✔✔✔✔✔
Aku melihat di cermin. Mengecek apa riasanku sudah sempurna. Menata rambutku dan membenarkan alis sulamku. Dan sepertinya perfect. Aku ingin terlihat cantik apalagi sekarang aku jalan dengan Pak Kevin. My Bos.
Tidak lucu kan jika aku tampil berantakan sementara Pak Kevin tampil sempurna. Aku melirik jam dinding di ruanganku. Setengah jam lagi waktunya pulang.
"Ya elaaah Rei...udah kali ngacanya. Gue sumpahin retak tuh kaca!".
Aku tak terpengaruh ucapan Bella. Aku terus merapikan apa yang aku pikir belum sempurna.
"Dosa lo Rei berkhianat sama temen sendiri!". Sambungnya. Aku menghentikan aktifitasku. Keningku mengkerut menatap ke arahnya.
"Dalil mana yang njelasin gue dosa jalan sama Bos gue sendiri? Dia bukan suami lo Bell!".
Bella memutar bola matanya lalu menghela nafasnya. "Ck. Itu kan jatah gue, Rei. Lo main embat aja. Aelaaah!".
Aku menahan tawaku. "Bella sayang. Gue cewek normal. Siapa yang nggak ngiler sama Pak Kevin?".
"Ya lo kan udah di jodohin, Rei!!".
"Stop. Dia udah nggak ada. Nggak usah di bahas!".
"Istri durhaka lo!".
Hey. What's she say??? Nikah saja belum dia bilang aku istri durhaka?
"Gue udah lama naksir dia Bell. Sebelum lo kerja di sini. Jadi dia target gue. U know?". Aku menaik turunkan kedua alisku.
Setelah perdebatan panjang itu aku segera menuju lobby. Pandanganku menyapu seluruh area dan ternyata Pak Kevin sudah duduk santai di sofa sambil memainkan gadgetnya.
Sepertinya aku sudah membuatnya menunggu. Jangan sampai aku di pecat olehnya. Dengan langkah cepat aku menghampirinya dan berdiri di sebelahnya.
"Siang Pak!". Sapaku dengan nada pelan. Pak Kevin mendongak menatapku lalu tersenyum. Senyum manis yang membuatku klepek-klepek.
Ia lalu memasukkan hpnya ke saku jasnya dan berdiri di depanku. "Sudah siap? Ayo!".
Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya. Tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya.
Buuuk.
Aku membentur punggungnya yang lebar. Mataku terpejam menikmati aroma tubuhnya yang wangi. Aku sangat menyukainya.
"Hei Nona Manis. Sampai kapan kamu berdiri di situ?". Suara beratnya membuatku tersadar. Aku mengerjapkan mataku.
Oh Tuhan...apa yang aku lakukan? Aku menganggukkan kepalaku. Kikuk. Ku garuk tengkukku yang tidak gatal.
"Ma-maaf Pak...!". Jawabku sambil nyengir tanpa dosa. Dia tersenyum lembut ke arahku dan langsung menggenggam tanganku.
Aku melongo menatapnya.
"Jangan berjalan di belakangku. Ayo!".
Tanpa menunggu jawabanku Pak Kevin sudah menarik tanganku dan membawaku keluar kantor. Aku tak bisa berkomentar banyak. Hanya bisa mengikuti arah tujuannya melangkah.
Bahagianya aku. Seandaikan saja aku istrinya..apa mungkin aku akan sebahagia ini?.
Ish...otakku terlalu jauh berpikir. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mengusir pikiran aneh yang bersarang di otakku.
"Masuklah!". Titahnya begitu sampai di parkiran. Sebuah mobil mercy putih keluaran terbaru sudah terpampang jelas di depan mataku.
Apa aku akan naik ini? Apa hanya aku dan dia? Berdua?.
Aku sibuk membayangkan apa yang terjadi nanti. Tanpa sadar sebuah telapak tangan melayang-layang di depan wajahku. Aku sadar dan mengerjapkan mataku.
"Malah ngelamun...ayo masuk!". Kata Pak Kevin.
"Eh i-iya Pak. Maaf!".
"Lebaran masih lama, Rei. Kamu dari tadi minta maaf terus?".
Aku tersenyum kecil. Aku gugup sampai mengucapkan maaf berkali-kali. Pak Kevin kembali tersenyum dan mengisyaratkan aku untuk segera masuk ke dalam mobil.
Aku duduk di passanger seat dan memasang seatbelt. Interior mobil ini sangat luar biasa. Mobil yang sangat mewah. Hanya satu kata yang bisa aku ungkapkan saat ini.
Amazing!
Aku menelan ludah saat melihat Pak Kevin masuk ke mobil dan duduk di sebelahku. Di belakang kemudi. Nasibku sungguh sangat beruntung. Aku terlepas dari perjodohan memalukan itu dan aku mendapatkan seorang laki-laki sesuai kriteriaku.
Mama dan Papa pasti bangga sama aku. Aku bisa mendapatkan calon suami seorang CEO muda. Penerus perusahaan Julio's Company. Dan aku sudah tidak sabar menunggu nama belakangku berubah menjadi Nyonya Reina Julio.
Aku tersenyum lebar membayangkan semua itu terjadi. Aku menangkup kedua pipiku yang terasa memanas.
Tapi nggak menutup kemungkinan suatu saat nanti nama belakang lo berubah jadi Fernando.
Senyumku seketika sirna saat kata-kata bocah sinting itu terlintas di dalam benakku. Apa mungkin aku akan menikah dengan anak dari keluarga Fernando?.
Oh big NO. Dengan kakaknya yang umurnya sepantaranku saja aku tak mau apalagi dengan adiknya yang masih bocah itu?.
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Tidak. Itu semua tidak akan terjadi. Perkataan bocah sinting itu tak akan berpengaruh apa-apa buatku.
"Kenapa? Kamu pusing?". Tanya Pak Kevin tiba-tiba. Aku melepaskan tanganku dari kedua pipiku. Aku menatapnya sambil menggeleng cepat.
"Kamu pucat, Rei. Apa perlu aku antar pulang saja?".
"Ah jangan Pak!". Cegahku dengan cepat sambil memegang lengannya. Aku tak mau kalau first date ini gagal hanya karena aku kepikiran kata-kata bocah sinting itu.
Pak Kevin sekilas menatap ke arah lengannya lalu kembali fokus ke jalan. Aku baru sadar ternyata tanganku masih mencengkram lengannya. Dengan cepat aku menarik tanganku.
"Ah ma-maaf Pak. Saya refleks. Saya nggak sengaja!". Jelasku sambil menunduk.
Pak Kevin tertawa kecil. "Nggak apa-apa kok, Rei. Biasa saja. Oh iya di luar jam kantor panggil aku Kevin aja ya. Kita kan seumuran. Kamu panggil aku Pak gitu...akunya berasa tua banget!".
Aku mengangguk pelan. "Baik...Pak. Maksud saya baik Ke....vin!".
Pak Kevin kembali tertawa. Suara tawanya sedikit mengeras. Aku hanya bisa terdiam sambil menata detak jantungku yang berdetak semakin cepat. Ku remas jemari tanganku untuk menghilangkan rasa gugupku.
Selang 20 menit mobil mewah Pak Kevin memasuki halaman parkir cafe. Carls Jr. Pak Kevin turun dan aku buru-buru mengikutinya. Aku tak ingin kalau dia sampai membukakan pintu untukku.
Bukan tidak suka tapi aku gugup dan tak bisa menatap matanya. Pak Kevin lagi-lagi meraih tanganku dan membawaku memasuki cafe. Menuntunku menuju kursi kosong yang berada di dekat jendela.
Kami duduk berhadapan. Aku meletakkan tas kerjaku di kursi sebelahku. Seorang waiters datang sambil membawa buku menu di tangannya. Sementara aku sibuk mengecek hpku.
Ada pesan dari Mama dan Tante Astrid. Kenapa dua ibu-ibu ini sangat kompak? Aku membuka pesan dari Mama terlebih dahulu.
From : My Mom
Jangan lupa siang ini kita mau ke rumah Tante Astrid!
Huuft. Aku lupa tidak memberitahu Mama soal kencanku dengan Pak Kevin. Aku segera menulis balasan untuk Mama.
To : My Mom
Mav Ma..hari ini aku lembur. Ada banyak kerjaan di kantor. Sore baru bisa pulang.
Setelah sms terkirim aku lalu membuka pesan dari Tante Astrid yang isinya hampir sama seperti pesan Mama.
From : Tante Astrid
Sayaang...Tante tunggu ya. Jangan lupa
Aku mengernyit heran membaca smsnya apalagi di akhir smsnya ada emot seperti itu. Aku tersenyum kecil dan segera membalasnya.
To : Tante Astrid
Maaf Tan..bukannya saya tidak mau tapi saya hari ini lembur. Banyak kerjaan di kantor. Mungkin nexttime saya bisa ke rumah.
Ku tekan send dan selesai. Aku meletakkan hpku di atas meja. Waiters tadi sudah menghilang. Huh. Padahal aku belum memesan apa-apa.
"Kamu udah saya pesenin, Rei!". Kata Pak Kevin seolah-olah tau apa yang aku pikirkan saat ini. Aku mengangguk. Tak lama pesanan datang. Di lihat dari tampilannya sepertinya sangat enak. Aku yang memang doyan makan tanpa babibu langsung mengambil sendok garpu dan langsung melahapnya.
Dan ternyata benar enak. Kalau boleh aku jujur...ini tempat yang tidak pernah aku kunjungi. Aku sering lewat daerah sini tapi aku sama sekali tak pernah mampir. Aku lebih sering makan di foodcourt. Menu mie goreng Pak Ndower selalu jadi menu favoritku.
Aku harus berhemat. Karena aku juga menyisihkan uang gajianku untuk menabung dan membayar cicilan mobilku. Brio biru incaranku yang kini sudah menjadi hak milikku.
Makanan di piringku sudah tinggal separuh sementara piring Pak Kevin masih terlihat penuh. Aku menghentikan akitifitas makanku dan menatap ke arah Pak Kevin.
"Loh Pak. Kenapa tidak di makan?". Tanyaku dengan masih memanggilnya dengan embel-embel Pak di belakangnya.
Pak Kevin tersenyum lalu meraih gelasnya yang berisikan orange jus dan meneguknya. "Saya liat kamu makan aja udah kenyang, Rei!"
Aku menghentikan kunyahanku dan perlahan meletakkan garpu dan sendok yang masih aku genggam. Dengan susah payah aku menelan sisa makanan yang masih ada di dalam mulutku.
Apa jangan-jangan Pak Kevin ilfil melihat cara makanku?.
"Maaf Pak. Bapak ilfil ya liat saya makan?". Tanyaku polos. Aku tak tau kenapa dia malah terbahak. Aku meraih jus orange dan meneguknya, menyisakan separuh gelas.
Pak Kevin masih tertawa sambil memegangi perutnya. "Kamu itu lucu, Rei!". Jawabnya di sela-sela tawanya. Aku lucu? Apakah wajahku seaneh itu?.
"Kamu itu apa adanya. Polos!".
Aku memaksakan senyumku sambil menggaruk pelipisku. Aku jadi bingung kenapa aku di bilang lucu?.
"Baru kali ini saya ketemu cewek cuek kayak kamu. Biasanya cewek itu kalo makan jaimnya minta ampun!". Pak Kevin kembali tertawa. Apa aku salah kalau aku memakan makanan ini? Sepertinya aku ingin menghilang saja sekarang.
Aku terdiam. Tanpa ekspresi dan sepertinya Pak Kevin menyadarinya. Ia perlahan menghentikan tawanya. "Maaf, Rei. Saya nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu. Kamu itu berbeda!".
Pak Kevin lalu meraih tanganku yang ku letakkan di atas meja. Menggenggamnya dan matanya menatapku. Aku terpaku ikut menatapnya. Untuk beberapa detik kami terdiam saling berpandangan.
Saat aku sedang menikmati mata indahnya, telinga kiriku menangkap suara seseorang. Yang aku yakini itu bukan hantu. Suara menyebalkan dari orang yang sangat menyebalkan.
"Oooh...jadi calon istri ada di sini!".
Bocah sinting.
✔✔✔✔✔