Rio dan Fika kini sudah berada di halaman rumah, Rio menggendong Fika memasuki rumah nya.
Rio tersenyum saat melihat seorang wanita paruhbaya duduk di sofa tengah menonton tv. Ya selama 10 bulan Fika ada di rumah nya orangtua Rio sudah kembali pulang.
"Mama" sapa Rio dan mendekat ke arah wanita itu.
"Haai cucu oma udah pulang" bukan menyapa balik sang putra, namun manda malah menyapa Fika yang kini tersenyum ke arah nya.
"Ma, yang nyapa mama kan Rio" ujar Rio cemberut.
"Hahhaa, apa kabar sayang" kini manda beralih kepada Rio dan mengecup putra nya penuh sayang.
"Baik ma, mama sama papa gimana ?"
Ya orangtuanya sedang ada tugas ke Bandung selama 1bulan setelah kepulangannya ke rumah.
"Baik juga, maaf mama sama papa lama. Papa mu tiba tiba ada proyek besar disana jadi mau gamau kita disana lebih lama"
"Gapapa ma, papa mana ?" tanya Rio yang tak melihat kehadiran sang papa
"Papa lagi mandi"
"Coba, mama mau gendong cucu mama" lanjut manda. Rio tersenyum dan memberikan Fika kepada Manda.
Ya, sejak kehadiran Fika sekitar satu bulan. Rio memberitahu kedua orang tua nya perihal Fika yang di temukan di depan rumah nya. Awalnya, manda menyarankan bahwa Fika di jadikan anak bungsu nya atau adik dri Rio. Namun Rio menolak, karena malu jika mempunya adik di usianya yang sudah mau menginjak kepala dua.
Di kuliah nya yang semester 5 dan ia kini sudah akan menginjak kepala dua memiliki adik yang masih bayi ? Noo Rio tak bisa. Jadi Rio kekeh mengangkat Fika sebagai anak nya.
"Apa udah beres semua nya Yo ?" tanya Mandabseraya menatap fika
"Udah ma, memang ribet sih prosedur nya tapi sekarang Fika secara hukum udah jadi anak Rio."
"Tapi mereka juga mengharuskan Rio menikah karena gak mungkin Fika hidup tanpa seorang ibu" lanjut Rio
"Memang benar, Fika harus hidup dengan Ibu dan Ayah nya."
"Tapi ma, Rio masih kuliah semester 5. Lagipula Rio harus menikah dengan siapa?"
"Ify ? Bukan nya dia selalu bantuin kamu memgurus Fika?"
"Apa yang di katakan mama mu benar Mario" suara lantang dari arah tangga membuat Rio tersenyum dan menghampirinya.
"Papa" ujar Rio dan memeluk sang Papa.
"Papa bangga karena kamu sudah mulai berpikir dewasa dengan keinginan mengadopsi anak. Tapi asal kamu tau, anak ini butuh kedua orang tua. Tidak hanya kamu sebagai ayah nya"
"Akan Rio fikirkan lagi Pa" Arya mengangguk dan menepuk pundak Rio.
"Mana coba cucu Opa, Opa mau gendong" Arya menghampiri istrinua yang sedang menggendong Fika.
Manda pun memberikan Fika ke dalam gendongan Arya.
"Yo, mama mau liat dong foto-foto Fika waktu bayi" ujar Manda
"Bentar Ma, Rio ambil dulu" ujar Rio, Rio berlari menuju kamar nya dan membawa album kecil berisi foto Fika.
Manda mulai membuka lembar per lembar dari album tersebut.
"Lucu sekali, liat bagaimana bisa mereka keliatan seperti Ibu dan anak sungguhan." ujar Manda
"Iya ma, Fika selalu lengket kalau sama Ify. Mereka kaya punya kekuatan hahaha"
"Mama sih setuju kalau ibu buat Fika itu Ify" ujar Manda menggoda anak nya.
"Yeeee mama"
Ya kira kira terus seprti itu lah potret yang ada di setiap lembar album kecil itu. Manda menaruh kembali album itu dan beralih bermain bersama Fika yang berada di gendongan suaminya.
"Kenapa coba Fika gaboleh jadi adik kamu Yo,"
"Ya mama, masa Rio udah segede gini punya adik bayi. Gak lucu banget" bantah Rio
"Ya makanya nikah aja kalau gitu"
"Ma, Rio baru umur 20"
"Loh banyak kok sekarang yang jadi Papa Muda"
"Udah Yo, buruan lamar Ify biar Fika punya Ibu" lanjut ayah nya.
"Iya ah, nanti Rio pikirin lagi"
"Ma, Rio titip Fika ya. Mau mandi dulu" ujar Rio lagi.
"Yaudah sana, Fika juga belum mandi kan. Biar mama yang mandiin Fika" Manda beranjak membawa Fika, dengan semangat ia akan memandikan cucu nya itu.
*****
Rio kini sudah segar bugar, ia duduk di depan kamar nya. Memikirkan kata-kata kedua orangtua nya.
"Apa harus gue nikah sama Ify?"
"Tapi ini terlalu cepat, selama ini kan gue sama dia selalu berantem" ujar Rio bingung.
"Gimana gue bilang ke Ify ?"
"Fy nikah yuk" Rio menggelengkan kepalanya
"Fy, jadi ibu nya Fika ya" lagi Rio menggelengkan kepala nya.
"Fy, jadi istri gue ya"
"Nooo, gak banget ih" Rio terus berceloteh tak ada yang pas untuk mengutarakan keinginannya.
"Dooorrrrr" seseorang mengagetkan nya membuat Rio terlonjak kaget. Rio memutar matanya kesal sat melihat siapa pelaku nya.
"Apaan sih lo" ujar Rio kesal.
"Hahaha, ngapain sih lo? Ngomong sendirian. Udah gila ya lo" ujar Ify .
"Lo yang gila" bantah Rio
"Yeee sewot" balas Ify. Ify berjalan menuju pagar balkon Rio. Memandang ke arah depan.
"Ngapain lo kesini?" tanya Rio
"Lah, gua mau ketemu Fika."
"Ck, nona Melfy Imelda Putri. Fika ada di bawah sama nyokap gua, ngapain lo ke kamar gua peak"
"Ya ya emang nya ada larangan gua kesini ? Engga kan"
"Ck" Ify mendengus kesal merutuki kebodohan nya yang memutuskan menghampiri Rio.
"Fy"
"Hm"
"Anu..." Ify membalikkan badannya menghadap Rio, menaikkan alis nya bingung.
"Anu ? Anu apa?"
"Fy"
"Apasih Yo" ujar Ify kesal karena sikap Rio yang tidak jelas.
"Nikah yuk"
Ify mematung mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Rio. Lalu detik berikutnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha sumpah bercandaan lo garing mario"
"Anjir" umpat Rio
"Hahahaha kocak" ify masih tertawa di hafapan Rio. Rio kesal melihat respon Ify yang menganggap ini semua candaan.
"Melfy gua serius!" ujar Rio tegas dan memegang tangan Ify.
Ify kini terdiam mematung menatap Rio. "Gue serius, please jadi Ibu buat Fika" ujar Rio memohon
"Nikah sama gue" pinta nya dengan lembut dan sesekali meremas lengan Ify yang ada dalam gengamannya.
******
Yey segini dulu ya. Maaf gak ngefeel:(