Arseno menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah, ia melangkah keluar dari mobil dengan menerobos hujan yang masih saja turun dengan derasnya. Lelaki itu melongokan kepalanya ke dalam sekolah yang gerbangnya sudah digembok dan di dalam sana nampak gelap gulita. Hanya halamannya saja, karena ada lampu taman di sekitaran sana. Arseno kembali berbalik, memandang jauh jalanan di depannya dengan sesekali mengusap wajahnya karena terus-terusan diguyur hujan. Lelaki itu berulang kali merutuki diri sendiri karena bisa-bisanya berpikiran pendek dan membiarkan anaknya sampai frustasi begini. Frustasi karena omongannya yang terlalu menusuk hati dan membuat Adam sampai kepirikan untuk enggan pulang ke rumah. Tadi ia sudah mengabari beberapa temannya untuk meminta bantuan mencari keberadaan A

