Prolog
Masih tercium harumnya bunga, tanah pun masih basah. Dan aku? Aku masih setia duduk bersimpuh di depan pusara ibuku. Pemakaman sudah selesai satu jam yang lalu, bahkan para tetangga yang ikut membantuku untuk menguburkan jenazah ibuku sudah pulang ke rumah masing masing, tapi aku bahkan tak mampu untuk berdiri. Tapi kenapa air mataku tak kering kering padahal aku sudah menangis tak berhenti dari pagi tadi sejak aku menyadari kalau ibuku sudah tak bernapas sama sekali.
Ibuku memang sudah sakit sejak lama, sejak tiga tahun lalu dokter sudah memvonis ibuku kanker otak, biayanya pun tidak murah. Untuk pengobatan ibu, aku terpaksa menjual satu satunya warisan ayah, kebun pisang di samping rumah yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk biaya pengobatan ibuku selama tiga tahun ini. Tapi seperti apapun manusia berusaha Tuhan jugalah yang menentukan, dan tanpa sepengetahuan ibuku akupun sudah menggadaikan rumah ini kepada rentenir desa ini untuk kebutuhan sehari hari. Tiga hari yang lalu aku lulus SMA dan aku berencana untuk meminta pekerjaan kepada pemilik kebun teh di desa ini untuk membayar hutangku kepada rentenir, tapi setelah kematian ibuku aku bahkan tidak memilki semangat untuk hidup lagi, aku sudah tidak punya siapa siapa sekarang.
Arum Kenanga anak satu satunya dari bapak Arianto dan ibu Marni, awalnya mereka hidup sederhana dan berkecukupan untuk standar tinggal di sebuah desa. Mereka memilki kebun pisang dan beberapa tanaman lainnya yang tidak terlalu luas namun hasilnya cukup untuk hidup sehari hari mereka. Tapi saat Arum berusia empat belas tahun bapaknya Arum mengalami musibah terkena longsor waktu mau menjual hasil kebunnya dan meninggal saat itu juga. Sejak itu kehidupan mereka lebih sulit apalagi setelah dua tahun pasca meninggalnya bapak Arum, seakan cobaan tidak ada habisnya ibunya pun sering sakit sakitan hingga di rujuk ke rumah sakit di kota dan diketahuilah ternyata ibunya memiliki kanker yang bersarang di otak yang saat itu masih stadium awal, tetapi karena keterbatasan biaya akhirnya penyakitnya pun cuma ditangani seadanya itu pun dengan uang hasil penjualan kebun satu satunya. Sebenarnya ibunya tidak mau menjual karena kebun itulah satu satunya penghasilan buat mereka, tapi karena memikirkan nasibnya Arum yang saat itu masih enam belas tahun apalagi Arum juga baru masuk SMA dengan terpaksa ibunya menjual kebun itu dengan harapan dia akan sembuh dan akan selalu menjaga Arum sampai saat ia menikah, dan sebagian uangnya lagi digunakan untuk makan sehari hari dan keperluan sekolah Arum. Namun harapan tinggallah harapan, sekarang Arum tinggal sendiri dan tidak punya apa apa.
Karena hari mulai gelap dan gerimis, akhirnya Arum memutuskan untuk beranjak pulang. Sampai di rumah yang ada cuma sepi, teringat akan kenangannya bersama ibu tercinta. Arum merebahkan dirinya di kasur berharap ia akan tertidur dan saat bangun yang terjadi hari ini adalah hanya mimpi.