1 hari sebelum kepulangan Garka..
New York City, US
Argeswara's Mansion
08.00 AM
"Persiapkan semua barang-barang milik Garka. Pastikan jangan sampai ada yang tertinggal, terutama semua barang penting yang harus dibawa ke Indonesia. Susun dengan rapi dan jangan sampai berantakan."
"Baik, Mr. Adamo."
"Jangan lupa juga obat-obatan dan hal-hal wajib seputar luka. Jangan sampai tertinggal sedikitpun."
"Siap, Mr. Adamo."
Garka menatap jengah Dylan yang tengah disibukkan dengan urusan yang seharusnya menjadi urusan Garka sendiri. Semenjak kejadian kecelakaan itu, Dylan benar-benar menjadi laki-laki tua yang protective. Garka tidak dibiarkan merapikan barang-barang nya sendiri. Bahkan melakukan hal-hal kecil pun dilarang. Padahal dirinya juga masih kuat untuk melakukan semuanya.
Dylan sekarang persis seperti sedang menganggap Garka adalah anak berumur lima tahun yang belum bisa melakukan apa-apa. Untuk sekedar minum pun Dylan akan mengambilkannya untuk Garka. Dia seakan dimanja oleh Dylan. Rasa khawatir pria itu sangat tinggi melebihi dokter yang merawatnya.
Padahal mereka berdua tidak ada hubungan darah sedikit pun, namun rasa khhawatir dan peduli nya mengalahkan Papanya sendiri. Pertemuan mereka pun cukup singkat dan formal.
"Come on, old man! Aku bukan lumpuh. Aku bisa mempersiapkan semuanya sendiri. Kau pikir aku sakit keras? Hanya kaki ku saja yang sakit, tidak perlu khawatir."
"Hanya kau bilang? Tubuh mu ini terjatuh dari ketinggian beribu-ribu kaki. Dan jangan khawatir?" Dylan berdecak pelan. "Lebih baik kau diam dan menurut. Diam mu akan sangat berguna untuk sekarang ini."
Garka menatap Dylan malas. "Sekarang aku tahu darimana sifat keras kepala dan sarkasme Angel berasal."
Sedari tadi Garka hanya diam memperhatikan bawahan Dylan yang tengah bolak-balik membawakan koper Garka dan koper milik pria itu juga koper milik Angel. Tidak ada celah Garka untuk membantu. Dylan berada terus disampingnya memantau Garka seperti anak kecil dengan sakit parah.
Garka sebenarnya senang, dia hanya perlu berdiam diri tanpa melakukan apapun. Tapi sikap Dylan ini dinilai terlalu berlebihan untuk Garka yang biasa melakukan semuanya sendiri. Sedari kecil Garka selalu melakukan apapun urusannya dengan tangannya sendiri dalam keadan separah apapun itu.
Karena dulu dia tidak pernah diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Setiap masalah dan juga kesusahan yang ia alami akan dihadapi sendiri oleh Garka.
Ada sisi positif dibalik itu semua, Garka menjadi laki-laki berani yang mandiri dan tidak manja. Ambisi nya juga sangat besar untuk bisa melakukan berbagai hal dengan kemampuannya sendiri. Dia tidak tumbuh disuapi oleh sendok perak. Ekonomi nya yang berlimpah, tidak membuat Garka menjadi anak yang sombong dan tamak.
Dylan menghela nafas. Ia menghampiri Garka yang tengah duduk di sofa ruang keluarga, Garka didampingi seorang dokter kepercayaan yang kini sedang memeriksanya.
"Tidak, istirahatlah dengan benar. Kau bahkan seharusnya belum diperbolehkan pulang, Garka." Dylan menggelengkan kepalanya lalu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Garka. Dia tidak bisa mengabaikan kesehatan Garka apalagi pasca kecelakaan hebat yang menimpanya. Saat melihat remaja ini terbaring lemah di rumah sakit, jantung Dylan terasa seperti di sayat-sayat.
Ia tidak tega menyaksikan anak laki-laki yang sudah ia anggap seperti anak sendiri lemah tak berdaya dengan berbagai luka menghias setiap badan berharga itu.
Rasanya sangat kalut dan takut. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Garka melawan koma selama ini. Merasakan kesakitan dan trauma yang cukup hebat. Dylan seakan bisa merasakan perasaan Garka. Sangat sakit meskipun Garka mencoba menutupinya.
Garka berdecak. Ia menatap dokter Emma yang kini tengah mengganti perban di kepalanya. Kepala Garka terdapat luka yang masih belum sepenuhnya sembuh. Untuk itu dokter Emma mengusahakan cara terbaik perawatannya agar luka tersebut dapat sembuh sebelum kepulangan Garka ke Indonesia. Meskipun tidak akan langsung bisa sembuh, setidaknya mempercepat prosesnya dan mengurangi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada luka-luka Garka.
Dokter Emma khawatir luka itu akan infeksi jika tidak segera mengering. Dylan tidak masalah harus membayar lebih mahal dokter ini. Karena Garka lebih penting daripada uang. Berapapun nilainya.
"Dokter, apa kau pikir Dylan terlalu khawatir? Dia memperlakukan ku seperti seorang anak balita."
Dokter Emma tertawa dibalik maskernya. "Tidak aneh karena seumur hidupnya Dylan menginginkan seorang anak laki-laki."
Dylan sedikit berdehem saat Emma berbicara seperti itu. Dokter wanita ini dulunya adalah teman dekat Dylan. Dia sekarang dipercaya menjadi Dokter pribadi keluarganya untuk merawat mereka di kala sakit. Jadi wajar jika Emma akan sedikit usil pada Dylan.
Garka menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Dylan geli. "Ow, am i your son, Dad?"
Dylan mendengus geli. "Shut up!"
Garka terkekeh geli. Ia menggerakkan kakinya yang masih sedikit ngilu. "Dokter, apa kaki ku akan sekuat dulu?" tanya Garka. Dia takut akan menjadi lemah pasca kecelakaan. Mengingat posisinya adalah Ketua Zeus, dia tidak boleh menjadi lemah. Bisa-bisa dirinya di rendahkan oleh musuh. Apalagi jika bentrok mulai kembali, Garka hanya akan jadi beban bagi geng nya.
Dia akan mempermalukan Zeus dan anggotanya jika menjadi cacat. Untung saja kakinya tidak sampai harus di amputasi. Akan sangat merusak mental Garka yang sejatinya adalah Ketua Zeus.
Dokter Emma membereskan perban dan alat medis lainnya, beliau sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia lantas membuka maskernya lalu tersenyum manis. "Kau bahkan jauh lebih kuat dengan tulang besi mu, Garka."
Karena keinginan Garka, kakinya kini dibantu dengan tulang buatan. Patah tulang Garka termasuk skala berat. Walaupun cepat sembuh, tetap saja beresiko. Di tanamnya besi di dalam tulang Garka membuat dia lebih cepat dalam proses pemulihan alat gerak. Tekad kuat Garka untuk cepat bisa kembali berlari dan menendang pun sangat besar.
Dia rajin mengikuti terapi dan tidak pernah absen. Kedua kaki, kedua tangan dan juga tubuhnya perlahan-lahan membaik dan normal kembali. Meskipun masih ada beberapa titik yang masih kaku.
Garka tersenyum senang. "Bagus, aku bisa kembali berperang."
"Berperang?" tanya Dokter Emma bingung sekaligus kaget. Anak sekecil ini sudah mengatakan tentang perang.
"Dia mempunyai sebuah geng di Indonesia." bukan Garka yang menjawab, tetapi Dylan.
Dokter Emma terkejut. "Sebuah geng?" karena biasanya geng di negara-negara lain bermakna sangat buruk. Mereka menjarah, merampok, membunuh, bahkan melakukan tindakan kriminal lainnya.
Garka tersenyum hendak menjawab, dia mengerti arti dari tatapan Dokter Emma. Namun lagi-lagi Dylan mendahului Garka.
"Tenang saja, hanya geng kecil yang dipimpin seorang anak sekolahan. Mereka semua tidak berbahaya dan tidak jahat."
"Hey!" Garka menyerengit tak suka. "Jangan hina geng milikku, Dylan. Geng ku tidak kecil."
Dylan tersenyum tipis. "Apakah geng itu sangat bermakna untukmu? Kau terlihat kesal."
"Sangat," ucap Garka tegas. "Bagiku Zeus bukan hanya sebuah geng. Tetapi sebuah keluarga."
Dylan dan Dokter Emma mendengarkan dalam diam.
"Disaat keluargaku sendiri kacau balau dan berantakan, Zeus menerima diriku yang hancur ini untuk bangkit bersama." Garka menyenderkan punggungnya ke sofa, menjulurkan kakinya yang sedikit kaku ke depan. "Zeus memang dikenal sebagai sebuah geng, tapi Zeus bukan hanya geng seperti yang kalian lihat. Geng itu sendiri sangat bermakna bagi para anggotanya. Terutama untuk orang-orang yang kesepian. Hanya saja sedikit geng yang menerapkan prinsip kekeluargaan. Kebanyakan hanya mencari perkelahian."
"Pantas saja kau setia pada geng mu itu bahkan disaat dirimu terluka seperti ini," ucap Emma.
"Tentu saja. Tanpa Zeus, aku pasti sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupku."
Dylan menatap lantai menengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Garka. Ia jadi teringat akan Reno yang dengan bodohnya membiarkan semua ini terjadi. Membiarkan Garka melewati setiap hari-hari nya dengan luka. Menganggap dirinya sendiri selalu salah dan memendam benci.
Padahal sekalut-kalutnya orang tua, mereka tidak pantas melampiaskannya kepada anak. Apalagi melalui k*******n fisik dan mental. Dendam pribadi yang dimilikinya sepatutnya di arahkan pada sasaran yang tepat. Karena anak tidak bisa melawan saat dia tengah di siksa.
Deringan ponsel memecah suasana pilu itu. Dylan merogoh saku celana formal nya, saat dilihat ternyata nomor milik Vigo yang menghubunginya. Tumben sekali pengawal pribadi Reno tiba-tiba menghubunginya seperti ini, biasanya ada berita penting yang akan pria itu sampaikan.
"Aku akan mengangkat telpon dulu," ucap Dylan sembari berdiri lalu pergi menjauh.
"Ah, aku pamit dulu. Masih ada beberapa pasien yang harus aku periksa di rumah sakit." Dokter Emma ikut berdiri dan berpamitan kepada Garka.
Dokter Emma menitip pesan kepada Garka agar mengganti perban beberapa kali lagi dan juga mengoleskan obat seperti salep kepada kakinya agar rasa pegal hilang. Ini adalah perawatan terakhir Garka sebelum ia berangkat ke Indonesia besok. Meskipun sudah dilarang dan di beritahu efek samping pasca kecelakaan, Garka tidak peduli dan terus memilih untuk segera pulang ke Indonesia bagaimanapun keadaannya.
Dylan dan Dokter Emma tidak mempunyai pilihan lain. Mereka juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Garka yang keras kepala.
"Terimakasih, Dokter Emma," ucap Garka.
Dokter Emma tersenyum. "Sudah kewajibanku," ucapnya lalu melenggang pergi.
Garka menghela nafas lalu melirik Dylan yang kini berjalan kearahnya masih menggenggam ponsel. Raut wajahnya berubah murung.
"Ada apa?" tanya Garka.
Dylan menatap Garka dalam. Tangan yang menggenggam ponsel ia ulurkan ke depan wajah Garka. "Reno ingin berbicara dengan mu, Garka."
Garka terdiam. Ia melihat panggilan yang belum terputus. Ia ragu ingin berbicara kembali dengan Papanya itu. Memang Garka ingin mencoba menerima Papanya kembali, tapi rasanya sangat sulit dan berat. Apalagi saat mengingat semua kata-k********r Reno dan perlakuan kejamnya. Hati Garka akan berdenyut sakit jika ingat itu semua.
Tidak mudah bagi Garka melewati semua ini. Selama dia tumbuh menjadi sosok yang sekarang, hanya sedikit perhatian yang ia dapat dari orangtuanya. Selebihnya yang ia dapat hanya tekanan fisik juga batin.
"Kali ini, Garka. Lupakan dendam dan amarah mu. Kau sudah bilang ingin mencoba memperbaiki semuanya." Dylan menatap memohon kepada Garka. "Dimulai dari hal kecil, kau akan tahu kebenarannya nanti."
"Baiklah."
Garka akhirnya menerima ponsel itu lalu mendekatkannya ke telinga. Laki-laki tampan ini tidak berbicara, ia hanya diam sambil menatap kosong ke arah depan. Memilih menunggu lawan biacaranya untuk memulai duluan. Karena dia tidak yakin akan kata apa yang akan keluar pertama kali.
"Garka? Hallo, Nak?"
Garka mengeraskan rahangnya saat mendengar kembali suara Papanya yang dulu ia benci. Suara Reno terdengar berat dan sesak, seperti orang yang kesulitan bernafas akibat tercekik. Garka akui hal ini membuat nya sedih. Karena seumur-umur Garka tidak pernah membayangkan Papanya yang gagah itu jatuh sakit.
"Maafkan, Papa."
Mata Garka memerah menahan sesuatu yang akan keluar. Ia kini menatap Dylan yang masih berdiri ditempatnya. "Leave me alone," ucap Garka tanpa suara kepada Dylan. Dia tidak ingin disaksikan oleh siapapun saat sedang berbicara dengan Papanya. Ia juga takut mengeluarkan emosi yang menguras hati.
Dylan yang mengerti pun hanya mengangguk lalu pergi dari sana membiarkan Garka berbicara dengan Papa kandungnya. Cukup sampai disini saja dirinya membantu mereka berdua. Semoga saja berawal dari ini, Garka dan Reno akan kembali berbaikan.
"Semuanya salah Papa. Kamu menderita karena Papa, Papa terlalu egois dan hilang akal sampai menyakiti kamu."
Garka mendengar suara batuk disebrang telepon. Ia mengepalkan tangannya, berusaha menguatkan diri agar tidak segera mengeluarkan tangis.
"Bagaimana... kabarmu, Nak? Kamu baik-baik saja bukan? Apa kamu kesakitan? Disana sekarang pagi bukan?"
Akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan oleh Garka keluar juga. Ia menangis tanpa suara sembari mendengar Papanya yang terdengar sekarat. Alisnya bertaut kuat, air keluar dari ujung matanya. Beberapa kali Garka berkedip, menghilangkan buram yang di akibatkan menggenangnya air mata di pelupuk matanya.
"Apa pengobatan mu berjalan lancar? Kakimu tidak apa-apa bukan, Nak? Sudah bisa berjalan? Apa kau yakin akan pulang besok?"
Garka menggeram. "Berhenti mengkhawatirkan ku. Khawatirkan lah dirimu sendiri."
Reno tertawa disebrang sana. "Apa Papa terdengar sedang sakit? Padahal Papa berusaha sekuat mungkin agar tak terdengar sakit. Ternyata percuma, kau menyadarinya."
Garka mengepalkan tangan kirinya lebih keras. Genggaman tangan kanannya di ponsel pun mengerat.
"Jadi kamu sudah tahu?"
"Ya."
"Jangan kasihani Papa, Nak. Jangan pernah kasihani Papa."
Garka menutup mulutnya agar tidak ada suara isakan meluncur. Air mata terus mengalir dari matanya. Bukan karena ia cengeng, tetapi baru kali ini Garka mendengar suara Reno yang sejak dulu selalu keras dan berwibawa kini terdengar lemah dan sekarat. Bagaimanapun juga Reno adalah Papanya dan dia diam-diam menyayangi nya. Tak sepeduli seberapa keras Reno padanya. Mungkin ini adalah sifat alami seorang anak untuk orang tuanya.
"Papa menyayangimu. Bagaimanapun juga kamu anak Papa. Gevan dan Garka adalah anak Papa. Hanya saja Papa salah mendidikmu. Papa terlalu keras sampai kamu tersiksa."
Lagi-lagi Garka mendengar Reno yang terbatuk-batuk disusul suara Vigo yang menanyakan keadannya. Disitu juga Vigo menyuruh Reno untuk memasang masker oksigennya lagi tapi dia menolak.
"Pulanglah dengan selamat. Papa sudah selesai mendidikmu. Papa akan biarkan kamu menjalani hidup sendiri. Sesuai keinginanmu. Yang terpenting Papa sudah menyiapkan masa depan cerah untuk kamu, Garka."
Garka menghela nafas. "Maafkan, Garka."
"Ini bukan salahmu. Kamu tidak tahu yang sebenarnya."
Garka menggigit bibir bawahnya lalu menghembuskan nafas. Ia berusaha untuk kuat. "Sembuhlah. Jangan mati sebelum aku memarahimu, Papa."
Reno tertawa pelan. "Papa tidak akan mati. Papa akan melihat kamu tumbuh besar dan kuat. Papa yakin kamu anak yang kuat, Garka."
"Aku tahu." Garka terkekeh. "Tapi aku serius dengan ucapanku. Sembuhlah... Papa."
Tidak ada balasan. Hanya ada suara isakan disebrang telepon.
"Papa. Mungkin ini adalah suatu hal yang baru akan ku katakan lagi setelah aku beranjak dewasa. Dulu aku sangat membencimu." Garka menjeda sejenak ucapannya. "Kau begitu keras, pemarah, dan menyebalkan. Tapi aku tahu, kau masih selalu memperhatikanku saat aku berangkat sekolah dari kejauhan. Masih selalu mengikutiku saat aku pulang malam. Menanyakan kabarku pada teman-teman."
Reno tertawa. "Papa kira kamu tidak tahu. Papa terlalu gengsi dulu untuk terang-terangan melakukan itu semua."
"Terimakasih."
Hening. Tidak ada yang berbicara.
"Terimakasih dan maaf. Aku memang belum mengetahui semuanya. Tapi aku dapat menyimpulkan. Kau melakukan semua ini hanya untukku."
"Tentu saja hanya untukmu, Garka."
Garka tersenyum tipis. "Aku menyayangimu, Papa."
Mungkin sekarang Garka akan mencoba berdamai dengan dendam dan bencinya. Setelah semua yang telah ia alami. Kini Garka tersadar, menyimpan amarah dan benci tidak akan membuat mu bahagia. Justru sebaliknya, benci yang kau pendam akan membuatmu menderita.
Saat Tuhan saja Maha Pemaaf. Kenapa Hamba-Nya sangat sombong hingga enggan bisa memaafkan juga?
Lega. Itulah yang terasa setelah Garka memaafkan semuanya. Damai. Itulah yang Garka rasakan setelah ia mengikhlaskan semuanya.
Sebelum semuanya terlambat, Garka ingin menjadi seseorang yang berguna. Ia tidak ingin lagi-lagi orang yang ia sayangi pergi dengan luka. Pergi tanpa pamit kepadanya.
"Papa menyayangimu mu juga, Nak..."
"...sangat."