4 - SI BOCAH SINTING

1111 Words
✔✔✔✔✔ BRAKK! Aku membanting pintu kamarku dan melempar tas selempangku ke kasur. Ku hempaskan tubuhku ke kasur empuk nan nyaman di rumahku. Aku tak habis pikir sebenarnya isi kepalanya apa saja?. Mau gak lo jadi istri gue Kata-kata itu terus berputar-putar dalam kepalaku. Dia mengatakannya seperti tak ada beban. Seperti menawariku sebuah makanan yang wajib aku terima tanpa penolakan. Ya Tuhan...aku bahkan memimpikan seorang laki-laki tampan dan kaya yang akan menikahiku kelak. Dan pastinya lebih tua dariku. Bukan bocah sinting seperti dia... Abg labil yang isi kepalanya hanya pacaran dan pacaran. Tok! Tok! Tok! Aku menoleh ke arah pintu dan perlahan pintu terbuka. Mama muncul dari balik pintu. "Kamu udah makan sayang?". Tanya Mama lembut dan berjalan masuk ke kamarku. "Udah Ma. Di rumahnya Tante Astrid tadi!". Mama tersenyum ke arahku. "Kamu sekarang akrab ya sama Tante Astrid? Padahal sewaktu Alfin masih ada kamu ogah-ogahan ketemu sama beliau!". Aku memutar bola mataku malas mendengar komentar Mama. Aku diam saja. Tak mungkin jika aku bercerita bahwa aku pingsan di makam Alfin dan Alan yang membawaku ke rumah Tante Astrid. "Tadi Tante Astrid nitip pesen sama Mama. Kalau bisa besok di suruh main ke rumahnya!". Sambung Mama. Hah? What? Aku bangkit dari tidurku dan duduk di sebelah Mama. "Mau ngapain lagi sih Ma. Kan Alfin udah nggak ada. Jadi perjodohan ini udah selesai. Clear. Nggak ada yang perlu di bahas lagi!". Jelasku. "Seenggaknya kamu temenin Tante Astrid, Rei. Beliau butuh teman ngobrol. Kehilangan anak itu hal yang sulit sayang. Apalagi kalian akan menikah dan musibah menimpa calon suami kamu!". "Bukannya itu bagus Ma. Jadi Mama nggak perlu kuatir soal status aku nanti. Aku nggak mau status KTP ku berubah jadi janda---!". Pletak! "Aadddaaw!". Pekikku. Jitakkan di kepalaku terasa sakit. Aku mendelik ke arah Mama yang memasang wajah marahnya. "Jaga omongan kamu, Rei. Kalo Tante Astrid denger bisa tersinggung. Besok kan hari sabtu..kamu pulang setengah hari kan. Besok sama Mama ke rumah Tante Astrid!". "Ngapain Ma?". Tanyaku cepat. Mama sudah hampir saja melayangkan jitakkan keduanya ke arah kepalaku. Tapi tanganku dengan cepat mencegahnya. "Kan tadi Mama udah bilang. Tante Astrid mau ketemu sama kamu. Udah ah..Mama mau tidur. Ngantuk ngeliatin muka kamu!". Aku spontan mendelik ke arah Mama. Mama terlihat cuek lalu beranjak dari kasurku dan melenggang pergi ke luar kamarku. Iiish...nyebelin banget sih tuh wanita tua. Besok pulang kerja kan aku jadwalnya nongkrong sama Bella. ✔✔✔✔✔ Brio biru yang ku kendarai melesat cepat membelah jalanan kota Surabaya Pagi ini. Seperti biasa jam 6 aku sudah harus melakukan perjalanan menuju kantor kalau tidak mau terjebak macet. Macet karena aktifitas pagi di jalan. Anak-anak sekolah yang berangkat. Bapak-Ibu-Om dan Tante-tante yang berangkat kerja. Belum lagi lampu merah yang kalau di hitung berjumlah lebih dari 15 dari rumah ke kantorku. Di tambah belum lagi jalur kereta yang kadang ada kereta lewat. Kalau saja Ibu Risma itu Ibu kandungku. Aku akan memintanya untuk membuatkan ku flyover khusus dari rumah ke kantorku. Agar aku tidak terjebak macet. Terjebak lampu merah dan terkena palang kereta api yang menutup. Hah...mimpi. Aku menginjak rem mobilku saat trafficlight berubah warna menjadi kuning dan tak lama berganti merah. Angkanya menunjukkan detik ke 58. Gila. Aku memakan waktu semenit hanya untuk berdiam diri di sini. Belum lagi nanti lampu merah yang lainnya. Semoga saja pagi ini aku mendapatkan lampu hijau terus sampai tiba di kantorku. Aku memutar lagu lewat bluetooth yang terhubung ke mobilku. Alunan lagu Havana milik Camila Cabelo terdengar. Aku ikut bersenandung dan sekali-kali aku mengetuk-ngetukkan jariku di setir kemudiku. Brum brum brum Berisik banget sih?. Suara bising itu membuat sedikit laguku tenggelam. Aku berusaha membesarkan sedikit volumenya dan terus bernyanyi. Brum brum brum Lagi dan lagi suara itu hampir membuat telingaku berdenging. Sebuah motor ninja warna hijau keluaran terbaru sedang bertengger tepat di sebelah mobilku. Bunyi knalpotnya menggema. Aku menoleh ke arahnya. Dongkol dan jengkel. Mentang-mentang punya motor bagus seenaknya saja di jalan. Tidak mempedulikan orang sekitarnya. Aku menatap wajahnya yang sedikit terhalang helm hijaunya. Dan aku sepertinya mengenal dia. Bocah sinting?. Mulutku menganga. Ya Tuhan. Dia lagi? Tapi kali ini ia tidak sendirian. Di jok penumpang ada seorang cewek SMA yang merangkul pinggangnya dengan erat. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena tertutup helm. Mereka terlihat sedang bercengkrama. Dasar bocah sinting. Kemarin dia menawariku menikah dengannya dan sekarang dia membawa pacarnya. Sekarang coba tebak siapa yang gila. Jawabannya. ALAN. Si bocah sinting. Aku terus mengumpat dalam hati. Saat lampu berubah menjadi hijau. Motor itu langsung melesat dengan cepat. Aku bahkan kehilangan jejaknya. Aku menghela nafas kasar. Ku belokkan setirku menuju arah kantorku. Dan sial. Aku terkena lampu merah lagi. Padahal gedung kantorku sudah terlihat di depan mata. Aku benar-benar ingin menjadi anaknya Bu Risma. ✔✔✔✔✔ "Gue turut berduka ya, Rei. Maaf kemarin nggak bisa dateng. Lo yang sabar ya!". Ungkap Bella begitu aku sampai di mejaku. Aku menangguk. Mereka salah kalau berpikir aku berduka. Sama sekali tidak. Aku bahkan bernafas lega saat semuanya itu terjadi. Aku tidak jadi menikah di saat usiaku masih 20 tahun. Aku belum mewujudkan semua impianku. Aku ingin menikmati masa mudaku. Karena masa remajaku saat masih duduk di bangku SMA terlewat begitu saja. Aku belum pernah pacaran. Bagaimana bisa pacaran sementara Mama memasukkan aku ke sekolah SMK yang mayoritas cewek semua. Dan sekarang aku tak akan membiarkan status jombloku terus berada di dalam diriku. Aku dan Bella kembali duduk di tempat masing-masing. Mulai berkutat dengan beberapa berkas dan layar komputer. "Pagi!". Suara itu membuat jemariku yang tadinya mengetik di keyboard terhenti seketika. Suara Pak Kevin. Wajahku memanas. Dadaku berdebar. Padahal aku belum melihat wajahnya tapi aku sudah salah tingkah duluan. "Pagi Pak!". Sahut Bella dengan suara lembutnya. Sial. Bella memulai aksinya. Dia menggoda calon imamku. Bella sudah mengklaim bahwa Pak Kevin adalah targetnya semenjak dia tau soal perjodohanku dengan Alfin. Tapi Alfin kan sudah tiada jadi tak ada seorangpun yang akan melarangku mengejar cintaku. "Pagi Pak!". Aku mencoba mengeluarkan suaraku semerdu mungkin seperti apa yang di lakukan Bella. Dan taraaa...Pak Kevin langsung tersenyum ke arahku bersamaan dengan wajah Bella yang terlihat cengo. Anjay...nih orang cakep bener. Aku sedikit membungkukkan badanku memberinya salam saat dia berjalan ke arahku. "Biasa aja, Rei. Nggak usah formal gitu!". Katanya setelah berdiri di depanku. Aku jadi kikuk. Ku lirik Bella dari sudut mataku. Dia melotot ke arahku sambil mengepalkan tangannya. Maaf Bell...aku khilaf. "Maaf Pak. Anda kan atasan saya. Saya tidak mungkin tidak bersikap formal kepada Anda!". Jawabku tanpa melihat ke arahnya. Pandangan mataku menunduk sambil sesekali melirik Bella dari ekor mataku. "Okelah terserah kamu saja. Nanti siang pulang kerja bisa kan ikut saya. Saya ada rencana makan siang di luar!". Spontan aku mendongak menatapnya. Mulutku menganga terbuka lebar. Apa dia mengajakku kencan?. "Ehem!". Bella berdehem keras membuatku tersadar. "Eh...i-iya Pak. Bisa!". Jawabku cepat. Bella langsung menjatuhkan dirinya di kursi. Tubuhnya lemas. Maaf Bell...aku benar-benar khilaf. "Emm okay. Nanti tunggu saya di lobby ya!". Katanya lagi sambil mengelus rambutku dan pergi dari ruanganku. Aku masih berdiri mematung. Tak percaya dengan apa yang terjadi. Perlahan aku mengusap rambutku yang terkena usapan tangannya. Aku harap ini bukan mimpi. Akhirnya... Aku kencan Mama.... AKU KENCAAAAAN!!!! ✔✔✔✔✔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD