Mission Fails

1551 Words
Jakarta, Indonesia 20.30 PM Seorang laki-laki ber-hoddie hitam dengan mata tajam dan sempurna terlihat tengah memilih cemilan disebuah supermarket. Laki-laki ini mengenakan masker berwarna hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan juga topi yang berwarna senada. Dari ujung ke ujung semuanya tertutup dan serba hitam. Pergerakannya tidak pasti ditambah lagi dia hanya berdiri dalam diam dengan sedikit gerakan palsu seperti memegang makanan yang berderet disana tanpa minat untuk membeli. Meskipun penampilannya sangat tertutup dan sikapnya misterius, semua hal itu tidak memudarkan ketampanan yang tersembunyi dibalik maskernya. Aiden, laki-laki pecinta game itu lah yang berada dibalik masker tersebut, ia melirik diam-diam seseorang yang sama-sama tengah memilih makanan ringan atau cemilan. Jaraknya tidak terlalu dekat, namun tidak terlalu jauh juga. Saat seseorang itu berpindah tempat, Aiden akan dengan hati-hati mengikutinya. Berusaha agar penyamarannya tidak terbongkar. Sejauh ini penyamarannya berjalan baik. Orang itu tidak menyadari pergerakannya. Bukan tanpa sebab Aiden menguntit seseorang. Jika kalian pikir Aiden tengah menguntit seorang perempuan, kalian salah besar. Tidak ada sejarahnya seorang Aiden yang julukannya pangeran es ini menguntit perempuan. Aiden sekarang ini sedang menguntit seorang laki-laki yang tercap sebagai musuh abadinya. Siapa lagi jika bukan Serkan si Ketua Akasa. Musuh bagi dirinya dan juga gengnya. Ucapannya tempo lalu bukanlah sebuah bualan. Aiden berjanji akan mencari tahu semuanya sebelum terlambat. Bagaimanapun juga Serkan perlu dicurigai, tak mungkin seorang iblis seperti dia tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Manusia sejenis Serkan tidak akan mudah untuk berubah apalagi hanya karena perempuan. Aiden yang sudah tahu sifat aslinya tidak gampang terbodohi. Apalagi Aiden sudah mengingat jelas trik-trik licik Serkan jika sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Serkan akan melakukan apapun agar keinginannya terwujud, tak peduli seberapa kotor itu. Terlihat Serkan sekarang berhenti ditempat mie di jejerkan dan dijual. Saat Aiden hendak berjalan lebih dekat dengan targetnya, tak sengaja tiba-tiba ada seorang laki-laki sepantar dengannya menabrak bahu Aiden hingga terhuyung kebelakang. Aiden hampir saja jatuh jika dia tidak mengulurkan tangannya kebelakang untuk menahan berat tubuhnya. Ia juga sedikit merasa kaget karena ditabrak seperti itu oleh seseorang. Skala tabrakan tersebut cukup besar jika mengingat kejadian ini tidak disengaja. Seakan Aiden memang sengaja di tabrak seperti itu untuk membuatnya jatuh. "Aduh, Maaf. Saya gak sengaja." Aiden menatap tajam laki-laki dihadapannya ini lalu kembali menatap Serkan. Tapi, sialnya Serkan sudah tidak ada disana. Orang yang menabrak dirinya tadi pun sudah menghilang entah kemana. s**l, ternyata dirinya ketahuan. Jika dilihat baik-baik, bagaimanapun juga orang itu sengaja menabrak Aiden dengan sangat keras. Otaknya berpikir jika orang yang menabraknya tadi adalah komplotan Serkan. Aiden berdecak. Ia dengan segera berlari mencari Serkan di tempat itu hingga berkali-kali bolak-balik ke beberapa tempat. Serkan tetap tidak ditemukan. Begitupun orang yang menabraknya tadi. Dia juga mengecek ke arah kasir dan tempat lainnya, tetap Serkan tidak terlihat. Ternyata penyamarannya gagal total. Dia terlalu percaya diri bisa membuntuti Serkan padahal banyak ancaman lain di sekitarnya juga. "s****n," desis Aiden kesal. Dia menggeram rendah, merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena sudah gagal melakukan misi sekecil ini. Aiden marah pada dirinya sendiri yang tidak fokus dan juga sembrono. Merasa percuma karena targetnya tak kunjung ketemu, akhirnya Aiden keluar dari supermarket tersebut dan masuk kedalam mobil miliknya dengan perasaan kesal. "s**l! s**l!" Aiden tak hentinya mendesis. Ia membuka masker dan juga topi yang dikenakannya dengan kasar. Sedikit lagi. Padahal sedikit lagi Aiden akan mengetahui motif Serkan dengan membuntutinya. Namun, semuanya gagal karena dia tidak teliti. Aiden hapal diluar kepala, mahluk seperti Serkan tidak mungkin hanya berjalan-jalan di supermarket malam-malam begini. Pasti Serkan akan ke markas besarnya. Tapi sayang nya Aiden tidak tahu markas besar Akasa sekarang. Markas yang dulu pernah diserang Zeus sekarang sudah tidak berpenghuni. Banyak rumor yang beredar jika Akasa sengaja berpindah tempat agar markas mereka tidak terkena serangan. Pengecut. Satu kata itu mungkin dapat mendeskripsikan Akasa. Namun Aiden tidak dapat menampik jika Serkan juga cerdas. Laki-laki itu mampu memainkan akting dengan sempurna didepan Keyra. Jika sudah seperti ini, Aiden kewalahan. Ia tidak bisa menampung dan menyelesaikan semuanya sendirian. "Berat, Ka. Ternyata jadi Ketua Zeus itu seberat ini." Aiden menyugar rambutnya lalu memijat pelipisnya. Ia memukul pelan stir mobil guna melampiaskan perasaan marahnya. Saat Aiden tengah menormalkan amarahnya karena gagal membuntuti Serkan, tiba-tiba ponsel di Dashboard bergetar. Aiden mengambilnya lalu senyum tipis terbit dibibirnya. Rasa gundah dan kesal seketika sirna saat melihat nama yang terpampang disana. "Hallo?" Aiden dengan segera mengangkat panggilan itu. "Hallo, Iden? Kamu lagi apa?" Aiden terkekeh pelan mendengar suara menggemaskan disebrang sana. "Kenapa?" hatinya berubah damai. Ibarat api panas yang di siram oleh air dingin. "Bunda Tia titip pesan, besok kan kamu sekolah. Katanya jangan begadang. Sekolah yang bener." "Iya, bilangin ke Bunda tenang aja." Risa tertawa. "Padahal Bunda gak usah repot-repot khawatirin kamu. Kamu kan anak pinter. Gak kayak aku." Aiden menyerengit mendengar nada bicara Risa. "Kenapa?" "Nilai aku turun. Akhir-akhir ini aku sering pusing dan gak konsen, Den." "Udah periksa ke dokter?" Nada suara Aiden berubah menjadi sedikit panik. Akhir-akhir ini Aiden terlalu disibukkan dengan masalah geng dan juga hilangnya Garka. Ia lupa mengunjungi Bunda Tia dan juga Risa. "Udah. Kata dokter aku.. baik-baik aja," ucap Risa disebrang telepon. "Syukurlah." "Eum.. Aiden, aku tutup teleponnya, ya. Aku harus siapin keperluan sekolah." "Iya." "Kamu juga jangan lupa siapin keperluan kamu buat sekolah besok." "Iya, Risa." "Dadah, Iden." Sambungan terputus. Aiden menatap kedepan lalu pikirannya melayang. Ia sadar, selama ini dunia terus berputar. Aiden memfokuskan satu masalah hingga masalah lainnya belum terselesaikan bahkan terlupakan. Tak terasa jika dirinya sudah mulai beranjak dewasa. Semua masalah semakin bertambah. Aiden tidak bisa seperti ini terus. Apalagi masalah keluarganya, benar-benar membuat Aiden muak. Aiden menaikkan kupluk hoodie ke kepalanya. Mesin mobil ia nyalakan. Saat baru akan menjalankan mobil, tiba-tiba suara kegaduhan membuat Aiden mengerem mendadak. "Apa-apaan, si!" Aiden berdecak saat melihat dua orang laki-laki tengah berkelahi di depan mobilnya. Tempat Aiden memarkirkan mobil terbilang sepi. Aiden sengaja memarkirkan mobil jauh dari supermarket agar tak dicurigai Serkan. Namun, kini Aiden malah melihat adegan saling jotos dua laki-laki asing. Tepat dihadapannya, bahkan hingga membentur kap depan mobil Aiden. "Elang?" Aiden mempertajam penglihatannya. Didalam mobil, Aiden sengaja memperhatikan kedua orang yang tengah berkelahi itu tanpa ingin ikut campur. Tapi, saat melihat ada seseorang yang dikenalnya, Aiden jadi berniat ikut campur. "Elang!" Aiden keluar dari mobilnya dan memanggil laki-laki tampan berstatus adik kelasnya itu. Merasa terpanggil, Elang yang baru saja melumpuhkan musuhnya menoleh. "Bang Aiden?" Aiden memberi tanda kepada Elang untuk menghampirinya dan dituruti Elang. "Ngapain?" tanya Aiden. Nafas Elang terengah-engah. Ia mengelap keringat yang mengucur didahinya. Kedua tangan Elang banyak terdapat bercak darah. "Biasa, Bang. Musuh di ring." Aiden mengangguk mengerti. Setelah Elang bergabung dengan Zeus, adik kelasnya itu sekarang memanggil kakak kelas dengan sebutan Bang. Khususnya kepada para senior Zeus. Ya mereka si tidak masalah, toh dulu angkatan Garka pun memanggil seniornya dengan sebutan 'Bang'. Katanya agar lebih akrab saja. "Balik, jangan cari ribut terus. Besok lo sekolah." Elang mengangguk. "Iya, Bang. Dia yang mulai duluan nyerang gue, ya gue serang balik. Lagian gue mau ke supermarket tadinya." "Yaudah, gue duluan." Elang tersenyum sopan. "Iya, Bang. Hati-hati." Aiden kembali masuk kedalam mobilnya. Ia kembali melirik Elang yang kini tengah mengusap keringatnya. Diam-diam Aiden tersenyum. "Gak salah pilih emang si Garka." *** "b*****t!" "Santai. Sekarang lo udah aman." "Punya nyali juga dia ngikutin gue." "Berarti dia udah sadar kalau selama ini lo itu patut dicurigai. Hati-hati, Bro. Jangan sampai lo kecolongan lagi, coba kalau gue gak liat dia tadi. Bisa abis rencana lo kebongkar, Kan." Serkan mendengus. Ia kini berada dibelakang supermarket bersama dengan anggota Akasa seangkatannya. Awalnya Serkan berniat membeli makanan ringan untuk diberikannya kepada anggota Akasa di markas. Namun, sialnya ternyata tanpa ia sadari ia sedang dibuntuti. Padahal ia tidak menyadari ada yang mencurigakan disekitarnya. Baru kali ini Serkan hampir kecolongan. Zack, temannya yang juga anggota Akasa menyadari gelagat juga perawakan orang yang membuntuti Serkan. Kebetulan ia disana karena ingin membeli keperluan adiknya. Zack tak sengaja melihat pergerakan mencurigakan orang dengan masker tadi. Saat melihat Serkan, Zack jadi sadar jika Ketuanya itu sedang dibuntuti. Zack tahu jika orang misterius tadi adalah Aiden karena lirikan matanya yang khas saat ia dengan sengaja menabrak bahu Aiden. Sebelum berencana menabrak bahu Aiden, Zack memberitahu Serkan terlebih dahulu melalui w******p tentang Ketuanya itu yang tengah dibuntuti. Dia menyusun rencana untuk alibi agar Serkan bisa kabur dari situ. "Aiden emang bahaya. Lo juga seharusnya lebih waspada sama dia. Rencana lo sejauh ini emang berhasil, tapi jangan lupa. Musuh lo juga kuat. Mereka gak main-main, otak mereka juga encer." Serkan berdecak. "Iya, gue tau!" "Jaga-jaga supaya lo gak dibuntutin lagi, mending sekarang lo balik ikut mobil gue. Biar mobil lo besok dibawa sama anggota lain. Kita ke markas bareng-bareng." "Oke. Thanks." "Santai." Serkan melirik kearah depan supermarket itu. Ia rasa Aiden sudah tidak ada disana. Serkan benar-benar kecolongan. Zeus mempunyai anggota yang tangguh. Namun beruntung ada Zack yang menolongnya. Aksi Aiden sekarang membuktikan bahwa anak-anak Zeus sudah mulai curiga padanya. Tapi tetap saja, Serkan masih satu langkah memimpin di depan daripada mereka, karena Serkan mempunyai kunci utama keberhasilannya. Sejauh ini Zeus tidak akan bisa mengungguli nya. Mau sebagaimana pun berusaha, mereka semua pasti akan jatuh juga. "Lo pikir bisa hancurin gue gitu aja? b**o!" gumam Serkan sembari tersenyum sinis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD