7 - KEPUTUSAN SEPIHAK

920 Words
✔✔✔✔✔ Aku sudah seperti sapi bego saja. Aku mengedarkan pandanganku, menatap satu persatu semua orang yang ada di dalam ruang tamu ini. Mereka hanya tersenyum sambil mengangguk. Loh kok Riana, Rei? Yang nikah sama Alan kan kamu? Yang nikah sama Alan kan kamu? Yang nikah sama Alan kan kamu? Suara itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Aku terpaku di tempatku. Ingin rasanya menangis tapi air mataku sama sekali tak bisa keluar. Ingin berteriak tapi kerongkonganku rasanya tercekat. Aku hanya bisa menelan ludah kekecewaan. Kecewa atas sikap orang tuaku yang seenaknya saja mengambil keputusan tanpa persetujuanku. Pandangan mataku beralih menatap Alan yang terlihat tenang. Sepertinya aku harus membuat perhitungan dengannya. Ini pasti bagian dari rencananya. Dasar bocah gila. Sinting. Nggak waras. Sableng. Koplak. Seribu sumpah serapahpun rasanya tak cukup. Aku kembali menelan ludahku. Aku menatapnya tajam. Oke. Ternyata dia yang memulai semua ini. "Reina... kok ngelamun sih sayang?". Tegur Mama sambil memegang tanganku. Aku meliriknya sebentar lalu mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Aku tak menjawab pertanyaan Mama. Aku hanya mendengus kesal. "Tan..boleh tidak saya mengajak Reina jalan sebentar. Hanya cari angin!". Kata-kata Alan spontan membuat mataku mendelik ke arahnya. Apa lagi yang akan dia rencanakan?. "Jangan harap gue mau jalan sama lo!". Jawabku dengan ketus. Semua mata kembali menatapku. Mama langsung menyolek pinggangku. Apaan sih nih ibu-ibu?. "Reina. Yang sopan di depan calon suami kamu!". Bisik Mama. Aku tak peduli. Aku muak. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berniat meninggalkan mereka. Tapi langkahku terhenti saat tangan Mama meraih tanganku. Aku menoleh padanya dan di balas dengan pelototan dari matanya. Aku berdecak. Dengan berat hati aku kembali duduk. Menyandarkan punggungku ke sofa. Bersikap malas-malasan. "Ya udahlah Alan, Reina kan lagi capek. Pergi besok kan juga bisa!". Suara Om Aldi menengahi. "Maaf Om besok saya nggak ada waktu. Saya besok ada rencana mau keluar sama Bella, temen kantor saya!". Jawabku asal. Aku sengaja mengarang cerita. Aku menjawabnya tanpa melihat ke arah mereka. "Reina. Tolong bersikap dewasa jangan seperti anak kecil!". Suara Papa membuatku sedikit gemetar. Aku menunduk. Sepertinya aku ingin menangis. Apa Papa juga menyetujui rencana pernikahan ini? Kenapa?. Aku lalu keluar rumah tanpa mempedulikan teriakan mereka yang terus memanggil namaku. Air mataku langsung menetes. Aku masuk ke mobil brio biruku dan duduk di kursi penumpang. Aku lirik sekilas ke arah mereka. Alan terlihat sedang berbicara dengan Papa dan Papa memberi Alan sesuatu. Entah apa itu. Aku mengalihkan pandanganku saat Alan berjalan menghampiri mobilku. Ternyata Papa memberikan kunci mobilku ke Alan. Dan ia sudah duduk di sebelahku. Aku kembali mengalihkan pandanganku, menatap ke arah luar jendela. Di sana terlihat Papa, Mama, Tante Astrid dan Om Aldi. "Enaknya jalan ke mana nih?". Tanyanya sambil menjalankan mobilku meninggalkan halaman parkir. Aku tak merespon. Aku masih menatap ke arah luar jendela. Aku meratapi nasibku yang sial ini. Kenapa hidupku sampai setragis ini? Perasaan di sinetron-sinetron ceritanya tak setragis ini. Mobil sudah memasuki jalan raya dan melaju dengan kecepatan sedang. Aku ingin menangis. Benar-benar ingin menangis. Aku menunduk sambil memejamkan mataku kuat-kuat. Buliran bening itu akhirnya meluncur dari kedua mataku dan mendarat di lenganku. Aku terisak. Aku tak bisa menahannya lagi. Bahuku berguncang semakin kencang. Aku sadar jika Alan melambatkan laju mobil dan menepi. Tapi aku sama sekali tak peduli. Aku hanya ingin menangis. Tiba-tiba saja ia merengkuh tubuh kecilku dan membenamkannya di d**a bidangnya. Aku tak menolak tapi juga tak meresponnya. Ku biarkan saja ia mengelus rambutku dan mengecup pucuk kepalaku. Jujur ada sedikit kedamaian saat Alan memelukku dan mencium kepalaku. Kedamaian yang belum pernah aku rasakan. Tangisku sedikit mereda dan aku berusaha menjauhkan diri darinya. Aku mengelap pipiku yang basah dengan punggung tanganku. Aku terpaku saat sebuah jari mengusap pipi kananku. Alan. Si bocah sinting. Tangannya terasa hangat menyentuh kulit wajahku. "Maafin gue!". Katanya lirih. Aku menatapnya. Mataku masih basah dan sembap. Aku bisa melihat pahatan-pahatan sempurna di wajahnya. Hidung mancung bibir merah dan alis yang tebal. Dan dengan jarak yang sedekat ini aku bahkan bisa melihat bulu matanya yang lentik. Aku berpaling saat dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku nggak mungkin melakukan itu dengannya. First kissku. ✔✔✔✔✔ "Kenapa lo?". Tanyaku sarkatik begitu melihat ke arahnya yang tersenyum lebar sambil menatapku. Alan tak menjawab, hanya memainkan alisnya naik turun. "Dasar bocah aneh!". Umpatku. "Aneh aneh gini bentar lagi jadi suami lo Kak!". Aku kembali menoleh ke arahnya. "Lo tadi manggil gue apa? Kak?". Alan mengangguk cepat. "Emang gitu kan? Secara lo kan umurnya di atas gue 2 tahun!". Aku mendengus kesal. Ini bocah sinting benar-benar membuatku banyak-banyak bersabar. "Udah tau gue tua..kenapa mau di jodohin sama gue?". "Em...soalnya lo cantik sih!". Aku lagi-lagi terdiam di tempatku. Kenapa kata-katanya yang terdengar biasa saja bisa membuatku melayang? Aku menelan ludahku dengan susah payah dan mencoba menetralkan degup jantungku yang kian berdetak tak karuan. "Ciyeeeee....sampe merah gitu mukanya. Nggak pernah di gombalin ya? Emang selama ini Abang gue nggak pernah gombalin lo ya?". Pertanyaannya membuatku dongkol seketika. Aku kembali menatap ke arahnya. Nafasku naik turun menahan emosi yang siap meledak. "Lo hoby banget ya bikin orang kesel?". Aku sudah tak tahan. Aku bisa mati kalau terus bersamanya seperti ini. Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju mobil yang tak jauh dari tempat kami. Malam ini Alan membawaku ke taman pelangi. Hanya sekedar ngobrol saja tapi malah membuat moodku semakin buruk. Aku duduk di kursi dengan memasang wajah masamku. Tak lama Alan datang dan masuk. Aku melemparkan pandanganku saat dia duduk di sebelahku. "Mau kemana lagi kita?". "Pulang!". Alan mulai menjalankan mobilku dan aku tetap mengalihkan pandanganku darinya. Ya Tuhan mimpi apa aku sampai bisa bertemu dengan makhluk seperti dia? Bahkan dia yang akan menjadi calon suamiku nanti?. Apa Papa dan Mama serius soal perjodohan ini? Bisa turun pamor aku kalau benar dia yang akan jadi suamiku nanti. Nikah sama anak SMA? Dapat suami brondong?. Papa.... Mama.... Racuni saja aku sekalian. ✔✔✔✔✔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD