✔✔✔✔✔
"Oooh...jadi calon istri ada di sini?!".
Suara bocah sinting membuatku terlonjak dan refleks melepaskan tanganku dari genggaman Pak Kevin. Sumpah. Aku tidak tau ini bocah sebenarnya manusia apa bukan. Dan kenapa malah ada di saat tidak tepat.
Aku menggeram sambil menatapnya.
"Ngapain lo di sini?". Tanyaku ketus. Dia bersedekap sambil melempar senyum jahilnya ke arahku.
"Makan. Mau ngapain emangnya. Lo kan kerja. Ngapain di sini?". Tanyanya balik. Sepertinya tidak salah jika aku menamainya bocah sinting.
"Serah gue donk. Kaki kaki gue sendiri. Gue nggak minta anter lo. Lo itu pulang sekolah itu langsung pulang. Nggak usah keluyuran nggak jelas!". Omelku sambil membenarkan letak dudukku. Ku alihkan pandanganku menatap Pak Kevin yang tampak bingung.
Dasar bocah sinting perusak suasana. Bisa gagal first dateku hari ini. Tak lama seorang cewek menghampiri meja kami dan langsung bergelayut di lengan Alan.
"Sweety...kok kamu di sini. Ayo duduk aku laper!". Rengeknya. Si bocah sinting pacaran sama cewek barbar. Cucok. Alan tak menanggapi sepertinya ia masih menatapku tapi aku tak peduli.
"Siapa dia, Rei?". Suara Pak Kevin keluar. Terdengar datar.
"Gue calon su---!".
"Sepupu saya Pak!". Potongku sambil melotot ke arah Alan sebentar. Enak saja dia mau mengaku calon suamiku. Calon suami dari mana? Lagipula calon suamiku sudah meninggal. Bisa malu tujuh turunan aku kalau dia sampai memproklamirkan dirinya sebagai calon suamiku.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan meraih tas kerjaku. Tak mempedulikan wajah cengonya.
"Bisa antar saya pulang Pak?". Pak Kevin tak menjawab tapi dia menganggukan kepalanya.
"Wlee!". Spontan aku menjulurkan lidahku ke arahnya. Entahlah kenapa aku bisa melakukan hal konyol itu. Tapi rasanya ada sedikit kepuasan saat membuatnya jengkel. Aku melenggang pergi beriringan dengan Pak Kevin.
"Beneran itu sepupu kamu, Rei?". Pak Kevin terlihat curiga. Ia kembali bertanya setelah kami sudah duduk berdampingan di dalam mobil mercynya.
"Iya Pak!".
"Tapi kenapa dia tadi bilang calon istri? Nggak mungkin kan dia calon suami kamu? Masih SMA gitu!".
"Bukan Pak. Dia bukan calon suami saya. Lagian mana mungkin saya menikah sama bocah sinting itu!". Sahutku cepat sambil mencoba tersenyum tapi sepertinya terlihat kaku di mata Pak Kevin.
Entah percaya atau tidak Pak Kevin tersenyum ke arahku. Dia mulai menjalankan mobilnya menuju kantor. Aku memintanya mengantarku ke kantor lagi karena mobilku masih di sana dan tak mungkin jika aku pulang di antar oleh Pak Kevin. Apa reaksi Mama nanti? Bisa ceramah 3hari 3malam. Aku kan tadi alasan kerja lembur.
✔✔✔✔✔
Jam 3 sore saat aku sudah masuk ke rumah. Aroma harum masakan langsung masuk ke indra penciumanku. Langkahku yang tadinya menuju ke kamar kini berbelok ke arah dapur. Mama sedang memasak di sana dan sepertinya menu makan hari ini bakalan spesial.
Aku berjalan pelan menghampiri Mama yang baru saja mengeluarkan loyang berisi kue kering dari dalam oven.
"Waaah enak nih. Weekend makannya spesial!". Celetukku sambil melirik beberapa menu makanan yang tertata rapi di meja dapur. Mama terdiam. Sibuk menata kue kering ke dalam toples. "Loh Ma..lebaran masih lama kok udah bikin kue kering?".
Mama selesai dan menutup toples berisikan kue kering kesukaanku. Choco chips. "Mau ada tamu!". Jawab beliau singkat.
"Tamu? Siapa?". Tanyaku semakin penasaran. Jangan-jangan Mama mencarikan aku kandidat lain untuk calon suamiku.
"Em....bilang nggak ya!". Goda Mama sambil mengetukkan jari ke dagunya. Seperti sedang berpikir.
Orang aneh.
Aku berdecak lalu melangkahkan kaki menuju kamarku. Bodoh lah. Palingan juga teman arisan Mama. Aku merebahkan tubuhku di kasur. Menatap langit kamarku yang berwarna biru.
Aku tersenyum mengingat kencanku hari ini yang hampir gagal karena ulah bocah sinting itu. Ah...lagi-lagi aku mengingat abg labil itu.
Aku bangkit dan melepas kemejaku. Sepertinya hari ini melelahkan. Tanpa ganti pakaian terlebih dulu aku langsung menyambar piyamaku dan kembali merebahkan tubuhku di kasur. Wangi stella membuatku nyaman dan tak lama beralih ke alam mimpi.
✔✔✔✔✔
Entah sudah berapa jam aku tertidur. Aku membuka mata perlahan. Kamarku sedikit menggelap. Mungkin ini sudah malam. Aku bangkit dan duduk di tengah kasur.
Jam 5 sore. Aku tertidur 2 jam lamanya. Aku bangun dan menuju dinding kamarku. Meraba saklar lampu dan menyalakannya. Langkahku menuju pintu dan memutar knopnya. Sambil sesekali menguap aku berjalan keluar kamar menuju dapur.
Sepi. Aku terus berjalan menuju dapur. Samar-samar aku mendengar suara tawa dari ruang tamu. Itu mungkin tamu Mama. Aku terus berjalan, menguap sambil menggaruk rambutku yang kini mungkin seperti iklan shampoo yang rambutnya kusut.
"Reina...kamu baru bangun sayang?".
Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh ke arah sumber suara itu. Apa aku masih di alam mimpi? Ini rumahku dan aku mendengar suara Tante Astrid menyapaku.
Aku tersenyum kecil sambil terus menguap.
"Reina sayaaang.. sini doonk!".
Aku kembali terdiam. Sepertinya ini bukan mimpi. Aku membalikkan tubuhku pelan dan semua mata tertuju ke arahku. Tanganku yang tadinya menggaruk kepalaku kini berhenti seketika. Mataku tak berkedip untuk beberapa detik. Aku tak mempercayai apa yang aku lihat.
"Tante Astrid..?". Ucapku lirih. Di ruang tamu sudah ada Mama dan Papa yang duduk berdampingan. Sementara Om Aldi membawa pasukannya lengkap dengan istri dan anaknya.
Anaknya?.
What? Bocah sinting?.
Mulutku menganga lebar melihat bocah itu duduk bersandar di sofa ruang tamuku. Tatapannya menatap lurus ke arahku dan sebuah senyum licik tersungging di bibirnya.
Oh My God...bisa saya request? Pindahkan hambaMu ini ke planet Mars sekarang juga.
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali dan mulai sadar saat Mama sudah berdiri di sebelahku.
"Mandi sana habis gitu temuin mereka!". Titah Mama. Aku memandang Mama sebentar dan mengangguk pelan. Aku sudah malu. Lalu kembali ke kamar. Melupakan tujuan utamaku yang ingin mengambil air minum di dapur.
Sesampai di dalam kamar aku menutup pintu dan kusandarkan tubuhku di daun pintu. Aku menepuk-nepuk pipiku yang terasa panas.
"Kok tamu Mama mereka sih? Mau apa lagi mereka?".
Aku lalu berjalan ke arah kamar mandi dan memulai ritualku.
30 menit kemudian aku baru keluar dari kamar mandi. Duduk di depan meja rias. Sebenarnya aku malas menemui mereka tapi berdiam diri di kamar juga bukan pilihan yang baik.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk Ma!". Sahutku cepat. Pintu terbuka dan menampilkan sosok Riana berjalan ke arahku. Aku memutar bola mataku malas.
Riana langsung duduk di tepi kasurku. "Mama nyuruh lo turun Kak!".
Hah...benar kan. Mama pasti menyuruh asisten pribadinya ke sini.
"Ck. Bawel lo!".
"Kak, jangan-jangan lo mau di jodohin lagi sama Mama!". Celetuk Riana di sambut gelak tawanya yang nyaring. Membuatku mendelik ke arahnya. Ku lemparkan sisir biruku dan tepat mengenai wajahnya.
"Njiiir. Biasa aja keles!". Protesnya.
"Keluar lo gue mau ganti!". Perintahku. Aku berjalan menuju lemari dan mengambil baju dan celana jeans panjang. Nanas menurut kata-kataku. Dia keluar kamar sambil mengomel tak jelas.
Setelah selesai aku keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Aku berharap mereka sudah pulang karena aku sengaja membuat mereka menunggu hampir 1 jam. Dan sepertinya harapanku tak terkabul. Mereka masih komplit dengan formasinya masing-masing.
Aku memasang wajah ceria pura-puraku dan menyalami Om Aldi dan Tante Astrid bergantian.
"Kok kamu pake baju gini sih sayang?". Bisik Mama begitu aku duduk di sampingnya. Lah emang kenapa?.
"Syukur-syukur aku pake baju Ma. Kalo enggak?". Jawabku asal membuat Mama melayangkan jitakannya tepat di kepalaku.
"Aaaww!". Pekikku sambil meraba kepala bagian kiriku. Otomatis membuat mata mereka menatapku. Tak terkecuali bocah sinting itu. Dia tersenyum ke arahku.
Iiish..apaan itu? Senyum palsu.
"Jadi gimana mbak. Oke kan rencana saya?". Tanya Tante Astrid di sambut senang oleh Mama.
"Tentu donk Mbaaak. Aduh siapa sih yang nolak besanan sama Mbak Astrid dan Mas Aldi!".
Besanan? Aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka bahas. Aku menatap Alan sekilas yang dari tadi terus memamerkan senyumnya. Dasar nggak jelas!.
"Saya sudah terlanjur sayang soalnya Mbak. Saya juga pengen punya anak perempuan. Tapi apa mereka setuju ya?". Tanya Tante Astrid lagi.
"Jelas setuju donk Mbak. Apalagi mereka sudah saling kenal. Ya kan Pa?". Timpal Mama sambil bertanya kepada Papa.
"Tentu donk Ma. Siapa sih yang nggak suka sama Alan? Anaknya sopan, ramah plus ganteng! Papa sudah nggak sabar pengen cepet-cepet liat mereka menikah!". Sahut Papa.
Sopan. Ramah. Ganteng. Hadeeh...jangan terus di puji Pa nanti dia bisa terbang. Kalau dia terbang Alhamdulillah. Aku doain terbangnya sampai planet pluto biar tidak bisa kembali lagi.
"Oke jadi kapan mereka akan di nikahkan?". Tanya Om Aldi yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Nikah? Mereka? Apa mungkin Alan di jodohin sama Riana? Oh...jadi ini maksud kedatangan mereka. Mereka mau ngelamar Riana rupanya.
Nah kan...akhirnya kualat juga adik tercintaku. Kali ini dia yang terkena batunya. Aku tertawa dalam hati. Tanpa sadar bibirku mengukir sebuah senyuman. Senyum penuh kemenangan.
"Gimana, Rei. Apa kamu setuju?". Tanya Mama sambil meletakkan tangannya ke pahaku.
"Kenapa nanyanya ke aku? Aku sih setuju aja Ma. Akhirnya Riana nikah juga!". Aku kembali tersenyum kali ini sangat lebar dan sangat puas.
Makan tuh bocah sinting!
"Loh kok Riana, Rei? Yang nikah sama Alan kan kamu?".
✔✔✔✔✔