dari semalam."
"Aku tertarik padamu, Miss Violetta."
"Apa kau bersedia bermalam dengan diriku? Aku menginginkanmu."
Violetta benar-benar tegang, ia tak bisa berkedip barang satu detik pun. Mulut juga menutup rapat, tak akan dijawab apa yang baru saja diminta Jose.
==============
Part 03
"Astaga, Violetta!"
Seruan sang sahabat yang sebenarnya cukup memekakan telinga. Namun, ia malas membuka earphone dipakainya.
"Oh, God, Sahabatku!"
Setelah Selena, kini Melly menyusul.
Sudah tentu dalam upaya meniru apa yang dilakukan kawan mereka tadi.
Mereka berdua kompak dan juga sangat berniat untuk mengejeknya dengan mengeluarkan seruan kencang.
Cara yang provokatif memancingnya, tapi ia tidak akan bisa menunjukkan kekesalan karena tengah butuh saran.
Hanya Selena dan Melly andalannya.
Masukan apa pun dari kedua kawan baiknya akan didengar. Namun sampai detik ini, belum satu pun diberikan.
Bisa ditanyakan kepada Selena serta Melly tentang keputusan seperti apa baiknya diambil, tapi tak dilakukan.
Malas saja akan diejek lagi oleh mereka.
Memang dalam konteks berguyon, tapi untuk urusan tertentu, rasanya tidak perlu diterapkan hal seperti itu.
"Kau bodoh kalau kau menolak."
"Jangan buat kesalahan yang sama. Kau harus lebih pintar untuk masalah yang seperti ini demi kepuasanmu juga."
"Kepuasaanku, ya?" Violetta merasa tertarik akan ucapan Selena.
"Kau sudah lama tidak mendapatkan kepuasaan seksual. Kami mau liburan kau kali ini, kau mendapatkannya."
"Benar kata Selena. Aku setuju. Dan aku rasa Jose adalah pilihan paling tepat."
"Jadi, aku harus apa?" Violetta tanyakan lagi karena belum bisa memahami.
"Kau harus menerima tawaran dia. Kau kira kau boleh menolaknya, ya?"
"Selena benar lagi. Awas saja kau tidak mau, kau akan kami musuhi, Kawan."
Kedua sahabatnya sudah mengancam. Ia harus menurut artinya, jika tak mau mereka melakukan rencana lanjutan.
Selena dan Melly, tak mungkin tidak punya misi lain, andai gagal dalam membuatnya mau mengikuti rencana.
"Kau dengar bukan, Kawan?"
Cih, nadanya kian mengancam.
"Kami serius. Jadi, kau juga harus bisa menanggapi dengan serius permintaan kami. Kau mengerti, Violetta?"
Dua lawan satu. Mana yang menang? Sudah jelas keinginan dua sahabatnya.
"Astaga, sampai kapan kau akan diam saja dan tidak menyetujui usul kami?"
"Bisakah kalian sabar? Aku masih mau memutuskan akan bagaimana."
Violetta sudah cukup lelah mendengar celotehan kawan-kawannya yang selalu saja saling menyambung mendesaknya.
Sial, ia malah kian bingung.
Seperti sedang menghadapi masalah pelik, padahal hanya sekadar tawaran manis dari Jose untuk tidur dengan pria itu, bukan mengajak menikah.
Lagi pula, ia sudah beberapa kali juga pernah berhubungan intim bersama lawan jenis yang adalah kekasihnya.
"Kau harus terima, anggap saja kau itu sedang bersenang-senang. Jangan dulu berharap asmara yang serius."
"Aku sudah berusaha keras agar dia mau memperhitungkanmu, Violetta."
Saat pintu kamar dibuka dari luar, ia pun segera mematikan sambungan telepon dengan kedua sahabatnya.
Tak lama, sosok Jose pun muncul.
Violetta langsung termangu melihat penampilan seksi pria itu tanpa ada atasan yang menutup bagian d**a.
Menelan ludah pun terasa susah untuk dilakukan, apalagi memamerkan jenis senyuman yang lebar tanpa kikuk.
Namun, ia tetap berusaha karena tidak mau sampai ketahuan oleh Jose. Bisa saja pria itu berpikiran macam-macam.
"Kau sedang apa? Aku mengganggu?"
Reaksi pertama yang ditunjukkannya adalah gelengan. Gerakan kepala kaku.
Napas kembali tercekat untuk seperkian detik. Selalu sama respons yang dialami saat merasakan ketegangan seperti ini.
Apalagi, Jose semakin mendekat. Jarak di antara mereka hanyalah tersisa satu jengkal yang rasanya seperti menempel.
"Sungguh aku tidak mengganggu?"
"Iya." Bisa dilontarkan sepatah kata kali ini, walau dalam suara pelan.
"Apa tawaranku sudah dipikirkan?"
"Soal tidur bersama."
Violetta tak perlu menanyakan bahasan tengah dimaksud karena Jose sudah mengungkapkan sendiri begitu terang.
Pria itu seperti sangat serius. Tentu, ia yang kini harus memberikan jawaban.
Tak boleh dibuat Jose menunggu lama.
Satu anggukan pelan pun dilakukannya untuk mengiyakan ajakan pria itu.
==============
Part 04
Drrttt ....
Drrttt ....
Drrttt ....
Saat mata membuka dan tersadar jika tertidur di sofa ruang tamu vila, Violetta pun berusaha bergegas bangun.
Baru kemudian, mengambil ponselnya yang masih berdering. Tandakan bahwa sambungan telepon belum berhenti.
Dilihat dulu siapa tengah menghubungi dirinya pada layar. Dan ternyata salah satu sahabat baiknya, Selena.
Jika sudah dari kawannya, maka tidak akan mungkin bisa untuk diabaikan.
Namun lebih dulu memilih pindah ke kamar, apalagi semakin menyadari ia tengah berada sendirian di vila.
Sosok Jose yang ditunggu-tunggu sejak sore tadi, tak kunjung juga datang.
"Dia tidak akan pulang?" gumaman pun terlolos, setelah dapat memikirkan satu kesimpulan di dalam kepalanya.
Namun kemudian, ditolak sendiri. Tak mau menerima begitu saja tanpa ada informasi sejelasnya dari Jose.
Ya, jika pria itu menelepon dan bilang demikian, baru bisa disimpulkan.
Kini yang harus dilakukannya adalah segera menghubungi Jose. Tentu untuk bertanya apakah pria itu akan datang?
Merasa malu? Lumayan.
Namun, jika tidak menelepon, maka tak akan terjawab rasa penasarannya. Dan malah menyebabkan ada pikiran lain.
Violetta pun bukanlah orang yang suka ketidakpastian. Lebih baik menerima berita jelas, dibanding diam-diam saja.
Ketiks ponsel baru diambil, didengar suara pintu dibuka. Tanda yang jelas jika ada seseorang di luar sana.
Violetta memilih lekas menuruni kasur.
Namun semeter lagi menjangkau pintu, ia justru kaget karena melihat sosok Jose yang sudah kembali datang.
Ya, tadi mereka tak jadi bercinta sebab pria itu memiliki urusan mendadak.
Kini, Jose sudah ada di depan dirinya lagi. Namun tak bertelanjang d**a.
Pakaian pria itu justru sangat rapi.
"Apa kau menungguku?"
Violetta sudah telanjur mengangguk dengan gerakan spontan, maka ia pun melihat Jose yang berjalan mendekat.
Tepat setelah berdiri di hadapannya, pria itu pun meraih dirinya. Diangkat.
Pergerakan sangat cepat, sehingga ia lumayan kaget akan apa dilakukan.
"Kau siap bercinta denganku?"
Ingin dijawab, namun mulut telah Jose bungkam dengan ciuman panas.
Saat merasakan tubuhnya mendarat di ranjang, ketegangan bertambah.
Mata tetap memejam, walaupun bibir sudah berhenti dipagut oleh Jose.
Dirinya seperti gadis remaja saja yang baru akan pertama kali berhubungan intim, padahal usianya sudah dewasa.
Mungkin karena faktor lama tak pernah lagi bercinta, membuatnya merasa gugup untuk melakukan lagi.
Namun, pantang mundur. Apalagi, ia penasaran bagaimana akan aksi Jose.
Tubuh kian merinding, selepas celana menutupi tubuh bagian bawahnya dicopot oleh Jose. Benar-benar semua.
Pasti, mahkota berharganya saat ini telah disaksikan pria itu. Jose bersiul.
Panas menjalar di wajahnya.
"Kau sangat indah."
Tepat setelah didengar pujiam manis dari Jose, dirasakan telapak tangan hangat pria itu di pangkal pahanya.
Dirinya tambah bergidik.
Lalu, jeritan spontan keluar manakala dua jemari panjang dilesakkan pria itu masuk ke lembah basahnya.
Sial, ditenggelamkan Jose cukup dalam.
Pria itu seakan sudah tahu titik-titik mana saja yang dapat mengguncang hasratnya. Rasanya memang nikmat.
Kedua kaki dibuka tambah lebar, saat pria itu mendaratkan kepala di sana.
Ya, mata sudah dibuka dari beberapa menit lalu, sehingga dapat disaksikan setiap aksi tengah Jose lakukan.
Sesapan, lumatan, belaian, bahkan juga gigitan, sangat terasa di bawah sana.
Entah dengan mulut atah lidah panas digunakan Jose menyerang, sensasi yang dihasilkan sungguh menerbangkannya.
Desakan begitu familier diakibatkan oleh serangan Jose, terus bertambah. Ia harus keluarkan jika tak ingin tersiksa.
Gempuran pria itu tiada henti.
Orgasme yang sudah lama dirindukan, akan diperoleh dengan hebat sepertinya jika Jose terus menyerang dahsyat.
Dan ketika dirinya sudah berada pada ambang batas hasratnya. Seluruh tubuh menegang. Siap menyambut klimaks.
Berusaha untuk tenang, namun ia justru mendesah panjang dan gemetar.
==============
Part 05
"Kenapa aku sangat gugup?" gumam Violetta setelah sampai di depan pintu kamar. Tangan masih memegang knop.
Sedetik kemudian, ada bisikan di indera pendengarannya yang bagian kanan. Ia diperintahkan untuk tidak keluar.
Tetap berada di ruangan selama satu jam kedepan supaya tak perlu dihadapi Jose yang tengah menunggunya.
Acara sarapan bersama mereka tentu juga harus dibatalkan, begitu konklusi muncul di dalam kepala Violetta.
Bukan hal yang diinginkan sejak tadi.
Ya, dari bangun tidur, sudah terbersit keinginan bicara dengan Jose tentang apa yang telah mereka lakukan.
Rasanya perlu diluruskan? Begitu niat Violetta karena kemarin seperti sebuah kekeliruan terlibat percintaan panas.
Namun, bukan kesalahan ada pada Jose.
Dirinya yang memulai? Seingat memori masih tersimpan soal kejadian kemarin, tentu ia memulai ciuman mereka.
Setelah itu, Jose memimpin sampailah tercipta seks panas di antaranya dan pria itu yang memuaskan.
Mereka tentu melakukan dengan rasa sadar amat besar. Tak tercium satu pun bau alkohol dari mulut Jose semalam.
Namun, tetap terasa tak pantas untuk Violetta tentang apa yang mereka telah lakukan, walau sama-sama ingin.
Dirinya dan Jose tidak punya hubungan apa pun yang spesial, misal menjalin asmara. Tapi, sudah tidur bersama.
"Violetta? Kenapa di sini?"
Rasa kaget jelas mengguncang karena tepat di hadapannya, berdiri dengan jangkung sosok Jose. Jarak amat dekat.
"Kenapa kau di sini? Apa ada masalah?"
Violetta masih diam. Bukan karena tak punya jawaban. Ia justru telah memiliki balasan sejak tadi ada di kepala. Namun ia ragu melontarkan atau tidak.
"Nona Violetta?"
"Aku menginginkanmu lagi, Jose."
Tepat setelah menjawab, jarak mereka pun dipangkat. Lalu, dimulai cumbuan.
Violetta berusaha merangsang. Tak mau hanya berhenti dengan cumbuan di mulut mereka. Ingin disentuh lebih.
Seraya terus memagut panas dan juga menggoda lidah Jose, tangan-tangannya sudah dibawa masuk ke kaus pria itu.
Menyasar d**a bidang Jose.
Kulit terasa sedikit kasar, tapi otot-otot padat terbentuk begitu menggoda untuk disentuh. Ia pun membelai-belai halus.
Didengarnya suara desahan keluar dari mulut Jose, disela lumatan pria itu.
Tangan lebih diturunkan. Menuju ke perut, hingga bagian paling bawah, yaitu benda kebesaran Jose.
Di balik celana jeans dikenakan pria itu, ia bisa merasakan cukup nyata adanya ketegangan pada kejantanan Jose.
Saat ide jahil muncul untuk memegang bukti gairah pria itu secara langsung, ia malahan mendapati ciuman di antara mereka berakhir. Disudahi oleh Jose.
Pria itu menatapnya lekat dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Netra Jose begitu terbakar oleh hasrat seksual.
"Aku ingin merasakanmu."
Violetta lekas mengangguk. Tentu saja menunjukkan kesetujuan atas apa yang diminta oleh Jose. Ia pun sama.
Percintaan mereka harus dituntaskan.
Sebelumnya, hanya dirinya yang meraih klimaks sendirian. Rasanya tak adil.
Violetta pun langsung memeluk Jose, kala pria itu menggendongnya.
Mereka b******u lagi.
Namun, tak lama harus disudahi karena telah sampai di ranjang yang empuk.
Jose langsung membaringkannya. Pria itu juga dengan gerakan yang amatlah cekatan melepas pakaian miliknya.
Jose melakukan hal sama. Telanjang pun dalam hitungan detik saja.
Benda kebesaran pria itu yang sudah amat tegang, lantas diarahkan pada miliknya di bawah sana.
Kegugupan menyerang, namun sebisa mungkin tetap rileks agar percintaan mereka berjalan sebagaimana mestinya.
Satu sentakan kuat, cukup membuat Jose berhasil memenuhi dirinya.
Dengan cepat pria itu bergerak. Ia pun berupaya menggoyangkan pinggul menyamai apa dilakukan Jose.
Percintaan mereka harus menghasilkan klimaks hebat dan kepuasaan maksimal yang akan membekas selamanya.
Gairah mereka merongrong dengan kuat, mustahil tak bisa meraih o*****e luar biasa dengan kemahiran Jose di ranjang yang sudah pasti teruji.
Violetta percaya pria itu sepenuhnya.
BERSAMBUNG ..........
Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa)
Pembelian :
1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000
2. Via k********a, link ada di bio.