Playboy Vs Baby (7)

888 Words
Ify berlari ke rumah nya, ia langsung membuka pintu kamar dan mengunci nya. Iyel yang melihat sang adik berlari menatap nya bingung. Ify mengunci kamar nya, ia duduk di menghadap meja rias nya. Menggigit telunjuk nya lalu memegang tepat jantung nya berada yang kini tengah berpacu sangat cepat. Kepala nya ia gelengkan berkali-kali, tak ia sadari kini pipi nya memerah seperti tomat. Perkataan Rio yang baru saja terlontar dari mulut lelaki itu terus saja terngiang di pikirannya. Ify tak habis fikir dengan apa yang di ucapkan Rio. "Gila gila, ini gilaa. Noooooo" teriak nya tak urung keluar "Noo, yakali gua cinta sama dia" ujarnya lagi "Ada yang salah sama jantung gua nih" ia terus berceloteh. Mengingat permintaan Rio tadi. Meminta nya untuk menjadi istri seorang mario, memang mereka sudah berteman sejak dini, sejak balita, namun ini sungguh tak bisa di percaya. Bahkan lebih sering mereka tidak pernah akur alis seperti Tom and Jerry selalu bertengkar mempermasalahkan hal kecil.  "MAMAAAAAAA, IFY PUNYA PENYAKIT JANTUNG" Teriak nya sekali lagi, ia menyentuh bagian d**a nya yang masih berdetak keras. Sedangkan di luar kamar, iel mendengar teriakan adik nya langsung berlari menuju kamar Ify. "Fy, kamu kenapa ?" iel menggedor pintu kamar Ify khawatir "Fy, buka elah. Kamu gapapa kan?"  iel terus menggedor pintu adik nya itu. Clek. "Apasih kak, berisik tau" ujar Ify saat pintu kamar terbuka "Lah? Kamu yang teriak kok kakak yang di salahin" "Ya kaka juga gedor-gedor pintu kamar Ify, gatau apa Ify lagi fokus" omel Ify kepada sang kakak. Iel mengerut kan kening nya bingung. "Fokus apaan? Fokus teriak ? Bikin orang khawatir." Ify nyengir di depan iel tak menjawab perkataan kakak nya itu. "Yaudah, kakak mau ke rumah Via. Kamu baik-baik di rumah"Iel pamit kepada Ify lalu mengacak rambut adik nya gemas . "Iyaa, pulang pulang bawa status ya kak hahaha" ledek Ify kepada sang kakak, iel membalasnya dengan mengacungkan jempol nya ke arah Ify. ******* Di lain latar, di lain tempat. Rio sama hal nya seperti Ify. Ia menggelengkan kepalanya terus menerus. "Bego lu mario" "Masa lamar Ify kek ngajak main petak umpet" rutuk nya menyesal. "Duh lagian, gue gak pikir-pikir dulu. Kalau misal nya ntar dia nolak gue gimana" "Tengsin dong gue" "Elaaah, mama sih suruh gue nikah sama dia" "Tapi bagus sih, gue kan sayang sama dia. Aduh tapi cara ngajak nikah nya salah bego!" rio terus berceloteh menyesali perbuatannya yang mungkin akan mengakibatkan hal buruk semisal di tolak ify. "Apa gue coba lamar dia lagi ?" tanya nya pada diri sendiri. ******** Tok tok tok "Yo, Fika mama bawa ya. Mau ajakin dia berenang" ujar sang mama dari luar kamar. Rio membuka pintu kamar, dan melihat putri nya kini ada di gendongan sang ibu. "Fika masih kecil ma, dia gabisa berenang" ujar Rio "Justru itu, mama mau ajarin Fika renang biar hits kaya anak anak jaman sekarang" ujar Manda "Kalau Fika kenapa-napa gimana?" tabya Rio cemas "Elah gak akan, mama jamin." "Ga ga, Rio ikut. Biar Rio yang ajarin Fika, Rio gamau orang lain yang ngajarin. Ntar fika kelelep gimana" "Posesif banget sih kamu Yo" "Biarin, Fika anak Rio ini" keukeuh Rio dan kembali ke akmar untuk berganti pakaian. Kini Fika, Rio dan Manda sudah tiba di tempat berenang, disana ada guru khusus untuk melatih bayi berenang. Namun ada juga kolam untuk orang dewasa. Fika kini berenang menggunakan pelampung ban besar yang menampung badan nya agar mengapung. Rio was was melihat Fika. Namun hati nya senang saat melihat Fika tersenyum saat menyentuh air. "Fika seneng ya nak" ujar Rio saat melihat Fika tersenyum senang. Fika di bawa lebih tengah oleh Rio dan pelatih renang tersebut. Kaki Fika di gerakan oleh sang pelatih, berusaha agar Fika terbiasa menggerakan kaki nya seperti orang berenang. Namun baru 20 menit, Rio memilih untuk mengakhiri semuanya. Dengan alasan karena ia tak mau putri kesayangan nya itu jatuh sakit. "Wah cucu Oma pinter, gak nangis ya kena sama air" ujar Manda seraya menggendong Fika untuk mengganti pakaian Fika. "Ma, Rio renang bentar ya. Jernihin fikiran ehehe" pinta Rio. Manda pun tersenyum dan mengangguk. Kini Rio berenang dengan lihai kesana kemari. Dari ujung ke ujung ia berenang dengan sangat lincah. Hingga merasa cape Rio pun naik ke permukaan, ia kini duduk di kursi santai menghadap kolam renang. Ia melihat Fika yang kini sudah berganti pakaian, dan memakai bando cantik di atas kepala nya. Rio tersenyum melihat Fika. Ia kini bersyukur kepada Tuhan karena bertemu dengan Fika. Ia akan berterimakasih kepada sisapa saja orang tua Fika yang telah menyimpan bayi itu di depan rumah nya, dan jangan salahkan Rio karena sekarang ia tidak akan ikhlas jika Fika di ambil kembali. Rio akan segenap hati menjaga dan merawat Fika. Ia sudah mulai mencari pekerjaan paruh waktu karena harus membagi dengan waktu nya kuliah, dengan sementara Fika bersama sang ibu. "Makanya Yo cepet nikah biar Fika ada yang jagain pas kamu kuliah atau kerja" selalu itu yang di ucapkan oleh sang ibu. Sempat sang ayah menawarkan pekerjaan di kantor namun Rio menolak. Ia ingin bekerja dengan hasil jerih payah nya sendiri tidak mau merepotkan orangtua nya, ia ingin belajar untuk menjadi ayah yang baik untuk Fika. "Fika, sini nak sama papa" ujar Rio merentangkan tangannya untuk menggendong Fika. "Pakai baju mu dulu, nanti masuk angin" ujar Manda "Ish, iya ma iya" Rio pun berlari kecil ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri nya dan memakai baju seperti sedia kala. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD