BULAN MADU BERSAMA BOS

3121 Words
BLURB Bulan madu bersama sang bos yang sekaligus juga mantan kekasihnya, tak berjalan lancar sesuai harapan Lyssa. Nocc berulah. Meminta persyaratan nakal sebelum menerima ajakannya. Memberi ruang pada pria itu, sama saja membangkitkan kembali hasrat yang terpendam setelah mereka berpisah. Dan, keduanya ternyata masih punya gairah besar untuk satu sama lain. Semakin tak terelak setelah mereka sepakat untuk tidur bersama kembali. Lyssa Edward butuh Nocc Johnson menyembuhkan lukanya karena telah gagal menikah. Sang bos pun sangat bersedia menjadi sandarannya. Bahkan, menawarkan diri sebagai suami pengganti bagi Lyssa. ..................... "Bos, kau memesan kamar kelas satu selama kita bulan madu di kapal pesiar ini? Kau jangan gila. Aku tidak sanggup membayar semua tagihan nanti." "Aku suka ranjang di kamar ini, Lyssa. Sangat empuk dan luas untuk kita berdua bercinta berjam-jam." "Bagaimana aku membayar semua tagihan nanti? Aku bisa mati, Bos." "Kau lupa aku sangat kaya, Lyssa?" **************************************************** — BAGIAN 01 (21+) — "Aku batal menikah." "Tapi, aku tidak rela tiket bulan madu berlibur di kapal pesiar hangus karena aku sudah membayar lumayan mahal." "Tapi, aku juga tidak mau pergi sendiri. Maka dari itu, aku mengajakmu, Bos." "Kau mau ikut bukan? Aku akan buat liburan kita panas selama dua minggu." Tepat setelah menyelesaikan satu patah kata terakhir dalam kalimat pesannya, tarikan napas panjang dilakukan. Lalu, diembuskan dengan cepat. "Ya, Tuhan, berapa tidak tahu malunya aku!" Lyssa berseru lantang sembari memejamkan mata dengan erat. Lalu, kepala diarahkan ke dinding. Ingin dibentur-benturkan supaya otak dapat kembali berfungsi secara normal. Harusnya sudah, karena efek mabuk pun telah hilang. Apalagi, rasa malu di dalam dirinya berhasil menyerang. Ya, tentu ada penyesalan yang tak bisa dihindari akibat bertingkah konyol. Dan hanya sebatas itu. Tidak akan mampu untuk melakukan apa-apa. Dalam artian, membatalkan semua yang telah terjadi. Ia tak punya mesin waktu dan balik ke kejadian dini hari tadi. Hanya bisa meratapi dengan segenap rasa malu yang membuatnya merasa sudah sangat bodoh. Walau kenyataan, ia tipe orang suka t***l saat bersikap. Tak bisa berkaca dari masa lalu. Selalu saja optimis jika keberuntungan dalam hubungan akan didapatkannya. Harapan indah dan khayalan manis, tak sejalan dengan kenyataan menyakitkan. Kekecewaan mendalam adalah akhir dari semuanya. Tidak tersisa apa-apa. Sesal pun menghantui. Mengajaknya untuk berandai-andai. Namun sekali lagi, mustahil mendapatkan manfaat. Ting tong! Ting tong! Ting tong! "Astaga, kenapa suaranya sangat keras sekali? Nyari saja aku jantungan!" Ya, begitulah reaksi pertama mendengar suara bel rumahnya berdering. Tak lama karena harus segera bukakan pintu untuk siapa pun yang datang. Kurang dari semenit, sudah bisa dilihat sosok berada di beranda depan rumah sederhananya. Mata membeliak. Bagaimana tak kaget menyaksikan sang bos sekaligus berstatus sebagai mantan kekasihnya yang ternyata datang. "Bos? Kenapa ada di sini?" Hendak dilontarkan pertanyaan lagi, tapi ia malah mendapatkan dorongan kuat ke belakang dan tak bisa dicegah. Walau terkaget-kaget, perlawanan pun akan nihil dilakukan. Jadi, pilihan yang tersisa hanyalah mengikuti saja. Dan mereka berhenti di dinding, letak dekat dengan pintu utama rumah. "Kenapa kau kemari, Bos?" Harusnya ditanyakan alasan mengapa sang bos mengungkungnya ke dinding, namun malah kalimat tersebut keluar. Otak mulai tidak bekerja dengan baik? Sepertinya begitu karena efek aksi dari Nocc yang begitu tak terduga kepada dirinya. Apalagi, berlangsung cepat. Dan sampai detik ini, belum bisa untuk ditunjukkan reaksi perlawanan. "Jadi atau tidak?" "Jadi atau tidak? Soal apa?" Lyssa pun kembali gagal paham pertanyaan yang telah diajukan kepadanya. "Bulan madu manis kau janjikan." "Eh, apa?" Mata sang mantan kekasih jadi lebih melebar setelah diberikan jawaban. Dan reaksi diperlihatkan Lyssa pun sukses membuatnya gemas akan wanita itu. "Sial, Sayang. Kau sangat manis." Kalimat yang baru didengarnya, seperti sebuah pujian. Ia ingin membalas, tapi mulut malah dicium oleh sang bos. Tubuh seketika menegang. Hanya sebatas itu reaksinya, tidak ada upaya untuk menghentikan sama sekali cumbuan dilakukan pria itu. Berlangsung cukup lama ternyata. Tentu, semakin lama durasi, maka kian besar kemungkinan hanyut dengan ciuman diterapkan oleh sang bos. Apalagi, mulutnya terus dilumat bak tengah menyantap makanan enak. Dirinya juga ingin merasakan bibir pria itu. Apa masih sama seperti dulu. Ketika ingin dilakukan, kekagetan justru menyerangnya karena gaun tidur yang tengah dipakai telah terlepas. Setelah itu, mulutnya berhenti dikulum oleh sang bos. Cumbuan berhenti. "Kau tidak pakai bra saat tidur?" "Ti ... tidak ..." dijawab terbata-bata. "Payudaramu semakin besar dari yang terakhir aku lihat. Boleh aku coba?" "Eh apa?" Padahal, Lyssa ingin melontarkan lagi jawaban, namun aksi sang bos yang menjilat salah satu buah dadanya pun menjadi penghalang besar. Malah fokus akan apa pria itu tengah lakukan. Ia mengharapkan sentuhan lebih sensual yang sangat nikmat. "Boleh aku hisap milikmu, Sayang?" — BAGIAN 02 (21+) — "Ya atau tidak?" Sedetik selepas mendengarkan bisikan mesra Nocc di telinganya, maka baru disadari jika aksi sang bos selesai. Sialnya, ia sudah telanjur hanyut akan sentuhan Nocc di payudaranya. Apalagi sensasi kenikmatan yang dihasilkan oleh mulut nakal ganas pria itu. Kedua puncak buah dadanya pun terasa kian tegang. Masing-masing p******a juga lebih keras dibanding tadi. Tentu, semua karena efek dari aksi yang telah dilakukan sang mantan kekasih. "Cepatlah jawab apa maumu, Sayang." "Akan aku pastikan, kau akan dapatkan apa yang mau itu. Aku akan memenuhi dengan senang hati agar kau senang." Setiap kata terluncur dari mulut Mocc, mampu menyebabkannya merinding. Pria itu juga embuskan napas di daun telinganya. Terasa geli, sudah pasti. "Lyssa ...," "Hmm?" "Kau bisa percaya dengan semua yang aku katakan bukan, My Baby?" "Ya." Lyssa menjawab mantap. Matanya telah berpandangan dengan netra biru langit Nocc yang semakin memikat. "Bagus, Sayang." Selesai menanggapi. Sang bos kembali beraksi. Namun bukan di payudaranya. Sudah turun ke pangkal paha. Ia tahu dan paham apa akan disasar Nocc. Tubuh semakin merinding. Dan otaknya mulai liar memikirkan akan bagaimana aksi sang bos di bawah sana nanti. Berusaha dibuat tenang dirinya, namun sungguh tidak bisa. Mulut sangat ingin melontarkan sesuatu segera. "Tunggu sebentar!" Seruan kencang pun keluar, saat tangan kanan sang bos baru saja mendarat di mahkota berharganya. "Ada apa, Sayang?" "Aku tidak bisa menerima oral seks dari kau dengan posisi seperti ini, aku mau di kasur saja. Angkat aku sekarang." "Baiklah, My Baby." Sedetik kemudian, sudah tak dirasakan lagi kedua kaki menapak di lantai. Dan tentu itu artinya, ia telah dibopong. Berada di dalam gendongan sang bos, sudah jelas membuatnya kian gugup. Tak bisa tenang sama sekali. "Ini kamarmu bukan?" Langsung dijawab pertanyaan dari pria itu dengan anggukan, tanpa melihat dulu ke arah benda yang dimaksudkan oleh sang atasan. Ia sudah hafal. Atensi hanya terpusat pada wajah tampan mantan kekasihnya. Tampak menawan dari sudut matanya. "Mari, kita lanjutkan, Sayang." Selesai menerima bisikan mesra. Lyssa harus terkaget kembali karena Nocc yang membopongnya tiba-tiba. Hitungan seperkian detik saja, mereka sampai di ruangan tidurnya. Lalu, mendarat di ranjang empuk yang paling disukainya. Tentu, dengan posisi dirinya dibaringkan di atas kasur. "Aku akan menerima tawaran bulan madumu, jika aku puas dengan dirimu, Sayang. Jadi, biar aku membuktikan." Lyssa merinding bukan main dengarkan ucapan sang bos. Dan seluruh tubuhnya jadi meremang lagi, ketika sisa-sisa kain di tubuh, mulai dilepaskan pria itu. Saking merasa terkejut menerus serta tak berkesudahan, maka tidak dapat disadari ia mulai telanjang, andai kedua tangan hangat Nocc dirasakan nyata. Setiap pergerakan Nocc tidak bisa luput dari pandangan. Dan begitu cekatan. Ia takjub akan kecepatan tangan pria itu. Kini, dirinya tak memakai apa pun. "Kau tetap cantik seperti dulu, ya? Kau alami dan sangat seksi, Sayang." Belum sempat ditanggapi, mulut telah dibungkam dengan ciuman. Ia dengan segera bisa hanyut akan cumbuan sang bos yang memang menggairahkan. Sayang tak lama karena sudah pindah mulut pria itu ke selangkangannya. Kedua kaki dilebarkan, tentu mampu memudahkan atasannya itu beraksi. Saat mahkota berharganya dicapai oleh mulut dan lidah basah sang bos, tidak bisa dihindari kenikmatan dihasilkan. Beberapa detik kemudian, tempo dari keduanya bertambah. Bahkan, jari-jari pria itu ikut digunakan juga. Rasanya sungguh membuat dirinya tak bisa diam. Selalu ingin menggeliat. Menggelitik dengan rasa geli. Lalu juga disertai panas, sensasi tak terelakan. Desakan di dalam dirinya pun semakin menuntut ingin keluar. Tak akan lama sepertinya klimaks menyerangnya. Sudah sangat siap untuk menerima. — BAGIAN 03 — Saat mengaktifkan kembali ponselnya yang utama, setelah dimatikan selama dua hari, maka pesan demi pesan pun mulai terlihat di layar handphone. Mungkin akan ada ratusan. Dibiarkan dulu semuanya masuk, baru dibuka satu per satu. Ia merasa cukup penasaran siapa saja pengirim pesan. Walau, firasat memberi tahu jika ayah, ibu, dan dua kakak laki-lakinya pasti yang akan paling banyak mengirim. Benar saja, inbox dipenuhi pesan-pesan dari keluarganya. Semua menanyakan kondisi dan perasaannya sekarang. Kendati merasa kurang nyaman, tetap ingin dihargai perhatian yang diberi orangtua dan saudara-saudaranya. Mereka pasti cemas karena pernikahan dirinya harus gagal. Pasti ia dianggap tengah terpuruk dan larut dalam rasa sedih berkepanjangan juga. Sampai hari ini, memang suasana hati kacau balau. Semua perasaan tak enak menumpuk yang membuatnya ingin menyepi saja tanpa diganggu siapa pun. Kenyataan batal menikah masih seperti mimpi buruk baginya. Sama sekali tidak siap menghadapi kegagalan ini. Wanita mana pun pasti merasakan hal sama dengannya. Tak ada yang akan bisa berlapang d**a menerima. Namun, hidup harus tetap berjalan. Ia pun mesti bisa memikirkan masa depan dengan kisah yang baru tanpa meratapi menerus kegagalan dalam menikah. Drrttt .... Drrttt .... Drrttt .... Lamunan Lyssa segera terhenti karena mendengar deringan ponselnya. Sebuah panggilan masuk. Langsung saja diperiksa guna pastikan siapa sekiranya yang menghubungi. Ternyata, kakak sulungnya. "Astaga." Seruan pun keluar dari mulut secara refleks karena ketakutan. Ya, perasaan tidak berani mengangkat telepon dari saudara tertuanya itu sudah jelas-jelas menyerang. Lyssa sangat tidak siap diinterograsi. Ia juga enggan menerima perhatian yang berlebihan atas kegagalannya saat ini. Lebih baik, tak diangkat panggilan dari sang kakak. Dibanding harus dihadapi dengan perasaan masih berkecamuk. Sampai detik ini, perasaan sedih yang bercampur kekecewaan mendalam, tak bisa dihilangkan begitu saja. "Aku harus menghilang dulu." Setelah berucap, ponsel yang dipegang pun dengan cepat dimatikan lagi. Cara paling ampuh agar bisa dijauhkan diri sementara waktu dari keluarganya. Sungguh dihargai semua usaha kedua orangtua dan kakak-kakaknya dalam memberikan kepedulian. Hanya saja, ia belum sanggup menerima saat ini. Sisi lemah dirinya pasti akan keluar dan menambah daftar kemalangan yang membuatnya terlihat tak berdaya. "Baik, Lyssa." Diucapkan dengan amat pelan sembari memejamkan mata. Awal untuk menyugesti otak serta hati. "Ini bukan akhir hidupmu. Kau harus bangkit karena usiamu panjang." "Anggap ini kegagalan yang tidak akan mutlak. Dan kau hanya perlu bangkit agar kau yakin kau bisa dapatkan lagi." Tepat setelah kalimat terakhirnya bisa diselesaikan, suara semakin bergetar karena tengah berusaha ditahan tangis. Sial memang. Disaat tengah berusaha untuk tegar, malah perasaannya tidak bisa diajak berkompromi. Malah jadi kian tak terkontrol dari kelemahan. "Kau sungguh bodoh, Lyssa." "Kau seperti ini karena pria yang ba--" Ucapanya yang telah dikeluarkan dalam emosi menggebu, harus terputus sebab ada sebuah jari mendarat di wajahnya. Lebih tepat pada bagian pipi kiri. Dengan spontan pula, mata dibuka guna mengetahui siapa pelakunya. Tentu, ia langsung memasang sikap waspada. Namun kemudian, semua sirna ketika telah melihat sosok di depannya. Tak lain adalah bos sekaligus mantannya. "Kenapa kau berhenti menangis? Kau bisa melakukannya, jika kau mau." "Kau tidak akan terlihat jelek, saat kau menangis, Lyss. Percayalah padaku." Senyum manis dan celotehan-celotehan canda yang dilontarkan oleh Nocc, tak bisa membuat hatinya mendadak jadi membaik dengan begitu cepatnya. "Menangislah lagi. Tidak apa." Lyssa menggelengkan kepalanya dalam gerakan pelan guna memberi tanggapan kali ini. Masih ditatap lekat sang bos. "Aku tidak akan menangis." "Lagi pula, jika aku hanya menangis, tidak akan aku dapat solusi apa pun." "Jadi, kau mau melakukan kegiatan yang lain? Bagaimana kalau kau masak sarapan untukku, Lyssa? Lalu, aku akan memberikan solusi bagi masalahmu." "Kau punya solusi untuk masalahku?" — BAGIAN 04 — "Kau masih lama?" "Tidak akan lama, Bos. Aku hanya mau memasak menu sarapan sederhana." Setelah menjawab pertanyaan diajukan oleh Nocc, Lyssa kembali meneruskan aktivitas yang tengah memotong tomat. Tak sampai semenit, telah selesai. Kemudian, dibawa semua yang sudah dibuat ke meja makan, dimana sang bos menunggu sejak setengah jam lalu. Sesampai di sana, beberapa piring yang dibawa segera diletakkan di atas meja. Baru lantas duduk di kursi kosong. "Selamat menikmati. Semoga suka dan rasanya sesuai dengan lidahmu, Bos." "Sungguh sarapan yang sederhana." Bukan komentar seperti itu diharapkan untuk didengar. Minimal terima kasih atau jenis kalimat pujian yang kecil. Sayang, malah tanggapan terbalik. Tapi tak akan dipermasalahkannya. "Rasa terbilang enak." Sendok berisikan potongan tomat yang ingin dibawa ke mulut, ditunda dulu sebentar karena komentar sang bos. Sanjungan tadi ingin dapatkan, ternyata bisa terealisasikan nyata juga. Lumayan senang dan menghibur hatinya. "Trims, Bos." Lyssa menggunakan bahan-bahan sisa yang masih ada di lemari penyimpanan untuk membuat menu sarapan. Tentu, hanya dapat dihasilkan makanan sederhana, yakni roti panggang serta omelet yang sebanyak dua porsi. Sebagai pendamping tambahan, yaitu dua gelas s**u hangat dan buah jeruk. Sudah ditawarkan kopi ke Nocc, namun sang bos menolak. Jadi, tak dibuatkan. Ada perasaan kurang enak. Sebab, jika berperan sebagai tuan rumah, mesti diberi pelayanan yang terbaik. Termasuk, makanan layak dan banyak. Sayang, hal tersebut tak dilakukannya. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Lyssa cukup terkaget karena dikentarai melamun oleh sang bos. Ia pun bereaksi cepat dengan gelengan-gelengan kepala. Lalu, berdeham beberapa kali. "Aku tidak memikirkan apa-apa." Diberi jawaban paling jujur, tanpa dusta. "Aku kira kau ingin menangis kembali karena kejadian kau alami, Lyss." Kepala digerakan ke kanan dan juga kiri berulang. Lantas, berkata, "Tidak, Bos." "Aku memikirkan hal lain ....." "Soal apa?" "Aku hanya bisa memasak sarapan yang untukmu. Aku menjadi tidak enak." "Bukan masalah, Lyss. Ini sudah cukup bagiku, asal kau yang memasak." Kalimat sanjungan kembali diperoleh. Dan hal tersebut mampu membuat wajahnya menjadi terasa memanas. Suka akan pujian? Sudah pasti dapat menerima dengan tanggapan positif. Namun, bukan hal itu saja yang menjadi penyebab. Melainkan, memori ingatan soal apa yang telah terjadi di antaranya dan sang bos, dua jam lalu. Termasuk sensasi sentuhan Nocc. "Kau melamun lagi, Lyss?" "Maafkan aku hanya bisa masak ini saja. Dan syukurlah kau senang, Bos." "Kalau menurutmu kurang, kau pesan saja makanan siap saji sebentar." "Pakai uangku sendiri?" "Iya, memakai uangmu, Bos." Lyssa pun menegaskan. Mengikuti jawaban yang tadi diberikan oleh sang bos. Ya, tidak akan mau dikeluarkan barang satu sen pun uangnya mentraktir. Lagi pula, sang mantan kekasih sudah amat kaya. Masuk dalam jajaran pria milyuner di kota mereka. Jadi, untuk membeli makanan pasti begitu bisa. "Tunggu dulu!" seru Lyssa lantang, saat melihat Nocc hendak memasukkan roti panggang ke dalam mulut. Sang bos tentu langsung berhenti. Namun, tidak ada sepatah kata keluar dari Nocc. Hanya memamerkan sorot mata sarat akan tanda tanya padanya. "Kau bilang kau punya solusi untuk masalahku. Kau bilang kau akan beri tahu, setelah aku membuat sarapan." "Sebelum kau makan, bagaimana kalau kau katakan dulu apa rencanamu, Bos." "Kau bilang akan memberikanku solusi atas permasalahku ini. Dan apa itu?" Reaksi pertama yang Nocc tunjukkan adalah seringaian. Lalu, dengan cepat direngkuh sosok Lyssa dalam dekapan kuat, sehingga wanita itu tak melawan. "Solusinya adalah tetap bulan madu." "Aku akan pergi bersamamu dengan statusku sebagai suami barumu, Lyssa." "Eh, apa? Kau gila, Bos?" Saat ingin melanjutkan protes, malah didapati mulutnya sudah terkatup lagi karena ciuman diberikan Nocc. — BAGIAN 05 (21+) — "Jadi, kau merasa, kau pantas menjadi suami pengganti? Percaya diri sekali." "Aku harus percaya diri agar kau juga mau memilihku sebagai pengganti pria berengsek yang sudah pergi itu." Ketika Lyssa sudah berdiri di depannya, maka aksi telah direncankan pun lekas saja direalisasikan tanpa ragu. Benar, mendekatkan wanita itu dengan cara melingkarkan tangan di pinggang dan melakukan tarikan yang kuat. Lyssa tidak tunjukkan perlawanan. Menerima rengkuhannya, walau akan mungkin terasa lumayan kuat. Selama tak ada protes, maka dirinya tak perlu mengendurkan dekapan. Malah ingin menunjukkan rayuan lanjutan. "Apa yang kau mau, Bos?" "Aku tidak cukup mengisi perut dengan sarapan buatanmu saja, Ly." "Rasa laparku paling besar adalah nafsu paling besar untuk bercinta bersamamu seperti tadi. Apa kau bersedia?" Semua yang diucapkan dan ditanyakan oleh Nocc, bisa masuk ke telinganya. Ia hanya tak paham akan mau pria itu. Seks lagi? Padahal, baru tiga jam lalu, mereka berhubungan intim. Nocc merasa kurang? Ingin melakukan kegiatan ranjang kembali dengannya. Kesimpulan tersebutlah yang muncul di dalam benak Lyssa sekarang. Ia yakin pemahaman dirinya tidak akan keliru. "Kau bersedia, Ly?" Nocc menunggu persetujuannya. Dan harus segera diberikan respons atas permintaan dari sang mantan kekasih. Harusnya dipikirkan matang dulu. Ia perlu untuk menimang-nimang. Tidak hanya demi penuhi kebutuhan biologis. Seks bukan untuk itu saja. Namun, ingin diciptakan hal lain dengan siapa pun pria yang bercinta bersamanya. "Ya atau tidak?" "Kau tidak sabar?" Lyssa balik loloskan pertanyaan agar tak perlu menjawab. Semacam cara menghindar yang paling bisa diambil. Apalagi, disaat belum bisa mengambil keputusan tertepat. "Aku jamin kau tidak akan menyesal." Tubuh Lyssa merinding kembali. Dan ia merasa suara Nocc semakin berat, tentu seakan ingin menekankan maksud. Belum lagi, pria itu memandanginya dalam sorot mata yang intens. Sama sekali tak berkedip barang sedetik pun. "Jangan banyak berpikir, Lyss. Kau pasti suka sentuhanku. Tadi saja kau tidak menolak saat aku puaskan." "Bukan dengan mulut dan jari saja aku akan memuaskanmu sebentar lagi. Aku akan memakai senjata berhargaku." Sialnya, mata Lyssa langsung mengikuti pergerakan tangan sang bos menuju ke kejantanan pria itu di balik celana yang tengah dipakai. Menonjol dengan jelas. "Ya atau tidak, Sayang?" "Ya." Lyssa lantas memutuskan. "Bagus, Sayang." Sedetik kemudian, dirasakan rengkuhan Nocc semakin erat sehingga badannya tertarik ke arah pria itu. Tentu tak bisa bergerak dengan leluasanya. Lalu, kaus tengah dikenakan olehnya dilepaskan pria itu dengan begitu cepat. "Selamat menikmati, Sayang." Setelah berkata amat manis, Nocc tak mau membuang waktu lagi. Langsung saja diserang dua buah d**a Lyssa. Pertama, diremas bersamaan. Barulah kemudian, mulut digunakan guna mengulum, satu demi satu. "Astaga!" Seruan Lyssa langsung dapat membuat kulumannya pada p****g buah d**a kiri wanita itu jadi dihentikan. Ingin tahu apa dialami oleh Lyssa. "Kenapa, Sayang?" "Nikmat." "Kau bilang apa?" Dilontarkan kembali pertanyaan karena tak percaya akan jawaban yang baru saja didengarnya. "Nikmat." "Aku merasa nikmat karenamu." Demi apa pun, Lyssa sadar jika balasan yang semakin blak-blakan darinya akan direspons berlebihan oleh sang bos. Terbukti nyata pada senyum tambah lebar ditunjukkan pria itu, sedetik lalu. "Kau merasa nikmat? Mau yang lebih nikmat lagi? Aku bisa, Sayang." "Boleh." Dilontarkan dengan sahutan amatlah singkat, sebelum kembali lepas kendali dan malah utarakan apa yang menjadi keinginan terpendam liarnya. Dipilih untuk merapatkan mulut. Mata terus memandang ke sosok sang bos. Ingin tahu apa saja aksi akan dilakukan kepadanya. Ia sudah siap. Tak sampai semenit perlu menunggu. Sasaran kembali ke payudaranya, tapi kali ini berbeda, yakni buah d**a kiri. Remasan pertama dilakukan. Barulah kemudian, lidah dan mulut menyusul. Tetap manis bak gula, seperti biasa. Semakin enak lumatan, maka tak hanya kenikmatan di mulut diperoleh, namun juga hasrat yang semakin terbakar. Sudah pasti ingin seks panas. Sebelum dilakukan, harus dihasilkan dulu klimaks bagi pujaan hatinya agar bisa menyenangkan hati Lyssa. Ya, jika wanita itu sudah gembira, maka percintaan mereka akan membara. "Ahhh!" "Kau o*****e, My Baby?" BERSAMBUNG .......... Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa) Pembelian : 1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000 2. Via k********a, link ada di bio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD