Pamitan

2124 Words

Pemuda jangkung itu tengah berdiri menyender pada dinding tembok, bibirnya bersenandung lirih dengan memandang jauh langit t*******g di atas sana. Tangannya terulur ke atas kepalanya, menyisir rambutnya ke belakang. Beberapa orang yang melewatinya langsung terpana karena baru saja mendapat 'serangan' darinya. Ekor matanya menangkap sosok sang adik yang kini mendekat dengan bahu melemas dan juga tampang lesu. Benar-benar tidak bersemangat melakukan apapun, bahkan pagi tadi harus ia yang membangunkan adiknya itu. Padahal alarm sudah berbunyi berkali-kali dan terdengar sampai ke kamarnya. "Thanks ya," tutur Iren saat menerima paper bag di tangan kiri Aris, gadis itu menguap lebar dengan mengerjapkan matanya erat merasa ingin kembali tidur lagi. "Elo ngapain sih semalam, kenapa kayak orang b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD